PANTI MATI

PANTI MATI
MEREKA BARU TAU REALITANYA


__ADS_3

"Kita akan mati!" teriaknya kearah aku dan Reza.


"Dhuaar" suara guntur setelah Sindi mengucapkan itu, membuat ku merinding yang luar biasa.


Aku dan Reza terdiam dan terkejut.


Apa yang dimaksudkan oleh Sindi?


Suasana hening. Sindi hanya terus mengeluarkan air mata. Reza hanya dengan ekspresi terkejut, mulut terbuka dan terdiam. Sama halnya dengan ku. Aku tersadar.


"Apa maksud mu?" tanyaku dengan kebingungan.


Sindi hanya diam dan terus menangis mengabaikan pertanyaan ku. Reza yang juga tersadar, ikut berlutut di samping Sindi.


"Sindi, sebenarnya kamu kenapa?, kamu bercanda ya?" tanya Reza tersenyum dan tertawa paksa.


"Aku gak bohong, aku serius." Suara Sindi yang serak dan menatap Reza dengan serius.


Reza terdiam kebingungan. Aku berdiri dan berbalik. Mencoba membuka pintu itu, yaitu pintu masuk ke kamar bunda. Namun terkunci. Aku pun berbalik lagi.


"...Lalu, Apa maksud mu kita akan mati?"


Sindi terdiam lagi dan masih menangis. Suatu hal mengejutkan aku dan Reza. Sindi memeluk Reza yang posisi mereka masih berlutut atau disebut duduk bersimpuh. Reza hanya terdiam kebingungan.


Perasaanku terasa gelisah dengan itu.


"Bliz" suara dari lampu yang mati. Listrik di rumah ini padam.


Adik-adik berteriak memanggil kami, aku langsung bergegas pelan-pelan mencari lilin. Reza tetap menemani Sindi yang masih memeluknya.


Aku mencari lilin di lemari ruang tengah. Aku kemudian menyusuri ruangan-ruangan untuk menuju dapur, mencari korek di laci meja dapur.


Aku berhasil menemukannya. Setelah itu, Aku menyalakan lilin untuk menerangi sekitarku. Saat menyala, aku merasa ada bayangan yang mengintip di jendela dapur. Aku merinding, dan langsung berjalan cepat ke arah ruang tengah.


Adik-adik masih berteriak memanggil. Saat sampai di ruang tengah, adik-adik mendekatiku yang telah menyalakan lilin.


~|~|~


Hari ini sudah larut malam dan listrik sudah tidak padam lagi. Kami bertiga berada di ruang tamu setelah makan malam. Kami bertigalah yang memasak dan menyiapkan makan malam. Biasanya bundalah yang memasak makan malam. Entah kemana, Bunda sampai sekarang juga belum pulang.


Dari tadi sore, sewaktu listrik padam, Sindi hanya berwajah datar dan tatapannya yang kosong. Bagian bawah matanya yang membengkak karena bekas menangis.

__ADS_1


Aku teringat saat Sindi memeluk Reza tadi. Itu membuat ku kepikiran dan gelisah.


Reza melihat sindi dengan heran dan tajam.


"Sin, sekarang ngomong, apa maksud dari kata-kata mu tadi?"


Sindi membuka mulutnya, dan menatap Reza dengan serius.


"Kita akan mati za, mati!" Ucap nya dengan lancar dan spontan. Lalu dia meneruskan ingin kata-katanya.


"Tadi bunda bercerita kepada ku, bahwa kita sebenarnya berada di panti gelap, maksud ku panti yang berbahaya. Saat katanya kita akan di adopsi, nyatanya itu hanya untuk dibeli. Organ tubuh kita dibeli. Kita akan mati za, organ kita diambil. Kita gak bisa hidup lagi kalo semua organ tubuh kita diambil..." ucap Sindi serak dan mulai menangis.


Aku dan Reza terkejut mendengar hal itu.


Kenapa begitu? Apa maksudnya dari semua ini? Apa sindi berbohong? Apa bunda sedang menjahili kami?


"Hahaha. Kamu bohong ya? Hebat juga kebohongan mu itu, mana mungkin bisa begitu."


Entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut ku, dan tertawa seperti itu. Yang Sindi ucapkan tadi itu membuatku geli.


"Itu benar, gak bohong, bunda sendiri yang bilang."


"Emang kamu langsung percaya gitu?" tanya ku tersenyum angkuh.


Aku hanya terdiam setelah itu. Sama halnya dengan Reza yang hanya terdiam dari tadi.


