Pangeran DEWA PERANG

Pangeran DEWA PERANG
Bab 13 Kegelapan Genosida dan Berita Gembira


__ADS_3

Agustus tahun 1550, pada musim semi ketika daun-daun berguguran, dan angin sepoi-sepoi bertiup, daun kering berterbangan seperti tarian alami yang mempesona. Alam menampilkan keindahannya dalam harmoni yang menyejukkan, menghadirkan gambaran puitis dari perubahan dan kelahiran yang selalu menakjubkan.


Setelah beberapa minggu Federasi melakukan perjanjian gencatan senjata dengan Kekaisaran. Kerajaan Dartensia yang menjadi Ibukota Federasi menjadi kehilangan pemimpin mereka, banyak sekali toko yang tutup karena takut dengan interferensi dari militer, tepatnya fraksi pro-perang yang meminta upeti untuk biaya perang.


Raja Welburg bersama dengan istrinya telah dibunuh secara misterius di kamarnya, setidaknya itu yang diberikan secara resmi. Sebagian Jenderal Federasi mengetahui bahwa yang membunuh Raja Welburg dan istrinya merupakan orang dari fraksi pro-perang. Putri bungsu keluarga Darte (keluarga kerajaan Dartensia) dikabarkan menghilang tepat saat pembunuhan itu diketahui publik.


Putri Yuliana merupakan adik dari Putri Mitia, dia baru saja berumur 18 tahun namun sudah menghadapi tragedi yang begitu mencekam.


“Kedamaian...” ucap Putri Yuliana sambil melihat ke jendela. “Kerajaan ini adalah tempat lahirku, kenapa ada orang yang ingin merebutnya dariku?” gumam Putri Yuliana.


“Itu semua karena sifat alami manusia yang serakah, aku telah mendapatkan informasi bahwa beberapa Jendral kita telah pergi secara diam-diam pergi tanpa izin. Aku tidak tahu pergi kemana mereka, tapi ini merupakan kesempatan yang bagus untuk merebut kerajaan Dartensia” ucap ajudan terpercaya Putri Yuliana yang berdiri di sampingnya.


“Kamu benar sekali, terima kasih telah menyelamatkan aku saat itu” ucap Putri Yuliana.


“Itu sudah menjadi kewajiban saya untuk memastikan keamanan sang Putri mahkota, titah langsung dari sang Raja Welburg kepada hamba” ucap ajudan itu merendahkan diri.


“Semua yang terlibat dengan fraksi pro-perang harus mati di kerajaan ini, tidak ada tempat bagi mereka di kerajaan ini” ucap Putri Yuliana dengan penuh kekesalan.


Selama beberapa minggu Putri Yuliana dan ajudannya menemui beberapa orang koneksinya untuk membuat rencana genosida. Semua orang yang mendukung fraksi pro-perang hilang dari kerajaan Dartensia secara perlahan-lahan. Ekonomi mulai bergerak kembali, dan ketika akhir bulan September, semuanya telah selesai.


Putri Yuliana dan rombongannya memberikan racun kepada siapapun pihak pro-perang, terkadang mereka juga melakukan pembunuhan pada malam hari. Peristiwa ini tercatat dalam sejarah, sering disebut dengan “kegelapan genosida.”

__ADS_1


Putri Yuliana mengungumkan kenaikan tahtanya setelah kerajaan Dartensia bersih dari fraksi pro-perang. Dia kemudian membuat deklarasi yang sangat mengguncang seluruh rakyat Federasi, isi dari deklarasi itu berbunyi “Aku sebagai pewaris tahta dari Kerajaan Dartensia, menyatakan bahwa aku adalah Ratu Federasi yang baru”


Secara garis keturunan, memang Putri Yuliana merupakan pewaris sah dari Federasi. Namun, saat ini Federasi terpecah menjadi dua fraksi besar. Deklarasi seperti itu akan menyebabkan gesekan politik antara para Jendral pro-perang dan pro-Kekaisaran.


Di ibukota Kekaisaran yang megah dan sibuk, Pangeran Louis sedang duduk di meja kerjanya bersama dengan Jendral Fredrick, salah satu panglima perang terbaik di negaranya. Mereka sedang membahas strategi dan rencana untuk menghadapi Federasi, musuh bebuyutan mereka yang akan segera memulai perang kembali setelah masa gencatan senjata berakhir. Namun, pembicaraan serius mereka tiba-tiba terganggu oleh suara ketukan pintu yang pelan.


Tok tok tok


“Masuk!” ucap Pangeran Louis dengan nada tinggi.


Seorang prajurit muda berpakaian rapi masuk ke dalam ruangan dengan membawa sebuah amplop bersegel lilin. Dia memberi hormat kepada Pangeran Louis dan Jendral Fredrick, lalu berkata dengan suara lantang.


“Pangeran Louis, ini adalah surat yang dikirimkan oleh Kaisar Federasi untuk anda” ucap prajurit itu sambil menyerahkan amplop tersebut.


