Pelangi 156 Purnama

Pelangi 156 Purnama
Mengalah


__ADS_3

Ibu mulai tidak sadar membuat semua panik, Anila mengambil minyak kayu putih. Ia mengoleskan sedikit di bawah hidung ibu, tidak lama ibu mulai mengerenyitkan kepalanya dan mulai sadar.


“Anila, Anila,” Ibu memanggil nama menantunya ketika sadar. Anila memejamkan matanya, dia sudah meramalkan apa yang terjadi dalam hidupnya beberapa saat kedepan. Sudah dapat dipastikan drama akan kembali terulang, namun apa daya ia selalu mengalah. Bukan mengalah, tepatnya tanpa sadar ia selalu menuruti permintaan mertuanya.  Meskipun saat ini dia sudah membulatkan tekad untuk berpisah, namun hati kecilnya berkata sebaliknya.


“Anila,” panggil ibu, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya.


Selalu seperti ini, dan kembali kenapa aku tidak bisa mewujudkan apa yang aku inginkan. Pasti aku selalu kalah, keluh Anila dalam hati, pesimis keinginannya akan terwujud.


“Anila.”


“Iya Ibu, ini Anila.”


“Jangan tinggalkan Ibu dan Bapak. Tolong pikirkan kembali niat kamu untuk berpisah dari Ayah.”


Anila terdiam, dia menatap ibu mertuanya, hatinya sakit mengapa bibirnya terkunci. Entah kekuatan apa yang ada pada ibu, dia seperti tidak dapat mengendalikan dirinya, seakan magnet perempuan yang telah melahirkan suaminya begitu kuat menarik.


Tubuhnya gemetar, bulu kuduknya merinding, terasa mencekam. Ada yang salah dengan perasaan ini, tapi apa? Anila tidak dapat menjawabnya. Perasaan dia memang lebih peka, bila Nura dapat melihat hal tak kasat mata, berbeda dengan dirinya. Ia hanya dapat merasakan hal yang membuatnya tidak nyaman.


Kembali dia mengucapkan asma Allah, berusaha menenangkan dirinya. Dialihkan padangannya dari wajah mertuanya. Kembali perasaan kuat ini seakan mendorongnya ke alam lain. Hal ini bukan sekali dua kali dia rasakan bila menatap mertuanya. Seakan-akan ada aura magis yang berada disekitarnya.


“Tolong ambilkan telepon Ibu,” pintanya pada Lian. Dengan patuh putri semata wayangnya menuruti perintah ibunya.


Ibu menceritakan kejadian yang barus saja dialami pada kerabatnya. Pak Aca adalah seseorang yang selalu membantu ibu bila terjadi masalah, terlebih sesuatu yang tidak dapat diukur oleh akal pikiran manusia. Semacam guru spiritual yang dianggap sebagai orang pintar. Pintar tanda kutip bukan pintar lulusan universitas negeri dengan predikat cumlaude.


Lian mengajak kakak kesayangannya menjauh, terdengar amarah yang ditahan atas perbuatan kakaknya. Anila memejamkan matanya, ia ingin keluar dari masalah ini. Di ruang tamu Lian sedang menginterogasi kakaknya, ibu masih sibuk dengan pembicaraan yang terlihat serius di telepon, Raka termenung dan bingung apa yang harus dilakukannya. Bila ada Rommy Rafael ingin segera dihipnotis untuk melupakan apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Tiba-tiba tubuhnya dipeluk dengan erat, Anila sempat melihat wajah bapak mertuanya. Sorot matanya kosong, nampak jelas guratan kecewa yang sangat dalam. “Maafkan Bapak,” bisiknya. Jatuh sudah air mata yang sedari tadi ditahan oleh lelaki paruh baya ini.


Anila pun menangis untuk kesekian kalinya. Dia menumpahkan semua rasa sakit yang menusuk tepat dijantung hatinya. Tubuhnya lemas, mengapa Tuhan begitu tega mengirimkan ujian yang maha dahsyat.


“Allah tidak akan menguji seorang hambanya, jika tidak mampu,” Bapak berkata lirih. “Bunda salah satu yang diuji oleh Allah, dan Bapak yakin dapat melewatinya. Maafkan bapak.”


“Mengapa Allah tega pak?”


Hening, Pak Dami terdiam. “Karena bunda istimewa, bunda disayang Allah dengan caranya.”


“Mengapa harus disayang dengan cara seperti ini, sakit pak. Untuk apa saya setia bila harus dibayar dengan cara seperti ini, untuk apa saya menuruti semua permintaan Aang jika, saya harus mengalami hal ini, untuk apa saya berjuang dalam rumah tangga ini bila hanya saya yang ingin mempertahankan semua ini?” Anila mengeluarkan semua pertanyaan yang mengganjal.


“Dengan bodohnya selama ini saya sendirian, saya berjuang sendirian dan mempercayai anak Bapak. Mengapa hati ini tertutup, meskipun tidak sedikit yang sudah memberitahukan secara tidak langsung apa yang mereka ketahui. Mengapa mata ini serasa dibutakan, padahal ada bukti yang menunjukkan kedekatan mereka.”


“Aang, sekarang sama bunda ke Bandung, kalian ketemu Pak Aca,” perintah ibu tegas.


“Untuk apa Ibu?” tanya Anila, melepaskan pelukan bapak.


“Pak Aca ingin mengobrol saja dengan kalian.”


“Maaf aku tidak mau Bu,” Anila menolak halus. “Anila akan berpisah dengan Aang,” ucapnya tanpa ragu.


“Pikirkan Nura, Neng, jangan egois.”


Egois?

__ADS_1


Saya? Tuhanku, saya yang menjadi korban disini dan saya yang dituntut untuk tidak egois! Dunia macam apa ini?”


Anila mengatupkan rahangnya, menahan amarah yang semakin memuncak atas ucapan ibu mertuanya. Ucapan ibunya adalah titah, bila tidak dipatuhi drama akan dimulai, mulai dari menangis, petuah bijak yang panjang, sakit yang tiba-tiba kumat dan berbuntut panjang yang berakhir dengan tidak sadarkan diri.


Bapak mertuanya terdiam, dia tahu menantunya tidak ingin menemui Pak Aca, namun dia tidak dapat berbuat apa-apa, terlebih dengan kondisi seperti ini. Setelah perdebatan yang cukup alot, pada akhirnya Anila kembali mengalah, ia pergi menuju Bandung bersama Angkasa dan Raka, dengan berat hati meninggalkan Nura yang menangis tidak ingin dipisahkan dengan bundanya.


 


***


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2