PANTI MATI

PANTI MATI
MEMBUAT RENCANA


__ADS_3

"Yayan, bangun yan. Kami udah pada sarapan semua."


Aku seketika membuka mata setelah mendengar itu. Pagi yang kuingat adalah cahaya redup di sekitaran ku, namun sekarang hari ini terasa lebih cerah, dibuktikan dengan cahaya pagi yang berbeda masuk dari jendela. Cahaya ini terasa lebih hangat, menandakan bahwa langit hari ini terasa lebih terang.


Sederhananya, aku kesiangan. Buset...


Aku merasa lebih lelah hari ini, mungkin karena terlalu banyak berpikir dengan kejadian-kejadian kemarin. Aku bangun dan mulai berdiri, kemudian berjalan menuju kamar mandi dan mencuci muka. Aku menggosok-gosok wajah ku yang basah, melihat kedepan yaitu pantulan dari cermin.


Terlihat wajah seekor mahluk hidup yang bernama Yayan, terlihat lebih lesu dari biasanya. Aku mengelap wajahku dengan kain yang ada, bermaksud juga untuk menghilangkan wajah lesu ini. Namun tetap saja, masih terlihat.


Setelah merasa lebih segar karena dinginnya air, aku berjalan menuju meja panjang di ruang makan, tempat makan bersama. Tersedia sepiring nasi dan lauk ayam dan sayur.


Sayur apa ini?


Aku langsung duduk dan makan sendirian di sini. Suasananya terasa lebih tenang dan sepi, dimana adik-adik? Reza? Sindi?


Mungkin Reza masih di kamar. Sindi dan Adik-adik, entahlah di mana mereka.


Aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat, dan aku pun melihat kearahnya. Sindi...Yang baru saja dari dapur yang kemungkinan baru saja mencuci alat makan.


"Tumben kamu kesiangan Yan," ucapnya heran.


"Ah... Itu karena aku kelelahan saja," balas ku datar. Serius, rasa kantuknya kambuh.


"Kata Reza tadi kamu susah dibangunin, jadi kami memasak dan sarapan duluan aja."


"Oh... Hhm..." Aku mengangguk mengerti.


"Reza dan adik-adik mana?" tanyanya.


"Reza mungkin...Masih di kamar kami. Adik-adik... gak tau di mana."


"Gimana caranya kita memberitahu adik-adik soal panti ini?" tanyanya.


Caranya...?


Apa lebih baik berdalih saja?


"Kita bohongi saja mereka, kita cari alasan untuk memancing mereka agar ikut dengan kita supaya keluar dari panti ini." jawabku.


Sindi hanya terdiam, aku tidak tahu seperti apa ekspresinya, karena dibelakang ku. Aku hanya menatap dan melahap makanan ku yang hampir habis.


"Itu boleh juga...Kurasa." ucapnya pelan seperti berpikir.


Agak aneh mendengar itu, dia seperti kurang yakin soal ini. Aku merasakan bahwa Sindi ragu-ragu dengan jawaban ku, karena itu aku harus memperjelas.


"Ya, kurasa itu memang terbaik. Kalau kita hanya memberitahu mereka kebenarannya, mereka akan syok dan takut, itu hanya akan mempersulit mereka untuk bergerak kabur dari tempat ini."


"Hm... Iya juga."


Aku sekilas menyadari bahwa makanan ku sudah habis. Kemudian aku mengambil gelas yang sudah berisi air putih dan meminumnya.


Aku lalu berdiri, berjalan menuju dapur untuk mencuci piring. Sindi berjalan di sampingku dan menunjuk alat makan yang ku bawa.


"Biar aku yang mencucinya," ucapnya tersenyum pelan.


"Ha-Hah? Ee...Nih." ucapku sambil menyodorkan piring yang di atasnya ada gelas dan sendok.


Dia mengambilnya dan langsung berjalan ke tempat yang mirip dengan wastafel khusus untuk mencuci piring.


Ada apa dengan orang ini? Kesurupan?


Sambil aku berpikir tentang apa yang merasuki pikirannya sehingga ia berkehendak mencucikan alat makan ku, aku bersandar di tembok terdekat untuk menunggunya.


Tidak lama kemudian dia selesai, lalu dia mendekati ku. Dia membuka mulutnya dan ingin mengatakan sesuatu-


"Ayo kita bicarakan rencana pelarian bersama Reza."


~|~|~


Aku berjalan beriringan dengan Sindi, namun jarak antara aku dengannya terpisah selangkah. Aku hanya mengikutinya dari belakang, berjalan menuju kearah ruang tengah. Aku melihat Reza yang juga melihat kami berdua.


Dia menunjuk lorong ke kamar bunda.

__ADS_1


"Kita bahas rencananya di dalam saja." ucapnya pelan, lalu dia berjalan sambil menatap kertas yang dia pegang.


