
Apa yang terjadi pada ku? Wajah ku... terasa berdebu dan nyeri.
Perlahan aku mencoba membuka mata ku. Lalu menyapukan wajahku menggunakan tangan. Kemudian penglihatan ku mengarah kepada kegelapan. Kegelapan itu berada di sekitarku. Semua yang tertangkap di mataku samar-samar mulai terlihat jelas. Aku baru ingat... Kalau aku tadi tersandung sesuatu,
Tapi apa? Dan bisa-bisanya aku pingsan?
Bersamaan dengan indra penglihatan yang samar, aku mendengar suara bisikan.
“Dia bangun.”
“Sial, kita harus lari!”
Kalau tidak salah, yang kudengar ini adalah suara Willy dan Kevin. Setelah Kevin menyerukan itu, Aku dengan cepat menangkap sesuatu yang bergerak di depan ku. Itu adalah kaki Willy, Aku tak mengerti dengan apa yang mereka akan lakukan tadinya. Yang jelas, merekalah yang pelakunya.
Willy menggoyang-goyangkan kakinya yang ku genggam dengan kuat. Tapi dia tidak melakukan itu dengan kasar, Sehingga tangan ku masih bisa menahannya.
Kamu bocah yang baik, Kamu tidak ingin kasar padaku. Tapi aku mungkin berlaku kasar kepada kalian. Bahkan lebih daripada itu.
Kalian adalah orang yang hebat, anak yang bersemangat. Aku iri, Anak ku tidak bisa seperti kalian. Namun, Meski begitu, Aku tetap mencintai anakku sendiri. Tidak seperti mahluk-mahluk yang menatap jijik kepadanya, bahkan ayahnya sendiri.
Mengingat itu, aku merasa sangat kesal dan mengeraskan tangan ku yang berhasil menangkap kaki willy tadi.
“Aakhh.”
Willy menjerit kesakitan dan berusaha melepaskan tangan ku menggunakan tangannya. Namun dia tidak kuat untuk melepaskan tanganku.
“Willy!”
Kevin berteriak dan berlari mendekat, dia ingin membantu Willy. Mungkin Willy tidak bisa bergerak sementara karena kakinya yang sakit. Karena itu, Jika kevin sampai, Aku akan langsung berdiri dan menangkapnya.
“Jangan mendekat, kamu pergi saja!”
Setelah Willy menyerukan itu, Kevin berhenti dan kebingungan. Antara menyelamatkan Willy, atau menyelamatkan diri sendiri.
“...Mana mungkin aku meninggalkan mu.”
Kevin mengucapkan itu dan lanjut berlari mendekat. Kevin... Aku tak mengerti pada diri mu... Padahal, Kamu tadinya meninggalkan mereka Yayan dan yang lain. Yah, meskipun terlihat seperti itu, menurutku kalian adalah anak-anak yang baik. Dan di sini, di kisah kalian maupun kisah ku. Aku adalah orang yang jahat. Kevin mendekat dan aku langsung berdiri cepat, dan menangkapnya.
Namun, Itu gagal. Karena satu kaki ku di tahan oleh kedua tangan Willy. Aku kemudian menggoyangkan kaki ku dengan keras dari tangannya yang kecil bagiku itu.
“Cepat pergi menjauh Kevin!”
Willy mengucapkan itu dengan keras. Setelah itu dia malah menangkap kaki ku yang lain, sehingga aku tidak bisa menggerakan kedua kakiku.
Kevin berlari sangat kencang... Dia mengarah kepada ku dan menabrak tubuhku sehingga kami bertiga, Aku, Willy dan dia sendiri terpental kebelakang.
Hanya terdengar suara keras dari hempasan tubuh kami, dengan diiringi debu dari tanah yang berterbangan karena gesekan dan hempasan ini.
