PANTI MATI

PANTI MATI
SELAMAT TINGGAL BUNDA


__ADS_3

"Saat pagar terbuka, ayo kita lari."


Aku terkejut mendengar bisikan Reza.


Bodoh!


Pagar sudah terbuka, cukup besar untuk di lewati. Reza berlari cepat ke depan, membuat Bunda dan Tuan itu terkejut.


Pandangan ku mencari Sindi di belakang, ingin tahu apa yang akan dia lakukan jika aku ikut berlari. Tapi ternyata dia sudah berlari melewati sampingku.


Aku pun sontak ikut berlari di belakangnya. Reza sudah melewati pagar keluar itu. Tuan itu terlihat panik, dan ingin mengejar Reza.


Momen yang bagus untukku dan Sindi melewati pagar dengan sempat tanpa terlihat oleh pria itu.


Rencana yang beresiko ini, lumayan juga.


Tetapi, aku tidak tahu kapan mereka merencanakannya berduaan.


Sambil berlari cepat, aku mempertanyakan sesuatu dipikiranku—


Bagaimana dengan Adik-adik? Ataupun Bunda?


"Ahh!"


Tanpa kuduga, pria itu berbalik cepat dan menahan tangan Sindi, Sehingga Sindi menjerit kesakitan. Tangan Sindi melawan tangan pria itu, kemudian pria itu menarik tangannya sehingga Sindi ikut tertarik dan terjatuh. Pria itu melepaskan tangannya dari tangan Sindi, dia tersenyum kejam, seperti predator yang berhasil menumbangkan seekor mangsanya.


Kaki ku berhenti—Aku terkejut melihat Sindi yang kesakitan di depan ku. Reza yang menyadari Sindi yang menjerit tadi, Dia berbalik ingin menyelamatkan Sindi.


Reza berlari cepat dan mengepalkan tangannya ingin menghajar, Tapi dia di tendang oleh pria itu, sehingga ia terjatuh mundur ke bawah.


Aku berlari ingin membantu mereka. Saat aku mulai berlari tangan ku ditahan, saat aku ingin melihat siapa yang menahan, Dia adalah Bunda.


Bunda menggelengkan kepalanya, wajahnya hendak menangis.


Aku hanya menuruti bunda, untuk berdiam diri.


Lagi pula, jika aku menyelamatkan mereka, mungkin akan percuma. Pria itu hanya akan menendang ku juga.


Sindi terduduk bersimpuh, meringis memegang tangannya yang kesakitan. Reza duduk belunjur memegang perutnya yang ditendang oleh pria tadi.


Tuan itu menatap bunda dengan tajam, menunjukkan isyarat agar masuk ke dalam mobil. Bunda pun bergegas berjalan menuju ke arah mobil. Saat hampir sampai, dia berhenti.


"Kalian berdua, tolong kembali," ucap bunda kepada Reza dan Sindi dengan pelan yang masih bisa terdengar ditelinga ku.


Setelah mengucapkan itu, Bunda membuka pintu lalu memasuki mobil itu dan menutup kembali pintunya.


"Kak Yayan,"

__ADS_1


"Kakak..." ucap Deva dan Nia, Adikku yang bersembunyi di balik badanku dan memegang bajuku. Kevin dan Willy tidak ikut bersembunyi dibalik badan ku, tetapi mereka berdua hanya beku terkejut melihat kedepan.


Sontak aku langsung berbalik dan berbungkuk menenangkan Deva dan Nia. Mata menangis, membuat ku tersentuh.


Bodohnya Aku... Jika Aku melarikan diri, bagaimana dengan Adik-adikku yang ku tinggalkan ini.


"Reza, Sindi," panggil ku.


Aku mengisyaratkan kepada mereka berdua untuk masuk kembali. Seperti paham maksudku, mereka berdiri dan masuk kembali dengan wajah yang kesal dan murung. Tuan yang tersenyum itu langsung mengunci pagar, lalu menuju mobilnya.


Mobil itu berjalan meninggalkan kami. Tentunya dengan Bunda yang pergi dengannya entah kemana.


~|~|~


Ini larut malam, adik-adik sudah tertidur lelap. Saat ini kami yaitu ; aku, Reza, dan Sindi berada di ruang tamu, aku yang mengajak mereka berdua ke sini.


"Kalian ini, tadi itu rencana yang berbahaya, kalian tahu enggak?" tegur ku, tidak nyaring.


"..."


Mereka berdua hanya terdiam, Reza menatap kearah lain dengan wajah acuh tak acuh, Sindi melihat kebawah dengan tangannya yang menggenggam satu sama lain di bawah perutnya.


Aku melanjutkan, "...Rencana yang mendadak dan beresiko...Tidak memikirkan Bunda dan Adik-adik...Merencanakan pelarian berdua saja."


Suara ku berat dan terasa serak. Saat aku mengatakan kalimat terakhir, tangan Sindi tersentak pelan, Reza menggaruk-garuk kepalanya.