Aku dan Sindi mengikutinya dari belakang, Melewati lorong dan membuka pintu. Setelah masuk, kami membiarkan pintunya terbuka untuk jaga-jaga.


"Kita langsung bahas rencananya." Reza menyodorkan kertas itu kepada Sindi.


"Apa rencananya?" tanyaku dengan heran.


"Kita akan menggunakan kursi-kursi yang ada di ruang makan," ucap Reza.


"Kita akan menumpuknya?" tanya Sindi yang melihat kertas itu.


"Kurang lebih seperti itu." jawabnya.


"Kalau begitu, ayo kita coba sekarang," ajakku


~|~|~


Kursi-kursi sudah kami bawa menuju halaman belakang. Kemudian kami menyusun kursi-kursi ini bertumpuk membentuk segitiga ke atas, sehingga layak untuk di panjat.


"Akhirnya selesai," ucap Sindi dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Iya, benar sekali... Bolak-balik membawa kursi ini melelahkan," keluh Reza, lalu berjalan kearah rumah, "Aku ambilkan air minum dulu."


Aku tidak terlalu lelah dengan ini, namun aku lelah dengan rasa penasaran yang menggerogoti pikiran ku dari tadi, tentang apa yang ada di sekeliling-di balik pagar rumah ini. Karena, yang pernah ku tatap di luar sana, hanya jalanan tanah lurus kosong dan hutan disampingnya.


"Sekarang kita butuh tali dan kayu," gumam Sindi berpikir.


Tali dan kayu? Apakah itu barang yang dibutuhkan dari tulisan kertas tadi? Aku belum sempat membacanya...


"Untuk apa itu?" tanyaku menatap ke atas pagar.


"...untuk turunnya."


Kemungkinan dari yang kulihat, kursi-kursi ini bertumpuk setinggi 2 meter lebih. Aku lalu memanjat kursi ini satu-persatu dengan hati-hati. Sindi hanya melihatku dengan terkejut dengan apa yang kulakukan.


"Yan, tunggu Reza dulu yan..." katanya.


Aku sudah berada di puncak kursi-kursi ini. Tinggi pagar tembok ini sejajar dengan leherku, itupun dibantu oleh tumpukan kursi-kursi ini. Aku melihat pepohonan lebat di depan ku, Lalu aku merasakan angin kencang yang menerpa wajahku, terkejut dengan angin itu, aku merunduk di balik pagar ini dan melihat Sindi di bawah. Tubuhku seketika bergetar dengan otomatis dan membuat kursi-kursi di bawahku ikut bergetar.


"L-Loh, lo-loh.. loh.. eh,ehh."


"Hati-hati yan!" seru Sindi.


Aku pun merangkul pagar tembok yang ada di depanku, dan memanjatnya, kemudian aku memegang erat dan menduduki bagian atas pagar tembok tebal ini.


Kaki kiri ku berada di luar pagar, sedangkan kaki kanan ku berada di dalam pagar, kedua tangan ku berada di depan memegang pagar ini. Posisiku saat ini, mirip seperti orang yang mengendarai sepeda motor.


Buset... Tingginya... Selama hidup, aku enggak pernah berada di tempat setinggi ini.


Kursi-kursi bergoyangan dan berjatuhan hampir mengenai Sindi. Sindi bisa menghindarinya dengan mundur kebelakang. Kursi-kursi yang berada di bagian tertinggi tadi, terhempas dan hancur berantakan dibawah sana.


Gimana aku turun...


Reza datang dari dalam rumah dengan berlari membawa dua gelas air minum.


"Loh, kenapa ini? Yayan mana?" tanya Reza dengan terkejut dan panik.


Sindi menunjuk keatas, ke arah ku.


"Lah, ngapain sih kamu?" tanya Reza terkejut.


"Aku manjat kursi-kursi ini tadi...Tapi malah bergoyangan dan berjatuhan," ucapku yang serak.


"Ya ampun Yayan..." keluh Reza.


"Tolongin aku..."


"Duh, gimana? Kursi-kursinya sebagian sudah pada hancur."


Sindi melihat sekitar, dan terpaku kepada jemuran.


"Oh iya, pakai tali jemuran itu," seru Sindi teringat tali dan langsung berlari meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


"Apa yang mau dia lakukan dengan tali jemuran..." gumam ku.


Aku dan Reza hanya menatap Sindi. Tali jemuran itu berhasil di lepasnya, kemudian dia berlari ke arah Reza.


Seperti sadar akan sesuatu, Reza mengambil patahan kayu lalu memasangnya di masing-masing ujung tali.


"Pakai tali ini yan, sepertinya berhasil," ucap Sindi yakin.


"Tapi bagaimana?" tanyaku mengeluh.


"Coba kamu lempar satu ujung tali ini ke dahan pohon sampai tersangkut. Terus kamu meluncur memegang talinya untuk turun," jawabnya.


