
"Sial."
"Kalian bertiga, cepat bersembunyi!" seru Reza.
Kedua mobil itu semakin mendekat, sementara kami bersembunyi secara terpisah di balik pohon. Mereka Reza, yang berada di dalam pagar menghilang dari pandanganku. Sepertinya mereka kembali masuk ke dalam rumah.
Setelah kedua mobil itu sampai tepat di depan pagar besi, tiga orang pria keluar dari mobil sedan. Salah satu dari ketiga pria itu termasuk si Tuan itu. Ketiga pria itu memakai jaket yang bewarna hitam namun berbeda model. Postur para pria itu berbeda-beda. Si Tuan terlihat terlihat kurus, berbeda saat dia memakai jas. Karena jaketnya yang besar dan tebal membuatnya terlihat kecil. Satu pria terlihat botak dan menggunakan celana jeans pendek. Sedang kan pria yang satunya berambut panjang sebahu menggunakan celana jeans panjang seperti tuan.
Si pria botak membuka pagar menggunakan kunci, mungkin itu adalah kunci khusus atau kunci cadangan. Sementara kunci yang di rampas oleh Kevin dan Willy dari Bunda berada di tangan Willy. Mereka berdua bersembunyi dibalik pohon di sisi seberang.
Si pria yang berambut panjang datang ke belakang, ke arah mobil Jeep. Ia menggerakkan tangannya seperti mempersilahkan untuk turun dan menunjuk Rumah panti kepada orang yang berada di dalam mobil. Dari mobil Jeep itu keluar seorang pria tinggi berbaju kaos abu berkerah. Pria itu melihat jam tangannya. Penumpang yang lain dari mobil Jeep itu adalah Wanita. Mungkin istrinya. Wanita itu terlihat anggun dengan jilbab dan gaunnya yang terkesan muslimah.
Aku merasa bahwa kedua suami dan istri itu tidak memiliki aura yang jahat ataupun sebagainya.
"Maaf merepotkan kalian." ucap Pria yang bersama istrinya itu.
"Tidak, ini tidak merepotkan sama sekali." balas pria yang semobil dengan Tuan tadi.
"Maaf jika lancang, siapa perempuan yang pingsan di tengah jalan tadi?" tanya Wanita berjilbab itu.
"D-dia... Adalah orang yang mengurus di rumah ini." jawab Pria itu gugup.
"...Kenapa bis—"
"Ngomong-ngomong mari kita segera masuk!" seru pria itu sambil memaksa tersenyum.
Pria tinggi yang ingin bertanya, di potong oleh ucapan dari pria berambut panjang itu. Istrinya dan suaminya yang tinggi itu kebingungan dan menatap satu sama lain. Lalu berjalan mengikuti pria yang mengajaknya masuk ke dalam pagar.
Mereka melewati Tuan yang dari tadi memegang Hape-nya.
__ADS_1
"Silahkan masuk ke dalam dan lihat mereka! Saya mungkin menyusul nanti." ucap Tuan itu seperti menghormati seorang pelanggan.
"Baik. Saya permisi."
Pria tinggi dan istrinya melewati tuan dengan menganggukkan kepalanya. Tak lama setelah pria dan istrinya di antar oleh rekan tuan, si tuan menelpon seseorang.
"Maaf menggangu Ketua, saat saya membawa pelanggan kita ke rumah panti. Tapi saat jalan menuju kemari... kami melihat Claire pingsan."
"..."
"Saya juga tidak tahu Tuan. Dia pingsan di jalan, bajunya kotor seperti sehabis berkelahi, saat ini dia kami baringkan di dalam mobil saya. Sedangkan mereka berdua mengantar pelanggan suami istri itu untuk bertemu anak-anak."
"..."
"Baik, kami akan lakukannya setelah pelanggan pergi."
Setelah menelpon, aku kurang mengerti dengan pembicaraan itu. Suara dari orang yang di teleponnya tidak terdengar. Karena itu aku merakit pembicaraan mereka. Pembicaraan singkat itu memudahkah ku untuk mengingatnya.
