
"Bagaimana kabarmu?" Tanya Fika.
" Seperti yang kau lihat" dia tersenyum tipis mendengar jawabanku.
"Maaf"
"Oke, aku terima permintaan maafmu, sekarang pergilah" sebenarnya aku ingin memaafkannya dan memberi kesempatan kedua, tapi sekarang berubah semenjak bertemu dengan Senja, aku sudah tidak memiliki perasaan apapun pada Fika, mantan pacar saat masih duduk di bangku SMP.
"Tapi kenapa Fajar?" dia menunjukkan raut wajah sedih, mungkin aku dulu sudah luluh, sekarang sudah tidak lagi. Aku bingung ingin menjawab pertanyaan Fika.
"Fajar" panggil suara yang akhir akhir ini memenuhi pikiranku, aku menengok ke arah samping kiri, begitu pun dengan Fika menengok ke arah suara itu berasal.
Senja menghampiriku dengan setengah berlari dengan senyum di wajahnya.
"Dia siapa jar, pacarmu ya?" tanya Fika sedikit resah melihat Senja.
"Iya, aku pergi dulu, nikmati masa belajar mu dengan Alvi" aku tersenyum miring. sedangkan Fika, dia seperti maling yang tertangkap basah.
"Dia siapa?" tanya Senja heran melihat Fika.
"ngga tahu" aku dan Senja meninggalkan Fika.
"Selamat ya" Ucap Senja saat kita sampai di parkiran sepeda motor.
" makasih" aku tersenyum dan dibalas Senja dengan senyuman.
"nanti malam kayaknya rame yang nonton"
"Iya nih, nanti malam dimulai lagi dari jam 19.00 sampai jam sebelas malam perkiraan" Senja mengangguk mengerti.
"Nanti malam kamu main jam berapa Jar?" tanyanya.
"Jam 19.00 lapangan A, kamu ngga lihat info ya?" aku mengerutkan kening, informasi seperti itu seharusnya sudah di publik tadi setelah selesai.
"Hehehe lupa" .
__ADS_1
apa kau tahu Senja, senyumanmu itu terlalu indah untuk ku lihat.
***
Setelah aku mengantar Senja sampai rumahnya, aku pulang dan membersihkan diri.
Senja📨Apa aku boleh nebeng lagi?.
Aku melihat pesannya tersenyum.
Fajar📨Boleh, nanti siap ya jam setengah tujuh kurang.
Senja📨Oke.
Setelah membaca pesan terakhir itu, aku ambruk di kasur.
'Apa ini yang dimaksud dengan kencan secara ngga sengaja?' batinku geli.
"Ayok" Senja keluar dari rumah.
"Iya tan" Jawabku lembut.
"Pergi dulu ya Bu" Senja berpamitan dengan ibunya begitu juga denganku.
***
"Fajar sepertinya kamu jadi pusat perhatian deh" lirih Senja, memang sejak tadi kita jadi pusat perhatian saat memasuki Gor/stadion ini.
"Hah kok aku"
"Sadar diri dong, kamu kan pemain jadi ya kamu yang di salahin" Senja tertawa kecil.
"Emang nyambung ya" aku tersenyum kecil saat ada orang yang menatapku.
"Kalau Hendra sih sudah narsis dari tadi" aku menyetujui perkataan Senja.
__ADS_1
"Bye bye, aku ke bangku penonton dulu ya" ucap Senja.
"Lama banget kau Jar" heran Riski.
"Tadi aku lihat kau bareng cewek tadi siang yang namanya Senja itu kan" Sahut Doni.
"Cie" ucap mereka serempak.
"Apaan sih" aku meninggalkan mereka dan menuju ruang ganti.
"Kalian cocok kok, wajah Senja juga lumayan tuh" ucap Riski dan di setujui yang lain.
"Farhan, gimana hubunganmu dengan siapa tuh, siapa ya" Doni berfikir mengingat siapa nama cewek itu.
"Baik kok, lancar malahan" seperti mengerti, Farhan menjawab pertanyaan Doni.
"Bentar lagi Fajar udah ngga jadi squad jomblo, tinggal kita bertiga dong ini" ucap Doni, memang Doni belum pernah pacaran, bukannya tidak laku, akan tetapi slogan hidupnya 'Carilah pasangan yang satu frekuensi, agar jarang timbul problem'.
Sedangkan slogan hidupku saat ini 'Fotografer memang hobiku, tapi bola voli itu hidupku'. Sedangkan Riski 'Setia tidak perlu nyaman nomor satu' kita sudah mengkritik slogan hidupnya, tapi Riski selalu membalas dengan perkataan 'Nikmati aja dulu, susahnya belakangan' kami yang mendengar itu dulu tertawa, 'Niat doa usaha' slogan Farhan ini memang paling bener diantara kami.
"Masih abu abu Don, tenang aja kita masih squad jomblo kok" Aku tertawa. setelah bercanda gurau untuk mengurangi gugup, akhirnya kami dipanggil untuk masuk ke lapangan.
"Semangat" ucap kami serentak.
"Gila rame banget" kagum Riski.
"Biasa malam Minggu" balas Farhan sambil tersenyum melihat pacarnya yang duduk di bangku penonton.
Sedangkan aku sibuk mencari keberadaan Senja.
Senja melihatku dan tersenyum, aku membalas dengan melambaikan tanganku, dia tertawa dan membalas.
"Udah, jangan bucin dulu" sindir Doni, aku mendengar hanya nyengir.
"Inget ya Jar tentang timing waktu untuk loncat" Bisik Farhan, mengingat lawan kami malam ini termasuk ancaman.
__ADS_1