***
(SP Yayan)
Kami hanya terdiam disini, sudah beranjak sekitar setengah jam lebih dari saat bibi itu mengejar kevin dan willy. Aku sendiri bingung kenapa mereka menatap pagar utama atau besi itu dengan mata penuh harapan. Mereka berempat tidak berniat untuk masuk ke dalam rumah. Kami hanya terduduk diam di teras depan rumah ini. Karena aku sedikit tidak nyaman dengan kesunyian ini, aku pun membuka mulutku.
“Ngomong-ngomong, Kevin teganya meninggalkan kita, sampai-sampai Willy pun ikut Bersamanya... Apa dia mempedulikan dirinya sendiri?”
Hanya itu kata-kata yang memecah kesunyian ini. Meski begitu, aku masih tak menduga Kevin lebih memikirkan dirinya sendiri. Padahal tipe kepribadiannya bukan seperti itu. Willy pun sampai ikut kabur bersamanya. Namun pada saat ini mereka dikejar oleh bibi. Aku sendiri pun ragu apa yang akan terjadi pada mereka.
“...Itu tidak benar Yan, Itu Kevin dan Willy melakukan itu demi kita.”
Reza menatapku dengan antusias.
“Apa maksudmu?” Aku bertanya padanya dengan sedikit terkejut.
“Apa kau ingat saat kami tadi berbisik.”
Setelah dia mengucapkan itu aku memikirkan ulang yang ada di ingatan ku. Itu saat mereka sedang berbisik cukup lama di luar pagar saat kakiku di tahan oleh bibi.
“Aku ingat,” ucap ku tertarik dengan apa yang dibisikan mereka pada saat itu.
“Aku membuat rencana untuk mereka berdua menjebak bibi.”
Dia mengucapkan itu dengan tersenyum licik.
__ADS_1
“Hah?!” Aku terkejut, akupun langsung menatap ke jalan yang di luar pagar sana.
Aku sendiri tak menduga ini, ternyata Kevin dan Willy tadinya hanyah berakting. Kevin berakting seakan-akan dia ingin menyelamatkan diri sendiri dan berlari. Dan itu memancing Bibi agar keluar pagar dan mengejar mereka.
Begitu ya, seharusnya kita tidak tinggal diam dari tadi. Apa yang akan mereka lakukan jika jebakan itu berhasil.
“Rencana yang kubilang pada mereka adalah membuat jebakan, dan jika jebakan itu berhasil... Mereka harus mengambil kunci pagar untuk kita.”
Aku mengerti sekarang, Memang aku melihat bibi itu mengunci pagar sebelum dia mengejar mereka berdua. Tetapi apakah rencana mereka berhasil. Seharusnya kita mengambil kesempatan ini untuk menaiki pagar lagi.
“Kita harus segera naik pagar ini lagi, dan membantu mereka!”
Aku berdiri dan mengatakan itu dengan tegas. Namun suatu hal, menghentikanku. Talinya... Menghilang.
“Mana talinya?”
Aku terkejut kebingungan.
“Soal itu...”
“...Apa kalian pakai untuk mereka berdua membuat jebakannya?”
“Itu benar... Kita sekarang tidak bisa melakukan apapun. Kasur itu sudah diluar, kita tidak bisa menggapainya dan memasukannya kembali ke dalam. Karena itu harapan kita hanyalah mereka berdua.”
Memang benar kita tidak bisa memanjat pagarnya jika tidak ada tali. Namun... Kita masih memiliki kasur perempuan untuk menaiki loteng. Dengan menyusun ulang kasurnya seperti tadi, pasti bisa. Melewati pagar samping dan melompat ke kasur depan pagar besi seperti tadi.
“Tidak.. kita masih memiliki kasur perempuan.”
Di sinipun masih ada harapan. Aku lah yang membuat harapan itu.
***
Kami pun mengangkat kasur yang berada di kamar perempuan, dan menaruhnya di kamar laki-laki. Kemudian menyusun kasurnya seperti di rencana awal.