"Maaf menggangu Ketua, saat saya membawa pelanggan kita ke rumah panti. Tapi saat jalan menuju kemari... kami melihat Claire pingsan."
Claire yang pingsan? Berarti yang ia maksud adalah bibi... Jadi ternyata itu nama aslinya.
"Kenapa bisa terjadi?"
"Saya juga tidak tahu Tuan. Dia pingsan di jalan, bajunya kotor seperti s,habis berkelahi, saat ini dia kami baringkan di dalam mobil saya. Sedangkan mereka berdua mengantar pelanggan suami istri itu untuk bertemu anak-anak."
"Cari tau masalah apa yang terjadi."
"Baik, kami akan lakukannya setelah pelanggan pergi."
__ADS_1
Itu lah yang tersusun dalam pikiranku. Yang membuat ku sedikit lega karena mengerti. Dan juga, membuat sedikit khawatir dengan itu.
Tak berselang lama, si Tuan itu memasuki pagar. Menyusul rekannya dan pelanggan tadi. Aku tidak mengerti dengan itu. Apa yang tujuan mereka datang? Bagaimana mereka Reza didalam sana?
Aku kemudian berlari kecil memasuki pagar dan menuju ke samping halaman rumah. Dengan berhati-hati dan mengawasi sekitar. Setelah itu akusampai di samping rumah, sela-sela yang tidak terlalu sempit. Tiba-tiba di belakang ku, terdengar suara langkah yang menggema. Langkah kaki dari dua orang yang membuntuti.
"Kak Yayan!"
Suara itu sedikit mengejutkan ku, meski tidak terlalu nyaring. Dan sedikit melegakan debar jantungku. Yang datang itu adalah Kevin dan Willy. Aku... Lupa soal mereka.
"Kenapa kamu langsung masuk, itu berbahaya!" seru Kevin Pelan.
"Maaf! aku hanya gelisah dan khawatir dengan apa yang terjadi pada mereka." lirih ku pelan terkejut dengan ucapan Kevin.
"Yah... Karena tidak ketahuan bukan masalah sih." ucap Kevin lega.
Aku pun tersenyum lega.
"Sebaiknya kita senyap dan... ikuti aku."
Aku berjalan pelan diikuti mereka berdua. Menuju halaman belakang. Saat sampai di halaman belakang, berjalan lagi menuju dapur. Pintu dapur terkunci tapi ada jendelanya. Di jendela itu aku mengintip pelan ke dalam. Sekilas aku melihat Reza, Sindi, Nia, dan Deva. Di depan mereka ada seorang rekan dari si Tuan yang tadi membuka pagar.
"Sekali lagi ku katakan pada kalian biar bisa dimengerti. Jika kalian membocorkan tentang panti ini kepada kedua tamu itu, salah satu dari kalian akan kami di bunuh! Termasuk juga dengan kedua tamu itu!"
"Mengerti tidak?!" lanjutnya dengan nada yang sama, tidak terlalu nyaring.
Perkataan tegas itu mengejutkan diriku. Aku menunduk bersembunyi dari jendela yang ku intip. Tubuhku tidak bisa berhenti bergetar. Lalu, pandangan ku tertuju pada Kevin dan Willy. Mereka juga mendengar hal tadi. Tangan mereka juga ikut bergetar, tatapan mereka hanya kosong ke depan. Pikiran mereka mungkin sedang kacau.
...Mungkin mereka Reza sama terkejutnya. Tetapi aku belum berani mengintip mereka lagi. Kami bertiga hanya terduduk bersandar di bawah jendela. Sunyi, tak ada satupun dari kami. Bahkan suara dari dapur pun tidak terdengar. Apa yang terjadi pada mereka Reza? ...
__ADS_1
Sinar kecil matahari pagi menjadi saksi bisu bagi ku. Angin pagi yang berhembus tidak terasa hangat. Namun, angin itu menutupi keringat dingin bagiku. Sejuk rasanya, menandakan bahwa musim hujan akan segera tiba. Dengan itu aku berharap, dan berdoa.
Untuk kedepannya... Semoga kami semua... Baik-baik saja.