
"Jadi, untuk selama ini, Bibi yang akan merawat kalian," ucap wanita itu yang tersenyum lebar.
Sindi dan Reza terkejut terperangah. Aku juga hanya diam membisu.
Tuan itu berbisik pelan dengan wanita di depannya. Aku tidak bisa mendengar pembicaraan dari mereka. Setelah itu, wanita itu mengangguk pelan.
Tuan itu kemudian berjalan, dia pergi keluar rumah. Entah kemana dia pergi, yang pasti dia kembali ke tempat kerja atau organisasi apalah itu.
Wanita itu tersenyum menatap sekeliling ruangan. Selepas itu, tatapan berubah ke arah kami. Menatap kami satu-persatu dengan tajam.
"Biar kuperkenalkan diriku... Nama bibi adalah Jelita...Panggil saja aku bibi ya... Walaupun itu agak memalukan untuk ku yang masih terlihat seperti wanita muda... Nah sekarang, perkenalkan nama kalian satu-persatu."
Dia tersenyum hangat, namun terlihat dari matanya dan nada dari suaranya bahwa, wanita ini hanya bersandiwara, menutupi segala kemunafikannya.
"Kenapa kalian diam saja..." keluhnya tersenyum paksa.
"..."
"Mata kalian menganggap ku seperti musuh," lanjutnya dengan suara pelan.
Aku baru sadar bahwa Reza, Sindi, dan adikku Kevin menatap wanita itu dengan tajam dan waspada. Sama halnya dengan ku. Sedangkan Adik-adikku yang lain menatapnya dengan cemas.
"Ya sudah kalau kalian tidak mau memperkenalkan diri... Ini sudah hampir malam, sebaiknya aku menyiapkan makan malam untuk kita!" serunya tersenyum.
Aku teringat pada kursi-kursi dan tali yang ada di halaman belakang tadi. Jika wanita itu menuju ke dapur, maka dia akan melewati ruang makan.
Gawat, kursi-kursinya.
Wanita itu lalu berjalan meninggalkan kami.
Aku harus segera ke halaman belakang.
Aku berlari keluar rumah, Reza dan Sindi berlari mengikuti ku. Mereka juga ternyata berpikiran yang sama dengan ku. Adik-adik menatap kami keheranan.
Aku harus menuju ke halaman belakang, dengan melewati halaman depan, kemudian menuju celah kecil antara rumah dan pagar yang ada di samping halaman.
Jika aku telah sampai di halaman belakang dengan cepat. Aku kemudian akan menyuruh Sindi untuk menahan atau mengawasi pintu keluar dari dapur. Sedangkan aku dan Reza, menyembunyikan kursi-kursi yang berantakan itu dengan segera.
Dengan berpikir seperti itu, aku telah sampai di halaman belakang. Aku melihat wanita itu termenung melihat tali yang menjuntai.
Wanita ini terlalu cepat! ...Atau kami yang terlambat?
Lari ku terhenti, sama halnya dengan Reza dan Sindi. Wanita itu kemudian menyadari kami bertiga yang baru saja datang. Dia menatap kami dengan tersenyum heran dan mengangkat satu alisnya.
"Kalian berencana untuk melarikan diri ya?"
Belum sempat kami menjawab, dia memegang tali lalu menariknya sekuat tenaga sampai putus. Kami terkejut terperangah.
Wanita ini juga kuat...
"Orang ini..." gumam Reza.
"...Kalian bertiga anak tertua yang tau tentang di balik panti ini ya?" tanyanya.
"Pasti sulit menerima kenyataan yang menyakitkan," lanjutnya.
Orang ini...Wanita ini, terlalu berbahaya. Selain dia cepat dan kuat, dia mengetahui kalau kami bertiga sudah tahu kebenarannya.
Suara-suara langkah kaki terdengar, datang dari dalam rumah, membuat wanita itu berpaling ke arahnya. Mereka adalah adik-adik, yang menatap kami dan kursi-kursi yang hancur itu keheranan.
"Ah... Sepertinya ada masalah di sini, bagaimana kalau kita bersihkan?" ucap wanita itu tersenyum ke arah adik-adik.