“Reza kamu bantu aku untuk menaiki loteng itu.”
Reza menganguk dan mulai menaiki tumpukan kasur itu, disusul pula olehku.
Aku harus sendiri karena mereka ada yang memang tidak bisa dan hanyalah adik-adik maupun perempuan. Sindi, Nia dan Deva juga menatap ku ragu. Reza juga mustahil ke atas loteng tanpa ada yang menggendongnya, mustahil bagi Sindi menggendong Reza, Maupun diriku. Karena itu, Reza membantuku untuk keluar, dan aku yang bertindak untuk membantu mereka berdua, Kevin dan Wily.
Aku menganguk yakin, tidak... Aku meyakinkan diriku.
“Karena tidak ada yang bisa menggendong mu di sini, sebaiknya kau menjaga mereka jika terjadi apa apa.”
“Bagaimana kalau aku akan ikut Yayan.”
Sindi mengucapkan itu dengan nada yang sedikit takut dan ragu.
“...Tidak boleh, kamu tetap di sini. Bibi itu sangat berbahaya...”
Aku mengucapkan itu, hal itu membuat Reza mengangguk setuju, dan membuat Sindi terdiam murung. Bibi itu memang sangat berbahaya, karena itu lebih baik jika aku saja yang pergi. Bibi itu bahkan membuat kaki ku sakit seperti ini. Ya... Walaupun sekarang sudah mendingan.
“Ayo Yan, Naik pundakku.”
Akupun mengangguk dan segera menaiki pundaknya. Setelah itu aku berhasil menggapai lotengnya dan mulai keluar. Aku keluar melewati atap yang terbuka karena dihancurkan oleh Reza. Kemudian aku melompat ke atas pagar dan melewati atas pagar itu dengan menjaga keseimbangan. Setelah sampai aku mulai meloncat ke kasur di bawah.
“Akkh.”
Karena lompatan dan pendaratan itu, kedua kaki ku merasakan sakitnya kembali. Tapi tidak terlaru parah seperti sehabis genggaman bibi itu.
“Kamu tak apa-apa?” ucap Reza yang terkejut di balik pagar besi itu.
“Aku tak apa-apa ...Aku pergi dulu...”
Aku berdiri tegak dan mulai berlari.
“Hati-hati kak Yayan...” Ucap Nia dan Deva
Kulihat ke belakang sambil berlari. Terlihat Reza yang mengepalkan tangannya ke arah ku, untuk isyarat ‘berjuang’. Aku juga melihat Sindi, dan adikku Nia dan Deva yang melambaikan tangannya masing-masing kepada ku.
Karena gelapnya malam, dan arah cahaya lampu teras yang membelakangi mereka... Aku, tidak bisa melihat ekpresi wajah mereka masing-masing.
Karena itu... Aku hanya tersenyum kepada mereka.
__ADS_1
***
Angin malam terasa dingin bagiku. Dengan berlari aku sedikit menghilangkan rasa dinginnya. Hanya beberapa menit setelah berpisah dengan mereka Reza. Seraya berlari, aku menyapu pandangan. Yang bisa kulihat hanyalah pepohonan dengan cahaya redup dari bulan. Ku tadahkan pandangan ku ke bulan. Terlihat bulan bewarna putih Dengan awan tipis menutupinya.
"Kak yayan!"
Aku yang berlari berhenti seketika. Suara panggilan yang kudengar berasal dari Kevin. Kulihat mereka berdua dari arah yang berlawanan sambil berlari. Bahkan aku tidak menyadari adanya mereka mendekat.
"Ka-Kalian berdua, kalian baik-baik saja? di mana bibi itu?"
"Ya, kami baik-baik saja!" ucap Willy.
"Bibi itu pingsan disana, aku kira tadinya dia mati." lirih Kevin yang kelelahan.
"A-Apa? Bagaimana?"
