
"Kamu punya waktu kurang lebih setengah hari untuk bersiap-siap. Bawa semua barangmu, jangan ada yang tertinggal di tempat ini. Aku akan kembali untuk menjemputmu malam nanti,"
"Bukannya anda bilang besok Tuan?"
"Kata ku tadi yang besok dijemput ajal mu," ucap pria itu, lalu tertawa. Suara tawanya semakin mendekat ke arah pintu.
Kami pun panik dan mundur secepat mungkin. Namun, lorong ini malah terasa lebih panjang dari biasanya. Pintu terbuka secara perlahan-lahan.
Terlihat seseorang yang tinggi dan berjas hitam, Memakai topi fedora hitam. Lorong yang minim cahaya ditambah topinya membuat wajahnya terlihat gelap, kecuali bagian bawah seperti mulutnya. terlihat mulutnya terbuka seperti terkejut.
Kami kedapatan sedang menguping pembicaraan mereka berdua. Aku, Reza dan Sindi hanya diam membeku. Langkah mundur ku terasa berat, seakan-akan tidak mau bergerak.
Mulut pria itu berubah menjadi senyuman sinis. Dia melanjutkan langkahnya melewati kami yang masih terpaku. Pria itu berhenti, pandangannya tetap kedepan, membelakangi kami.
"Kalian sudah tau realitanya kan?...Tidak ada yang kalian bisa lakukan," bisik pria itu meninggalkan tempat ini.
Walaupun hanya bisikan, kata-kata itu sangat menusuk ditelinga ku. Kenyataan dari kata-katanya sangat mengerikan. Seperti ditimpa rasa nyeri yang melilit di kehidupanku, juga di perutku, membuatnya terasa mual.
Pria itu lanjut berjalan. Suara dari sepatunya menggema di lorong ini. Seperti detikkan jam yang terus bergerak. Tak akan pernah berhenti dan kembali.
Aku yang terpaku kembali sadar dan berlari mengejar pria itu. Pria itu ternyata sudah di halaman depan rumah, dekat pintu pagar untuk keluar dari tempat ini.
"Hei, Orang aneh!" seru ku dari teras rumah.
Pria itu berhenti, dan kepalanya menghadap kesamping dan melirik ku. Dia diam supaya melanjutkan ku untuk berbicara.
Tapi entah kenapa, Aku hanya terdiam. Kata-kata yang ingin ku ucapkan tidak ada. Lagi-lagi aku hanya beku dan bingung mau berkata apa.
Selagi Dia masih tidak bergerak, Aku berpikir untuk kata-kata yang inginku keluarkan.
"Kenapa kalian melakukan hal kejam begini?!"
Pria itu tersenyum sinis.
"Kejam? Tidak ada namanya kejam dalam hal yang kami lakukan ini."
"Apa maksud mu?" Aku mengepal tanganku.
"Kau tahu? Di dunia ini, biasanya harus ada korban untuk menghidupi orang lain," ucapnya yang tersenyum pelan.
Aku sedikit bingung apa yang dia maksud. Ku teliti kata-katanya kembali. Saat itu juga aku mendapatkan sesuatu dari maksudnya.
Mungkin, Kami Anak yang dijual organnya untuk orang yang lebih penting untuk hidup. Misalnya, Anak orang kaya yang membutuhkan organ yang berfungsi untuk menggantikan organnya yang gagal berfungsi.
Setelah mendapatkan tujuan dari organ kami yang akan dijual. Aku memiliki sebuah pertanyaan.
"korban...Kami korbannya, kenapa begitu?" tanya ku dengan nada yang membenci, mengepal kedua tangan ku dengan lebih keras.
"Sebenarnya ini bukan kata-kata dari ku." Pria itu langsung mengubah pandangan keatas, menatap langit di depannya. Dia melanjutkan kata-katanya.
"Kalian hidup dengan tali takdir keluarga yang putus, keluarga yang gagal, tidak harmonis. Dengan itu kalian menyambungkan kembali tali takdir keluarga di tempat ini. Kalian membentuk sekumpulan orang-orang yang tidak dibutuhkan ataupun dibuang oleh keluarga asli kalian sendiri. Maka semua yang terkumpul di sini adalah keluarga yang palsu, tidak sesuai dengan takdir ikatan keluarga yang sesungguhnya. Kepalsuan ini sama saja dengan kebohongan, oleh karena itu, untuk menebus kebohongan ini, kalian pantas menjadi korban untuk kehidupan orang lain, orang yang memiliki keluarga yang harmonis, yang orang tuanya rela memberikan uang kepada kami untuk membeli organ kalian untuk kehidupan anaknya. Supaya terciptanya keluarga tetap yang tulus dan murni."
