Panorama Senja

Panorama Senja
5cm


__ADS_3

Setelah di kelas selama jam pertama dan kedua, akhirnya murid dibebaskan untuk melakukan tugas diluar sekolah yaitu mencari bahan untuk majalah sekolah, ada sebagian gambar diambil saat jam pelajaran, ada juga menunggu waktu istirahat, kata Hendra harus menyesuaikan dengan suasana sekolah, jangan yang sepi sepi yang diambil gambarnya.


Aku mendapat ide setelah mendengar itu, aku menuju ke lab Multimedia dan mulai menggunakan fasilitas yang disediakan sekolah dengan semestinya. selain bermain bola voli, aku memiliki pekerjaan paruh waktu berupa menjadi fotografer. aku mematikan komputer saat selesai dengan pekerjaan ku di sana.


***


Jam menunjukkan pukul 15.34 aku menuju lapangan bola voli, Setelah berbicara dengan kakak tingkat ku, dia mengijinkan untuk mengambil gambar saat mereka melakukan kegiatan ekskul.


"Wahh keren ini mah" aku melihat lihat hasil jepretan kamera saat mereka di lapangan.


"Coba lihat" kakak tingkat ku sekaligus kapten tim bola voli itu merebut kamera yang ku bawa dan memperlihatkan foto foto itu kepada pemain yang lain.


"Pergi dulu, mau lanjut ngedit bang".


"tiati dijalan, banyak aspal soalnya"


"garing" ucap anggota ekskul voli dan dijawab dengan tawa.


"Senja?" aku melihatnya sedang membaca buku yang sama seperti kemarin yang berjudul Hujan.


"Hai Fajar" dia mengalihkan atensi nya dan menutup novel yang berjudul Hujan itu.


"Aku tahu tentang novel itu, kamu suka karakter siapa di novel itu" aku duduk di sampingnya dan menjaga jarak dengannya.


"Oh ya?, aku ingin mempunyai pasangan seperti Soke Bahtera" dia tertawa kecil.


"Jangan bermimpi terlalu tinggi" aku ikut tertawa mendengar jawabannya.


"Hahaha, setidaknya dia setia seperti Soke Bahtera"


"Aku setuju dengan mu, tapi manusia adalah makhluk yang plin plan, kadang pemikiran mereka absurd, itu menurut sudut pandang ku" Senja menyetujui perkataan ku tentang teori yang ku buat.


"Manusia memang makhluk plin plan, sesuatu yang pasti di dunia ini adalah ketidakpastian, menurut novel 5cm" Senja mengangguk kecil mendengar ucapannya sendiri.


"kau juga baca novel itu, di novel itu aku menyukai karakter Genta dan Ian" Aku tidak mengira kalau dia mengetahui novel yang sudah lama aku baca milik kakak perempuan ku.


"Aku pinjam di perpustakaan sekolah, aku suka perjalanan hidup Ian, dia tidak sempurna, dibully karena fisiknya, tapi dia memiliki teman-teman yang hebat" dia bercerita dengan semangat tentang buku yang dia baca.

__ADS_1


"Aku setuju, saat perjalanan menuju wisuda nya, itu sangat menginspirasi, pantang menyerah, seperti mendapat angin segar setelah membaca novel itu" Senja menganggukan kepalanya, dan percakapan di lanjutkan sampai pukul 16.34.


"Soal perkataan mu tentang Senja yang selalu di nanti aku belum mendapat jawabannya, bisa tolong beri penjelasannya?" dia menatapku dengan mata penuh harap.


Aku tersenyum tipis melihat nya, sangat imut sekali ciptaan Tuhan yang ini.


"Aku beri waktu 3 hari untuk menjelaskan maksud perkataan ku kemarin, kalau belum menemukan jawabannya mungkin kuberi tahu" aku mengusap kepala nya tanpa sadar.


"Ahh, maaf"


"tidak apa apa, sepertinya aku harus berfikir untuk menjawab maksud perkataan mu kemarin" dia sedang becanda, aku melihat dia tersenyum saat melihat ku mengusap kepala nya.


***


Farhan📨jar, kau punya waktu buat ikut turnamen tidak?, hadiah nya gede, 5jt juara satu, Mayan buat jajan.