Wanita itu bermaksud menyembunyikan sesuatu di depan Adik-adik. Tetapi...mungkin saja adik-adik menyadarinya.
~|~|~
Kami sudah selesai membersihkan dan meletakkan kembali kursi yang masih layak untuk digunakan. Kursi-kursinya berkurang, tetapi masih cukup untuk orang-orang yang berada di rumah ini.
Si wanita yang menyebutkan dirinya 'bibi' itu pergi entah kemana, yang pasti dia masih di rumah ini. Mungkin dia sedang berada di kamar bunda untuk membereskan sesuatu.
Sekarang kami berada di dapur untuk mencuci alat makan. Maksudku, Sindi yang mencuci alat makan itu sendirian, sedangkan aku dan Reza hanya menunggunya.
"Bagaimana ini, rencana kita selanjutnya?" tanya Reza kebingungan.
Aku hanya terdiam dan berpikir. Tidak ada satupun rencana yang ku peroleh. Semuanya hampir mustahil. Si bibi itu pasti akan mengawasi gerak-gerik mencurigakan dari kami bertiga. Selain itu, bibi itu terlalu cepat dan kuat.
"Aku tidak ada ide sama sekali..." ucap ku pelan, "Sebagian dari kursi-kursi sudah hancur, dan tali jemurannya sudah dirampas oleh bibi muda itu," lanjut ku.
"Hah...?" ucapnya.
"Sebagian dari kursi-kursi sudah hancur, dan tali jemurannya sudah dirampas oleh bibi itu," ulang ku.
__ADS_1
"Bukan, bukan! Selain itu," seru Reza yang keheranan.
"Hah...?" ucap ku.
"Kok malah 'Hah...?' ...Sindi kamu dengar enggak Yayan tadi ngomongin bibi itu apa?"
"Hah...?" ucap Sindi.
"Gak jadi," keluhnya.
Pffft.
Setelah Reza mengucapkan itu, suasana hening datang. Aku kembali untuk memikirkan sebuah rencana—mencari impresi yang bisa menimbulkan asa.
Aku menatap Sindi yang telah selesai mencuci alat makan. Dia kemudian mengelap tangannya yang basah dengan kain.
Ngomong-ngomong, soal makanan yang dibuat bibi itu lumayan enak. Saat aku melahap suapan pertama, aku menatap makanan itu keheranan. Seterusnya, kami hanya terdiam mengunyah makanan masing-masing sampai habis.
Sambil memikirkan tentang makanan tadi aku teringat sesuatu. Kemudian aku terkesiap dan langsung berlari menuju ruang makan.
Saat aku sampai, aku mengangkat sudut bibirku. Sesuai dengan firasat ku—
Taplak meja panjang ini bisa digunakan.
Reza dan Sindi menyusul ku dari belakang, mereka berdua melihat ku dengan terheran-heran. Aku menyentuh dan mengusap taplak mejanya dengan pelan.
Reza menatap tanganku keheranan. Lalu dia tersadar akan sesuatu.
"Taplak meja ini suatu saat bisa berguna seperti tali," ucapnya tersenyum ceria.
Benar sekali.
"Tapi, bagaimana cara kita menggunakannya sebagai tali?" tanya Sindi.
Benar juga, kain taplak ini tidak bisa digunakan dengan cara tali seperti kemarin, karena kami tidak memiliki kursi yang cukup untuk memanjat pagar.
Aku dan Reza terdiam berpikir. Memikirkan sebuah rencana yang cerdas dan efektif.
Maka rencananya adalah...
~|~|~
Tak ada. Belum ada rencana yang kami dapatkan. Sialan.
Reza sudah tertidur pulas, dia lelah karena terlalu banyak berpikir. Aku juga terasa mengantuk karena banyak berpikir.
Saat ini aku menatap langit-langit kamar. Selain mengantuk, aku juga merasa pusing dengan kebenaran ini.
