Panorama Senja

Panorama Senja
Suka


__ADS_3

Pukul 16.23 aku melihat Senja keluar dari lab dengan ekspresi wajah fokus ke lembaran-lembaran kertas.


"Senja" panggilku tidak jauh dari posisi Senja. Dia menoleh ke arahku "Fajar" Lirihnya.


"Aku mau bicara sama kamu" aku menghampirinya dan mengajaknya ke tempat yang lebih sepi.


"Ada apa?" tanya Senja.


"Aku suka sama kamu" setelah diam beberapa saat aku berhasil mengucapkan kalimat itu.


"Aku...." Senja sedikit kaget mendengar pernyataan dariku.


"Aku ngga butuh jawabanmu" aku menggenggam tangan kirinya.


"Tapi aku juga suka sama kamu" Lirihnya, hampir saja aku loncat dari tempat duduk dan berjingkrak riang mendengar pernyataan Senja.


"Tapi kalau berpacaran, mungkin aku juga akan sibuk. apa tidak apa-apa?, aku masih belajar untuk mendapatkan beasiswa untuk kuliah" Lirihnya.


"Oh ini alasanmu selalu pulang sore padahal tidak ikut ekskul" aku mengangguk paham, ternyata Senja ikut program beasiswa yang ditawarkan di SMK ini.


"Iya, aku tidak ingin merepotkan ibuku lagi kalau mau lanjut perguruan tinggi" Senja menatap matahari sore yang semakin beranjak turun.


"Sebenarnya aku juga mau ikut program itu, tapi aku tidak ingin kecewa di akhir kalau tidak diterima" aku juga ikut menatap matahari, menikmati keindahan senja bersama Senja.


"Kalau tidak diterima bukannya kamu juga mendapatkan ilmunya?". Senja menatapku sebentar.


"benar kalau tidak diterima aku juga mendapatkan ilmunya lalu pergi ke perguruan lain walaupun swasta tapi bisa sambil kerja" aku tersenyum.

__ADS_1


"Bukannya tidak ada salahnya kalau ikut mata pelajaran tambahan seperti aku?"


"Tidak salah sih, tapi aku ada kerja part time menjadi fotografer di studio terus ada kegiatan ekskul voli juga" aku tidak yakin bisa membagi waktu untuk itu semua.


"Kalau niat nanti dibantu walikelasku, dia yang membimbing supaya murid sekolah kita diterima" ucap Senja lembut.


"Baiklah, nanti aku pikir-pikir"


"Jadi apakah kita berpacaran?" tanyaku ragu ragu.


"emm.... bisa dibilang begitu" Senja menutup wajahnya hingga yang terlihat bagian mata sampai dahinya.


"Kenapa ditutup?apa aku bau" heranku.


"Tidak kok, hanya saja..." aku memegang tangan Senja, pipinya merah. apa dia malu.


"Hey wajahmu merah" aku tertawa kecil.


"tentang kamu jadi fotografer apa itu benar?"


"Iya, tapi tidak ada yang tahu tak terkecuali teman temanku" aku membuka hp dan memperlihatkan foto studio tempat aku bekerja saat ada job.


"Bukannya itu tempat terkenal?"


"Iya"


"Kamu hebat bisa diterima disana" puji Senja, aku hanya menggaruk tengkuk dan nyengir.

__ADS_1


"Pemilik studio itu temannya kakakku, mungkin karena itu aku diterima"


"Jangan merendah deh". Setelah perbincangan selesai, kami pulang. Senja mengambil inisiatif dengan memegang tanganku dan berjalan beriringan.


Aku terkejut tapi disisi lain juga senang, tangannya kecil tapi ada kehangatan tersendiri sesuai namanya. Aku suka saat melihatnya tersenyum dan menampilkan giginya. Satu kata untuk senja manis.


"Terima kasih" Aku mengerutkan kening mendengar ucapan Senja.


"Untuk apa?"


"Sudah mengajari aku menyukai seseorang, dan berharap bisa bertemu dengannya selalu" Senja tersenyum lembut.


"Seseorang itu, apakah aku?"


"Tentu saja". Aku tersenyum mendengarnya.


"Kenapa hpmu tidak aktif?" aku lupa mempertanyakan hal itu pada Senja.


"Ohh itu" jawab Senja canggung.


"Kenapa" tanyaku heran.


"Aku sedang belajar move on, itu saran Diana untuk tidak mengaktifkan HP" Jawab Senja lirih.


"Hah?? Move on. move on dari siapa"


"Kamu, kupikir kamu ngga suka sama aku dalam hal romantis, dan juga aku mempertimbangkan tentang belajar" aku tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Terima kasih karena belum move on dariku" aku tersenyum, Senja tidak menjawab tapi dia berlari kecil menuju kearah motornya.


"Sampai jumpa besok" aku melambaikan tangan kearahnya, dan dibalas dengan senyuman.


__ADS_2