Fajar 📨dimana turnamen nya? terus uang pendaftaran nya berapa?.


Farhan📨Gor baru itu loh, kisaran 500ribu per tim, ikut ngga?, Sabtu Minggu besok mulainya, jadi ngga ganggu waktu sekolah.


aku menyelesaikan tugas membuat majalah sekolah, besok hari Jum'at hari terakhir ambil foto saat murid Pramuka, itu akan melengkapi majalah sekolah yang ku buat.


"Senja saat senja, perfect" aku mengecek ponselku siapa tahu ada yang membutuhkan jasa fotografer di akun sosial mediaku.


"yahh, nggada job" aku menghembuskan nafas saat melihat tidak ada pesan masuk dari sosial media.


***


Sekolah, sekarang kata itu sangat menyenangkan di telinga.


"Fajar Fajar" Hendra si ketua kelas itu menghampiri ku saat sampai di kelas.


"Apa Ndra?"


"Ada yang minta nomer mu, beri ngga nih, cakep loh ceweknya"


"Selain temen sekelas, ngga dulu deh"aku meletakkan ponsel di atas meja.

__ADS_1


"Jangan dikasih Ndra, Fajar lagi Deket sama anak TKJ 2" tiba tiba Diana nyelonong ikut nimbrung percakapan absurd ini.


"Wah siapa tuh, kita udah ngga jadi primadona anak Multimedia dong kalau Fajar punya cewek, hahaha" Diana ikut tertawa mendengar perkataan Hendra.


"Jan ngadi Ngadi deh" aku tidak mau kalau murid disini tahu kalau aku emang lagi Deket sama anak TKJ 2.


percakapan berhenti saat mendengar bel tanda pelajaran akan dimulai, setelah berbicara dengan Senja kemarin, sekarang aku mendapatkan motivasi untuk belajar lebih fokus, tidak seperti biasanya, yang hanya suka dengan mata pelajaran DDG dan Olahraga.


"Serius banget kau jar hari ini" ledek Hendra saat melihat ku fokus mendengarkan dan mencatat rumus rumus dari guru fisika.


"Biar pinter" aku meninggalkan Hendra yang melongo mendengar jawabanku, tujuanku hanya satu yaitu KANTIN, rumus fisika ternyata susah, atau memang karena aku tidak memperhatikan dari awal semester 1 hingga rumusnya menjadi susah, entahlah.


"Fajar" Diana menghampiri ku.


"Kenapa na?"


"Senja jar, ditembak orang" ucapnya sedikit panik.


"Mati dong kalau di tembak" aku tertawa kecil melihat raut wajahnya sedikit kesal, diana berlalu pergi setelah aku menjawab itu bukan urusanku.


Jam menunjukkan pukul 15.15, aku sudah menyelesaikan tugas majalah sekolah, hanya saja tinggal menyusun dan mengeprint semuanya agar menjadi majalah buku, aku cukup puas dengan tugas kali ini, saat bingung ingin memilih cover sampul bagian belakang majalah, aku memutuskan menggunakan foto Senja saat senja.


"perfect" aku cukup puas setelah majalah ini jadi.


Farhan📨Jar, cepet otw ke lapangan, mau mulai ini, tinggal kau saja yang belum dateng.


Fajar📨iyee.


Aku mengendarai sepeda motor menuju lapangan yang sering kami gunakan saat latihan bola voli.


"Ngapain Jar kok lama, kayaknya kau makin tinggi deh Jar" Farhan menghampiri ku dan juga teman teman setim ku.


"Ada tugas tadi, kayaknya gitu, biasa masa pertumbuhan" aku tertawa kecil mengingat Senja hanya sebatas bahuku.


Kami memulai latihan hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 21.21, cukup lama karena tadi mulai jam tujuh malam. Setelah selesai mendiskusikan strategi untuk turnamen besok, kami memutuskan pulang agar tidak terlalu lelah.


"jangan lupa kita kebagian jam 11.15, jadinya pagi bisa latihan sebentar, maaf ye, kemaren ngomonginnya mendadak, hehehe" Farhan cengengesan, kami hanya menggelengkan kepala karena Farhan sering kali ketinggalan informasi tentang turnamen.

__ADS_1


__ADS_2