"Maaf ya Yan," gumam Sindi yang matanya berair.


"...Tak apa-apa, tapi masih ada yang harus kalian minta maaf...Minta maaf juga sama bunda dan adik-adik."


Bertemu dengan bunda mungkin saja mustahil dari sekarang. Kalau adik-adik, mereka masih belum tahu. kurasa, aku belum siap memberitahu sesuatu di balik panti ini kepada mereka...Tidak, merekalah yang mungkin belum siap.


"Namun kalian tidak bisa memintanya saat ini," lanjut ku dengan suara pelan.


Setelah Aku mengucapkan itu, mereka terlihat merenung perbuatan mereka tadi. Karena itu, keheningan tercipta untuk kami bertiga. Karena tidak ada lagi yang inginku bicarakan, dan juga mereka hanya termenung, Ya sudah—


"Lebih baik kita tidur dulu," ucap ku yang berjalan meninggalkan mereka.


~|~|~


Aku mendorong pintu kamar yang sudah terbuka sedikit ini.


Perasaanku, tadi pintu ini sudah tertutup rapat.


Sambil memikirkan itu, aku langsung menutup pintunya dan berbalik melihat sekitar. Kedua adik-adik ku, Kevin dan Willy, terlihat tertidur di kasur mereka masing-masing.


Aku lanjut berjalan menuju kasur ku, dan langsung merebahkan diri.

__ADS_1


Bagaimana cara melarikan diri bersama Adik-adik?


Jika kami memberitahu kebenaran panti ini, mereka pasti sangat takut, melebihi rasa takut milikku. Bunda sudah meninggalkan kami, apa yang akan orang kejam itu lakukan kepada bunda.


Apakah bunda akan baik-baik saja?


Kenapa ini terjadi...?


Apa yang akan kulakukan...?


Aku memandang langit-langit kamar, namun sekarang pandanganku terasa kabur, bukan karena ngantuk ataupun mulai tertidur.


Aku mengeluarkan air mata yang mengalir ke bantal ku, terasa basah dan hangat. Namun, meneteskan air mata ini tidak terasa lega, ini tidak bisa mengeluarkan rasa takut dan kesedihan ku yang ditinggalkan Bunda.


Aku lalu mengelap wajah ku dengan lenganku. Ini pun sama, tidak merubah apapun soal emosi, tidak bisa menghapus rasa ini begitu saja dengan mengelap air mata.


Pintu kamar terbuka dan membuatku sedikit kaget, Reza menutup kembali pintu yang dibukanya lalu berjalan ke arahku, aku menyadari bahwa dia seperti ingin berbicara denganku. Aku pun bangun dan duduk di atas kasur ini.


"Ee... Itu, maaf yan. Aku malah egois, tidak memikirkan Bunda dan Adik-adik," ucapnya serak dan menggaruk-garuk kepalanya.


"Ah.. tidak apa-apa," balasku sambil tersenyum pelan.


"Aku malah merencanakan sesuatu yang mendadak dan gegabah."


"Sudah saja, jangan dipikirkan...Ini sudah larut malam, lebih baik kita tidur...Kita juga tidak tahu apa yang akan terjadi besok hari," lirih ku.


Reza mengangguk tersenyum pelan dan langsung menuju kasurnya yang berada disebelah kasur ku, Aku merebahkan diri dan disusul olehnya.


"Mulai Besok, Apa yang akan kita lakukan?" tanya Reza.


"Entahlah..." jawabku pelan.


Entahlah... Apa yang akan terjadi besok, aku sendiri tidak tahu. Memikirkan kejadian hari ini dan kemarin saja terasa melelahkan. Aku menghela nafas lelah dan menutup mataku.


Masih saja terpikir dengan hari besok, hari yang terus berlanjut tanpa henti, Dan hari-hari yang berlalu hanya akan terkenang sebagian di dalam memori.


*Aku yang saat itu bahagia karena memiliki keluarga baru, sekarang menjadi kacau kembali. Orang-orang kejam itu merebut kebahagiaan ini dariku. Seharusnya merekalah yang pantas untuk mati, tetapi Aku tidak sanggup jika membunuh seseorang.


Orang-orang kejam itu—Tuan itu berkata bahwa kami keluarga palsu, keluarga yang terikat dengan kebohongan, Lalu dia berkata untuk menebus dosa kebohongan itu, kami pantas untuk mati...


Mereka menjual organ-organ kami, dan kami akan mati karena itu. Kalau begitu, hal itu sama saja dengan pembunuhan.


Apakah mereka sadar akan hal itu?


Jika mereka sadar, Apa yang mereka pikirkan*?


(Note : Kevin dan Willy hanya pura-pura tidur! Mereka merasa ganjil dengan percakapan Yayan dan Reza sewaktu di kamar.)

__ADS_1


__ADS_2