PANTI MATI

PANTI MATI
KELUARGA ITU


__ADS_3

MONOLOG BUNDA


Maafkan Bunda anak-anak. Kalian adalah anak-anak yang bunda sayangi. Bunda hanya bisa merawat dan membesarkan kalian di panti ini. Dari anak-anak yang ditinggal keluarganya, anak yatim piatu, dan juga anak yang dibuang saat dari bayi. Bunda selalu rawat kalian dengan tulus dan ikhlas.


Namun, maafkanlah Bunda. Bunda hanyalah orang yang dikerjakan paksa, jika tidak bekerja, Bunda akan dibunuh.


Dulu keluarga kita bahagia, namun sekarang berbeda. Ayah telah dibunuh oleh seseorang tanpa kalian ketahui. Bunda diancam agar terus bekerja merawat kalian. Sampai organ tubuh kalian diambil dan diperjualbelikan.


Sudah banyak dari kalian yang terbunuh, tanpa kalian ketahui kalian akan dibunuh.


Karena itulah, aku, bunda memohon maaf kepada kalian semua.


Tetapi untuk saat ini Anak-anak. Bunda akan membantu kalian, memberitahu semua kebohongan dan kekejaman orang yang merebut panti asuhan ini. Untuk pergi dari tempat kejam yang tidak kalian ketahui kebenarannya ini.


——————————————————————————


Plot Yayan


Sudah 3 tahun aku di sini. Belajar, makan, tidur, dan bermain. Hari-hari yang dilewati, terasa lebih damai dan nyaman. Aku sangat senang mempunyai keluarga ini.


Sebelumnya aku ditinggalkan ayah dan ibuku yang bercerai. Mereka tidak mempedulikan ku. Aku sangat sedih saat itu. Selepas itu aku hanya tinggal di rumahnya nenekku. Tidak bersekolah maupun mempunyai teman.


Aku sangat kesepian, aku hanya bisa bercerita bersama nenekku untuk menghilangkan rasa kesepian. Sekitar dua tahun aku tinggal di tempat nenek ku.


Nenek ku sadar bahwa hidupnya tidak lama lagi. Dia menanyakan orang-orang yang dekat dengannya, untuk meminta mencarikan panti asuhan yang layak. Dan pada saat itulah seorang pria datang untuk menawarkan ku tinggal di panti asuhan ini.


Orang itu adalah seseorang yang disebut 'Ayah' di panti asuhan ini. Ayah sangat tinggi, sangat tenang dan terlihat seperti orang yang rajin dan sopan. Berbaju rapi dan membawa tas samping kecil. Mungkin itu berisi surat-surat penting untuk aku bisa di daftarkan disini.


Selang beberapa bulan kemudian, nenek ku meninggal. Di acara pemakamannya aku menangis. Hanya Ayah kandung ku yang menemani ku, dia tersenyum sedih kepada ku.


Dia bilang bahwa dia tau aku akan tinggal di panti asuhan, dan juga dia setuju, karena dia tidak bisa merawat ku. Dia selalu saja sibuk. Ayah yang tega kupikir.


Namun saat ini, aku memiliki Ayah dan Ibu(Bunda) yang baru. Dan juga memiliki saudara-saudara yang menyenangkan.


Tetapi, entah kenapa Ayah(panti asuhan) tidak pernah terlihat lagi, Bunda jarang terlihat memasak makanan untuk kami, dan keluarga ini juga semakin berkurang. Hingga saat ini hanya ada 7 saudara ku dari 30 saat dua bulan terakhir.


"Hei, Yayan kok melamun," ucap seseorang yang menuju ke arahku dan duduk di sampingku.


Aku melihat kearahnya, dia adalah Reza. Rambut yang tebal, tingginya sama dengan ku, yaitu 170 cm. Dia adalah orang yang baik, sering berbicara dengan saudaranya, dan bisa menenangkan suasana pada saat ada saudara yang berselisih.

__ADS_1


"Hm? Oh Reza. Aku cuma ngeliatin Adik-adik bermain," jawab ku sambil melihat kearah lamunan ku tadi. Arah yang mengarah kepada Adik-adik kami yang bermain.


"Oh..." kata Reza yang ikut melihat kearah adik-adik kami.


Mereka bermain sangat bersemangat, bermain sembunyi-sembunyian. Salah satu dari mereka, harus mencari mereka yang bersembunyi.


Melihat mereka berempat bermain, membuat ku merasa sedikit gelisah. Saat aku akan diadopsi oleh keluarga lain, mungkin aku merindukan mereka.


Kevin berumur 13 tahun, Willy 12 tahun, Deva dan Nia berumur 11 tahun, itulah nama dan umur dari adik-adikku. Reza dan Sindi adalah saudara yang seumuran denganku, 16 tahun.