Berarti jebakan yang di ceritakan Reza berhasil?
"Kevin mendorong Bibi itu hingga jatuh pingsan! Sebelumnya juga dia pingsan karena jebakan, tapi itu hanya sebentar."
"Begitu ya, Apa rencana kalian berhasil?" tanya ku penasaran.
"Rencana sebelumnya adalah mengambil kunci pagar, ini kuncinya. Kami mendapatkan ya di kantung baju dasternya. Kita berhasil!"
ucap Willy semangat.
"Rencana selanjutnya adalah membuka pagar dan melarikan diri lewat hutan pinggiran jalan ini. itu untuk jaga jaga." sela Kevin.
"Kalau begitu kita harus segera kembali kepada mereka!"
"Ya, itu benar."
Kami berlari kembali menuju arah Panti. Kevin merasa dirinya kelelahan, karena itu kami memperlambat langkah kami. Melihat wajahnya yang kelelahan aku sedikit kasihan dan menahan tawa.
"Kamu jarang ikut main kejar-kejaran dengan mereka, makanya kamu mudah kelelahan."
"Aku... Tak suka... Hal yang melelahkan... Seperti itu..." lirihnya dengan menghela nafas letih.
"Apanya yang melelahkan, padahal itu seru!"
timpal Willy.
"Itu... hanya berlaku... untuk mu. Lagi pula... Ini tak ada hubungannya dengan keadaan kita saat ini."
Itu ada hubungannya loh, bayangin, kita melarikan diri, kamunya ketinggalan.
Kami hanya terdiam sambil berlari. Panti, samar-samar mulai terlihat dari kejauhan. Langit mulai terlihat terang. Menandakan pagi hari yang cerah segera tiba. Aku melihat wajah Reza yang menunggu di pagar, juga wajah Sindi, Nia, dan Deva. Ekpresi mereka terlihat panik.
"Cepat kesini!" seru Reza.
Seketika aku berlari lebih cepat walaupun sedikit kewalahan. Kevin dan Willy tertinggal, namun tak jauh.
"Ada apa? Kenapa kalian Panik?"
"Ini mungkin gawat! Kami tadi kedapatan bahwa Hape bibi itu ada yang menelpon." ucap Reza yang panik.
"Apa yang gawat dengan itu?"
"Yang menelpon tadi namanya terpampang KETUA. Nama kontak itu berulang-ulang kali menelpon, karena suara deringnya sangat berisik, aku menjawab teleponnya. Yang menelpon itu panik karena aku yang menjawab, dia bertanya di mana Bibi kalian. Aku mencoba berbohong kalau bibi sedang ada yang dikerjakan. Dia meminta ku untuk menyerahkan telepon ini kepada bibi. Aku panik kebingungan dan dia mengetahui aku berbohong. Kemudian dia segera mematikan sambungannya."
"Siapa dia sebenarnya? Kenapa dia menelepon saat dini malam hari?"
"Aku tadi juga bertanya siapa dia, dia malah menjawab itu tidak penting. Aku rasa dia ada hubungannya dengan panti mati ini. Beberapa saat ini juga kita mendengar panggilan seperti, Tuan dan Bos besar. Semua itu... Aku tak mengerti apa maksudnya..."
"Kami sudah mendapatkan kuncinya Kak Reza." ucap Willy baru saja sampai bersamaan dengan Kevin.
"Bagus! sekarang tinggal buka pag-"
Ucapan Reza terhenti, dia juga terhenyak saat melihat di belakang kami. Di pendengaran ku, ada suara gemuruh yang mendekat dari belakang. Dengan melihat kebelakang, aku membeku... Tidak, kami membeku.
Terlihat mobil sedan kecil bewarna hitam yang biasa di pakai tuan. Dan di belakang mobil itu, terlihat sedikit atap dari mobil Jeep. Kedua mobil itu melaju menuju ke arah kami.
"Sial!"
__ADS_1