
Ketika sebuah harapan terhempas, seketika merubah semua rencana yang telah dipersiapkan dengan matang. Jalan kehidupan memang sudah diatur oleh sang maha pencipta dan manusia hanya dapat berencana.
Ujian datang silih berganti bagaikan gelombang tsunami menggulung siapa saja yang berada dihadapannya, menyisakan tangis pilu yang menyayat hati, mencoba bertahan dan bangkit demi masa depan yang lebih baik.
Anila tertunduk lesu, pernikahannya dengan Angkasa diujung tanduk. Delapan tahun masa pacaran mereka, sembilan tahun sudah pernikahan mereka, tidak menyangka akan mendapatkan ujian yang seperti ini.
Batinnya berperang, akankah tekadnya goyah, melihat suaminya yang bersujud memohon ampun agar dia dan Nura tidak meninggalkannya. Keputusannya akan merubah semua jalan hidup kedepannya.
“Kamu yakin akan menerimanya Anila? Dia sudah menikahi perempuan lain,” satu sisi bertanya pada dirinya.
“Perjalanan hidup kamu bersamanya dirintis dari masa pacaran dulu, apakah kamu tidak ingin mempertahankannya demi Nura? Nura dan ayahnya sangat dekat, sanggupkah kamu memutus cinta kasih keduanya?” pertanyaan lain timbul dari sisi hati yang satunya.
Anila kembali memejamkan netranya, terasa berat dan perih. Bingung diantara dua pilihan sulit memilih ego atau mempertahankan demi Nura.
__ADS_1
“Mengapa kamu harus mengalami hal ini nak? Bunda berharap ini adalah mimpi. Namun ini nyata dan menyakitkan.”
Tangis suaminya belum reda, ia gemas apakah benar ini suatu bentuk penyesalan ataukah hanya pengorbanan agar dia merubah keputusannya, dilema. Tanpa sadar ia mengelus rambut Angkasa, dia pun seolah kaget dan segera menyudahi pekerjaannya setelah menyadari ada yang salah dengan kelakuannya.
“Apa yang akan kamu lakukan?”
Angkasa menatap istrinya, meskipun Anila tidak membalasnya. “Ayah akan menceraikan perempuan itu bun.”
“Ayah akan ikut keputusan bunda,” jawabnya dengan meyakinkan. Mata teduh itu masih menatap dirinya. Namun ia masih tidak ingin membalas, hanya diam memandang teh manis yang sudah tidak panas, dalam cangkir yang berada diatas meja.
“Baik, aku akan mengakhiri semuanya jika kamu ketahuan membohongi aku,” ucap Anila. Dia sendiri terkejut dengan keputusannya, mengapa semudah itu merubah semua yang sudah dia tekadkan dalam hati.
Angkasa mengucapkan terima kasih tanpa henti, bersamaan dengan itu terlihat raut lega dari wajah seorang Pak Aca. Sedangkan Raka masih tidur di kamar atas, dia terlalu letih setelah menyupir.
__ADS_1
Aku memutuskan kembali pulang, mengingat meninggalkan Nura bersama ibu dan bapak. Belum lagi hari ini ada janji temu dengan teman-teman sekolahnya. Angkasa menyanggupi permintaan Anila untuk segera pulang.
Dalam perjalanan Anila tidak tidur, ia sibuk membalas pesan masuk yang sejak malam diabaikannya. Mira pun mengirimkan beberapa foto Nura dan Andra, tanggannya mengusap layar ponsel, rindu pada malaikat kecilnya yang menggemaskan dan aktif.
Ia menatap keluar jendela, risih dengan tatapan Angkasa yang melihatnya dari kaca spion tengah mobil. Biar bagaimanapun hatinya masih sakit, tidak semudah itu melupakan apa yang dilakukan suaminya. Membayangkannya saja membuatnya bergidik jijik.
“A, aku ada janji sama anak-anak di Pizza Hut,” ucapku ketika sudah sampai di Tugu Kujang.
“Bunda mau ketemu anak-anak?” tanyanya.
“Iya, tapi aku mau mandi dulu dan bertukar pakaian. Setelah itu antarkan aku ke sana,” perintahku.
***
__ADS_1