
Di sebuah tenda khusus yang terletak di tengah-tengah perkemahan tentara Kekaisaran, suasana tegang dan serius menyelimuti para penghuninya. Tenda itu dibuat kedap suara dan dijaga ketat oleh para prajurit Kekaisaran yang bersenjata lengkap. Di dalamnya, ada lima orang yang duduk mengelilingi sebuah meja besar yang berisi peta dan dokumen perang.
Mereka adalah Pangeran Louis, Marshal Kekaisaran; Putri Mitia, putri Federasi yang bergabung dengan Kekaisaran; Count Kylar, seorang bangsawan yang memimpin kota Dylurd; Jendral Fredrick, panglima tertinggi angkatan darat Kekaisaran; dan lima orang letnan jendral yang memimpin setiap divisi pasukan.
Mereka sedang berdiskusi mengenai situasi perang dan rencana untuk merebut kota Serikat, kota perbatasan wilayah Federasi.
"Terima kasih telah datang ke sini, Marshal, dan Count Kylar yang terhormat," ucap Jendral Fredrick dengan sopan. "Aku adalah Jendral Frederick, panglima tertinggi pasukan Kekaisaran yang ditunjuk langsung oleh Kaisar."
"Sama-sama, Jendral. Aku sudah menantikan pertemuan ini," balas Pangeran Louis dengan senyum tipis.
"Sebelum kita mulai membahas strategi kita, Aku ingin menanyakan sesuatu," ucap Count Kylar dengan nada tajam. "Siapa wanita cantik yang duduk di samping Anda, Marshal? Apakah dia benar-benar Putri Mitia dari Federasi? Aku mendengar kabar bahwa dia sudah meninggal dunia."
"Aku adalah Putri Mitia dari Federasi, Count Kylar," jawab Putri Mitia dengan tegas.
"Berita kematianku adalah propaganda yang dibuat oleh Federasi untuk memprovokasi Kekaisaran agar memulai perang." Ucap Putri Mitia.
"Jadi begitu," ucap Count Kylar dengan tatapan curiga.
"Lalu apa alasan Anda ikut dalam perang ini, Putri Mitia? Bukankah Anda tidak punya pasukan atau otoritas apa-apa disini? Bukankah Anda hanya akan menjadi beban bagi kami?" ucap Count Kylar.
"Putri Mitia adalah Kepala Militer sementara Kekaisaran yang diangkat oleh Kaisar sendiri," sahut Pangeran Louis dengan nada dingin.
"Aku yang memerintahkan dia untuk ikut dalam perang ini karena dia memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang Federasi yang bisa berguna bagi kita. Dia juga memiliki hak untuk berbicara dalam rapat ini. Apakah Anda memiliki masalah dengan keputusan Kaisar dan aku, Count Kylar?" ucap Pangeran Louis.
“Maafkan aku, Marshal. Aku tidak bermaksud menghina Anda atau Putri Mitia,” ucap Count Kylar sambil menundukan kepala.
“Kalau begitu, mari kita mulai rapat ini,” ucap Jendral Fredrick dengan tegas.
“Siapa pun yang memiliki rencana brilian untuk menggempur musuh, sekarang waktunya untuk berbicara!” seru Pangeran Louis dengan semangat.
“Bagaimana kalau kita langsung mengepung kota Serikat, dan meruntuhkan benteng mereka dengan kekuatan penuh?” usul Jendral Frederick dengan percaya diri.
__ADS_1
“Hmm, itu terdengar menjanjikan, tapi berapa lama kita bisa menguasai kota itu?” tanya Pangeran Louis dengan penasaran.
Jendral Frederick menoleh ke arah salah satu Letnan Jendral yang memimpin divisi Artileri.
“Kota Serikat memiliki pertahanan yang tangguh, tapi tidak akan tahan lama di bawah serangan divisi Artileri. Dalam dua minggu, kita bisa menghancurkan mereka sepenuhnya!” jawab Letnan Jenderal dengan penuh semangat.
“Terlalu lama. Menurut informasi dari mata-mata, pasukan utama Federasi akan tiba dalam satu minggu” ucap Pangeran Louis. “Jendral Fredrick, lihatlah peta kota Serikat, apa kamu menyadari sesuatu?”
Jendral Frederick menatap peta itu dengan seksama, kota Serikat tampak kokoh dengan benteng pertahanan yang megah, namun rapuh di bagian pelabuhan. Tidak ada tanda-tanda adanya armada kapal yang siap menghadapi serangan.
“Lihat, pelabuhan mereka terbuka lebar, tapi kita juga tidak punya keunggulan di sana. Andai kita bisa menyelinap ke wilayah Federasi lewat jalur laut, kita bisa mengepung kota Serikat dari dua sisi!” ujar Jendral Frederick dengan bersemangat.
“Tapi pelabuhan mereka dijaga ketat oleh pasukan mereka, jika kita berpura-pura menjadi pedagang, hanya sedikit pasukan yang bisa kita bawa” kata Count Kylar dengan ragu-ragu.
“Aku punya ide lain. Bagaimana kalau kita merebut kota Serikat lewat negosiasi dengan para Jendral di sana? Federasi sudah terbelah menjadi dua kubu, aku kenal beberapa Jendral yang ingin beralih ke pihak Kekaisaran, kita bisa memanfaatkan situasi ini untuk mengurangi pertumpahan darah” usul Putri Mitia dengan lembut.
“Itu ide yang cemerlang, Putri! Kita akan menyusup ke wilayah Federasi melalui pelabuhan mereka, kita akan bekerjasama dengan Jendral pro Kekaisaran lewat perantaraan Putri Mitia, kemudian kita akan membunuh para Jendral yang tidak ingin bergabung,” sahut Pangeran Louis.
