Pelangi 156 Purnama

Pelangi 156 Purnama
Buah Kesetiaan


__ADS_3

Lelaki yang menggunakan polo shirt berwarna hitam dipadu dengan celana hitam, sedari tadi menundukkan kepalanya, memohon ampun, meminta maaf pada istrinya. Entah ini buah penyesalan dari seorang Angkasa atau hanya sebatas permohonan maaf semata, karena pengkhianatannya telah diketahui Anila.


“Mengapa?” jerit hati Anila, kembali dirinya terasa sesak. Satu kata tanya mampu menggetarkan seluruh jiwa.


“Maafkan semuanya Bun,” untuk kesekian kalinya, permohonan itu terucap dari bibir Angkasa, dan untuk kesekian kali Anila pun hanya diam tanpa memberikan jawaban.


“Kesalahan Ayah sangat besar, Bun, hanya kata maaf yang dapat Ayah ucapkan saat ini.”


Hanya kata MAAF! lirihnya dalam keterpurukan. “Segampang itu kamu mengucapkannya Aang.”


Maaf adalah sebuah kata yang mudah diucapkan ketika berbuat suatu kesalahan. Namun kata itu tidak akan membalikkan suatu keadaan. Seperti sebuah kue yang dipanggang terlalu lama, gosong. Warna sudah tentu tidak menarik, rasa sudah dipastikan tidak lezat, dan tidak layak untuk dikonsumsi. Begitu pun dengan cinta, apa yang dapat diharapkan ketika sebuah kesetiaan terhempas.


Landasan hidup rumah tangga seorang Anila tidak muluk, dan itu adalah kepercayaan. Bila hal itu saja sudah dikhianati apa lagi yang akan dipertahankan dalam sebuah hubungan. Tuhan, permainan apa yang sedang engkau rencanakan? kembali sebuah pertanyaan muncul dalam benaknya. Anila menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Tolong bangunkan aku dari mimpi buruk ini!


“Bun ...,” Angkasa berusaha meminta maaf. Panggilan itu tidak lagi terdengar indah dalam telinga Anila.


“Pertemukan aku dengan wanita itu sekarang!” perintah Anila dengan tegas. Air matanya sudah kering, wajahnya datar tanpa ekspresi, dan pandangan matanya penuh dengan rasa kecewa.


“Ayah tidak akan mengabulkannya,” jawab Angkasa setengah berbisik.


Netra bunda cantik ini menatap tajam pada ayah dari buah hatinya. Semakin kecewa dengan jawaban yang baru saja di dengarnya. Dia sudah tidak mengenali suaminya yang berusaha melindungi perempuan lain selain dirinya dan Nura.


“Kamu menganggap aku apa?”


“Kamu istriku, bunda dari malaikat kecil kita. Perempuan yang aku cintai,” jawab lelakinya.


“Istrimu ..., Bundanya Nura ..., perempuan yang kamu cintai ...,” Anila tertawa sumbang sambil menutup pelupuk matanya. “Perempuan itu sudah mengganti posisiku.”


“Tidak, sampai kapan pun tidak ada yang dapat menggantikan posisi istriku.”


“Istriku?”


“Tidak ada ...,”


“Siapa istrimu, yang mana?” teriak Anila mengeluarkan kekesalan yang sejak tadi dipendamnya.


“Kamu istriku Bun, sampai kapan pun kamu yang akan menjadi istriku.”


Anila menggelengkan kepalanya, sudah tidak ada lagi yang dapat diucapkannya. “Antarkan aku menemui perempuan itu!”

__ADS_1


“Tidak Bun, maaf.”


“Sekarang!”


“Tidak Bun, maaf.”


“Kamu sangat melindunginya ternyata.”


"Ini salah Aang, jangan libatkan orag lain."


"Gimana maksud kamu?" tanya Anila.


"Ini semua salah Aang, jangan libatkan orang lain," ucapnya kedua kali.


Hembusan nafas berat Anila terdengar ditelinga suaminya. Angkasa menatap Anila yang sedari tadi menatapnya penuh kecewa. “Kalau begitu hubungi perempuan itu!” Angkasa mematung mendengar permintaan perempuan dihadapannya. Dia terdiam cukup lama, banyak yang harus dipertimbangkan untuk memenuhi permintaan istrinya.


“Hanya ada dua pilihan bawa aku menemuinya atau hubungi perempuan itu sekarang! Atau ...,” sengaja ia menggantungkan kalimatnya.


