
Setelah berhasil merebut kembali tambang emas di kota Dylurd, Pangeran Louis mendirikan perkemahan di sana untuk berjaga-jaga. Count Kylar bersama sebagian pasukannya ikut membantu Pangeran dalam mempertahankan tambang emas itu.
Dalam perkemahan, Count Kylar dan Pangeran Louis berbicara empat mata mengenai situasi perang.
“Pangeran Louis, terima kasih telah datang untuk membantu wilayah keluarga Dylurd, saya sebagai perwakilan keluarga Dylurd berterima kasih sedalam-dalamnya” ucap Count Kylar menundukkan kepalanya.
Pangeran Louis mengangguk tanda ia menanggapi perkataan Count Kylar.
“Count Kylar, panggil aku sebagai Marshal, aku datang sebagai Marshal bukan pangeran” ucap Pangeran Louis.
“Baik, jika itu kemauan Marshal” ucap Count Kylar sambil menganggukkan kepalanya.
“Jadi bagaimana situasi perang saat ini?” tanya Pangeran Louis.
“Menurut info dari tim pengintai, pasukan Federasi mundur hingga ke Kota Serikat. Mereka tampaknya tidak berani menyerang karena kedatangan Marshal Kekaisaran” jawab Count Kylar dengan wajah bangga.
Kota Serikat adalah kota perbatasan di wilayah Federasi.
“Pasukanku akan datang kurang lebih 9 atau 8 hari lagi, saat itu tiba kita akan menyerang Kota Serikat” ucap Pangeran Louis.
“Marshal, daerah di dekat Kota Serikat adalah padang rumput yang luas, akan sangat sulit jika kita hanya menyerang dari depan” ucap Count Kylar.
Count Kylar membentangkan peta kerajaan, kemudian dia berpikir jalur penyerang lain selain dari depan.
“Kita bisa melewati jalur perairan bukan?” ucap Pangeran Louis.
“Ya, beberapa prajurit bisa menyamar menjadi pedagang di sana, tapi ketika memasuki wilayah Federasi akan ada pemeriksaan yang sangat ketat, jika tidak punya orang dalam, mustahil untuk masuk melewati pos pemeriksaan” ucap Count Kylar.
“Orang dalam, sepertinya...” gumam Pangeran Louis.
“Ada apa Marshal?” tanya Count Kylar.
“Kita bisa melewati jalur perairan ini, aku punya rencana. Tapi kita harus menunggu pasukanku datang, sebelum mereka datang pasti ada serangan balasan” ucap Pangeran Louis.
__ADS_1
“Mereka tidak akan berani lagi menyerang Marshal” ucap Count Kylar.
“Tidak, firasatku bilang bahwa mereka akan menyerang, bukan untuk merebut tambang emas ini tapi untuk menghancurkannya” ucap Pangeran Louis.
***
Keesokan paginya, pasukan Federasi melancarkan serangan bertubi-tubi dengan menggunakan Kavaleri ringan. Tujuan mereka bukanlah merebut kembali tambang emas, melainkan menghancurkan artileri serta meriam bombard yang telah direbut oleh pasukan Kekaisaran.
Pasukan Federasi terdiri dari berbagai negara bagian, di mana setiap negara bagian memiliki pasukan infanteri sekitar 2-3 ribu personel. Namun, tantangan yang terkadang dihadapi oleh pasukan Federasi adalah proses pengambilan keputusan yang memerlukan kehadiran lebih dari 3 jenderal dalam rapat strategi. Hal ini kadang-kadang menghambat kecepatan pengambilan keputusan karena memerlukan diskusi bersama.
Rapat Strategi sedang berlangsung di kediaman di perbatasan Kota Serikat dalam wilayah Federasi. Rapat tersebut dihadiri oleh 5 jenderal dan 10 letnan jenderal. Setiap jenderal memiliki pandangan mereka sendiri mengenai situasi perang yang sedang dihadapi. Meskipun rapat ini telah berlangsung sejak pagi hingga sore hari, belum ada kesepakatan yang jelas yang tercapai.
"Kita harus menunggu kedatangan pasukan utama. Cukup dengan menahan serangan mereka selama 2 minggu, dan setelah pasukan utama tiba, kita dapat melancarkan serangan penuh," ucap salah satu dari lima jenderal dalam rapat. Jenderal tersebut berusia lebih dari 40 tahun dan memiliki penampilan yang berwibawa. Pakaian khasnya menunjukkan bahwa dia adalah kepala militer, yang ditandai dengan lencana Elang yang dipakai di dadanya.
"Kita?" Jendral 1 menegaskan, "Sudah kukatakan sebelumnya, pasukan utama Kekaisaran akan tiba dalam waktu dekat. Jika kita tidak menyerang sekarang, kesempatan itu akan hilang. Apa yang kita takuti? Mereka hanya memiliki 2.000 pasukan, sementara kita memiliki 10.000 personel. Setidaknya, kita harus menghancurkan pasukan Kekaisaran sebelum pasukan utama mereka tiba!"
"Tapi di sana ada Pangeran Louis. Bagaimana kita bisa mengalahkannya?" ucap Jendral 2.
"Pangeran Louis adalah Marshal Kekaisaran yang paling ditakuti. Kita tidak boleh gegabah dalam menyerang," ucap Jendral 3.
"Hentikan rapat ini. Lebih baik kita melakukan pemungutan suara, tetapi bukan kita yang akan memilih, melainkan para letnan jenderal yang hadir di sini," ucap Jendral Leo.
