
Anila tertunduk lesu, dalam benaknya satu per satu pertanyaan muncul. Bunda dari seorang putri kecil bernama Nura Anasa Wijaksana harus menerima kenyataan bahwa suaminya telah menikah lagi. kurang lebih pernikahan itu berlangsung setahun yang lalu, begitulah berita yang baru saja dia dengar.
Tangannya mengepal dengan kuat, air mata menggenang dipelupuk mata, wajah cerianya terlihat merah menahan emosi. Istri mana yang baik-baik saja ketika mendengar memiliki seorang madu.
Disebelahnya, Uke sibuk menerima telepon, rasa bersalah terlihat dalam tatapan sendu pria berkacamata yang saat itu menggunakan celana bahan berwarna coklat muda dipadu dengan atasan kaos polos berwarna hitam. Andaikan bukan dia yang menjadi perantara antara Anila dan Tante Heti mengenai kenyataan yang mengejutkan, tentu saja dia tidak akan merasa bersalah seperti saat ini. Namun hal apapun yang akan ditutupi cepat atau lambat akan terbuka juga.
“Maaf ya teh,” ucapnya tulus sambil menggenggam jemari Anila. Berharap ketulusannya mampu menguatkan seorang teman yang tersakiti.
Anila menghembuskan nafas beratnya, “Mas Uke ngomong apa, justru Ila berterima kasih, akhirnya setelah sekian lama ada titik terang dalam masalah ini. Namun, bukan ini kenyataan yang ingin Ila hadapi,” ucapnya dengan bergetar menahan emosi. Kemudian dia mencoba menghubungi salah satu teman dekatnya. Dia harus mendapat jawaban pasti, saat ini juga.
Istri Angkasa ini mengetuk-ngetuk jarinya diatas meja tanda tidak sabar, ingin segera teleponnya diterima. Dua kali panggilan akhirnya telepon itu diangkat, terdengar tawa renyah dari laki-laki diujung telepon. Entah seakan tahu ada yang tidak beres, Yuga berusaha mengajaknya mengobrol, menanyakan kabar dan hal tidak penting lainnya seakan mengulur waktu.
“Sebut satu nama perempuan yang sedang dekat dengan Aang!”
Aang panggilan Anila untuk Angkasa. Perbedaan usia mereka hanya satu tahun namun Anila begitu menghormatinya dengan memanggil Aa Angkasa. Aa sebutan dalam bahasa Sunda untuk laki-laki yang lebih tua selain kakang. Karena nama Angkasa terlalu panjang dia menyingkatnya menjadi Aang sekaligus menjadi panggilan sayang darinya.
__ADS_1
Yuga pura-pura tidak mendengar pertanyaan Anila, dan memintanya mengulang pertanyaan.
“Tidak usah bertele-tele Ga, sudah tiga kali Ila mengulang pertanyaan yang sama. Kita sudah tidak muda lagi. Saya rasa kamu tahu apa yang saya maksud.” Anila berkata tegas tanpa memberi kesempatan teman sekolahnya berkelit memberikan jawaban.
“Baiklah, tidak perlu marah. Yuga cuma tahu selama ini Kasa dekat dengan Dira,” ucapnya pelan namun masih terdengar oleh Anila.
“Terima kasih,” ucap Anila langsung mematikan ponselnya, tidak peduli diseberang sana Yuga masih meminta kejelasan mengenai pertanyaan Anila yang cukup mengagetkan.
Hati Anila semakin sakit. “Dira! Yuga saja menyebutkan nama itu tanpa keraguan, teganya kamu A, menodai pernikahan kita,” berbagai kekecewaan ia keluarkan dalam hati.
Anila menutupi wajah dengan kedua tangannya, patah hatinya. Mengapa Tuhan begitu kejam memberi ujian lainnya, dia saja belum dapat solusi dari ujian yang sedang dihadapinya.
“Ila, kamu baik-baik saja?” Tanya Kankan yang baru saja masuk kantor dengan tergesa. Direngkuh Anila masuk dalam pelukannya. “Maaf,” bisiknya. Kankan sama dengan Mas Uke merasa bersalah, dia tidak tahu mengapa harus sepupu jauhnya yang menjadi penghancur rumah tangga rekan kerjanya.
“Aku baik-baik saja,” ucapnya sambil berdendang lagu terlaris dari grup wanita Ratu, yang beranggotakan Maia Estianty dan Pingkan Mambo sebelum diganti oleh Mulan Jameela.
__ADS_1
Kankan menatap Anila dengan kesal.
“Kamu tuh kalau mau marah ya marah, mau nangis ya nangis, mau teriak ya teriak jangan seperti ini, jangan dipendam, sakit! Sok banget pakai acara menyanyi segala. Aku tahu bagaimana rasanya La.”
“Patah hati, sakit Kan. Jantung ini berdetak sangat cepat dari tadi,” ucap Anila lirih, dua orang laki-laki diruangan itu pun dapat merasakan kekecewaan seorang Anila.
“Aku mau pulang, kasihan Nura di rumah sendirian,” pamitnya. Dengan langkah yang dipaksakan dia keluar dari ruko dua lantai, ia bekerja di kantor dekorasi pernikahan.
Malam sudah tiba, langit terlihat gelap belum ada bintang yang muncul, bulan pun masih tertutup awan. Anila masih menyapa Pak Roni, satpam komplek dngan senyum manisnya. Mas Uke dan Kankan pun mengikuti langkah Anila dari jauh mereka takut bila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, walaupun daerah tempat tinggal Anila aman.
Perempuan ini terdiam di perempatan menuju rumahnya. Wajahnya menengadah langit, cukup lama hal itu dilakukan Anila, kemudian ia melanjutkan langkahnya menuju rumah, sudah tidak sabar ingin menemui malaikat kecilnya. Uke dan Kankan mengawasi Ila hingga masuk dalam rumah bercat putih, keduanya saling menatap ikut merasakan kesedihan Anila.
Beruntungnya Anila, adik mamahnya yang tinggal bersama sedang berada dalam kamar. Ia malas jika harus diinterogasi karena saat ini pasti dia tidak bisa menutupi raut wajah kecewanya. Ia menaiki tangga menuju lantai dua, di depan kamar dia berusaha senam muka dan merubah wajahnya agar terlihat ceria, takut bila Nura belum tidur.
Nampaknya keberuntungan masih setia bersama Anila,. Nura sudah terlelap, masuk dalam alam mimpinya. Wajah mungil dan polos malaikat kecil meluruhkan pertahanannya, pecah sudah tangis yang sejak tadi ditahan. Ia menutup mulutnya, menangis tanpa suara, dia keluar kamar segera berwudhu, guna meredam tangisnya. Setelah mensucikan diri, dia kembali masuk kamar dan menguncinya.
__ADS_1
Sambil menutup mata dia mengambil kitab suci memeluknya dan mengucapkan istigfar tanpa henti. Air mata membasahi wajah, bibirnya bergetar sambil terus mengucap dzikir. Dalam otaknya satu persatu kenangan indah kebersamaan mereka datang bagaikan puzzle.
***