“Atau apa?”


“Jangan salahkan aku jika aku menemukannya lebih dulu, dan apa yang akan aku lakukan bila aku menemukan wanitamu dengan caraku sendiri,” ucapan penuh ancaman terucap dari bibir mungilnya.


“Laki-laki di hadapanku juga bukan lagi si Aang yang aku kenal,” ucapnya sinis.


“Aku masih suamimu,” ucap Angkasa


“Aku tidak menganggapnya seperti itu sejak tiga jam lalu.”


“Anila!”


“Berani sekali kamu berteriak memanggil namaku seperti itu. Sekarang tentukan pilihan atau aku yang akan mencari wanita itu dengan caraku sendiri.”


Angkasa mengambil smart phone hitam miliknya. “Aktifkan pengeras suaranya!” Laki-laki yang masih berstatus suaminya itu pun menurut.


“Hallo A,” sapaan seorang perempuan terdengar tidak lama setelah nada dering ketiga. Seketika jantung Anila dipaksa berdetak lebih kencang. Dia mendengar suara manja perempuan lain yang sedang menyapa suaminya.


"Sudah pulang kerja?" tanyanya lagi dengan manja.


“Neng ...,”

__ADS_1


“Neng?” tanya Anila dalam hati. “Sial, dia memanggil perempuan itu dengan panggilan yang sama seperti padaku.” Kemarahan Anila bertambah, ia menatap suaminya tanpa berkedip. Laki-laki yang selama ini bersamanya tanpa cacat, ternyata menyimpan banyak kebohongan.


“Anila ingin berbicara,” ucap Angkasa ragu, menatap Anila yang menunjukkan wajah datarnya.


Anila mempersiapkan diri, dia tidak ingin bertele-tele meskipun banyak kata dan makian yang ingin dilontarkan pada perempuan di ujung telepon.


“Kamu tahu, kamu sudah menikah dengan suami orang ...,” ucapnya tanpa basa basi, bergetar bibir mungilnya menahan emosi ketika berbicara, tanpa melepaskan pandangannya dari pria yang masih berstatus suaminya.


“Jadi bagaimana Teteh mau menerima saya?”


DEG!


Degup jantung perempuan yang memiliki wajah sedikit berisi ini dipaksa menari penuh emosi. Berdetak tanpa jeda, memacu amarah seorang Anila. Tubuhnya bergetar dahsyat, kepalanya terus bergerak menggelengkan ke arah kanan dan kiri. Semakin lama gelengan kepalanya semakin kencang.


Tuhan, terima kasih untuk mengubunginya dengan cara ini. Sampai kapan pun meladeni perempuan ular yang tidak tahu malu ini sama saja berbicara dengan tembok. Menurunkan derajat perempuan terhormat seperti aku! Maaf aku sombong untuk urusan yang satu ini. Anila berusaha menenangkan batinnya.


“Kamu menikahi perempuan seperti ini?” Angkasa menatap perempuan dihadapannya tanpa ekspresi.


“Saya tidak mau dimadu!” Tegas Anila.


“Kalau begitu, silahkan Teteh bicarakan dengan Aa, karena dia yang telah menikahi saya,” ucap perempuan bernama Dira tanpa merasa bersalah bahwa dia sedang merusak rumah tangga orang lain.


Angkasa hanya diam tanpa berkata apa-apa, Anila dibuat gemas dengan sikap diam suaminya. Sejak kapan dia berubah menjadi seorang pengecut? Anila mengumpat dalam hati, tidak habis pikir dengan perempuan yang sedang dihadapinya


Tuhan, dosa besar apa yang telah aku lakukan, sehingga suamiku dengan tega berkhianat dan menikahi wanita ini? hatinya bertanya, sisi manusianya meronta. Tidak terima atas musibah yang menimpanya. Ia terus bertanya meskipun tidak ada jawaban.


“Nemu dimana perempuan seperti ini?” pertanyaan tajam dari seseorang yang tersakiti, saat ini, Anila ingin sekali menyiramkan air keras ke wajah suaminya. Angkasa tidak menjawab dia hanya geming, tidak terdengar candaan yang biasa meredam emosinya.


Pantas saja, seorang istri mampu membakar suaminya sendiri atau bahkan melakukan tindakan kriminal lainnya, karena ternyata sesakit ini sebuah kesetiaan dibalas dengan perselingkuhan.”


***


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2