Pelangi 156 Purnama

Pelangi 156 Purnama
Cermin Retak


__ADS_3

Langit terlihat terang malam ini, purnama penuh menampakkan keanggunannya. Bintang terlihat jauh namun, sinarnya memancar indah. Angin semilir berhembus memberikan ketenangan sesaat.


Anila merubah kebiasaan, Nura yang biasanya berada di ujung tempat tidur, kini dan seterusnya dia yang berada disana. Rasanya mulai sekarang ia akan mematenkan posisi tidurnya. Dia tidak ingin berada dekat dengan suaminya saat ini. Dimata hukum agama mungkin salah apa yang dilakukannya namun, perempuan mana yang ingin dimadu, mungkin ada tapi pastinya bukan dia.


“Bun,” panggil Angkasa. Anila tidak ingin menjawabnya, dia memejamkan matanya pura-pura sudah tidur.


Anila dapat merasakan sentuhan jari Angkasa di wajahnya. Belaian lembut pada rambutnya pun trrasa ridak seindah dulu, hilang sudah getaran yang prrnah ada.


“Maafkan ayah,” ucapnya lirih. Tidak ada embel-embel setelahnya, ucapan permohonan maaf dia lakukan sebanyak tiga kali tanpa dapat balasan dari istrinya.


Angkasa tidak lama tertidur pulas, dengkurannya sudah memenuhi kamar. “Mudah sekali dia tertidur,” ucap Anila dengan kesal. “Dia yang melakukan kesalahan, dengan mudahnya dapat tertidur pulas. Sedangkan aku pasrah meratapi keputusan yang sudah diambil, dan setiap hari harus menjalani hidup dengannya.”


Anila terbangun dari tidurnya ketika lengan Nura memeluk pinggangnya. Ia membalikkan tubuhnya membalas pelukan erat dari putri mungilnya.


Sebenarnya dia masih ingin kembali tidur, demi Nura dia berusaha menghalau rasa pening dikepala akibat kurang tidur.


“Selamat pagi kesayangan bunda,” berbisik ditelinga Nura.

__ADS_1


“Selamat pagi bundaku sayang. Mengapa Nura tidur ditengah, diantara bunda dan ayah?” tanyanya sambil mencium gemas pipi bundanya.


“Bunda dan ayah sayang sama Nura, semalam kami rebutan ingin dekat anak cantik ini, karena itu, bunda dan ayah memutuskan mulai tadi malam Nura akan tidur ditengah,” ucap Anila sambil meladeni Nura yang manja minta dipeluk.


“Yeay, Nura senang sekali bunda. Sayang bunda dan ayah,” ucapnya, belum mengerti apa yang sesungguhnya terjadi antara kedua orang tuanya.


Minggu pagi biasanya dihabiskan mencari sarapan diluar sambil berolahraga. Kejadian kemarin membuat Anila malas melakukan ritual akhir pekannya. Untuk memasak yang mudah saja tidak ada niat, amarah masih menguasai relung jiwa.


Jangan salahkan perempuan yang mogok kerja melakukan rutinitas hariannya atau melakukan apapun untuk keluarganya khusisnya Angkasa. Kasus ini bukanlah kasus kehilangan sebuah dompet dan kembali dengan isi yang utuh.


Hilangnya rasa percaya adalah sebuah kasus psikis proses berdamai dengan hati. Melunturnya rasa percaya pada seseorang ibarat sebuah cermin retak, tidak mungkin kembali utuh kecuali kita menggantinya dengan kaca baru.


“Kamu tega sekali A, mengapa merusak sebuah kepercayaan yang aku berikan. Mengapa kamu tega berbuat seperti ini?” Nyaris bulir air mata turun dengan sukses, jika saja Nura tidak mengajaknya keluar kamar.


Anila bersikap senormal mungkin dihadapan semua orang. Di rumah ini terlalu banyak penghuninya, bila dia merubah sikapnya, pasti dengan mudah dapat terdeteksi oleh yang lainnya.


Hari ini berjalan sangat lambat mengingat nanti malam suami dan adik iparnya akan menuntaskan kemelut rumah tangganya. Sebenarnya ia berharap dapat turut serta melihat dengan mata kepala sendiri wajah perempuan yang tega merebut cintanya. Namun kembali masalah adavpada perintah ibu yang memutuskan sepihak bahwa yang menemani suaminya hanya Raka.

__ADS_1


Hati Anila sebenarnya ingin berontak, dia ragu dan tidak percaya pada siapapun saat ini. Ibu, Aang, Lian, Raka bahkan Bapak. Tidak ada yang jaminan pasti mereka tidak bersekongkol dibelakangnya. Terlebih suaminya dan Raka, kedua mahluk itu memiliki gender yang sama, saling menutupi kesalahan itu adalah lumrah.


Menjelang sore Angkasa mengajak istri dan anaknya ke rumah ibu, seakan membuktikan pada perempuannya, kesungguhan mengakhiri hubungan dengan wanita bernama Dira. Penyebab ujian berat hidup Anila.


Bagaskara hampir tenggelam di ufuk barat, menyisakan guratan indah sang penciptanya. Senja begitu sempurna dengan lembayung yang menghiasi langit. Sayang kesempuranaan hanya milik Tuhan semesata Alam, dan indahnya langit tidak disertai ketampanan seorang Angkasa.


Sebelum adanya kejadian ini, tentu saja mereka sering menghabiskan waktu yang berakhir kebahagiaan. Aktivitas ini akan terus berlangsung selama mereka masih bersatu dalam ikatan pernikahan namun, rasanya jelas akan berbeda.


Angkasa membukakan pintu Anila, membuyarkan bayangan yang menemani lamunannya. Tidak terasa kini mereka sudah berada di depan kediaman ibu dan bapak. Rumah minimalis dengan banyak tanaman yang menghiasi pekarangan.


Waktu maghrib telah tiba, terdengar sayup suara azan dari masjid dekat rumah. Satu persatu penghuni rumah bersuci dan menjalankan kewajibannya. Anila menatap suaminya yang sedang berdoa dengan khusyuk. Bibir Angkasa tidak berhenti berucap, entah memohon ampunan atau berdoa minta dilancarkan semuanya. Ia tidak peduli lagi apa yang akan dilakukan suaminya. Hasil akhir adalah penentu semuanya. Akankah wanita itu menerima keputusan Angkasa, atau Anila yang akan tersingkir.


Anila meminta izin untuk ikut bersama suami dan adik iparnya namun, ibu tidak menyetujuinya. Akhirnya Anila pasrah dengan keputusan ibu yang tidak dapat diganggu gugat seperti juri dalam sebuah perlombaan, kembali ibu mendominasi semua keputusan dan tidak ada yang berani membantahnya.


Pada akhirnya Angkasa dan Raka pergi setelah Anila mengajukan syarat yang akhirnya disetujui ibu mertua dan suaminya.


Syaratnya adalah Anila meminta foto dan video pada saat ayah Nura mengembalikan wanita itu pada orang tuanya, menceraikannya.

__ADS_1


Perasaan dia kembali tidak nyaman, ada kecemasan jika Raka tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. Semua akan terjawab setelah mereka kembali, kini hanya bisa berdoa mengharapkan yang terbaik.


***


__ADS_2