
Anila membuka aplikasi blackberry messengernya, banyak pesan yang belum terbaca, begitu pun dalam akun path. Banyak yang menanyakan kabarnya setelah sore tadi dia memposting “Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun,” ratusan teman yang saling mengikuti dalam aplikasi itu langsung heboh. Dari bertanya siapa yang meninggal, apa yang terjadi hingga berlanjut dalam aplikasi BBM.
Tidak ada maksud apapun ketika dia menuliskan ucapan itu dan mempostingnya, itu adalah sebuah rasa yang mewakili hatinya. Tiba-tiba smart phone Anila berbunyi, dia mengangkatnya
“Bun, are you okay?” tanya Mira, sahabatnya.
“I’m Okay, ini di jalan menuju Bandung.”
“Bandung! Jujur bun ada apa?”
“Aku cerita nanti ya ...,”
“Kasa?”
“Iya,” Anila menghembuskan nafasnya dengan berat. Terdengar Mira pun menahan nafasnya.
“Apapun itu, kamu tidak sendirian Bun,” ucap Mira berbisik.
“Kalau anak-anak tanya, jawab saja ada orang tua sahabatnya Aang meninggal karena kecelakaan motor.”
“Hati-hati ah, ini bukan mainan loh alasannya. Kalau ada malaikat mendengarnya bagaimana?” Mira tidak setuju dengan alasan yang diberikan Anila.
“Tidak ada main-main Ibu sayang, Bapaknya sahabat Aang memang meninggal karena motornya tertabrak truk, tapi kejadian itu sudah beberapa tahun lalu.”
“Baiklah, hati-hati dijalan, jangan lupa memberi kabar ya.”
“Inshaa Allah, titip Nura besok ya,” pintanya.
Nura sedang mengikuti kelas memasak reguler khusus untuk anak-anak bersama Andra, anaknya Mira. Pelatihannya setiap dua minggu sekali setiap Hari Sabtu. Esok hari kursus diadakan disebuah mall terbesar dikotanya.
“Tenang, eh ..., tapi, siapa yang mengantar?”
“Neneknya,” jawab Anila, dia masih kesal jika mengingat ibu.
“Mama?”
__ADS_1
“Bukan,” jawabnya.
“Ibu?”
“Iya diantar Ibu sama Bapak besok.”
“Okay, hati-hati dijalan. Kamu tidak sendiri La,” ucap Mira.
“Terima kasih Bura,” ucapnya. Bura adalah panggilan sayang singkatan dari Ibu Mira.
Anila masih menatap layar telepon genggamnya, kemudian melihat ke arah jendela. Gelap, tidak tampak pemandangan, hanya terlihat lampu yang menghias tempat peristirahatan.
“Ya Allah, aku ingin pisah. Jangan goyangkan keputusan aku yang sudah bulat.” Doa Anila memohon pada sang pembolak balik hati.
Angkasa menghadap ke arah dirinya, memohon ampun dengan tatapan menyedihkan untuk seorang Anila. Namun ia langsung menundukkan kepalanya, tidak ingin menatap suaminya. Tidak lama ia kembali keposisi semula menghadap depan, karena Anila tidak menatapnya, sedangkan Raka masih fokus menyupir.
Pukul satu malam mobil memasuki wilayah Pasteur, tanpa berhenti langsung menuju rumah Pak Aca. Lima belas menit kemudian mereka tiba. Laki-laki paruh baya itu sudah menunggu di depan rumah beserta istrinya.
Jantung Anila berdetak kencang, ia sampai menekan dadanya agar tidak sakit. Ia enggan beranjak dari duduknya, namun tanpa sadar ia sudah membuka pintu mobil dan melangkah mendekati suami istri yang berada di depan pintu ruang tamunya.
Kembali Nasi sudah menjadi bubur, kaca yang retakpun tidak dapat utuh kembali. Sebuah kesetiaan dikhianati melunturkan kepercayaan yang telah lama dipupuk. Saat ini Anila tidak ingin menatap suaminya, atau pun Pak Aca yang sedari tadi menatapnya.
“Bagaimana Neng?” tanya Pak Aca memecah kebisuan diantara kami.
“Keputusan saya seperti yang sudah saya utarakan pada Ibu, dan Aang serta seluruh keluarganya pun sudah mengetahuinya.”
“Tapi Aang tidak mau pisah pak, Aang akan menceraikan Dira dan memilih bunda serta Nura,”
“Kamu yakin dengan keputusan kamu?”
“Tapi Anila mau pisah pak,” ucap Anila tegas.
“Kamu tidak kasihan sama Nura, Neng?”
“Kamu tidak memikirkan Nura ketika melakukannya.”
__ADS_1
“Neng!”
“Apa?”
“Aa melakukan itu ada sebabnya.”
“Lantas kamu anggap saya apa?” Anila membentak suaminya. “Kamu membutuhkannya, saya pun membutuhkannya. Kamu bisa selingkuh lalu saya?”
“Neng!”
“Saya masih ingat dengan jelas ketika kamu mengucapkan janji manis dari mulut kamu. Apapun yang terjadi pada kita dimasa yang akan datang, kita adalah satu, Anasa, Anila dan Angkasa.”
Perempuan yang sedang menahan emosi ini mengingatkan kembali pada suaminya yang pernah berjanji tidak akan meninggalkannya begitu pun sebaliknya jika salah satu dari mereka tidak dapat memiliki anak. Keduanya akan tetap setia dan akan menerima kekurangan masing-masing tanpa syarat. Bahkan berjanji untuk tetap setia ketika salah satu dari mereka tidak dapat berperan sebagaimana mustinya. Hubungan keduanya akan berakhir jika salah satu dari mereka berselingkuh.
Angkasa terdiam, menutup wajahnya dan menangis entah merasa bersalah atau hanya trik agar Anila memaafkannya. Perempuan itu membuang muka tidak ingin menatap suaminya.
“Neng,”
“Jangan memaksa Pak, saya sudah bulat dengan keputusan saya,” ucap Anila tidak ingin pikirannya dikuasai.
“Bapak tidak akan memaksa, tapi apakah kamu tega melihat Nura sekecil itu harus berpisah dengan ayahnya.”
“Teman saya pun ada yang seperti itu, dan dia jauh lebih bahagia setelah berpisah. Saya tidak tahu Aang sudah berbohong apa saja sama saya. Sejujurnya kepercayaan saya padanya sudah hilang sejak kabar itu saya dengar.”
Kepercayaan adalah hal yang sangat penting dalam sebuah hubungan, bagaimana sebuah hubungan akan terus langgeng dan berlanjut jika tidak ada rasa percaya. Terlebih ada dua mahluk Tuhan dengan jalan pikiran yang berbeda meskipun memiliki visi misi yang sama dalam mencapai sebuah tujuan yaitu kebahagiaan.
BRUK!!!
Angkasa memeluk Anila, istrinya berusaha melepaskannya, namun ia semakin mengeratkan. Kemudian bersujud memohon ampun, Anila menutup matanya.
Tolonglah aku Ya Allah, jangan goyahkan hati ini, jerit Anila dalam hati.
***
__ADS_1