
Bila diibaratkan komputer, Anila adalah sebuah folder. Tempat menyimpan berbagai masalah komplek teman-temannya. Dia memang seorang pendengar yang baik, sanggup duduk manis berjam-jam untuk mendengarkan curahan hati siapa saja. Dengan pemikirannya yang berusaha netral, selalu ada solusi yang patut diacungkan jempol untuk mengakhiri sebuah konflik.
Kasus yang dihadapinya saat ini, bukan kasus baru yang dia dengar. Kasus ini sedang marak, menjamur di daerah perkotaan. Pastinya tidak hanya diperkotaan, ini menjamur disetiap lapisan masyarakat. Sudah biasa ada wanita atau pria idaman lain yang menghantui kehidupan rumah tangga. Kembali lagi ini adalah ujian.
Anila menyandarkan punggungnya pada tembok dingin di samping tempat tidur Nura. Memejamkan mata adalah cara paling ampuh untuk menenangkan diri, itu cara paling ampuh yang biasa dia sarankan kepada teman-temannya.
“Memang tidak mudah,” ucapnya dalam hati. “Aku merasakan apa yang kalian rasakan,” mengingat satu per satu wajah teman-temannya yang merasakan sulit melakukan hal ini.
“Ceraikan aku!” pinta Anila dengan tegas.
Angkasa menatap tidak percaya dengan permintaan istrinya. Sklera putihnya terlihat memerah, pupil matanya mengecil. Pandangannya tajam menatap Anila, istrinya membalas tanpa berkedip.
“Aa mencintaimu Neng, sampai kapan pun tidak akan menceraikan kamu.”
“Cintaku sudah mati, sejak beberapa waktu lalu.”
“Aang suami Neng, Ayah dari Nura ....,”
“Untuk saat ini kamu memang masih menjadi suami aku dan sampai kapan pun Nura memang anak kamu. Kecuali kamu sudah tidak menganggapnya.”
“Anila!”
__ADS_1
“Apa?”
“Jangan menjadi durhaka sama suami kamu.”
“Masih pantaskah kamu berkata seperti itu padaku?” tanya Anila. “Aku memang bukan perempuan yang taat beribadah, aku masih belajar untuk semua itu, dan kamu, seakan-akan kamu yang paling benar saat ini.”
“AGHHHHHHHHHH” Anila berteriak, rambut panjangnya menjadi sasaran remasan jari-jarinya.
“Jangan seperti ini Anila! Banyak rambut kamu yang rontok,” Angkasa panik melihat kelakuan istrinya.
“Apa peduli kamu?”
“Kamu jangan menyudutkan Aa neng. Laki-laki boleh menikah lagi tanpa persetujuan istrinya.”
“Aa tidak akan melakukannnya.”
“Sekarang pilih! pulangkan aku atau kita kerumah ibu dan bapak?” Angkasa lemas, menunduk dalam diam, entah apa yang ada dalam benak laki-laki itu.
“Pilih yang mana?”
“Kita kerumah ibu dan bapak.”
__ADS_1
“Berangkat sekarang, kamu siapkan saja mobilnya,” perintah Anila. “Aku yang akan menggendong Nura, kamu siapkan saja mobilnya.”
“Anaknya sudah besar, biar Ayah yang menggendongnya.”
“Dia anak aku, kamu siapkan saja mobilnya!” Perintah Anila, tidak mau dibantah.
“Dia juga anakku Anila.”
“Bolehkah aku memohon untuk tidak berdebat, aku sudah cukup kuat bertahan sampai detik ini, berusaha mencerna semua yang terjadi.”
“Tapi,”
“Jangan sampai rasa cinta yang sudah menipis ini berubah sepenuhnya menjadi benci.”
Angkasa terdiam cukup lama, dan menuruti perempuan yang telah menggendong Nura sambil menangis. Ia mendekat, berniat menghapus air mata dari wajah istrinya, namun ia harus menerima ketika Anila menghindar. Dengan langkah dipaksakan ia duluan berjalan menuju garasi.
“Sampai kapanpun Aa mencintaimu Neng,” ucap Angkasa berbisik ditelinganya
Anila menutup rapat-rapat telinganya, ia tidak ingin mendengar apapun dari bibir suaminya. Saat ini dia benar-benar kecewa, sakit hatinya.
Perempuan ini tersenyum penuh rasa kecewa, tidak habis pikir bagaimana seseorang yang dia kenal hampir separuh usianya dapat berbohong sekian lama. Sebuah pengakuan berbuah rasa sakit dihati Anila.
__ADS_1
***