Panorama Senja

Panorama Senja
Semangat


__ADS_3

Sorak Sorai memenuhi bangku penonton lapangan A, begitu juga dengan teman setimku.


"Fajar keren" puji Doni, aku nyengir kuda mendengar ucapan Doni.


"Iya keren banget tadi Fajar" sahut Faris.


"Fajar jadi kayak MVP aja" Farhan tertawa dan mengangguk setuju.


Pertandingan malam ini selesai dengan kemenangan tim ku, dilanjutkan dengan kemenangan di hari Minggu.


***


Akhirnya kami berhasil masuk final, malam ini adalah malam terakhir turnamen kali ini, penonton sama banyaknya dengan malam Minggu kemarin. mungkin mereka juga penasaran dengan pemenang turnamen ini.


"Fajar" Senja meraih tanganku,kita berada di samping gedung cukup sepi menurutku dengan lampu remang-remang.


"Kenapa?" aku membalikkan badan dan menoleh kearah Senja.


"Semangat, kamu pasti bisa" ucap Senja penuh dengan semangat, aku tersenyum melihatnya.


"Pasti" aku meraih tangan Senja dan tersenyum hangat.


"Mojok aja terus" sindir Faris dan Doni.


"Kalian berdua jomblo mending diem deh" Riski ikut menyahut kemudian kami tertawa melihat ekspresi kesal Faris dan Doni.


Setelah obrolan singkat untuk mengurangi rasa gugup, Farhan memberitahukan strategi dan rotasi untuk permainan.


"Inget ya jangan lengah!!" Seru Farhan, kali ini dia lebih serius.

__ADS_1


"Faris sebagai Libero perhatiin arah mukul wing spiker mereka" Faris menganggukan kepala tanda dia mengerti.


"untuk Doni sama Reza sebagai middle bloker tolong kalau ada yang sekiranya bisa untuk bantu nanti usahakan berdua waktu blokir serangan mereka" Farhan menatap Doni dan Reza secara bergantian menunggu jawaban mereka.


"Kamu Fajar inget timing waktu nya, rada lambat aja, kalau udah ketauan sama lawan, kita pake kode" aku mengangguk.


Beberapa saat kemudian kami memasuki lapangan, ini memang final tapi serasa masuk nasional, karena lawan kami lebih terlatih.


'Semangat, kamu pasti bisa' kata kata senja menjadi motivasi tersendiri bagiku.


***


Permainan selesai sorak sorai terdengar dari bangku penonton. aku tidak bisa berkata apa-apa, kami tidak kalah telak akan tetapi poin kami dengan mereka hanya beda 2 poin dan permainan dilakukan 3 ronde, tapi rasa menyesal karena tidak bisa memukul bola dan kena blokir lawan membuatku merasa bersalah, kata kata Senja 'aku pasti bisa' itu tidak harus ditujukan padaku.


Kami menangis tanpa suara saat masuk di ruangan ganti, aku menundukkan kepalaku dalam.


"Maaf kenapa Jar" Farhan menatapku.


"Maaf karena ngga bisa mukul bolanya"


"Itu bukan salahmu, seharusnya aku sebagai Libero bisa ngelindungi bolanya" Faris juga merasa bersalah.


"Sebenarnya yang salah aku, seharusnya aku bisa memperkirakannya sebagai setter" lirih Farhan, dan teman-temanku yang lain juga ikut meminta maaf.


Kami terdiam merenung tentang kejadian beberapa detik yang menentukan kemenangan kami.


"Aku pulang dulu" aku berganti pakaian dan keluar mencari Senja.


"Maaf lama" aku melihat Senja menunggu di depan motorku, dia menoleh dan tersenyum dan berkata "tidak masalah.

__ADS_1


"Bisa kita pergi ke jalan xxx" aku menganggukkan kepala menyetujui ajakan Senja.


"Taman?" ucapku setelah sampai, tamannya tidak terlalu ramai mungkin karena bukan malam Minggu.


"Iya, ayo duduk di sana" Senja berjalan duluan.


"Aku merasa bersalah karena ngga bisa ngelindungi bolanya diakhir" ucapku lirih saat Senja bertanya tentang perasaanku saat ini.


"Itu bukan salahmu, bukan juga salah satu teman mu" Senja menatapku dalam dan melanjutkan kalimatnya.


"Kegagalan sering terjadi, itu bukan untuk mematahkan semangat dan tekadmu tapi itu untuk pelajaran" Senja tersenyum tipis.


"Tapi aku merasa bersalah dengan mereka" lirihku.


"Mereka juga merasa bersalah satu sama lain, jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri" jeda Senja.


"Kalian hebat bisa masuk final, bayangkan perasaan mereka yang sudah gagal di awal, atau di pertengahan, itu seperti nangung Fajar!" aku mencerna baik baik ucapan Senja, berhenti di awal atau di pertengahan itu sangat nangung.


"Bukannya kamu pernah bilang kalau proses itu lebih bermakna daripada hasil?" pertanyaan Senja mengingatkanku, aku termenung.


"Terima kasih" aku tersenyum menatap Senja.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya. Ayo pulang ini sudah hampir larut, bisa bisa aku dibawakan sapu ibumu karena telat mengembalikan anaknya, sebelum itu kita beli makanan dulu di warteg gapapa kan?" ajakku kepada Senja.


"ibuku ga galak juga kali mungkin cuma dibawakan gagang sapunya saja" Senja tertawa melihat ekspresiku yang bergidik ngeri.


"gapapa aku biasa makan dimana saja kok". Kami memutuskan makan di warteg dekat taman, setelah itu mengantarkan Senja pulang, mengingat besok Sekolah dan upacara bendera.

__ADS_1


__ADS_2