
POV Senja
Setelah upacara bendera aku ingin menemui Fajar, kulihat dia sedang berbicara dengan seseorang. Saat sudah sampai aku mendengar kalau siswi itu mengaku kalau dia akan menjadi fans Fajar. What?!, aku melihat wajah siswi itu dengan seksama. Satu kata untuk siswi itu Cantik, Seketika aku menjadi minder untuk mendekati Fajar.
Setelah siswi itu pergi, aku bemberi tahu kalau aku mengerti maksud Fajar mengenai perkataan tentang teori senja selalu dinanti daripada fajar. Ya aku mengerti saat melihat teliti orang orang di sekitarku, mulai dari ibu, aktivitas pasar dan sekolah.
Sore hari nya Fajar merasa bersalah ketika ia terlambat, menggemaskan sekali melihat ekspresi wajahnya. dia memberikan aku minuman dan aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Setelah berbincang dengan Fajar mengenai teori itu, Riski datang. Kulihat ekspresi wajah Fajar seperti tidak suka aneh bukan?, melihat temannya datang dia malah memasang ekspresi itu.
Saat berpamitan, Fajar mengucapkan Hati hati. Riski menyahut kalau tidak biasanya Fajar seperti itu, aku sedikit bingung kenapa Riski bicara seperti itu.
***
Jam menunjukkan pukul 11.22 entah mengapa yang terbayang di pikiranku Fajar, ketika menutup mata aku melihat senyumnya dan lesung pipi bagian kanannya sangat manis,
Aku membuka mataku memukulkan wajahku berkali kali ke bantal dan mencoba terlelap.
Jangan bilang kalau aku suka sama Fajar, Ahh ayo lah Senja dimana cita-citamu untuk berhasil masuk perguruan tinggi dengan Beasiswa. Beberapa menit kemudian aku berhasil masuk ke alam bawah sadar.
***
__ADS_1
Setelah selesai mencuci baju dan juga sarapan aku bersiap siap untuk pergi sekolah, belajar dengan baik agar bisa diterima di perguruan tinggi impianku dengan jalur beasiswa. Semenjak bertemu dengan Fajar, selain untuk belajar aku juga ingin melihatnya.
Sudah beberapa hari ini aku sibuk begitupun dengan Fajar. Aku sering mendapat bimbingan dari wali kelasku, beliau yang memberitahu tentang beasiswa saat bulan pertama masuk sekolah.
"Serius amat belajarnya" Risa menghampiri dengan membawa permen, aku yang mendengarnya tersenyum dan menutup buku tulis. Risa memberi permen, aku menerima pemberiannya dan memasukkan ke mulut setelah membuka bungkusnya.
"Kamu ngga ikut belajar buat ikut beasiswa itu?" Tanyaku pada Risa.
"Kalau aku ikut pasti udah ngga diterima di awal kayaknya" Risa tertawa.
"Jangan pesimis dong Ris"
"Aku hanya tidak ingin ber-ekspetasi tinggi, otak kita berbeda Senja!" Seru Risa dengan tawa di bibirnya.
"Kamu beneran putus sama anak TBSM itu?" Tanyaku pada Risa.
"Hehehe udah. aku lagi ngincer anak Multimedia, kalau kamu? bukannya kamu deket sama anak Multimedia juga?"
"Kayaknya aku suka sama dia, gimana dong?. Padahal aku mau fokus belajar" Aku meletakkan kepalaku ke meja, memejamkan mata menikmati angin dari kipas angin yang berada tepat di atasku.
"Kalau kamu bisa mengimbangi waktu gapapa sih, kamu kan pinter pasti kekejar lah kalau mau masuk perguruan tinggi" ucap Risa meyakinkanku.
__ADS_1
"Yee bisa aja kamu, saingannya seluruh Indonesia, di sana menerima beasiswa hanya beberapa saja" aku mendengus.
"Terus gimana dong ini?" Tanyaku pada Risa.
"Ya ndak tahu kok tanya saya" Risa mengangkat bahunya, aku melempar bungkus permen ke arahnya dan mendengus kesal.
"Aku insecure" Lirihku.
"hey, kamu punya kaca ngga sih" Risa menatapku dan melanjutkan kalimatnya.
"Senja Dwi Fatma kamu udah cantik dengan gigi mu yang ngga rata itu"
"ginsul kalik" kata-kata pertama Risa memang memuji tapi kata terakhir itu mengandung hinaan.
"Ya gitu lah, kalian cocok kok. yang satu tinggi yang satu pendek" Risa tertawa, sedangkan aku melempar kertas yang ada di hadapanku ke arah wajahnya.
"Kamu beneran ngga ikut program beasiswa ini, di bimbing langsung sama Bu walikelas kok"
"ngga Senja, nanti kalau aku ikut pasti akan berhenti setengah jalan" Risa memang sering berhenti di setengah jalan, seperti halnya pacaran belum ada 3 bulan pasti sudah putus.
***
__ADS_1
Setelah selesai memberikan buku tugas kepada walikelas, Aku melihat Fajar sedang bermain bola voli bersama Riski, Faris dan senior-senior di sekolah ini. Satu kata untuk Fajar dia sangat keren saat berkeringat dan memukul bola.
Apa aku boleh berharap untuk bisa sama Fajar?. entahlah, Fajar melihatku tapi tidak menyapa apalagi tersenyum seperti biasanya, cukup aneh bagiku.