Bukankah ini terlalu kejam? Keluarga murni ku yang dulu telah putus. Keluarga yang ku ingin untuk selalu berjalan mulus, malah tergelincir dan jatuh berantakan. Tanpa ku sadari langsung, keluarga ini...keluarga panti ini...akan hancur juga. Tidak... Keluarga ini memang sudah hancur dari awal tanpa ku ketahui. Semua yang ku kira berjalan mulus ternyata hanyalah sekedar ilusi.
"Ayolah...Fokus pikirkan rencana, jangan membuang-buang waktu," gumam ku pelan.
Aku menggaruk dan menggeliatkan kepalaku. Lalu, pandangan ku terpaku ke pojok loteng bagian kiri. Di situ aku melihat tripleks yang berbentuk kotak. Sedangkan tripleks yang lain berbentuk persegi panjang.
Tripleks itu bisa di buka?
Aku lalu berdiri, berjalan menuju ke bawahnya. Aku menatapnya penasaran. Kemudian pikiran ku terlintas untuk melempar sesuatu ke atas sana. Aku melepas bajuku dan melemparnya ke arah tripleks yang berbeda itu.
Suara dari kain baju ku yang menabrak tripleks itu tidak terlalu keras. Setelah ku perhatikan, tripleks itu terdorong dan terbuka setengah.
Ini jelas bisa untuk pergi ke atapnya. Tetapi kalau tidak salah, atap rumah ini memakai genting. Kalau begitu, jika aku ingin pergi ke atas atap itu, aku harus keluar dari sela-sela loteng dan menendang atapnya agar hancur terbuka. Setelah itu aku akan melompat ke pagar terdekat dengan melewati atapnya, menuju bagian samping rumah.
Itu rencana yang bagus, tetapi itu berbahaya karena bisa menimbulkan suara yang keras untuk membangunkan bibi. Maka, kami harus menggunakan penghalang ataupun peralihan.
Besok, pastinya akan ku bicarakan dengan mereka berdua!
~|~|~
Aku menjelaskan tentang sesuatu yang aku temukan kemarin malam kepada Reza dan Sindi.
"Berarti, kita hanya mempunyai satu kesempatan untuk menghancurkan atap itu," ucap Reza sambil berpikir.
Aku mengangguk, "Kita harus mencoba dulu cara naiknya," ucapku.
"Caranya?" tanya Sindi.
Aku berpikir untuk pertanyaan itu. Jika kami menggunakan kursi-kursi, itu terlalu beresiko. Bibi itu pasti akan mencurigai kursi yang berkurang atau kami yang mengangkat kursi ke kamar.
"Bagaimana dengan kasur-kasur yang di tumpuk," ucap Reza spontan.
__ADS_1
"Ya, itu bisa! ...Reza, kita berdua pergi ke kamar kita, terus kita mencoba caramu tadi...Dan Sindi, kamu menunggu saja di ruang tengah, awasi lorong kamar bunda. Bisa jadi bibi berada di dalamnya."
Sindi mengangguk, "Oke, aku akan jaga di ruang tengah. Nanti akan ku ketuk kamar dua kali untuk tanda isyarat jika ada seseorang mendekat," ucapnya.
Aku dan Reza mengangguk, lalu meninggalkan Sindi menuju kamar kami, kamar untuk laki-laki. Setelah sampai kami bergegas untuk mengangkat kasur-kasur sampai menumpuk.
"Kasurnya banyak, tapi tidak terlalu tebal..." Keluh Reza.
Kemudian dia melihat sekitar, dan dia tersadar akan sesuatu.
"Yan, di bawah kasur yang kita tumpuk, alasnya pakai itu sepertinya bisa."
Aku melihat ke arah yang ditunjukkan Reza, mengarah ke lemari kecil tempat pakaian miliknya. Berbentuk kubus yang berkaki dan memiliki tiga laci yang bertutup.
Aku baru teringat, kami memiliki lemari kecil untuk menyimpan barang masing-masing. Karena kami ada empat yang masih menginap di kamar ini, maka di kamar ini memiliki empat meja yang di gunakan. Tetapi selain itu, masih ada dua lagi di ujung kamar sana yang tidak terpakai. Jadinya kami memiliki enam lemari kecil di kamar ini.
"Oh iya sepertinya berhasil," ucapku semangat.