"Agak terasa sedih ya...Sudah banyak yang meninggalkan tempat ini. Mungkin mereka bahagia dengan keluarga yang mengadopsinya," ucap Reza yang tersenyum sedih.


Aku melirik ke arahnya, melihat wajahnya yang termenung meratapi ke depan. Namun, perasaanku dia seperti menatap sesuatu yang dalam dan memikirkan sesuatu yang rumit di pikirannya.


"Ya...Suatu saat, kita akan berpisah," gumamku pelan dan terdengar kesepian.


Suara guntur yang pelan membuat ku tersadar. Tidak terasa langit menggelap. Langit yang tadinya sedikit cerah, kini berubah menjadi awan mendung.


Gerimis mulai turun, membuatku harus memanggil adik-adik yang tadinya bermain, agar berhenti dan masuk ke dalam rumah.


"Dek...Masuk rumah!" seru Reza sambil berdiri.


"Nanti sakit gara-gara hujan," ucapku untuk meneruskan dan berdiri.


Sekeliling rumah ditutupi pagar beton setinggi tiga meter lebih. Ayah bilang itu dibuat supaya tidak kemalingan.



"Dhuaar" suara petir yang membuat adik-adik berlari lebih cepat, Dan membuatku terkaget. Aku dan Reza lanjut masuk dan menutup pintu rumah. Kemudian kami menuju ruang tengah, tempat main ataupun belajar.


Dari tadi, sejak Sindi dipanggil oleh bunda, aku belum melihatnya sama sekali sampai sekarang. Ada rasa khawatir yang datang padaku.


"Reza, jagain dulu adik-adik," bisik ku kearahnya


"Oh, ok," jawab Reza, spontan.


Aku bermaksud untuk mencari Sindi. Aku melewati ruang tamu, kamar khusus laki-laki, kamar khusus perempuan, tempat makan bersama, dapur dan gudang. Namun belum ku temukan.


Hanya satu tempat yang belum ku periksa, kamar bunda.

__ADS_1


Aku berlari ke arah kamar Bunda. Saat hampir sampai, aku melihat seseorang. Dia berlutut menunduk di depan pintu kamar bunda. Lorong yang sempit dan gelap menuju kamar bunda, sangat menakutkan. Ditambah lagi dengan suara hujan dan petir.


Aku lalu berjalan mendekat, Dia-Sindi menangis.


"Sin, Kamu kenapa?" tanyaku khawatir, berlutut di hadapannya.


"Kita, kita..." lirihnya yang tidak sanggup berbicara.


"Hah?" ucapku yang kebingungan.


"Reza!" seruku memanggil ke arah ruang tengah, tempat bermain anak-anak.


Tidak lama, Reza datang ke arah ku. Jarak antara lorong ini dan ruang tengah tidak terlalu jauh, sehingga panggilan ku bisa didengar oleh Reza. Reza terkejut melihat ke arah ku. Adik-adik pun ikut di belakangnya, dan mereka juga terkejut dan takut.


Sindi tetap menangis dan menutup matanya dengan telapak tangannya. Aku berdiri dan berbisik kearah Reza.


"Sindi nangis sendiri, gak tau kenapa. Aku mau ambilin air minum bentar, jagain dulu."


Aku langsung hendak berjalan menuju dapur. Namun tangan ku dipegang dan ditahan oleh Reza. Reza mendekati ku dan berbisik.


"Biar aku ambilin air minumnya," ucapnya langsung menuntun adik-adik untuk kembali ke ruang tengah.


"Ayo-ayo kalian main di sana aja," Ajak Reza untuk adik-adik. Adik-adikpun menurutinya.


Sekitar dua menit aku hanya menepuk pundak sindi dari belakang setengah berdiri. Sindi masih terus menangis. Seseorang datang dan itu adalah Reza sambil membawakan air minum.


Aku pun mengambil minumannya dan memberikannya kepada Sindi.


"Sindi udah nangisnya...Minum dulu biar tenang," ucap ku pelan membujuk Sindi agar minum, dan berlutut lagi di hadapannya.


Sindi pun mengambil gelas ditangan ku. Tangannya bergetar hebat. Aku dan Reza pun sedikit terkejut dan menatap satu sama lain keheranan.


"Kamu kenapa Sin?" tanya Reza yang ikut berlutut di samping ku.


Sindi hanya terdiam dengan wajah datar, mulutnya bergetar. Matanya terlihat kosong.


"Sindi?" tanya Reza lagi.


"Kita...Kita akan..." Sindi mulai menangis lagi dan mengangkat wajahnya.

__ADS_1


"Kita kenapa?" tanya ku.


"Kita akan mati!" teriaknya ke arah ku dan Reza.


__ADS_2