PANTI MATI

PANTI MATI
ADIK-ADIK MENGETAHUINYA


__ADS_3

"Rencana menghalangi bibi?" tanya orang itu menatap kami dengan tajam.


"Apa maksud kalian?" tanyanya lagi.


"Beberapa hari kebelakangan ini ada yang aneh dengan kalian," lanjutnya.


Seharusnya aku lega karena dia hanyalah adikku, kevin. Tetapi—


Bagaimana menjawab pertanyaan itu!?


Aku menatap Reza dengan gelisah dan kebingungan. Aku memang harus memberitahu adik-adik tentang panti, tapi jika mendadak seperti ini, tentu saja aku akan kebingungan.


Reza menatapku menganguk. Tatapannya seperti ingin tidak mengekang dengan kebohongan. Dia ingin jujur dengan situasi kita saat ini.


"Waktu yang tepat... Kami akan memberitahu sesuatu tentang di balik panti ini," ucap Reza menatap Kevin dengan melankolis.


"Sudah ku duga, ada yang aneh," gumamnya.


Dia menghadap ke atas, "Hee... Kalian ingin keluar lewat loteng? Atap itu sepertinya sulit dibongkar... Satu hal yang bisa dilakukan hanyalah merombak dengan menendangnya sampai hancur..."


Kau menyadari itu? Eh.. Sejak kapan!? Bukankah kau terlalu jeli untuk anak seumuran mu?


Reza sedikit terkejut dengan ucapan Kevin, sama halnya denganku.


"Kamu ini memang adik yang genius," ucap Reza tersenyum.


"Yah... Begitulah," lirih Kevin.


"Jadi apa yang ingin kalian ceritakan tadi, tentang panti ini?" tanyanya menatap kami berdua bergantian.


Reza melihatku sekilas, aku mengangguk dagu ku ke depan untuk isyarat 'beritahu dia'


Dia membalas anggukan ku dan menatap Kevin.


"Sebenarnya panti ini..."


~|~|~


"Ini sangat gawat," gumamnya menatap ke bawah, setelah Reza menjelaskan kebenaran panti ini..

__ADS_1


Hey, reaksi mu biasa saja.


"Iya itu benar," ucap Reza.


"Aku kira kita hanya dijual untuk bekerja... Tapi...Hal ini... Aku tak menyangka hal ini terjadi..." lirihnya gugup.


Tapi gugupnya itu seperti di buat-buat.


"Iya, Karena itu kami berencana kabur saat itu," ucap Reza spontan.


Aku sedikit terkejut dengan ucapan Reza, karena itu bisa saja menyinggung sesuatu.


"Waktu itu..." lirih kevin dan mulai menatap Reza, "Waktu itu kalian meninggalkan kami... Adik-adik kalian sendiri." ucapnya sedikit kesal.


Sudah ku duga, Kevin menyadarinya.


"Eh... Soal itu maafkan aku, itu rencanaku..." ucap Reza panik.


"Kalian sudah tahu lebih awal tentang panti ini dari bunda, kalian tidak memberitahunya kepada kami dan kalian ingin meninggalkan kami begitu saja?" ucapnya mengeraskan.


Reza terperangah kebingungan. Lalu dia menenangkan diri dengan menghela nafas pelan.


Hanya ada keheningan yang muncul. Reza hanya hanyut dalam permohonan maafnya. Sedangkan Kevin menatapnya dengan datar.


"Hey, kalian sudah dengar? Kak Reza sudah minta maaf."


Hah?


Aku dan Reza menatap Kevin keheranan. Kevin melirik ke arah pintu. Kemudian aku dan Reza refleks melihat ke arah pintu.


Dengan siapa dia berbicara?


Setelah itu, aku mendengar suara gerakan atau semacamnya dari balik pintu. Pintu itu sudah terbuka setengah dari awal Kevin masuk.


Saat aku menatap lebih teliti ke arah pintu, aku terheran-heran. Dari balik pintu muncul Sindi dan Adik-adik.


"Adik-adik... Sindi... Kenapa bisa?" ucap Reza.


"...Mereka sebenarnya sudah tahu ada yang aneh dengan kita. Nia dan Deva mempertanyakan panti ini kepada ku saat malam kemarin di kamar, aku kebingungan... tapi aku harus jujur pada mereka... Awalnya mereka berdua menangis..." ucap Sindi tersenyum lembut.

__ADS_1


Aku dan Reza masih terdiam.


"...Setelah itu Mereka berdua memberitahunya kepada Kevin dan Willy... Tadi aku bertemu mereka berempat di depan pintu, Kevin merencanakan sesuatu... Dan inilah rencananya." lanjutnya.


"Tunggu dulu, apa kalian tidak merasa takut?" tanya ku heran kepada adik-adik.


"Kami sebenarnya takut kak Yan, tapi kata Kevin dan kak Sindi jangan takut..." ucap Willy tersenyum.


"...Kita boleh menangis ataupun mengeluh," ucap Nia.


"Tapi kita tidak boleh menyerah," lanjut Deva


*Apa-apaan ini, sungguh...


Mereka memang takut, tapi mereka menyembunyikan rasa takut itu. Kalian memang adik-adik yang hebat*.


"Kalian memang hebat," ucap Reza pelan.


"Itu benar," terus ku.


"Baru nyadar ya? Bagaimana kejutan ku dengan kak Sindi?" ucap Kevin tersenyum bangga.


Sindi tertawa kecil. Aku dan Reza menatap satu sama lain, dan kami berdua sekilas mengangkat sudut bibir satu sama lain.


"Hey bukankah kamu..." ucap Reza.


"Terlalu sombong..." ungkap ku.


"Padahal..." lanjut Reza.


"Ini tidak terlalu mengejutkan!" Seru ku dengan Reza secara bersamaan.


Aku tertawa, satu persatu dari mereka ikut tertawa. Rasa takut dan khawatir hilang di sela-sela tawa kami. Maka dari itu, kami harus...


"Sstt, jangan tertawa terlalu keras..." lirih Reza.


Mereka terdiam menahan tawanya. Aku tersenyum melihat mereka saat ini.


Walaupun kami bukan saudara kandung, aku merasakan sesuatu yang lebih dari itu.

__ADS_1


"Ayo kita rencanakan pelarian tengah malam ini."


__ADS_2