Kami berdua menyusun dan membagi enam lemari itu menjadi dua berjajar. Kemudian kami melepas kasur-kasur yang menempel dengan bingkai tepiannya. Lalu menumpuknya di atas lemari-lemari kecil ini.
Seteleh menyusun dan menumpuk, kemudian aku memanjat kasur perlahan-lahan bersama Reza.
Walaupun perlahan, tapi ini tidak memboroskan waktu. Kami telah berdiri di puncak kasur tertinggi. Namun... Masih belum sampai untuk diriku dan Reza menyentuh tripleks itu. Jadi kami berdua harus menggendong salah satu dari kami.
"Reza, naik bahu ku, biar kucoba untuk mengangkat kamu."
Reza mengangguk, dan aku menunduk untuk bersiap. Reza menaiki pundak ku dengan perlahan dan memegang dinding. Reza sudah duduk di bahuku, aku berdiri untuk mengangkatnya. Namun kasur-kasur ini bergetar membuat keseimbangan ku menipis.
Satu tangan ku memegang dinding untuk menahan keseimbangan. Perlahan-lahan aku mendirikan badanku supaya tegak.
Reza sekarang terasa lebih ringan. Itu karena dia merangkul dan memasuki badannya ke dalam loteng di atasku. Terlihat kepalanya dari bawah menatap sekelilingnya keheranan.
"Ada apa?" tanyaku.
"Sepertinya, di sini tempat mereka memasang kabel untuk lampu," gumamnya yang masih melihat sekeliling.
"Coba kamu pegang atasnya, di situ terasa ada apa?"
Dia kemudian memegang sesuatu di atasnya.
"Ini genting... Mungkin bisa hancur terbuka jika di pukul dengan keras."
Sama seperti perkiraan ku kemarin.
Setelah itu Reza melihat ku di bawah keheranan.
"Tapi, naik ke atas sini terasa susah."
Memang benar, oleh karena itu—
"Kamu dengan Sindi, pada saatnya pelarian, kalian keluar dari atap dan melompat ke pagar. Lalu kalian memasang tali yang dari taplak meja itu untuk adik-adik dan Sindi."
"Aku masih kurang paham... Gimana cara aku dan Sindi menggunakan tali dari taplak meja itu?"
"Kalian menggunakannya saat sudah turun dan berada di depan pagar besi...Lalu kalian lempar satu ujung talinya ke dalam dari atas. Salah satu dari adik-adik akan memeganginya, misalnya Nia. Saat Nia sudah memegang erat talinya, kalian berdua tarik agar dia bisa terangkat ke atas."
"Bagaimana untuk turun?"
Aku kemudian berpikir. Menggaruk-garuk kepala ku kebingungan.
Turunnya... Aku belum memikirkan itu. Jika adik-adik melompat dari atas untuk keluar, itu terlalu berbahaya.
"Aku turun saja dulu," ucap Reza melompat dan mendarat ke kasur.
Kasur-kasur di bawahku bergetar gara-gara dia. Namun untung saja, kasurnya tertahan dengan dinding pojokan ini, sehingga goyangan kasurnya tidak terlalu parah.
Reza kemudian tersenyum bangga. Dia menatap kasur ini.
"Kasur ini empuk, dan bisa di tekan menjadi sedikit kecil. Dengan itu, kita bisa mengeluarkannya lewat sela-sela pagar besi itu."
Aku kemudian tersenyum ceria, "Kamu benar, kasur ini bisa untuk menahan kita yang terjun dari atas pagar nantinya!"
Reza tersenyum mengangguk.
Berpikir bersama memang bagus. Inilah rencana yang kami rencanakan. Rasanya perlahan-lahan harapan akan bisa terpenuhi.
"Sekarang yang tersisa adalah, rencana untuk menghalangi bibi agar tidak bisa menghalangi kita!" seruku.
Pintu tiba-tiba terbuka perlahan, membuat aku dan Reza terkejut membeku.
__ADS_1
"Rencana menghalangi bibi?" tanya orang itu dengan dingin, menatapku dan Reza dengan tajam dan curiga.
Sindi tidak memberikan isyarat? Di mana dia!?