PANTI MATI

PANTI MATI
PERGILAH


__ADS_3

"Anak-anak, kalian kurang ajar..."


Mereka semua panik dan juga langsung melonggarkan tali itu supaya menurun untuk Yayan. Setelah tali itu hampir setinggi kepala Yayan, Yayan langsung meraih ujung talinya.


"Ayo tarik!" tegas Reza.


Kevin kemudian membantu mereka. Mereka menarik talinya dengan sangat kuat. Membuat Yayan terangkat cepat dan harus menahan gesekan badannya dengan pagar besi itu.


"Tertangkap kamu!"


Belum sampai atas, bibi itu sudah menggapai kaki Yayan. Reza dan yang lainnya terkejut—panik. Yayan menggoyang-goyangkan kakinya yang di genggam oleh bibi itu. Reza dan yang lainnya terfokus kembali untuk menarik tali itu dengan sekuat tenaga.


Tetapi, Yayan tidak terangkat, tidak juga menurun. Talinya tidak bergerak. Yayan mengulungkan tali kain itu ke tangannya agar tidak terlepas dari genggamannya. Reza dan yang lain masih menarik. Bibi itu itu juga sama, menarik kaki Yayan.


Kejadian itu berlangsung lama, Yayan juga mulai merintih kesakitan karena menahan tarikan yang berlawanan.


Kevin kemudian menatap bibi itu dengan tajam. Seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Dia kemudian melepas tangannya dari tali, kemudian dia berlari cepat ke depan. Karena berkurangnya daya tarik, Yayan mulai menurun.


Saat Kevin berlari, dia mengayunkan kepalan tangannya. Tinjuan dari Kevin memasuki sela pagar dan menuju ke arah Bibi.


Namun, bibi menyadari itu, dia melepas satu tangannya dari kaki Yayan. Itu membuat daya tarik berlawanan itu kembali seimbang. Tangan kiri bibi itu menangkap tangan Kevin yang masuk di sela pagar. Bibi itu kemudian menariknya sehingga wajah Kevin terbentur pagar besi di depannya.


Bibi itu kemudian melepas tangan Kevin. Kedua tangannya kembali terfokus untuk menarik kaki Yayan.


Kevin memegang wajah bagian kanannya. Dia telah terjatuh ke belakang.


Reza, Sindi, Willy, Nia, dan Deva mulai melemah. Bibi menyadari daya tarik yang melemah dari mereka. Dia tersenyum licik. Bibi itu melepas kedua tangannya. Hal itu membuat Yayan terangkat cepat.


Reza, Sindi dan adik-adik, terkejut karena itu. Mereka seperti terdorong ke belakang. Adik-adik perempuan; Nia dan Deva terjatuh bersamaan, Sindi yang didepan mereka juga ikut terjatuh karena tersandung yang di belakang.


Reza, Kevin, dan Willy terkejut karena mengurangnya kekuatan daya tarik mereka. Karena itu, Yayan menurun cepat ke bawah, masih belum sempat ia keluar pagar.


Yayan panik dan kehilangan keseimbangannya. Dia gagal mendarat dan membuat kakinya keseleo. Kedua kakinya merasakan nyeri yang kuat, bukan hanya karena terjatuh, tetapi juga karena tarikan oleh bibi itu tadi. Yayan terbaring karena kakinya yang nyeri.


"Sial..." rintih Yayan pelan.


"Bagaimana ini..." gumam Reza pelan, kebingungan.


Bukan hanya Reza yang kebingungan. Masing-masing dari mereka sama halnya. Tiba-tiba pertanyaan muncul dari pikiran mereka. Mereka sedang berada diantara dua pilihan yang sulit.


Apakah mereka tetap kabur dan meninggalkan Yayan?


Atau mereka kembali ke rumah dan menyerah?

__ADS_1


Bibi tersenyum kecil, "Tuh kan jatuh..." Bibi itu kemudian menempelkan kedua telapak tangannya ke besi pagar, "Kevin...Reza... Dan yang lainnya..."


Kevin berdiri saat di tatap oleh bibi. Dia kemudian memandang ke belakangnya. Dia melihat Reza, Sindi dan yang lainnya sedang gelisah dan khawatir.


"...Jangan pergi... Bukankah kalian hidup nyaman di sini... Bisa makan, tidur, bermain... Kembalilah ke rumah kita yang istimewa ini."


"Jangan, cepat pergi!" Teriak Yayan mengejutkan mereka semua.


"Kembalilah..."


"Pergilah!"


"Percuma saja... Apa kalian tega meninggalkan Yayan si saudara... Palsu mu ini?"


"Wanita sialan!" geram Kevin.


"Tinggalkan saja aku! Cepat cari bantuan di kota sana!"


"Bagaimana ini...Kita?" tanya Sindi pelan kepada Reza.