“Maafkan saya, Jendral. Saya harus menemui Putri Mitia sekarang juga!” teriak Pangeran Louis dari balik pintu.


Pangeran Louis berlari secepat kilat menuju kamar Putri Mitia, istrinya yang cantik dan lembut. Dia sangat mencintainya dan ingin memberitahukan kabar baik ini kepadanya. Namun, ketika dia sampai di depan pintu kamar Putri Mitia, dia tidak melihat sosoknya di sana. Dengan nafas terengah-engah, dia bertanya kepada seorang prajurit yang berjaga di dekat pintu.


“Dimana Putri Mitia?” tanya Pangeran Louis dengan nada cemas.


“Putri Mitia sedang berada di taman, Yang Mulia. Dia sedang menikmati teh di sore hari” jawab prajurit itu dengan sopan.

__ADS_1


Pangeran Louis tidak mau membuang waktu lagi, dia langsung berlari lagi menuju taman yang indah dan penuh bunga. Dia melihat Putri Mitia yang sedang duduk di sebuah bangku keramik sambil memegang cangkir teh di tangannya. Beberapa pengawal berada di sampingnya, rambut pirangnya yang panjang terurai indah di bahunya, matanya yang biru bersinar cerah di bawah sinar matahari. Dia tampak begitu anggun dan menawan, membuat Pangeran Louis terpana.


Bangku itu berada di pusat taman, dan terdapat atap yang meneduhi kursi itu, atap tersebut terbuat dari beton yang diukir dengan sangat indah.


“Sayang! Aku punya berita bagus!” teriak Pangeran Louis sambil melambai-lambai tangannya.


Putri Mitia terkejut mendengar suara Pangeran Louis yang begitu riang dan girang. Dia menoleh ke arahnya dan melihat dia berlari ke arahnya dengan wajah berseri-seri. Dia merasa senang melihat suaminya begitu bahagia, tapi dia juga merasa malu karena dia memanggilnya dengan sebutan sayang di depan banyak orang. Wajahnya memerah dan dia berteriak balik.


“Jangan panggil aku begitu kalau di luar!”


Pangeran Louis berlari dengan penuh semangat kemudian memeluk istrinya yang cantik. Putri Mitia terkejut, tapi dia tidak bisa menolak pelukan hangat itu. Dia merasakan kasih sayang dan kebahagiaan dari suaminya. Pangeran Louis juga mengangkat Putri Mitia saking senangnya, dia memutar-mutarnya di udara sambil tertawa lepas.


Orang-orang di sekitar mereka terpesona melihat pasangan kerajaan yang begitu mesra dan romantis. Setelah kejadian memalukan itu, akhirnya Pangeran Louis berbicara dengan Putri Mitia di taman itu, mereka berdua duduk berhadapan, tepat di depan mereka ada sebuah meja yang penuh akan camilan manis dan teh berkualitas tinggi.


“Ada apa, Pangeran? Kenapa kamu begitu gembira?” tanya Putri Mitia penasaran.


“Aku baru saja menerima surat dari Ratu Federasi yang baru. Silahkan kamu membacanya” ucap Pangeran Louis menyerahkan surat Federasi itu.


“Ratu? Apa maksudmu?” tanya Putri Mitia bingung. Dia mengambil surat itu dan membukanya dengan hati-hati. Dia mulai membaca isi surat itu dengan seksama, matanya melebar ketika dia mengetahui siapa yang mengirimkan surat itu. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca, dia merasa seperti mimpi. Setelah membaca surat itu sampai habis, Putri Mitia menangis terharu, dia mendekati Pangeran Louis dan menangis dipelukannya. Tangisan itu merupakan air mata kebahagian.


“Hiks hiks, adikku Putri Yuliana masih hidup. Dia adalah adik kesayanganku” ucap Putri Mitia sambil menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Surat dari Federasi menyatakan banyak sekali pesan kepada Kekaisaran, namun secara garis besarnya dalam surat itu. Ratu Yuliana sebagai Ratu baru Federasi menyatakan akan tunduk kepada Kekaisaran, dan seluruh pihak Federasi harus mematuhinya atau akan dianggap sebagai pengkhianatan terhadap Federasi.


Marshal Federasi mendukung pernyataan ini, pada akhirnya dia menyerah untuk terus mempertahankan kedaulatan Federasi, dia memilih untuk mendukung fraksi pro-kekaisaran karena hubungan keluarganya yang lebih dekat kepada keluarga kerajaan Dartensia. Ratu Yuliana juga menyatakan bahwa dia ingin bertemu dengan kakaknya, Putri Mitia, yang sudah lama tidak berjumpa dengannya sejak perang pecah antara kedua negara. Dia berharap bisa berdamai dengan kakaknya dan memulihkan hubungan keluarga mereka yang terputus.


__ADS_2