Kesunyian melanda di ruangan ini. Waktu terus berjalan menuju tengah malam. Aku merasakan sebuah ketidaknyamanan karena suasana sepi ini.


"Emang ada buktinya, apa?" tanya ku pelan melirik kearah lain, yang tidak berani melihat mata Sindi, sekaligus untuk memecahkan suasana sunyi.


"Aku gak ada buktinya, tapi aku yakin, bunda mengatakan hal yang jujur."


"Kapan bunda kembali?"


"Aku gak tau, tadi bunda hanya meninggalkan ku, setelah bunda menceritakan itu."


"Cklik" suara pintu masuk terbuka, seseorang datang. Itu adalah bunda, berpakaian serba hitam dan berkerudung hitam. Menampilkan aura yang gelap dan serius. Bunda menatap tajam kearah kami bertiga. Kami bertiga hanya terdiam dan bingung sekaligus takut.


Suasana yang mencekam dan aneh tiba-tiba terasa. Bunda yang biasanya tersenyum kini terlihat marah. Matanya menatap tajam kami bertiga secara bergantian.


"Kenapa kalian belum tidur? Ini sudah larut malam." Bunda mengomeli kami bertiga.

__ADS_1


Ternyata bunda terlihat marah karena kami belum tidur. Agak lega rasanya, suasana yang tadinya aneh tiba-tiba memudar.


"Bunda, ada yang mau reza tanyakan, apakah benar kal-"


"Itu benar, bunda tidak berbohong. Itu kenyataannya. Bunda akan membantu kalian keluar dari tempat ini. Maafkan bunda, tapi kalian harus beristirahat dulu. Besok pagi temui bunda di kamar bunda," ucap bunda dengan datar dan memotong pertanyaan Reza.


Bunda berjalan melewati kami, sedangkan kami hanya terpaku dan terdiam. Menatap kosong. Banyak pertanyaan yang dipikirkan.


Kenapa bunda mau menyelamatkan kami? Apa maksudnya semua ini?


~|~|~


Reza membangunkan ku, aku langsung bangunkan tubuhku dan berdiri. Ini pagi, pagi sekali. Reza menatap ku, dia mengangguk ke samping untuk isyarat 'ayo'. Kami menuju kedepan pintu kamar perempuan, untuk membawa Sindi juga.


Reza mengetuk pintu itu. Pintu itu langsung dibuka oleh seseorang, Sindi yang membukanya. Dia mengangguk dengan berwajah gugup. Aku dan Reza pun membalas anggukannya.


Kami bergegas menuju kedepan pintu kamar bunda di lorong ini. Tempat Sindi menangis kemarin. Aku hendak lekas mengetahui kenyataan ini, karena aku sudah tidak tahan dengan pertanyaan yang muncul dipikiran ku.


Saat aku mau mengetuk pintunya aku mendengar suara pukulan ke meja. Membuat tangan ku terpaku, tidak jadi mengetuk.


"Maafkan saya tuan, maafkan saya." Suara bunda yang terdengar memohon kepada seseorang di balik pintu ini.


Kami bertiga terkejut mendengar itu, dan menatap satu sama lain. Kami kebingungan dan hanya diam ingin mendengar.


"Kamu tahu tidak? kamu itu udah melanggar janji...Kenapa malah kamu langgar janji itu...?" suara yang kesal dan nada yang mempermainkan.


"Bagaimana tuan tau saya memberi tahu anak-anak soal tempat ini?"


"Ya iyalah aku tau, Ada tiga anak tertua kan yang tau tempat ini?"


"Mohon...Mohon maafkan saya Tuan." suara bunda yang terdengar gugup dan bergetar.


"Tentu saja, tidak bisa... lagian, besok kamu akan ku jemput."


"Apa maksud anda Tuan?"


"Di jemput ajalnya, hahaha. Orang yang seperti mu gak dibutuhkan lagi oleh Bos besar. Orang yang melanggar janji pantas untuk mati."


Bunda tidak berbicara lagi. Hanya ada suara tawa jahat dari orang yang dipanggil 'Tuan' itu.


Tiba-tiba pikiran ku tidak terkontrol. Rasa cemas yang aneh datang memukul pikiran ku. Pikiran dirasuki pertanyaan-pertanyaan yang menumpuk.

__ADS_1


Apa, apaan semua ini? Kenapa begini? Bagaimana mana orang itu bisa tau, siapa Tuan itu?. Siapa juga Bos besar? Bunda akan dibunuh, bagaimana ini? Bagaimana kami bisa selamat dari tempat ini**!?


__ADS_2