
Plot orang ketiga.
Malam ini... Malam untuk anak-anak melarikan diri. Masing-masing dari mereka memiliki harapan yang besar untuk selamat. Harapan untuk bebas dan tetap hidup. Selama ini mereka tertipu dengan semua yang berjalan. Kebohongan yang selama ini mereka dapatkan, akan mereka balas dengan kebebasan. Mereka ingin terus bisa melihat masa depan yang menyenangkan.
Malam hari, jam satu, mereka mempersiapkan semuanya. Sisanya hanya bergerak. Mereka telah memastikan bahwa bibi itu sudah tertidur.
Yayan, Reza, Kevin dan Willy, sedang berada di kamar perempuan, berjalan mengangkat kasur-kasur di sana menuju ke pagar besi. Mereka melakukannya berulang kali, hingga berjumlah empat kasur. Mereka juga berusaha agar tidak terlalu berisik.
Di tengah perjalanan mereka tadi, mereka sempat berbincang.
"Apa yang akan kita lakukan jika seseorang tertangkap oleh bibi itu," tanya Yayan.
"...Jika itu kutanyakan kepada mu, apa yang akan kamu jawab?" tanya Reza mengejutkan Yayan.
"...Kurasa ...Aku akan meninggalkannya... Lalu mencari bantuan di kota," lirih Yayan.
"Ya... Sepertinya, itu akan lebih baik. Namun kita tidak akan tahu, apakah orang di kota sana akan percaya kepada kita," ucap Reza.
Yayan hanya terdiam meratapi. Sama halnya dengan Adik-adik. Mereka takut jika tidak ada seseorangpun yang percaya di kota sana. Mereka semua gelisah dengan apa yang akan terjadi. Itu berlaku juga untuk Sindi, Nia, dan Deva.
Setelah mereka selesai mengangkat kasur itu ke pagar depan. Mereka kemudian menyusun kasur-kasur yang ada di kamar laki-laki. Menyusunnya dengan cara yang direncanakan. Yaitu menumpuknya di sudut kamar laki-laki, untuk bisa menggapai lobang loteng rumah.
"Kasur untuk terjun dari pagar sudah... Kasur untuk membantu naik ke atas juga sudah..." gumam Reza.
"Kira-kira mereka Sindi sudah selesai memasang jebakan ya?" tanya Yayan pelan.
"Entahlah... Kevin, Willy coba kalian periksa. Kalau mereka selesai langsung panggilkan supaya ke sini," suruh Reza.
"Iya kak," ucap Willy. Kevin mengangguk.
Kevin dan Willy kemudian berjalan cepat menuju ke arah lorong.
"Ayo kita ambil kain taplak mejanya," ajak Reza kepada Yayan.
***
Sindi berada di tengah lorong kamar bibi, memasang sebuah jebakan bersama adik-adik di sana. Kevin dan Willy datang ke arah mereka. Membuat mereka berempat sedikit terkejut.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Kevin.
"Iya, kami sudah selesai menuang air dan sabunnya." Sindi berbicara melihat lantai lorong.
Lantai basah yang licin karena sabun. Dengan lorong yang minim cahaya sudah dipastikan bibi akan terpeleset jika dia berlari di situ. Mungkin berbahaya, karena lantainya yang keras dan tertutup keramik. Namun yang pasti, bibi itu tidak akan langsung mati.
"Reza dan Yayan menunggu. Ayo," ucap Willy.
"Kami menyembunyikan ember dan sabunnya dulu," ucap Nia.
"Biar kami bantu," ucap Kevin.
Setelah Kevin mengucapkan itu, dia mengambil ember dari tangan Nia, kemudian Kevin memasukan sabunnya ke dalam ember. Kevin berjalan dan menyembunyikan ember itu di pojokan dinding ruang tengah.
__ADS_1
"Sekarang sudah selesai. Ayo," ucap Kevin.