Rapat segera ditutup, dan nama-nama yang akan berangkat ke wilayah Federasi menjadi rahasia yang hanya diketahui oleh mereka yang hadir dalam rapat tersebut. Pangeran Louis dan Jendral Frederick bersiap-siap untuk menyusup, didampingi oleh 12 orang tentara pilihan yang dipercaya oleh Pangeran Louis dan Jendral Frederick.
...***...
Sebelum keberangkatan ke daerah pelabuhan, Putri Mitia harus mengirimkan surat untuk Jendral Pro Kekaisaran agar membantu Pangeran Louis dan rombongannya. Putri Mitia berada di dalam tenda perang khusus dalam pasukan Jendral Frederick. Pangeran Louis pergi ke tenda Putri Mitia tanpa mengabarinya untuk mengejutkan sang Putri.
Suara langkah kaki mendekat dan masuk ke dalam tenda, membuat Putri Mitia yang sedang fokus menulis terhenti sejenak. Putri Mitia menghela nafasnya “bukankah sudah aku bilang bahwa jangan masuk ke tenda sembarangan, keluarlah aku tidak perlu penjagaan,” ucap Putri Mitia sambil melanjutkan tulisannya.
Pangeran Louis yang tadinya bermaksud untuk mengejutkan Putri Mitia menjadi sangat bersemangat. Dengan cepat Pangeran Louis menutup mata Putri Mitia dan berbisik ke telinganya, “tebak siapa aku?”
Putri Mitia terkejut, suara bisik-bisik di telinga membuat wajah Putri Mitia memerah dan malu. Putri Mitia tahu bahwa Pangeran Louis yang menutup matanya. Putri Mitia memegang tangan Pangeran Louis dan perlahan melepaskan tangan Pangeran Louis dari mata nya.
“Pangeran Louis, ada apa??” tanya Putri Mitia sambil berbalik melihat Pangeran Louis dengan wajah malu-malu.
__ADS_1
“Aku hanya ingin bertemu istriku, apa itu salah?” tanya Pangeran Louis tersenyum.
Putri Mitia melanjutkan tulisannya dan mengalihkan pandangannya dari Pangeran Louis. Putri Mitia berusaha untuk fokus dan menulis surat itu hingga tuntas, sementara itu Pangeran Louis hanya melihatnya dari samping sambil memandangi Putri Mitia.
Beberapa saat kemudian, Putri Mitia mengembalikan pena tintanya ke tempatnya tanda bahwa ia sudah selesai menulis surat. Putri Mitia gugup ketika Pangeran Louis terus melihatnya, Putri Mitia berbicara dengan kesal “ada apa Pangeran?”
Pangeran Louis berbicara sambil terus memandangi Putri Mitia “tidak ada, hanya saja. Setelah aku lihat wajahmu lebih lama entah kenapa aku merasa kamu adalah wanita yang cantik. Apa kamu sudah selesai dengan pekerjaanmu?”
“Hentikan kata-kata rayuanmu itu, cepat katakan keperluanmu karena aku ingin istirahat, ” ucap Putri Mitia malu.
Pangeran Louis tersenyum kecil, dan mendekati Putri Mitia kemudian memegang kedua pundak Putri Mitia dan melihatnya dalam-dalam dalam jarak yang sangat dekat, bahkan nafas Pangeran Louis dapat didengar oleh Putri Mitia.
Konflik batin Putri Mitia mulai terjadi.
Tenanglah wahai diriku, aku harus tenang. Ada apa dengan pangeran ini? Tiba-tiba dia masuk ke tenda dan merayu diriku. Apa mungkin dia meminta jatah malam?! Itu mungkin saja, dia juga seorang laki-laki, jadi wajar baginya untuk berpikiran demikian.
“Aku tidak sedang merayu dirimu, aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan,” ucap Pangeran Louis tegas.
Wajah Putri Mitia semakin memerah, dia sangat malu sampai mengalihkan pandangannya dari wajah Pangeran Louis. Putri Mitia berbicara dengan nada pelan“apa pangeran datang untuk meminta jatah dariku?”
Pangeran Louis tersentak dan tidak menyangka reaksi istrinya yang begitu manis. Tanpa kata lagi, Pangeran Louis menggendong Putri Mitia lalu menurunkannya di atas kasur. Putri Mitia hanya diam dan menahan malunya.
Pangeran Louis mengelus-ngelus kepala istrinya itu dan tersenyum. Dengan tatapan yang begitu tulus, Pangeran Louis berkata lembut “aku ke sini untuk menghibur dirimu. Di dalam darahmu mengalir tanah air Federasi, apa kamu sanggup melawan rakyatmu sendiri Putri Mitia?”
Putri Mitia merasakan tekad yang kuat tumbuh dalam dirinya. Dengan tegar, Putri Mitia menatap Pangeran Louis dan berkata, "Aku bersumpah akan berjuang dengan tekad kuat untuk memastikan kedamaian Federasi dan keberlanjutan nasib rakyatku sendiri, meskipun dengan cara perang saudara."
Melihat mata Putri Mitia yang terlihat sangat menyakinkan dan penuh percaya diri membuat Pangeran Louis lega. Pangeran Louis memeluk Putri Mitia, pelan-pelan Pangeran Louis mendekati telinga Putri Mitia dan berbisik “kita akan bersenang-senang saat perang ini selesai dan Federasi menyerah pada Kekaisaran”
Putri Mitia pasrah dan menutup matanya, dia sangat malu sampai-sampai tidak sanggup untuk melihat wajah Pangeran Louis. Pangeran Louis mencium kening Putri Mitia kemudian meninggalkan tenda Putri Mitia dan kembali ke benteng.
__ADS_1