Semua orang menjadi sunyi sejenak. Jika pemungutan suara dilakukan oleh para jenderal, maka akan jelas bahwa keputusan yang diambil oleh Kepala Militer akan lebih diuntungkan karena jabatannya.
"Kalian harus memilih antara menyerang atau tidak, atau jika kalian memiliki ide lain, sampaikanlah. Jangan memikirkan status Jenderal kalian, berbicaralah sesuai dengan pemikiran kalian sendiri," ucap Jendral Leo.
"Saya setuju," ucap Kepala Militer.
"Saya mempunyai pendapat. Saya setuju dengan Jendral Leo bahwa kita harus menunggu pasukan utama Kekaisaran. Namun, saya ingin menyarankan agar kita menghancurkan Tambang emas sekarang," ucap Letnan Jenderal Wein.
Semua orang terkejut dengan pendapat itu.
"Tapi apa gunanya menghancurkan Tambang emas? Itu hanya akan membuang sumber daya berharga," tanya Jendral Leo.
__ADS_1
"Tambang emas adalah titik strategis yang penting. Jika pasukan utama Kekaisaran mendirikan pos komando di sana, mereka akan mendapatkan keuntungan yang signifikan. Dengan menghancurkan Tambang emas, kita dapat mencegah mereka mendapatkan posisi yang menguntungkan," ucap Jendral Wein.
Suasana rapat menjadi tegang. Para jenderal dan letnan jenderal saling berpandangan. Akhirnya, Kepala Militer bersuara.
"Baiklah, mari kita lakukan pemungutan suara untuk menentukan keputusan. Setiap letnan jenderal harus memberikan suara sesuai dengan keyakinannya masing-masing."
Pemungutan suara pun dimulai. Satu per satu, para letnan jenderal memberikan suara mereka. Setelah semua suara dihitung, mayoritas letnan jenderal menyatakan dukungan mereka untuk menghancurkan Tambang emas.
Keputusan tersebut akhirnya diterima oleh semua jenderal yang hadir, termasuk Jendral 1 yang mengusulkan untuk menyerang Kekaisaran.
"Sesuai dengan hasil keputusan bersama. Kita akan menghancurkan Tambang emas untuk melindungi wilayah kita dan menghalangi pasukan utama Kekaisaran mendirikan pos komando di sana. Keputusan ini akan kita jalankan, segera siapkan pasukan untuk menghancurkan tambang itu," ucap Kepala Militer.
Rapat strategi berakhir dengan keputusan yang telah diputuskan melalui pemungutan suara. Pasukan Federasi bersiap untuk menghancurkan Tambang emas sebagai bagian dari rencana mereka dalam menghadapi pasukan utama Kekaisaran yang akan tiba.
Pasukan Letnan Jenderal Wein bersama 5 unit Artileri berat serta 1000 personilnya bergerak dini hari ke lokasi di dekat tambang emas, tapi sebelum menyerang Letnan Jenderal Wein mendapat laporan bahwa pihak dari Kekaisaran telah meninggalkan tambang itu.
“Mereka telah tahu apa yang akan kami lakukan. Apa kami kebocoran informasi? Tidak, mungkin saja ini adalah perkiraan dari Pangeran Louis” gumam Letjen Wein.
LetJen (Letnan Jenderal).
Sebelum pasukan LetJen Wein menyerang, sebuah terompet ditiup sebagai tanda serangan. Serangan tersebut dilakukan oleh Jendral 1 bersama 2000 personelnya. Jendral 1 tidak setuju untuk menunggu pasukan utama, sehingga ia memutuskan untuk menyerang terlebih dahulu dengan harapan dapat melemahkan pasukan Kekaisaran.
Jendral 1 juga sangat penasaran dengan sosok Marsal Kekaisaran, Pangeran Louis. Para Jendral lainnya takut untuk menyerang karena hal ini. Tindakan Jendral 1 yang tidak sejalan dengan keputusan bersama dianggap sebagai pengkhianatan. LetJen Wein maju dengan kudanya untuk menemui Jenderal 1, namun upaya ini sia-sia karena Jendral 1 sangat keras kepala.
Pasukan Jendral 1 menyerang gerbang benteng dengan penumbruk tembok, namun usahanya sia-sia. Pihak Kekaisaran tidak menduga akan serangan ini tapi bukan berarti mereka tidak siap, gerbang Benteng dibuka setelah pasukan Federasi mundur. Pasukan kavaleri dari Marshal Kekaisaran yaitu Pangeran Louis menyerang.
"Serang! Rebut kepala pemimpin mereka!" ucap Pangeran Louis.
Kavaleri maju mengikuti langkah Pangeran Louis, dengan bendera Marshal yang dipegang oleh LetJen yang berada di belakangnya. Pasukan Pangeran Louis berhasil menerobos pertahanan utama dan akhirnya mencapai tengah medan pertempuran.
Beberapa kavaleri kehilangan kuda mereka dan terjebak, sementara yang lain terus menyerang. Pangeran Louis terjatuh dari kudanya dengan kedua pedangnya, tetapi sebelum kudanya jatuh, ia melompat dan dengan pedang-pedangnya ia menghantam musuh di sekitarnya.
Pasukan dari Federasi mengelilingi Pangeran Louis, mereka menjaga jarak aman dan mundur sejenak. Kemudian, hujan anak panah mulai turun dari langit. Pangeran Louis yang tidak membawa tameng tetapi memegang kedua pedang di kedua tangannya, Jendral 1 melihat situasi ini dan tersenyum.
__ADS_1
Bagaimana Pangeran Louis akan menghadapi situasi maut ini?