Reza hanya terdiam membeku dengan kebingungan yang terpampang di wajahnya.


Bibi menatap Yayan, "Jika kalian meninggalkannya, dia akan segera di bunuh tidak lama setelah kalian pergi."


Bibi itu melanjutkan perkataannya, "Aku bisa saja bersembunyi dari tempat ini. Walaupun kalian mendapatkan bantuan, tak ada bukti yang kalian dapatkan. Dan juga... Memangnya orang kota percaya begitu saja dengan kalian?"


Bibi itu menghasut mereka. Mereka Reza hanya terdiam gelisah. Suasana hening begitu lama, masing-masing dari mereka hanya menunggu orang yang akan bertindak duluan. Namun tak ada yang bertindak dari mereka Reza.


"Cepat pergi! Jangan melamun!" tegas Reza.


Mereka semua tersentak dari lamunannya, dan mulai menatap satu sama lain dan mulai perlahan ingin bergerak.


"Bagaimana ini?" keluh Reza pelan.


Bibi tersenyum bangga, "Bagaimana? Masuk saja kembali..."


Setelah dia mengucapkan itu dia mengambil sesuatu dari kantongnya. Itu adalah kunci pagar. Bibi itu kemudian membuka pagar besinya, tidak terlalu lebar.


Sewaktu Bibi sedang membuka pagarnya, mereka Reza berjalan mundur, menjaga-jaga jika bibi itu langsung mengejar mereka. Yayan mencoba berdiri, dia bisa berdiri dengan memegang besi pagar. Tetapi dia tidak bisa berlari.


Bibi itu berjalan keluar pagar, saat perjalanannya dia mendengar gerakan dari Yayan di belakangnya.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan kaki seperti itu?" bisiknya melihat kebelakang.

__ADS_1


Yayan menatap tajam bibi itu dengan kebencian. Namun bibi itu tidak mempedulikannya. Bibi itu tetap berjalan ke depan.


Reza dan yang lainnya mulai menjaga jarak dari bibi itu. Sindi dan Adik-adik mulai berdekatan dengan Reza. Reza berbisik kepada adik-adik. Lumayan lama mereka berbisik. Bisikan mereka tidak terdengar oleh Bibi itu. Setelah Reza selesai, mereka semua mengangguk pelan, kecuali Kevin.


"Hah? Yang benar saja," bisik Kevin pelan, "Cih... Lebih baik aku kabur!"


Tiba-tiba Kevin berlari cepat, untuk melarikan diri.


"Kevin tunggu aku!" Willy berteriak dan mulai menyusul Kevin yang berlari."


"Hey! Mau kemana kalian?! Hey! Kembali!" Teriak Reza.


"Reza! Kalian juga harus pergi, cepat!" Teriak Yayan.


"Jangan pergi!" Bibi itu panik karena Kevin dan Willy melarikan diri.


"Kami tidak akan melarikan diri..." ucap Reza. Kami yang di maksudkan oleh Reza adalah ; Sindi, Nia dan Deva.


Bibi itu bisa saja mengejarnya mereka berdua sekarang, namun dia harus menutup kembali pagarnya supaya Yayan tidak melarikan diri atau bersembunyi di hutan dengan mereka Reza.


"Kalian tidak melarikan diri kan? Kemarilah mendekat, masuklah kembali!"


Reza berjalan, di belakangnya ada kedua adik perempuannya yang khawatir. Yayan terkejut karena tindakan mereka.


"Apa yang ingin kalian lakukan?" gumam Yayan pelan. "Pergilah! Jangan kembali ke tempat ini." tegas Yayan lagi.


Reza tersenyum paksa, "Kami... Tidak bisa meninggalkan mu di tempat ini Yan."


"Hah? Apa yang kalian pikirkan?" Yayan merasa mereka bertindak konyol.


Saat Reza ingin melewati Bibi itu, Kaki Reza di tendang dengan kuat sehingga dia terjatuh keras. Yayan, Sindi, Nia dan Deva terkejut karena itu.


"Reza!" teriak Sindi mendekati Reza yang terjatuh, Dia menepuk-nepuk pipi Reza. Reza dibuat pingsan oleh bibi itu.


Yayan dan adik-adik perempuan hanya terkejut membeku.


"Itu supaya kalian tidak bisa bertindak lagi sekarang," ucap Bibi menggendong Reza dan menaruhnya di halaman depan, dekat Yayan.


Saat bibi itu membawa Reza ke dalam—halaman depan rumah, Sindi, Nia dan Deva mengikutinya dari belakang dengan panik.


Setelah Bibi itu menaruhnya, bibi itu keluar pagar dan menguncinya dari luar.


"Kalian diam saja di sini!" ucap Bibi itu tegas.

__ADS_1


Kemudian, bibi itu berlari untuk mengejar Kevin dan Willy.


__ADS_2