Sindi lalu melempar tali itu ke arah ku. Aku pun berhasil menangkapnya dengan satu tangan. Tali itu sudah di modifikasi, kedua ujung talinya terikat dengan patahan kursi kayu tadi.


Pandangan ku pun mencari pohon yang terdekat-di luar pagar untuk bisa mengait talinya ini.


Saat aku menemukan pohon yang pas, aku langsung melempar patahan kayu yang sudah terikat tali. Kayu itu pun melayang-layang di ikuti tali kearah dahan pohon yang ku targetkan. Kayu dan ujung talinya yang kulempar tadi, berputar-putar di dahannya, kemudian terkunci.


Berhasil!


Jika aku turun keluar pagar ini, aku tidak bisa masuk kembali. Karena, tali itu bergantung di pohon yang jaraknya tidak dekat dengan pagar. Yang bisa ku lakukan saat ini adalah merosot menggunakan tali kembali ke halaman belakang.


Aku pun menjatuhkan ujung tali lainnya kebawah-halaman belakang. Aku turun sedikit untuk menggantungkan diriku. Kemudian aku menginjak dinding untuk berjalan mundur ke bawah, dengan memegang kuat tali yang mungkin saja bisa putus ini.


Aku sekarang sudah sampai di bawah, Menginjak lantai semen di bawah ku. Aku melihat Reza dan Sindi yang menuju kearahku.


"Kalau begini, kita bisa memanjat mengunakan tali ini ke atas." ucap Reza yang memandang tali keatas.


"Tapi, kenapa kamu gak mencoba keluar?" lanjutnya.


"Jarak antara dahan pohon itu dengan pagar ini sedikit jauh. Kita tidak bisa memanjat talinya untuk masuk kesini kembali, karena jangkauannya. Jika ingin keluar, kita hanya bisa sekali berayun dengan tali itu," ucapku.



"Berarti, kita hanya bisa kabur sekali percobaan saja, dan jika sudah keluar, kita tidak bisa naik dan masuk kembali," ucap Sindi.


"Iya."


Tali yang menjuntai ini bisa kami panjat kembali. Namun, jika kami berhasil berayun keluar, kami tidak bisa masuk kembali walaupun dengan memanjat tali dan pohonnya. Jadi, hanya ada satu percobaan dengan tali ini—


"Satu orang berada di atas pagar untuk menunggu dan menjaga, satu orang yang lain memanjat lalu berayun ke luar. Yang sudah berhasil keluar, melempar kembali ujung tali yang menjuntai kepada orang yang menunggu di atas pagar. Kemudian orang yang di atas pagar menjatuhkan talinya kembali ke dalam, halaman ini," ucap ku pelan menatap tali.


Setelah aku mengucapkan itu, seseorang berlari kearah kami, membuat kami bertiga terkejut, dia adalah adik kami, Kevin. Dia berhenti dan menatap tali keheranan.


"Kalian ngapain?" tanya Kevin yang masih menatap tali di atas pagar itu.


Kami hanya terdiam kebingungan. Sesuatu yang terlihat aneh, seperti tali yang menjuntai ini, tentu saja akan membuat orang lain terheran-heran. Aku menggaruk-garuk pipiku yang tidak gatal.


"Ah...Kamu...Kenapa berlari?" tanya ku balik, untuk menghindari pertanyaan miliknya.


Dia tersadar dan menatapku resah dan gugup.


"Aku mencari kalian, ada dua orang yang tidak dikenal datang ke sini. Pria aneh yang kemarin membawa Bunda...Dan satu orang wanita."


"Hah?"


"Ha..?"


Aku terkesiap meneguk air liur, kebingungan dan menatap Reza dan Sindi bergantian. Ekspresi mereka pun sama seperti ku. Aku merasakan sesuatu yang lebih rumit dan menegangkan.


Kenapa pria itu harus datang sekarang.


Reza berjalan diikuti Sindi, Kevin dan aku. Kami berjalan sedikit cepat. Semakin dekat, rasanya semakin mendebarkan. Suasana yang mencekik pun mulai terasa di leherku. Aku yang hendak meneguk liur lagi, terasa lebih berat dan sesak.


Setelah hampir sampai di ruang tamu, terlihat ketiga adik-adik ku; Willy, Nia, dan Deva. Langkah kami bertiga terhenti, melihat wanita yang tersenyum lebar mendekati adik-adik. Umurnya terlihat sekitar 27-30 tahunan. Wanita itu menggunakan pakaian daster rapi kelabu dan membawa sebuah koper.


Aku tersadar dan melihat Tuan yang tersenyum, berpakaian jas seperti biasanya dan topi fedora yang menggelapkan bagian dahi dan matanya.


"Selamat siang menjelang sore anak-anak, bunda kalian sedang liburan mendadak sepertinya," ucap wanita itu tersenyum lembut yang palsu.


Kami hanya terbeku. Pikiran ku kosong.


"Jadi, untuk selama ini, Bibi yang akan merawat kalian," ucap wanita itu tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2