Sindi, Nia dan Deva mengangguk bersamaan. Mereka kemudian hendak menuju ruang kamar laki-laki. Mereka berusaha untuk tidak terlalu berisik saat berjalan.
Setelah sampai, Sindi membuka pintunya dan memasukinya bersama adik-adiknya.
Mereka melihat Yayan yang menunggu di atas tumpukan kasur, dan menatap Reza yang terlihat di dalam loteng sana. Sindi kemudian melangkah mendekati kasur-kasur itu.
"Ayo, Sindi naik sini," ucap Yayan kepadanya.
Yayan mengulurkan tangannya, Kemudian Sindi memegang itu dan berusaha untuk memanjat kasur-kasurnya. Sesampainya di atas—
"Sekarang naik pundak ku," ucap Yayan sambil merunduk.
Sindi agak ragu-ragu dengan itu. Namun dia sadar kalau waktu tidak banyak. Sindi kemudian menaiki bahu Yayan.
"Pegangan yang kuat," suruh Yayan.
Sindi mengangguk mendengar itu. Setelah itu Yayan mendirikan badannya, mengangkat Sindi agar bisa keluar dari atap bersama Reza.
Reza mengulurkan tangannya untuk Sindi, lalu Sindi memegangi tangan Reza. Sindi berusaha untuk naik ke atas, dibantu dengan tarikan tangan dari Reza.
Sindi berhasil menaikinya dan memasuki lotengnya, membuat mereka semua lega.
"...Tali untuk mengangkat mereka nanti bagaimana?" tanya Sindi tanya Sindi kepada Reza.
"Ini," ucap Reza menunjukan kain dari taplak meja panjang itu.
"...Aku tidak yakin dengan itu, aku ragu kalau mereka bisa melompat dari atap ke atas pagar," ucap Yayan.
"Iya kak, aku sendiri enggak yakin," ucap Nia Ragu.
"Kalau begitu... Kevin dan Willy saja?" Yayan melirik Kevin dan Willy.
"Aku dan Willy membantu kak Yayan mengangkat kasur ini keluar," jawab Kevin.
"Biar kami berdua saja, kami pasti akan mengangkat kalian," ucap Reza melihat ke bawah.
Yayan dan adik-adik mengangguk.
"Sekarang, Siap-siap. Adik-adik... Kalian menunggu di dekat pagar besi, ...Yayan mengawasi pintu depan..." ucap Reza.
Yayan mengangguk, "Ayo..." ucapnya ke arah Kevin dan Willy.
Setelah Yayan dan adik-adik sudah tidak terlihat dari loteng, Reza memasang ancang-ancang untuk menendang atap itu dari posisi setengah rebahan. Sindi menutup telinganya dan menyipitkan matanya.
Reza kemudian mengayunkan tendangan ke atas sekuat tenaga. "Clang" Suara dari atap yang berhasil hancur karena seketika oleh tendangannya.
Bibi terbangun oleh itu, dia memastikan kembali pendengarannya tadi. Namun, tidak ada lagi suara atap yang hancur seperti tadi.
"Apa yang terjadi..." gumam Bibi.
__ADS_1
Yayan dan adik-adik mendengar itu, mereka merasa bahwa sesuatu yang lebih rumit akan mulai terjadi karena kerasnya suara atap tadi.
"Suaranya nyaring sekali..." lirih Yayan khawatir.
Reza dan Sindi sadar akan hal itu, mereka merasa bahwa bibi itu bisa saja terbangun oleh suara keras tadi. Mereka berdua kemudian segara menaiki atap lalu bersiap-siap untuk melompat. Setelah itu mereka berhasil melompat ke pagar tembok. Berjalan dengan cepat dan seimbang.
Yayan dan Adik-adik merasa senang ketika Reza dan Sindi mulai terlihat di atas pagar tembok samping. Yayan kemudian berjalan mendekati pintu rumah depan, mengawasi jika ada bibi yang terlihat dari dalam.