Perkataan pria itu sangat tajam dan terdengar seperti bisikan hati yang jujur, namun itu bukan kata-katanya, apakah itu kata-kata dari atasannya, bosnya?
Namun bagiku, itu hanya kata-kata konyol dan omong kosong, tidak ada sama sekali kebaikan dan rasa keadilan.
Pria itu lanjut berjalan meninggalkan ku dan mengerakkan tangannya untuk isyarat selamat tinggal.
"Aku tidak punya banyak waktu."
Pria itu melewati pagar, dan menguncinya dari luar. Pagar besi ini terlihat tinggi bagiku. Tidak bisa pula dipanjat. Aku mendekati pagar itu dan melihat di luar sana. Mobil berjalan hingga menghilang di kejauhan. Sekarang hanya terlihat jalanan tanah lurus yang kosong, dan juga sisi kiri dan kanan yang diisi hutan lebat.
Matahari terbit lebih gelap hari ini, karena ditutupi sekumpulan awan. Rasanya aneh, aku sekarang seperti sadar, bahwa tempat ini rasanya seperti penjara di tengah hutan.
Aku berbalik dan ternyata ada Reza dan Sindi yang terdiam berekspresi sedih dan menangis, mereka juga ternyata mendengarkan pembicaraan ku tadi.
Saat Aku melihat ke arah depan rumah panti ini, Aku merasakan nostalgia. Saat aku baru pertama kali datang kesini dan melihat Saudara-saudara ku yang menyambut ku datang.
Ada air yang hangat mengalir ke pipi ku dari mata. Rasa takut, sedih, kesal, sepi bercampur aduk menjadi perasaan yang melankolis.
~|~|~
Di meja bertaplak panjang ini, kami sarapan. Adik-adik makan dengan lahapnya, mereka tidak tahu kejadian tadi. Sedangkan aku, Reza, dan Sindi, tidak nafsu makan. Kami bertiga berekspresi muram.
Setelah kejadian tadi, bunda hanya sibuk mengemas barang-barang pribadinya. Ketika Sindi ingin membantunya, Bunda menolaknya. Dia hanya menyuruh kami memasak makanan untuk sarapan.
Aku merasa sudah sangat kenyang, padahal aku makan nasi dengan lauk ayam ini sangat sedikit. Makan dengan perasaan yang tidak biasanya, hanya akan membuat nafsu makan menjadi berubah. Aku berdiri dan ingin mencuci piring dan gelas yang kupakai.
"Hah? Kak Yayan udah kenyang ya?" Suara yang polos dan imut dari Adikku, si Nia.
Iya juga ya, biasanya jika habis sepiring, aku akan menambah lagi, Tapi ini tidak.
Aku juga bingung mau menjawab apa, karena pertanyaan yang baru pertama kali di tanyakan itu.
"Kakak lagi diet," jawab ku tersenyum.
Hanya itu jawaban yang terlintas dibenak ku. Padahal aku tidak gemuk, tidak juga terlalu kurus. Ukuran orang normal...
"Pffft." Bahu Reza dan Sindi bergetar karena menahan tawanya.
"Kenapa kalian berdua?" Aku menatap mereka berdua dengan curiga.
__ADS_1
"Fuhh, gak apa-apa... Pffft," Jawab Reza yang malah bergetar lagi menahan tawanya.
"Enggak apa-apa," jawab Sindi yang mulai tenang dan tersenyum.
Ternyata Sindi juga sudah selesai memakan sarapannya, dan ingin mencucikan piringnya.
Aku berjalan duluan menuju dapur dan mencuci piringku. Ketika Aku sampai, Aku langsung mencuci. Di belakang ku ada Sindi yang melamun menunggu gilirannya mencuci.
Setelah aku selesai mencuci, aku berniat untuk mengelap tanganku yang basah. Mengambil sebuah kain lap yang digantung di dapur ini.
Reza datang membawa alat makan : piring, gelas, dan sendok yang menumpuk, punya Adik-adik yang sudah selesai makan. Reza mendekati Sindi yang hampir selesai mencuci alat makan miliknya. Sindi berbalik dan melihat Reza dengan terkejut.
"Biar aku yang mencucikan semua ini," katanya yang tersenyum.
"Oh, makasih ya," kata Reza sambil tersenyum.
Sindi mengangguk pelan.
Woy, tadi kamu enggak cuci-in punyaku, Itu sedikit enggak adil tau.
Reza datang kearah ku dan mengelap tangannya yang tidak basah. Dia lalu ikut bersandar di dinding. Aku sendiri tidak sadar kalo aku dari tadi bersandar.
"Jadi, apa yang akan kita lakukan?" tanya Reza dengan nada yang serius.
