PANTI MATI

PANTI MATI
ANAKKU


__ADS_3

Plot Bibi


Sialan, Kemana kedua anak itu!


Anak-anak kurang ajar.


Bisa-bisanya aku lalai malam ini. Aku kurang beristirahat. Menjadi seorang bunda memang lelah, aku tak menduganya. Apalagi harus menjaga anak-anak sebanyak ini. Bagaimana bisa wanita itu bisa merawat semua anak-anak di sini. Walaupun tubuh ku kuat, ataupun cepat, tetap saja stamina terbatas.


Aku berlari, melewati jalan tanah ini. Aku tidak menggunakan alas kaki. Itu karena aku buru-buru harus menggagalkan pelarian mereka. Aku sudah tau kenapa mereka melarikan diri. Yang pasti mereka ingin terus menjalani hidup.


Aku iri, kalian memiliki semangat yang kuat untuk tetap hidup. Apalagi, soal Reza yang malah kembali untuk Yayan.


Aku tak akan lagi membuat kalian melarikan diri. Aku harus tetap waspada dan fokus. Karena itu, aku harus mengejar Kevin dan Willy.


Aku tak akan membiarkan kalian tetap hidup, maafkan aku...


Mau bagaimana lagi, aku melakukan semua ini demi dia.


Karena aku terlalu banyak berpikir, aku tidak terlalu fokus saat berjalan, tujuan ku adalah mencari mereka berdua.


Aku menatap tajam di sekeliling ku dan tetap berlari. Tidak lama, kaki ku terkait sesuatu. Aku tidak tahu apa itu.


Wajahku menghantam tanah dan membuat penglihatan ku terganggu.


Aku rasa penglihatan ku terganggu bukan karena percikan dari pasir atau semacamnya, tapi karena kesadaran ku mulai menghilang.


[Mimpi Bibi]


Ibu?


Itu anakku, anak yang paling cantik. Diciptakan di dunia walau tak sempurna. Meskipun seperti itu, aku bersyukur bahwa di hidup.


"Iya nak, Ibu di sini..."


"Dimana Bu?"


Anak ku tak bisa melihat ku. Kadang-kadang, dada ku terasa sesak saat dia mencari ku. Aku menghela nafas, lalu mendekatinya.


"Di sini, di sisi mu."


---


"Ibu, bagaimana rasanya bisa melihat?"


Aku terkejut karena pertanyaan yang dilontarkannya.


"Rasanya... Mengerikan."


"Kenapa?"


"Itu menyakitkan."


(Penjelas : Anak dari bibi itu buta. Banyak orang yang merasa jijik dengan anaknya, termasuk suaminya sendiri. Dia merasakan sakit hati yang luar biasa karenanya.)


"Tidak bisa melihat juga menyakitkan Bu. Aku tak tahu wajah mu seperti apa, namun aku tahu rupanya setelah ku pegang. Kadang-kadang itu membuatku terpikir, kenapa ya aku tak bisa melihat... Rasanya, hidup ini membosankan."


("Demi dia" yang dimaksudkan oleh bibi itu adalah anaknya. Karena itu dia bekerja di perusahaan gelap untuk mendapatkan kedua mata milik Nia, karena anaknya juga seumuran dengan Nia. Bibi itu melakukan perjanjian dengan panti gelap. Dia harus bekerja jika ingin anaknya bisa mendapatkan mata untuk melihat dunia sebagai imbalan.)


Aku terkejut karena kalimat terakhir yang diucapkannya.

__ADS_1


Apa yang harus ku lakukan?


~|~


Suatu hari aku berjalan dengan membawa anakku di hutan.


*Dia terus bertanya ada apa, ke mana, dan di mana ini. Aku menjawabnya itu, tapi aku berbohong.


Aku ingin bunuh diri bersamanya*.


Aku sudah menyiapkan tali, untuk gantung diri. Pertama, aku ingin menggantungkan anak ku terlebih dahulu. Setelahnya baru aku.


Saat aku ingin menggendong anak ku ke atas, tiba-tiba ada seseorang dibelakang kami. Seorang pria, Dia memakai baju sederhana.


"Jangan lakukan itu."


Hanya ucapan sederhana. Dia tidak berteriak, dia juga tidak marah ataupun sedih.


Dia hanya mengangkat satu tangannya untuk menyuruhku menghentikan ini. Dia tersenyum pelan, lalu dia berjalan mendekati anakku, yang masih ku gendong.


*Dia mengelus kepala anakku dengan lembut...


Tidak ada yang pernah mengelus kepala anakku sejak lahir, maupun suami ku atau diriku.


Hanya pria ini. Yang benar-benar tulus*...


Sejak saat itu, kami membuat perjanjian.


~|~


Plot Yayan


"Maaf ya Yan, aku malah kembali." Reza meminta maaf karena melihat ku yang merenung.


"Bukan, aku lah yang harusnya minta maaf. Gara-gara aku tertangkap... Semuanya begini."


"Tidak, kamu tak salah," ucapnya menyela.


