
Perjalanan menuju kediaman orang tua Angkasa terasa sangat mencekam. Berkali-kali Anila melayangkan pandangan penuh amarah, ketika suaminya sengaja mencoba menyentuh jemari atau ingin mengelus lembut rambutnya.
Pagar besi hitam sudah terlihat, ia mengeluarkan nafas beratnya, memejamkan mata menghimpun seluruh kekuatan untuk menghadapi ibu dan bapak Angkasa, mertuanya.
Anila mengucapkan salam dibalas oleh bapak yang membuka pintu ruang tamu. Lelaki pendiam namun penyayang itu mengernyitkan keningnya, menatap mata menantunya yang sembab sambil menggendong cucu pertamanya.
“Ada apa Bun?” tanyanya menuntut jawaban. “Tidurkan Nura di kamar besar,” perintahnya sambil mengikuti langkah Anila.
Drama terjadi ketika Nura tiba-tiba terbangun dan menatap bundanya yang berusaha tersenyum. “Bunda,” ucapnya sambil mengeratkan lengan mungilnya dileher Anila.
“Anak salehah, anak bunda yang cantik tidur lagi ya,” pintanya. “Bunda dipanggil Aki sama Enin dulu,” ucap Anila berusaha mengalihkan pandangan penuh tanya Nura.
Nura menggelengkan kepala, membenamkan wajah dalam dada, semakin memeluk erat bundanya. Malaikat kecilnya tiba-tiba menangis tidak ingin ditinggalkan. Anila mengusap surai lembut anaknya. Menghapus jejak air mata yang menggenang di pelupuk mata mungilnya.
“Salehahnya bunda tidur lagi ya. Bunda tidak kemana-mana, Nura jangan khawatir.”
Kembali tatapan mungil itu mencari kebenaran dalam netra bundanya, setelah merasa yakin dia menganggukkan kepalanya dan berbisik. “Nura sayang bunda.”
“Bunda lebih sayang Nura,” jawabnya tidak lupa memberikan kecupan penuh sayang pada kening belahan jiwanya. Anila keluar kamar setelah memastikan Nura tidur.
Ruang keluarga terasa mencekam, suasananya membuat bulu kuduk merinding, terdengar isak tangis ibu dan adik Angkasa. Bapak diam mematung, berdiri berdampingan dengan menantu laki-lakinya sambil menatap Angkasa.
Pengakuan anak laki-laki yang dibanggakan kedua orang tuanyanya sangat mengecewakan, ibu meraung, tidak dapat berkata-kata. Menangis mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan, dirinya pun seorang perempuan, dan memiliki seorang adik serta cucu perempuan.
“Sampai kapanpun, menantu bapak hanya Anila,” ucap Bapak Dami dengan tegas sambil berjongkok di depan menantunya.
Angkasa bersimpuh di kaki perempuan yang melahirkannya, tidak ada kata yang keluar dari bibirnya, hanya isak tangis .
__ADS_1
“Neng ...,” jeda cukup lama ketika akhirnya Anila menatap wajah bapak mertuanya. Direngkuh dengan erat, diusap penuh sayang kepala bunda dari cucunya.
“Maafkan Bapak ...,” bisiknya.
“Anila memutuskan untuk berpisah dengan Aang, Ibu, Bapak,” ucap Anila menatap seluruh keluarga yang ada, satu persatu.
“Tidak, jangan bunda. Apakah bunda tidak sayang dengan ibu dan bapak?”
“Sayang?” tanya Anila bingung. “Sampai kapanpun Anila sayang sama Ibu dan Bapak, namun rasa sayang Anila pada Aa, sudah hilang.”
“Pertahankan Bun, demi Nura,” pinta ibu.
Anila menghembuskan nafas beratnya “Baik, Neng akan pertahankan Aa, tapi kembalikan Papa. Hadirkan Papa Bakti, disini, sekarang!”