"Bunda nanti malam akan dijemput orang aneh itu, aku pikir, kita harus menolong bunda terlebih dahulu," jawabku.
"Itu benar juga."
"Tapi bagaimana?" tanya Sindi yang sambil mencuci.
"Kalo itu, nanti kita bicarakan sama bunda," Jawab ku.
~|~|~
Hari beranjak siang, waktu tidak banyak untuk merencanakan pelarian Bunda. Jadi, kami bertiga sekarang menuju kamar Bunda, melewati lorong yang tidak asing.
Reza langsung mengetuk pintu saat sampai di depan pintu kamar Bunda. Tidak lama kemudian pintu terbuka, Bunda terlihat berkeringat kelelahan.
"Ada apa Anak-anak? Bunda masih sibuk." Bunda tersenyum paksa.
Wajahnya yang terlihat lesu, membuat perasaanku ingin menolongnya.
"Bunda, kami ingin menyelamatkan bunda," ucap Reza.
"Iya Bunda, kami akan menolong bunda." ucapku juga kepada Bunda.
Bunda terdiam dan senyumnya tadi menghilang.
"Biarkan kami menolong Bunda, ...Bunda selama ini sudah membesarkan kami, merawat kami. Biarkan kami membalasnya, mari kita bicarakan bersama Bunda," lirih Sindi.
Bunda terdiam dengan ekspresi yang murung, dia seperti melamun melihat sesuatu yang intens di memorinya.
"Yasudah, tolong Bunda..." ucap Bunda dengan nada yang letih, "mengangkat barang-barang Bunda itu."
Bunda menunjuk tas dan koper, dia tersenyum menahan tawanya melihat kami bertiga, Menurutku Bunda ini licik juga. Padahal Kami sedang serius ingin menolong hidupnya, Dia justru ingin minta tolong mengangkat barang miliknya.
Bunda ku tersayang... Anda tau gak sih kalo kita semua dalam bahaya. (**** :v)
Kami bertiga hanya menghela nafas. Reza lalu melihat Sindi dan aku secara bertahap.
"Ayo kita bantu Bunda," ajaknya yang tersenyum pelan.
~|~|~
Setelah selesai mengangkat barang Bunda yaitu : tas berisi barang-barangnya dan satu koper besar, kami ingin membahas hal tadi.
Suasana yang hening, tidak ada yang memulai pembicaraan. Jika bersuara, akan ada suara gema yang mengikutinya. Karena ruangan kamar ini, hampir kosong.
"Bunda, kami ingin menolong Bunda untuk pergi dari tempat ini," ucap ku.
Mulut Bunda terbuka dan terkejut. Setelah itu, Dia mengambil nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya.
"Sebenarnya itu mirip dengan keinginan Bunda untuk kalian," jawab Bunda yang tersenyum kecut.
(Note : Mirip kata-kata di monolog Bunda)
Aku bingung dan diam oleh perkataannya.
"Sebenarnya, kalian tidak perlu menolong Bunda... Tidak ada yang kalian bisa lakukan."
"Apanya yang tidak bisa?" tanyaku.
"Kalian belum tahu ya, kalau kita ini berada di tengah hutan yang sangat jauh dari perkotaan. Bunda saja harus mengendarai motor selama dua jam lebih melewati jalan itu. Karena itulah Bunda selalu pulang larut malam."
"Aku baru tau itu," gumam Reza.
"Tengah hutan... Tapi kita mendapatkan aliran listrik, Bagaimana bisa?" tanyaku.
"Listrik saat dulu memang tidak ada. Tapi sekarang dibantu oleh orang-orang kejam itu. Bunda dulu mengira mereka semacam kontributor elektronik."
"Kontributor?" tanya Sindi.
__ADS_1
"Semacam Penyumbang," jawabku.
"Oh..." katanya mengangguk pelan.
"Kenapa bunda membuat panti asuhan di sini?" tanya ku.
"Saat menemukan bayi yang terbuang, hati bunda tergerak, ingin membantu anak-anak yang dibuang atau tidak dibutuhkan agar bisa berkumpul di suatu tempat. Bunda mengajak Ayah untuk membuat panti asuhan, Dia setuju, dan hanya tempat inilah yang bisa kami gunakan."
Mata Bunda seperti terlihat bernostalgia dengan masa-masa awal dari panti ini.
"Selama bertahun-tahun, sedikit demi sedikit anak-anak bertambah di sini karena ayah... Dan suatu hari ayah berkata kepada bunda, bahwa kita mendapatkan bantuan aliran listrik. Anak-anak pada saat itu sangat senang.... lalu datanglah Reza...Yayan dan yang lainnya."
Bunda tersenyum melihat kebawah, merasakan kembali masa-masa indah kita pada saat itu. Kami bertiga pun ikut tersenyum lega.
