
Dini hari sebelum matahari terbit, Pangeran Louis dan Jendral Frederick beserta 12 orang tentara yang terpilih berlayar menggunakan 3 kapal kecil di pelabuhan kota Dylurd. Count Kylar mengantarkan mereka dan memastikan tidak ada satupun orang yang melihat kepergian mereka. Pangeran Louis memakai sebuah kerudung dan ikat kepala dan sepatu kulit agar dirinya terlihat seperti seorang pedagang biasa, dia juga memakai sebuah riasan wajah untuk membuat kantung mata dan kerutan wajah agar sulit untuk dikenali.
Keberangkatan Pangeran Louis beserta timnya adalah sebuah rahasia besar yang hanya diketahui beberapa orang saja. Setelah berlayar cukup lama hingga sore harinya, Pangeran Louis beserta rombongannya sampai di perbatasan laut antara Federasi dan Kekaisaran.
Sementara itu di kota Serikat, salah satu Jendral yang bernama Jendral Leo menerima sebuah surat ketika dia sedang berada di ruangannya. Setelah membaca surat tersebut, Jendral Leo tersenyum kemudian pergi ke pelabuhan kota Serikat.
Saat matahari hampir terbenam, cahaya senja memancar lembut di langit barat, mewarnai langit dengan nuansa orange dan ungu yang menenangkan, akhirnya Pangeran Louis beserta rombongannya tiba di pelabuhan. Sebelum mereka berlabuh, beberapa tentara Federasi mendekati mereka kemudian memeriksa barang-barang yang mereka bawa.
“Dari mana kalian?” ucap salah satu tentara Federasi.
"Kami adalah pedagang dari Kekaisaran," ucap Jenderal Frederick dengan wajah yang berusaha menyamarkan identitasnya. "Aku bersama anakku dan 12 orang lainnya membawa berbagai barang dari Kekaisaran dan berniat menjualnya di sini."
“Kekaisaran? Apa kalian tahu Federasi sedang berperang dengan Kekaisaran?” tanya tentara itu dengan tatapan sinis. “Pajak masuknya 3 kali lipat!”
Jenderal Leo melihat tanda-tanda yang diberikan oleh surat tersebut, kemudian menyadari bahwa rombongan yang sedang diperiksa oleh tentara adalah rombongan dari Kekaisaran. Jenderal Leo mendekati tentara yang tengah memeriksa barang-barang dari rombongan Kekaisaran. Ia memegang pundak tentara Federasi itu dengan penuh keyakinan, memberikan sinyal bahwa rombongan tersebut diperbolehkan masuk. "Mereka adalah kenalanku, biarkan mereka masuk. Aku memesan beberapa barang dari mereka," ucap Jendral Leo tersenyum, mengisyaratkan bahwa ia telah mengetahui kedatangan rombongan tersebut sebelumnya.
“Jendral” ucap tentara itu terkejut. “Silahkan berlabuh, tidak usah membayar pajak,” ucapnya sambil menahan kesal.
Pangeran Louis beserta rombongannya kemudian berlabuh dengan aman dan menginap di sekitar pelabuhan. Keesokan paginya, Jendral Leo bersama seseorang pergi menemui Pangeran Louis di penginapan. Mereka bertiga berbicara di dalam kamar penginapan, sementara pasukan Pangeran Louis berjaga-jaga di luar pintu dan di depan penginapan.
__ADS_1
“Perkenalkan, aku adalah Leo, salah satu Jendral dari Federasi,” ucap Jendral Leo sambil tersenyum. “Aku telah membaca surat dari Putri Mitia. Aku menerima tawaran kerja sama dengan kalian”
Pangeran Louis membuka ikat kepalanya. Suasana berubah menjadi tegang, Jendral Leo terlihat terheran-heran melihat Pangeran Louis yang benar-benar menyusup ke daerah Federasi. Sementara itu, letjen Wein melihat Pangeran Louis dengan rasa kesal dan penuh amarah.
“Jenderal Leo, aku berterima kasih padamu karena telah menerima kerja sama dari pihak Kekaisaran. Semoga kerjasama ini dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak,” ucap Pangeran Louis dengan tatapan tajam. “Jenderal Leo, siapakah anak muda yang duduk di sebelahmu itu?” tanya Pangeran Louis penasaran.
“Dia adalah salah satu Letnan Jenderal terbaik di Federasi. Aku mengajaknya untuk membuat rencana kita mengenai perang ini,” ucap Jendral Leo.
Letjen Wein mengatur nafasnya agar tetap tenang di situasi menegangkan ini. “Perkenalkan, aku adalah Wein Von Darte, salah satu Letjen Federasi,” ucap Letjen Wein sambil berusaha untuk tersenyum. “Tapi sebelum itu, jika diperbolehkan, aku ingin bertanya sesuatu kepada Pangeran Louis.”
Pangeran Louis terlihat cemas ketika mendengar nama keluarga dari Letjen Wein adalah keluarga Darte. “Silahkan Letjen Wein, aku akan berusaha untuk menjawabnya,” ucap Pangeran Louis sambil berusaha untuk tetap tenang.
