
Pov author
Setelah perdebatan itu selesai, Fajar dan Riski berlalu menuju kelas masing-masing.
"Ngga nyangka kalau Riski mantanmu, padahal dia baik, humoris, terus sedikit narsis sih. Hahaha"
"Bukan sedikit narsis, tapi udah narsis tingkat tinggi" balas Risa.
Tanpa mereka sadari ada siswi yang duduk di lantai di barisan paling belakang dan mendengarkan pembicaraan mereka.
***
"Nanti malam aku mau ke pasar malam sama Fajar, yakin ngga mau ikut? kalau mau nanti Fajar ngajak Riski" Tawar Senja sedikit bercanda.
"Ngga ya!" Risa melirik sebentar kearah Senja dan mendengus kesal.
"Jadi kalian pacaran ini masih private?" tanya Risa.
"Iya, kan tahu Fajar sekarang makin populer, jadinya aku minta untuk private"
"Terserah kamu sih, nanti bakal rasain akibat pacaran private" Risa tertawa kecil, sedangkan Senja mengerutkan keningnya.
"Kak Fajar minta nomor WhatsAppnya dong" ucap seorang siswi.
"Kasih aja" bisik Riski.
"Untuk apa?" tanya Fajar kearah siswi itu.
"Ya untuk pdkt lah, kak Fajar aneh" siswi itu secara terang-terangan mengatakannya dan tertawa kecil.
"Tapi a-" Fajar tidak melanjutkan kalimatnya, teringat permintaan Senja yang tidak boleh membocorkan tentang hubungan mereka.
__ADS_1
"Kenapa kak?" tanya siswi itu.
"Nggak kenapa-napa, kapan-kapan aja nomornya"
"heh?" siswi itu bingung, Fajar berjalan cepat meninggalkan siswi itu. sedangkan Riski, ia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Fajar.
"Ya seperti itu jadinya kalau hubungan di private" Senja dan Risa memperhatikan dari jauh percakapan mereka.
"Hmm" Senja membuka buku, mengecek apakah sudah lengkap atau belum jawaban-jawaban dari tugas yang diberikan guru.
"Seharusnya Fajar ngomong aja kalau sudah punya pacar" ucap lirih Senja.
"Huh, terserah deh. mending introspeksi diri, yang salah itu kamu atau Fajar" Risa berlalu menuju kantin meninggalkan Senja.
"Iya makasih sarannya" sedangkan Senja menuju lab TKJ.
***
"Selamat malam tante" sapa Fajar ketika melihat ibunya Senja.
"Malam" tersenyum.
"Udah sampai ya" Senja keluar dari rumah dengan kaos putih polos dengan jeans hitam serta tas selempang kecil.
"Kalian janjian ya make bajunya" goda ibunya Senja.
"Ehh, kok sama" ucap Fajar dan Senja bersamaan. setelah berbasa-basi, Fajar dan Senja melaju menuju pasar malam.
"Kok sepi ya, ngga biasanya" ucap Senja.
"Ini bukan malam Minggu, jadi ya wajar" Fajar meletakkan helmnya, dan membantu Senja melepas pengait helm yang dipakai Senja.
__ADS_1
ketika wajah mereka dekat, Fajar dan Senja tersenyum.
'Manis' ucap mereka dalam hati.
"Yuk" Fajar menggandeng tangan Senja.
Mereka memainkan permainan melempar anak panah ke arah hadiah yang mau didapatkan.
"Ini untukmu" Fajar memberi Senja boneka yang didapatkannya.
"Serius ini, makasih" Senja memperhatikan boneka beruang berukuran sedang yang berwarna pink itu dengan senyuman.
'Kalau dia senyum kayak gitu, siapapun pasti ingin membahagiakannya' batin Fajar.
"Ingin main apa?" tanya Fajar.
"yang pukul tikus itu loh" Ucap Senja menuju tempat permainan itu berada.
Setelah memainkan itu Fajar dan Senja menuju ke tempat lain.
"Minum dulu yuk" Fajar menggandeng Senja dan menuju tempat yang menjual minuman dan makanan ringan.
"Main pukul tikus itu, kok aku jadi emosi ya" ucap Senja, Fajar tertawa kecil.
'Andai kamu tahu, kalau ekspresi wajahmu kalau marah tadi lucu' batin Fajar.
"Kok ketawa sih, kenapa memangnya" dengus Senja.
"Gapapa" Fajar mengelus rambut Senja dan tersenyum kearah Senja.
'Lama-lama diabetes aku kalau lihat senyum Fajar' Senja tersipu malu, merasakan tangan Fajar yang mengelus rambutnya membuat ia merasa nyaman.
__ADS_1