"Ngomong-ngomong, Ayah sekarang dimana Bunda?" tanyaku.
Bunda tersentak mendengar pertanyaan itu, ekspresi terlihat gugup.
"Ka-katanya, ayah... telah dibunuh olehnya." Mulut dan suara Bunda bergetar menjawab itu.
Kami bertiga terkejut mendengar jawaban itu.
Siapa?
"H-Ha...?" Sindi lalu meneguk air liurnya. Tangannya bergetar.
"O-Oleh siapa Bunda?"
"Orang yang Bunda sebut 'Tuan' tadi," jawab bunda yang lirih hendak menangis, "Dia mengaku telah membunuh Ayah...Mereka mengambil alih semua yang ada di sini. Menjual kalian satu-persatu...Bunda hanya diperintah untuk merawat Kalian. Tidak ada yang bisa bunda lakukan, bunda hanya mengerjakan kemauan mereka."
Kami hanya meratap kesedihan bunda. Matanya yang lembab hendak menangis.
"Oleh karena itu, menyerahlah, tidak ada yang kalian bisa lakukan. Bunda juga menyerah... lagi. Tidak ada yang bisa bunda lakukan, bunda selalu begini... Selalu menyerah, Apa yang terjadi, maka terjadilah."
"Itu tidak masuk akal Bunda! Bunda selama ini saja berjuang merawat kami, apanya yang selalu menyerah?" ucap Sindi yang menangis mendekati Bunda.
Bunda hanya diam terperangah. Tidak lama kemudian Bunda tersadar.
"Itu karena kerjaan yang dipaksakan... Namun Bunda memang benar-benar tulus bekerja merawat kalian," jawabnya tersenyum.
Pendengaranku tiba-tiba terfokus ke arah pintu. Suara langkah kaki yang banyak. Kami terdiam menatap kearah pintu dengan khawatir. Rasa tegang yang mencekam membuat kami terdiam.
Saat langkah kaki itu berhenti, terlihat empat anak kecil dengan wajahnya yang gelisah. Mereka adalah Adik-adik, Aku menghela nafas lega, nafas itu seperti menggema di ruangan ini, ternyata itu adalah helaan nafas yang sama dari Reza, Sindi dan Bunda.
"Kenapa dengan kalian?" tanya Kevin dengan datar.
Ngomong-ngomong Kevin memang anak yang sering serius dalam perkataannya, juga pintar dan dia adalah anak yang tertua diantara adik-adik ini.
"Tak apa-apa," jawab Reza tersenyum lembut.
Mata Kevin menyipit seperti curiga, sedangkan Adik-adik yang lain hanya terlihat gugup.
Sepertinya mereka menyadari keanehan dari kami.
Kevin lalu melihat sekeliling ruangan ini, Dia seperti menyadari bahwa barang-barang di sini berkurang.
"Bunda, Ap-"
"Kalian lapar ya? Ayo kita makan siang," ajak Bunda yang memotong pertanyaan Kevin.
"Ayo, udah lama kita tidak makan bersama Bunda," ucap Reza.
Sepertinya mereka ingin menghindari situasi ini.
"Ayo!" ajak Reza, tersenyum kearah adik-adik.
Adik-adik ikut tersenyum kecuali Kevin. Kami lalu bergegas keluar bersama, hanya Kevin yang tertinggal dibelakang.
~|~|~
Matahari sudah terbenam, entah kenapa, rasanya waktu berjalan lebih cepat. Tak bisa kembali, tidak bisa pula diganti.
Sebentar lagi, seseorang akan datang ke sini, menjemput bunda.
Soal Adik-adik, Bunda memberitahu ke mereka ingin pergi sebentar.
Adik-adik hanya diam dengan wajah yang gelisah. Seakan-akan mereka seperti tau ada yang aneh dengan Bunda.
"Bunda kenapa bawa tas dan koper?" tanya Kevin.
"Tas ini berisi pakaian kalian yang usang, Bunda ingin menjualnya di tempat daur ulang di kota."
Bunda menutupi kebohongan itu dengan logis.
Bagiku kebohongannya itu menyangkut hal yang baik. Pemicu rasa takut bagi Adik-adik, dia menyembunyikannya.
Terlihat cahaya kecil dari jauh sana. Suara mobil terdengar di telinga ku, perlahan-lahan akan sampai ke sini, menjemput Bunda. Mobil itu sampai depan pagar rumah ini, berbalik arah di tanah kosong itu dan berhenti.
Pria yang disebut 'Tuan' itu keluar dari dalam mobil. Dia berjalan menuju kami dan ingin membuka pagar.
Aku merasakan wajah seseorang mendekati telinga ku.
__ADS_1
"Saat pagar terbuka, ayo kita lari."