Aku tersenyum dan menghela nafas. Terlihat sedikit uap yang berterbangan, yang tak lama menghilang di udara yang dingin.


"Ayo ke teras rumah saja."


Reza mengajak aku dan yang lain agar pindah. Sebelumnya kami hanya terduduk. Mereka sadar bahwa tadinya aku susah untuk berjalan. Kaki ku... Mati rasa.


Namun sekarang kaki ku terasa lega. Aku mencoba berdiri dengan memegang pagar besi ini. Dengan bergetar-getar, aku berhasil untuk berdiri dengan menahan keseimbangannya sambil memegang pagar besi ini.


Ini mustahil bagi ku untuk berjalan ke teras sana. Tanpa ku sadari, aku memasang ekspresi murung.


"Biar ku bantu."


Reza mendekat ke arah ku, dia mengambil tanganku dan menaruhnya di belakang lehernya.


"Oh, terimakasih."


Aku kemudian melepaskan tangan kiri ku dari pagar besi. Kemudian aku mencoba berjalan dengan bantuan Reza. Saat tidak lama berjalan, aku kehilangan keseimbangan.


Namun, aku ditangkap oleh Sindi. Sindi kemudian menaruh tangan kiri ku di belakang lehernya juga, sama seperti Reza. Saat ini aku merangkul dua orang, namun agak sedikit miring. Karena Sindi pendek...


Saat pikiran itu muncul, aku tersenyum kecil dan menahan tawa.

__ADS_1


"Hei, Kenapa kamu?"


Reza menatap ku dengan terkejut. Aku menjawab, "Tak apa-apa."


"Serius, itu mengerikan."


Suara itu muncul dari samping kiri ku, yaitu Sindi. Dia menatap ku dengan wajah ngeselin miliknya.


"Kenapa kamu?" tanya ku.


"Justru kamu yang kenapa? Malah ketawa sendiri tadi."


Sindi membuat ekspresi kesal yang lucu.


"Huh? Aku ketawa karena ini tidak seimbang, kamu pendek sih."


"Aku lepas nih!"


Sindi mengancamku.


"Eh, jangan."


Ucapan itu keluar dari mulut ku dan mulut Reza secara bersamaan.


Sindi tertawa kecil. Aku dan Reza tersenyum lega. Sama halnya dengan Nia dan Deva.


"Sekarang malah kamu yang ketawa sendiri, itu mengerikan." Aku mengucapkan itu kepada Sindi.


"Ini wajar, kamu tadi yang gak wajar," balas Sindi kepada ku.


"Iya, aku kira kak Yayan kesurupan..."


Nia mengucapkan itu dari mulut polosnya. Hal itu membuat mereka semua tertawa. Sedangkan aku... Hanya terkejut dan canggung di sela tawa mereka. Ini memalukan...


Sekarang kami sudah sampai di teras rumah, aku duduk dan menatap langit.


"Kalian ingat tidak, saat aku baru datang ke sini, aku sangat takut dan khawatir. Dan pada saat itulah, kalian semua malah mendekati ku dan tersenyum gembira."


"Ya aku juga ingat, aku sama seperti mu Yan. Awalnya


Aku juga sama sepertimu. Rasa ragu dan bimbang muncul pada awalnya... Namun sekarang, semuanya berbeda... Mereka semua orang-orang baik, dan aku ingin menjadi bagian dari mereka."


Tiba-tiba Reza menunduk dan melanjutkan kata-katanya.


"Namun, malah seperti ini, semuanya telah tiada berapa banyak saudara kita yang telah..."


Mulut dan suara Reza bergetar, matanya mulai berair. Mataku terasa perih dan mulai berair. Sama halnya dengan yang lain. Sindi, Nia dan Deva menangis sedikit deras. Sindi memeluk Nia dan Deva, dengan melihat itu, aku tersentuh.


"Beni, Dona, Sten, Tama, Anto, Ari, Jaya, Ujang, Janu, Rama, Satria, Bagas, Bima, Agung, Bunga, Kolin, Mela, Tania, Indah, Ani, Maya, Murni, Ayu, Yanti, Sari, Yumi, Leni..."


Reza bergumam. Itu adalah nama-nama saudara kami yang di panti asuhan ini.


"Mereka semua telah tiada..." Reza melirih dengan kesal, "Aku tak menyangka semua ini terjadi."


Mereka yang sudah pergi dari panti ini telah bahagia. Bersama keluarga barunya masing-masing.


Itu yang awalnya kupikirkan. Ternyata itu salah besar. Kita tertipu, kita tidak menyadarinya.


Masing-masing dari kami, mengeluarkan air mata, yang pasti bukan air mata yang bahagia. Namun, aku merasa ini belum berakhir. Udara malam yang dingin, dengan langit yang bercahaya redup dari bulan, membuat semuanya terlihat belum berakhir begitu saja, masih banyak esok hari dan seterusnya. Dengan itu aku ragu, apa yang akan terjadi di masa depan? Meski begitu, air mata ini cukup hangat untuk dinginnya malam yang menerpa wajah ku.

__ADS_1


__ADS_2