
POV Fajar
Beberapa terakhir ini aku sibuk dengan aktivitas sekolah dan di luar sekolah, di tambah aku menjadi tim inti ekskul bola voli posisi sebagai wing spiker begitu juga dengan Riski dan Faris menjadi tim inti. kakak kelas kami yang kelas 12 akan fokus kepada ujian kelulusan, sedangkan kelas 11 akan fokus PKL.
Aku jarang sekali berbicara dengan Senja, hanya sesekali saat menuju kantin aku tersenyum begitu juga Senja membalas dengan senyuman.
Hingga hari ini saat aku latihan sore di lapangan aku melihat Senja, aku tidak tahu harus mengekspresikan wajahku seperti apa. Aku hanya menatapnya begitu juga dengannya, dia melanjutkan jalannya setelah beberapa detik bertatapan denganku.
Aku ingin menghampirinya, ingin mengajaknya ke suatu tempat untuk menyatakan perasaanku padanya. tapi aku ingat perkataan Riski 'Jangan ketemu dulu, coba abaikan saja Senja. kita lihat bagaimana reaksi Senja untuk beberapa hari ke depan'. Karena Riski lebih berpengalaman daripada aku, aku mengikuti saran Riski.
"Kau murung kenapa sih Ris?" Aku menghampiri Riski, Ku lihat kemarin kemarin dia baik-baik saja, tapi sekarang dia cenderung menjadi pendiam.
"Habis putus" Lirihnya, dia mengambil air mineral dan meneguknya.
"Anak sini atau anak mana Ris" aku heran tidak biasanya Riski murung lebih dari 3 hari saat putus dari pacarnya.
"Anak sini, anak TKJ"
"Ohh, Gws ya" aku menepuk pundak Riski dan berusaha tidak tersenyum.
"Sialan kau" gerutu Riski.
"Daripada ngurusin aku, mending pasang dulu bet nama, logo sekolah, sama logo jurusanmu" aku mendengarnya hanya nyengir.
"Iya nih, males di tegur terus sama pak satpam yang jaga gerbang" Memang aku belum memasang bet sekolah, dari itu Senja tidak mengetahui nama dan jurusanku.
"Ngapain lari Ris" aku mengerutkan kening saat melihat Riski lari menuju toilet.
"Ada mantanku, malu lah kalau dia lihat mukaku kayak gini" Aku menggelengkan kepala melihat Riski.
"Kenapa lagi tuh Riski?" tiba-tiba Faris datang membawa air mineral dan meneguknya.
"Ada mantannya katanya" Aku ikut meneguk air mineral yang ada di sampingku.
__ADS_1
"Play boy dari SMP ya gitu" Aku dan Faris tertawa.
"Ngetawain aku ya kalian" Riski kembali dengan wajah lebih fresh.
"Ngga biasanya kau begini Ris" Faris memulai percakapan.
"Selegram dia, malu lah kalau tampangku kayak gini" gerutu Riski, aku dan Faris tertawa kecil.
"Fajar kenapa mukamu juga ikutan murung" heran Faris.
"Kalau ngga mau rencana ini, aku punya rencana lain" Riski duduk menatapku sebentar lalu menatap matahari sore.
"Hah? ngomong apa sih kalian" Faris melihatku lalu melihat Riski bergantian.
"Itu loh Senja anak TKJ" Faris yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya dan menjawab "Owh".
"Langsung ngomong aja tentang perasaanmu pada Senja, beres itu"
"Ya harusnya kayak gitu aja" Faris menyahut.
"di jamin kemungkinan ditolak 35%, sisanya kemungkinan di terima" Riski memberi opini.
"Semangat aja Jar"
"Senja dari muka-mukanya anak baik-baik, ngga mungkin manfaatin Fajar" Faris menyahut.
"Ngga kayak Fika" Ucap Riski, aku yang mendengarnya tersenyum tipis.
"Beda jauh lah kalau sama Fika yang udah kayak player dari SMP" Balas Faris.
"Jangan trauma, ngga semua cewek kayak Fika" Riski menatap ponselnya setelah mendapat notifikasi. Aku hanya tersenyum tipis dan mengiyakan perkataan Riski.
Setelah percakapan selesai, kami memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
Aku memikirkan saran kedua Riski, mungkin benar apa kata dia, masalah diterima atau tidak itu keputusan Senja.
***
Beberapa hari ini aku sudah sangat jarang bertemu dengan Senja walaupun kita di sekolah yang sama, karena faktor sekolah ini luas. Aku melihat nomer WhatsAppnya tidak aktif beberapa hari ini.
Jadi, aku memutuskan untuk bertanya kepada Diana.
"Diana" panggilku.
"Iya" Dia menoleh kearahku.
"Senja akhir akhir ini kemana?" walaupun sedikit ragu, akhirnya aku bertanya pada Diana daripada Hendra.
"Dia sibuk. kadang dia di lab komputer TKJ atau ngga di perpus sama walikelasnya" jawab Diana.
"Sibuk?"
"Kalau mau detailnya tanya aja sama Senja, nanti sore sekitar pukul 4 sorean dia keluar dari lab komputer"
"Kenapa? kangen ya sama Senja?" Diana tertawa kecil.
"Jangan beritahu Hendra" Aku salah tingkah mendengar perkataan Diana.
"Sip lah".
**Tinggalkan jejak berupa like👍
Kalau ingin karyanya aku baca, komen ya!!!😉. nanti aku baca.
Support readers itu motivasi terbesar author😁.
See you👋**
__ADS_1