
POV Senja
Aku tidak menyangka Fajar menyatakan perasaannya padaku, dan bodohnya aku menggenggam tangannya saat pulang sekolah. Ketika mengingat itu kembali, ingin rasanya ingin bersembunyi dilubang paling dalam.
Aku berguling guling di kasur tanpa sadar ibuku melihat semua yang aku lakukan.
"Senja kamu kenapa" ibu menghampiriku dengan kening berkerut.
"Hehehe gak kenapa-napa kok bu" aku bangun dari tiduran dan merapikan rambut.
"Kamu sedang jatuh cinta ya" ibu tersenyum menggoda.
"Ibu juga pernah muda kalik, apa orangnya Fajar?" ibu semakin tersenyum melihatku salah tingkah.
"Ibu restui kok kalau sama Fajar, sebenarnya dia anak dari temen ibu di tempat kerja" aku kaget mendengarnya.
"Masa sih bu?" aku melongo mendengarnya.
"ibunya Fajar seorang janda, dia membesarkan kedua anaknya sendiri. sekarang yang perempuan sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi lewat jalur beasiswa".
"Fajar ternyata juga gak punya ayah ya" aku menganggukkan kepala mendengar penjelasan ibuku.
"Tapi, jangan lupa belajar supaya tercapai impianmu kayak kakaknya Fajar" ibu menarik hidungku dengan gemas.
"Iya bu"
"Ibu sama ibunya Fajar sekarang sudah naik jabatan menjadi pengawas di pabrik" aku mendengar perkataan ibu tersenyum, setelah berbincang aku dan ibu pergi ke ruang makan dan makan malam bersama.
***
__ADS_1
Keesokan harinya aku berangkat lebih pagi dari pada biasanya, mengendarai sepeda motor lebih santai dan menikmati pagi yang macet seperti biasanya.
Sesampainya di parkiran, aku segera menuju ruang kelas dan membaca materi-materi pembelajaran hari ini.
"Kenapa wajahmu ditekuk?" Risa membanting tas di sampingku dengan wajah seperti belum di setrika.
"Lagi galau, ga bisa move on"
"Ngga biasanya kamu kayak gini, kenapa putus kalau kamu galau gini?" heranku.
"Dia jadi cowok populer sekarang, aku lebih suka cowok yang ga populer, makanya dulu aku minta putus" Risa memang tidak pernah pacaran dengan cowok populer padahal dia sendiri selegram di sosial media, egois kata itu pas untuk Risa.
"Hahaha rasain tuh" aku tertawa.
"Sialan" umpatnya lirih.
"Sekarang aku udah jadian sama Fajar" ucapku setelah berhenti tertawa.
"Makasih" aku memeluknya dia membalas dan kita tertawa kecil.
"Senja" aku mendengar suara familiar dari depan pintu, tidak kusangka ternyata ada Fajar dan juga Riski.
"Apa dia mendengar semuanya" bisikku kepada Risa, bisa gawat kalau dia mendengar perkataanku tadi.
"Aku jamin nggak kok, dia baru datang saat kita udah pelukan" bisiknya. Fajar menghampiriku dengan Riski berjalan di belakang yang fokus dengan hp.
"Pagi" sapaku, Fajar tersenyum dan membalas sapaanku.
"Bet sekolahnya udah dipasang ya?" aku tertawa kecil, pasalnya dulu dia tidak memakai bet sekolah.
__ADS_1
"hehehe iya" Fajar tersenyum dan menampilkan deretan giginya yang rapi serta lesung gigi yang membuatku salah tingkahku.
"Kenalin ini Risa" aku mengenalkan Risa kepada Fajar, kulihat Riski mendongak begitupun dengan Risa.
"Kamu" ucap Riski dan Risa bersamaan.
"Kalian saling kenal" aku menautkan alisku begitupun dengan Fajar.
"Dia mantanku" Ucap mereka bersamaan lagi.
"Kompak banget kalian" Fajar tertawa kecil begitu juga denganku.
"Hey crocodile ngapain kau kesini?" tanya Risa ketus.
"Hah apa? ngaca dong kalau kau versi ceweknya" balas Riski tidak kalah ketus.
"Berarti kalian cocok dong" aku ikut menyahut percakapan mereka berdua.
"Ngga!!" teriak mereka bersama.
"untung sepi nih kelas, kalau rame malu banget aku" ucap Riski.
"apa? oh gitu, berarti aku malu-maluin gitu" Risa mulai menaikan suaranya satu oktaf lebih tinggi.
"Gitu aja terus, jadi orang kok sensitif-an" sindir Riski.
"Jadi orang kok tebar pesona" balas Risa.
"Udah-udah" Fajar menghalangi Riski untuk menyahut perkataan Risa.
__ADS_1
"Oh yang kamu maksud anak TBSM tuh Riski ini ya Ris" bisikku.
"Iya" dia menjawab sambil berbisik.