“Jangan seperti ini Neng, Bapak tidak mungkin menghadirkan Papa Bakti disini. Papa sudah tenang disisi Allah. Bapak satu-satunya pengganti Papa,” ucap Pak Dami.
“Bunda ingat Nura, sayangi dia, jangan sampai keputusan Bunda menyengsarakan anak kamu.”
“Maaf bu, apakah ibu akan meminta hal ini pada Lian? Jika Lian mengalami apa yang Neng alami?” tanya Anila dengan sinis. Ibu terdiam tanpa menjawab.
Berlian, Lian nama panggilannya, adik semata wayang Angkasa, perempuan berwatak keras, dan selalu ingin terlihat sempurna. Apapun yang menjadi keinginannya, harus tercapai, sisi ambisiusnya mendarah daging, hingga terkadang Anila, bahkan keluarganya sendiri sulit untuk memahami keinginannya.
Berlian menatap Anila dengan pandangan terkejut, tidak siap mendapat pertanyaan dari iparnya. Sedangkan suaminya Raka, terdiam berusaha mencerna dari sudut pandang seorang pengacara.
“Ibu saja tidak dapat menjawab pertanyaan Anila, bagaimana Neng harus menjawab pertanyaan ibu.”
“Bunda tolong dijaga mulutnya,” ucap Lian sedikit membentak kakak iparnya.
__ADS_1
“Aku harus menjaga mulut, apakah kakak kamu menjaga hatinya?” tanya Anila dengan suara tinggi.
“Sopan kalau bicara sama ibu maksud aku.”
“Jika kamu berada diposisi aku, apa yang kamu lakukan Lian?” Anila sudah mulai terpancing emosinya.
“Bicara sama orang tua yang sopan!”
“Kamu bicara sama saya sopan apa tidak? Biar bagaimanapun saya adalah kakak ipar kamu.”
Berlian diam, terlihat wajahnya menahan emosi. Perempuan cantik yang menggadang dirinya mirip Laudya Cynthia Bella, artis papan atas itu nampak ingin melahap Anila.
“Kalau sampai ...,”
“Bisa untuk tidak mengancam?” pinta Anila. “Disini saya korbannya, saya cukup bersabar mendengar pengakuan kakak kamu, dan menghadapi kamu.”
Anila paling malas berdebat dengan adik iparnya. Perempuan ini selalu tidak mau kalah, ingin terlihat paling segalanya, terlebih dengan dua titel yang disandangnya. Dia merasa dia paling pintar disemua bidang.
Sembilan puluh sembilan persen kehidupan bergantung pada praktek, pada kenyataannya hanya satu persen hidup terpaku pada teori, jangan tanya itu pendapat siapa yang pasti itu pendapat Anila tentang kehidupan yang dijalaninya. Terlebih setelah dia mengenal Lian yang selalu merendahkan diri, namun ingin dipuja. Sifat manusia yang hatinya bengkok.
“Jangan pake urat kalau bicara sama orang tua,” ucapan Lian membuat Anila menatap tajam kerahnya. Namun ia malas berdebat, hanya menatap mendengar ucapan adik iparnya.
“Jangan tinggalin Ibu,” Anila hanya menatap mertuanya dengan nanar.
“Sampai kapanpun Neng menantu Bapak,” ucap Pak Dami.
Anila tidak habis pikir, dia dihadapkan pada permintaan mertuanya, tanpa memikirkan perasaannya. Kekuataan satu-satunya selain Papa Bakti adalah Angkasa lelaki yang hampir separuh hidup bersamanya. Namun kini, pria yang masih bersujud dikaki ibunya sambil menangis itu sudah memiliki perempuan lain. Siapa yang akan menjadi tempat bersandar saat ini, dimana Papa Bakti sudah meninggalkannya sejak lima tahun lalu. Satu-satunya pelindung dan tempat bersandar adalah adiknya, namun ia tidak sanggup untuk menceritakan kisah pilu terhadap adiknya.
__ADS_1
***