Panorama Senja

Panorama Senja
Parah


__ADS_3

Hari ini adalah hari pengumpulan majalah sekolah yang aku buat tempo hari, semalam Senja meminta foto dirinya saat menjadi model, dia berkata kalau hasilnya sangat bagus bahkan setara dengan fotografer profesional. Aku membaca pesan itu tersenyum dan membalas kalau dia berlebihan.


"Wuih bagus banget punya majalahnya" Hendra melihat lihat majalah buatanku.


"Kata kata nya ini ngarang sendiri atau gimana" tanya Hendra padaku.


"Ngaco, Beda cerita kalau ngarang" dengusku.


"Ini? bukannya Senja ya?" Hendra mengerutkan kening saat melihat Senja ada dalam foto.


"Hehehe iya"


"Aku nyuruh dia jadi model kok ga mau, sama kau kok mau sih" Heran Hendra.


"Kan udah aku bilang Fajar lagi sama anak TKJ 2 tuh Senja" tiba tiba Diana menyahut setelah menjadi pendengar yang baik di belakang.


"Ohh....What???" Setelah otak Hendra loading, dia kaget mendengar sepupunya lagi Deket denganku.

__ADS_1


"Bener ya Jar" aku yang ditanya hanya nyengir.


"Parah kau Jar, ga bilang bilang" Hendra menatapku sambil menggelengkan kepala. Percakapan kami terhenti saat guru masuk, dan menagih majalah sekolah.


***


POV Senja


Aku membaca novel yang berjudul Hujan sangat tidak cocok sekali dengan sore yang cerah ini. Ketika aku fokus dengan cerita tersebut aku mendengar suara jepretan kamera. Aku menoleh ke arah suara itu, siswa itu mengucapkan permintaan maaf karena telah memotretku. Aku hanya tersenyum, aku mengamati baik baik penampilannya dan memberi kesimpulan bahwa dia anak Multimedia mungkin juga satu angkatan dengan Hendra.


Setelah selesai, aku mengajak dia berkenalan wajahnya sedikit kaget mungkin karena dia lupa kita belum berkenalan di awal percakapan.


Malam harinya aku bertanya tentang Fajar pada Diana, dia mengatakan kalau Fajar satu kelas dengannya dan menjadi cowok ganteng di kelas bersama Hendra, aku mendengar perkataan Diana tertawa.


Tengah malam aku mengirimi dia pesan, aku tertawa kecil melihat balasannya.


***

__ADS_1


Saat aku tahu ada turnamen bola voli yang dekat dengan rumahku, aku meminta izin kepada ibuku. Ibuku memberikan izin dengan syarat harus ada yang menemani, karena tidak adanya sosok ayah saat kelas 2 SMP ibuku selalu bekerja keras dan menjadi sosok ibu dan ayah di keluarga kecil kami, ibuku selalu menasihati untuk lapang dada dan belajar dengan sungguh-sungguh agar masa depanku terjamin.


Aku mengajak Hendra untuk ikut menonton turnamen bola voli, walaupun Hendra kurang minat dalam bola voli, tapi dia tetap menemaniku.


"Fajar" ucapku saat melihat Fajar, aku tahu bahwa dia ternyata ikut dalam turnamen dengan teman satu komplek dan satu SMP.


Ketika Fajar bermain di lapangan, aku menatapnya selalu terpukau melihatnya. Saat mata kami bertemu secara tidak langsung aku tersenyum, cukup canggung karena mata kami sering bertatapan.


***


Fajar berhasil masuk Final, aku memberinya semangat sebelum aku dan Fajar masuk ke area Gor. Aku sangat antusias dengan pertandingan malam ini, Aku mendengar banyak cewek-cewek yang ada di dekatku membicarakan Fajar yang keren saat berhasil memukul bola ke arah lawan, cukup risih karena mereka juga mengagumi Fajar.


Pertandingan selesai. tim Fajar kalah, aku melihat wajah Fajar yang terlihat sangat lelah dan sedih, mungkin dia merasa bersalah karena di akhir akhir pertandingan dia berhasil di blok lawan. Aku memintanya untuk pergi ke suatu tempat, dan Fajar menuruti permintaanku.


Aku memberi nasehat kepada Fajar, nasehat yang ibuku beri saat aku juga berada di posisi Fajar, aku hanya mencopy semua perkataan ibuku dan menanamnya di pikiran Fajar.


Setelah perbincangan selesai, Fajar sedikit lega, dia mulai berfikir kemudian wajahnya sudah ada semangat lagi.

__ADS_1


__ADS_2