Reza melempar satu ujung tali ke bawah, halaman rumah. Lalu ujung tali itu di tangkap oleh Kevin. Ujung tali yang lainnya, Reza lempar ke bagian luar pagar besi. Selepas itu, Reza melompat ke kasur yang sudah dibawakan oleh mereka Yayan tadi.
Reza berhasil mendarat di kasur itu dengan aman. Dia menghela nafas lega dan menatap Sindi di atas pagar.
"Ayo lompat sini Sin," ajaknya pelan.
Sindi sedikit ragu-ragu. Dia khawatir kalau di gagal mendarat. Dia ragu karena harus bisa melompat dari ujung pagar beton, di samping pagar besi ke kasur di bawahnya.
"Ayo Sin cepat, kita harus mengangkat adik-adik dan Yayan menggunakan tali dari bawah sini..." ucap Reza yang sedikit jengkel.
Sindi tersadar dari lamunan khawatirnya. Dia kemudian memasang ancang-ancang dan melompat. Sewaktu mendarat, dia kehilangan keseimbangan dan menahan tubuhnya menggunakan tangan.
Sindi mendaratkan tangannya terlebih dahulu. Dia merasa sedikit kesakitan karena tangannya yang keseleo. Walaupun kasur itu terasa empuk, namun tetap saja tangannya tidak kuat karena menahan keseimbangan tubuhnya saat mendarat. Belum lagi karena tangannya yang dicengkeram oleh Tuan saat itu.
Reza dan adik-adik terkejut melihat Sindi.
"Kamu gak apa-apa sin?" ucap Reza menghampiri Sindi yang terduduk memegang pergelangan tangannya.
"Cuma keseleo... Ayo mengangkat mereka... Aku mungkin tidak terlalu kuat untuk menarik tali nantinya..." lirihnya Sindi pelan.
"Tidak apa-apa, kita angkat adik-adik yang ringan saja dulu..." ucap Reza membantu Sindi berdiri.
"Iya," ucap Sindi mengangguk.
Yayan masih mengawasi bagian dalam rumah dari pintu depan. Dia menghela nafas lega karena masih belum ada bibi yang terlihat dari situ. Yayan kemudian mengubah pandangannya ke arah pagar besi. Dia melihat bahwa Nia sedang diangkat ke atas. Setelah Nia berada di atas pagar besi, Nia menggerakkan tubuhnya ke depan, untuk menjatuhkan dirinya ke kasur di bawahnya.
Nia berhasil mendarat dengan tubuh sampingnya.
"Bagus Nia! ...Bantu kami berdua untuk mengangkat yang lain," ucap Reza.
Nia mengangguk dan langsung memegang tali di depan Reza. Reza memegang ujung tali agar lebih kuat untuk mengangkat. Sindi berada di depan Nia.
Satu persatu dari mereka sudah berhasil keluar dengan aman. Diawali Nia, kemudian Deva, lalu Willy. Hanya Kevin dan Yayan belum diangkat. Yayan mendengar dentuman keras dari dalam, seperti ada sesuatu yang terjatuh. Yayan menduga bahwa bibi itu terjatuh karena jebakan Sindi dan adik-adik perempuan.
Yayan kemudian berlari mendekati mereka Reza.
"Ayo cepat! Sepertinya bibi itu sudah terbangun," desak Yayan saat sampai di dekat mereka.
Kevin langsung memegang tali, lalu mereka yang di luar pagar menarik talinya sekuat tenaga. Mereka membuat Kevin sedikit berteriak karena itu. Kevin langsung mendarat ke kasur di bawah sana.
"Dhumm" suara pintu rumah depan yang terbuka. Memecahkan kesunyian malam, menggema di telinga mereka masing-masing.
Terlihat bibi yang berekspresi geram. Terlihat bajunya yang setengah basah karena air dan sabun. Bibi memegang bahunya yang sakit karena terpeleset oleh jebakan Sindi dan adik perempuan.
__ADS_1
"Anak-anak, kalian kurang ajar..."