"Aku sudah menduga bahwa Federasi akan berperang dengan Kekaisaran sejak rencana pernikahan politik antara Putri Mitia dan Pangeran Louis. Federasi telah merancang sebuah konspirasi yang menyatakan bahwa Putri Mitia telah terbunuh di wilayah Kekaisaran agar Federasi mempunyai alasan untuk bisa berperang melawan Kekaisaran. Namun, yang mengejutkan, Kekaisaran lebih dulu mendeklarasikan perang terhadap Federasi," ucap Letjen Wein dengan tatapan serius. "Mengapa Kekaisaran bisa lebih dulu mendeklarasikan perang daripada Federasi? Apa tujuanmu, Pangeran Louis? Dan apa tujuan Kekaisaran dalam perang ini?" tanya Letjen Wein dengan suara dingin.
“Perang ini akan menjadi awal dari revolusi dunia. Dunia yang sekarang perlu dihancurkan dan bangun ulang oleh Kekaisaran, dan aku yang akan melakukannya!” ucap Pangeran Louis dengan penuh keyakinan.
Mendengar pernyataan dari Pangeran Louis, Jenderal Leo dan Letjen Wein menanggapi dengan sangat serius. Ekspresi mereka terlihat khawatir dengan nasib Federasi jika di bawah kepemimpinan Pangeran Louis yang begitu ambisius dalam tujuannya.
“Revolusi dunia? Apa itu berarti Federasi akan menjadi batu pijakan untuk Kekaisaran agar bisa mewujudkan tujuan tersebut?” tanya Letjen Wein cemas.
__ADS_1
“Batu pijakan?” tanya Pangeran Louis sambil tertawa. “Federasi akan menjadi bagian dari Kekaisaran untuk mewujudkan revolusi itu.”
“Sangat menarik. Jika begitu, aku tidak akan segan-segan lagi membantu Kekaisaran untuk menaklukan kota ini,” ucap Letjen Wein sambil tersenyum.
Suasana panas antara Pangeran Louis dan Letjen Wein perlahan menjadi hangat dan menenangkan karena kedua belah pihak telah sepakat untuk bekerja sama. Rapat strategi dimulai, dan mereka bertiga saling bertukar ide untuk merencanakan penaklukan kota serikat. Rapat tersebut selesai pada tengah hari dengan rencana yang sangat terperinci yang disusun oleh Letjen Wein berdasarkan kontribusi ide dari Pangeran Louis dan Jenderal Leo.
***
Letjen Wein mengajukan kepala Kepala Militer, seluruh Letnan Jenderal dan Keempat Jenderal berkumpul di satu ruangan. Wajah mereka tampak cemas dan khawatir mengenai berita darurat yang akan disampaikan oleh Letjen Wein. Keempat Jenderal duduk mengelilingi sebuah meja yang dipenuhi dengan dokumen perang. Mereka adalah Jenderal Leo, Jenderal Hammer, Jenderal Viktor, dan Jenderal Wise yang menjabat sebagai Kepala Militer.
“Ada apa Letnan Jenderal?” tanya Kepala Militer khawatir.
"Baru saja aku menerima laporan dari unit pengintai yang aku tugaskan di daerah pesisir selatan Kota Serikat. Mereka melaporkan ada beberapa kapal yang berlabuh di pantai," ucap Letjen Wein sambil membuka peta jalur perang Kota Serikat. "Kemungkinan besar itu adalah kapal dari Kekaisaran. Kita harus segera mengambil tindakan!" tegas Letjen Wein.
"Kekaisaran? Apa kamu yakin? Seharusnya mereka lemah dalam kekuatan militer di daerah laut," ucap Jenderal Viktor sambil merenung dan berpikir.
"Itu benar, Kekaisaran tidak mungkin menyerang Kota ini lewat jalur laut," ucap Jenderal Wise tegas. "Kecuali, Kekaisaran telah bersekutu dengan negara-negara di timur tengah," ucap Jenderal Wise dengan asumsi.
Suasana menjadi tidak kondusif, terlihat beberapa Jendral tidak percaya dengan laporan yang dikatakan oleh Letjen Wein. “Ini bukannya waktu untuk berdebat ataupun berpikir. Kita harus segera bertindak sebelum semuanya terlambat!” ucap Jendral Leo dengan tegas. “Jika Kekaisaran menyerang bagian selatan kota Serikat maka sudah dipastikan bahwa kota ini akan hancur dalam hitungan hari,” ucap Jendral Leo dengan serius.
__ADS_1
“Benar sekali, aku setuju dengan Jendral Leo,” ucap Jendral Hammer.
Beberapa jam kemudian telah berlalu, akhirnya Rapat itu selesai. Jendral Hammer beserta kedua Letnan Jenderal kepercayaannya dan pasukannya akan pergi ke pesisir selatan kota Serikat untuk menghadapi Pasukan Kekaisaran.