
Bunda dan ayah Nura tiba di kediaman Pak Dami, ibu menyambut keduanya dengan wajah sumringah. Menantu perempuannya berusaha tersenyum, senyum yang dipaksakan tepatnya.
Ibu memeluk Anila dengan erat. “Terima kasih memberi kesempatan pada ayah untuk membuktikan cintanya pada kalian.”
Anila hanya terdiam, dalam hatinya terjadi perang batin. Ia belum sepenuhnya yakin dengan keputusannya, baginya memberi kesempatan kedua pada Angkasa adalah sebuah kesalahan besar.
Ibu melepaskan pelukan pada menantu yang dinobatkan sebagai menantu kesayangan. Tidak nampak tanda-tanda sakit seperti tadi malam. Anila tidak memusingkan lagi perihal kesehatan ibu mertuanya. Saat ini yang sangat ia rindukan kehadiran malaikat kecilnya, Nura.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ia mengucapkan salam sebelum memasuki rumah mertuanya.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Nura berteriak, menyambut kedatangan bundanya. “Bunda dari mana saja, Nura kangen sama bunda,” teriaknya sambil memeluk Anila.
Hatinya terasa nyeri mendengar pernyataan hati malaikat kecilnya. Ingin rasanya menitikkan air mata, mengingat kelakuan Angkasa, ayahnya.
Semoga sakit ini hanya aku yang merasakannya, jangan sampai anakku merasakannya ya Allah, doa khusunya dalam hati.
“Bunda,” panggil Nura sambil menanggupkan tangan mungilnya pada wajah Anila.
“Iya cantik, kenapa sayang?”
“Are you ok, apakah bunda baik-baik saja?” tanyanya dengan wajah mungil dan tatapan penuh selidik.
“I’m ok, bunda baik-baik saja cantik,” jawab Anila sambil mencium gemas kedua pipi Nura.
“Bunda tidak boleh bohong, kata ibu guru berbohong itu dosa, dan bunda pun pernah berkata seperti itu.”
“Apakah Nura melihat bunda berbohong?” tanya Anila berusaha ceria. Anaknya ini memang sedikit sensitif, atau ikatan batin yang terjadi antara ibu dan anak yang membuatnya dapat merasakan apa yang sedang dirasakan bundanya.
__ADS_1
Tatapan maut terlihat dari netra mungilnya, bola mata coklat menatap intens pada bundanya. “Nura percaya sama bunda,” ucapnya ragu.
“Terima kasih sayangku,” ucap Anila sambil memeluk kembali anak semata wayangnya.
“Bunda tadi kelompok Nura juara, pin aku bertambah,” ucapnya bangga menceritakan prestasinya tadi siang ketika mengikuti kelas memasak.
“Hebat! Anak bunda luar biasa, selamat ya cantikku, good job,” ucap Anila sambil melayangkan lima jarinya dan mereka bertos ria.
Angkasa menatap iri dari jauh, melihat ikatan yang terjadi antara istri dan anaknya. Dia tidak ingin merusak kebahagiaan keduanya. Kebahagiaan yang ternodai oleh kelakuannya.
“Ayah, tidak ingin memeluk Nura?” tanyanya membuat Angkasa mendekati anaknya, dan langsung memeluknya.
“Ada apa dengan bunda dan ayah?” tanya Nura sambil menatap keduanya mencari jawaban atas pertanyaannya.
“Biasanya bunda dan ayah memeluk Nura bersama-sama, seperti telletubbies. Berpelukan,” ucapnya sambil merentangkan tangan dan mereka berpelukan layaknya tokoh kartun Twinki winki, Dipsy, Lala, Poo. Bunda dan ayahnya langsung menuruti permintaannya.
Biarlah aku yang menanggung semuanya, rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan jika, aku menatap kecewa Nura. Kuatkan aku untuk menjalani semuanya ya Allah, doa Anila.
Anila berusaha tersenyum menatap kedekatan ayah dan anaknya. Ibu dan bapak bergabung, duduk di ruang keluarga terpancar wajah bahagia dari keduanya, terlebih ibu. Sedangkan bapak dia hanya tersenyum sedikit, masih terlihat gurat kecewa dari sorot matanya.
Lian dan Raka pun ikut bergabung, Anila memisahkan diri, dia duduk di ruang tamu. Saat ini dia masih kesal dengan adik iparnya, malas menanggapi ucapan yang terkadang menyakitkan, menyudutkan dan menuduh. Intinya dia malas berdebat dengan Lian yang selalu merasa benar.
“Bunda yakin akan bertahan demi Nura?”
Ia terpaksa mengalihkan pandangannya pada Lian, orang yang sengaja dia hindari.
“Iya," jawabnya sesak.
__ADS_1
Maafkan aku Tuhan, sungguh aku menyesal. Hatinya bergejolak.
“Kalau aku jadi bunda, aku akan memilih berpisah, apapun alasannya. Sekali berbohong selamanya akan berbohong, terlebih ini masalah pengkhianatan.”
“Kamu menyuruh aku berpisah dengan Aa?” tanya Anila penuh selidik, “bukankah ibu meminta aku untuk memberi kesempatan kedua pada Aa? Jika aku boleh memilih aku inginnya pisah, tanpa meminta solusi dari kamu. Cukup kamu tahu bahwa saya melakukan ini karena saya sayang sama Nura, ini semua untuk anak saya. Bukan karena saya masih mencintai kakak kamu. Rasa itu sudah hilang ketika saya mengetahui pengkhianatan yang dilakukan.”
“Untuk apa mempertahannya yang tidak bisa dipertahankan,” sarkas Lian.
“Untuk Nura! Bukankah saya sudah mengatakan bahwa saya bertahan untuk anak saya? Kalau Aa berubah dan kembali pada kami, itu hanyalah bonus dari Allah, buah kesabaran dari ujian yang diberikannya.”
“Tapi kalau aku jadi bunda, mending pisah.”
Anila menatap Lian dengan tatapan sinisnya. Dia tidak habis pikir perempuan lulusan pasca sarjana salah satu universitas negeri di daerah Salemba itu tidak mengerti dengan jawaban yang diberikannya, atau dia sengaja mencari masalah dengan kakak iparnya.
“Kalau tidak ada Nura aku pun melakukan hal yang sama, aku malas ikut ribet jika aku pergi membawa Nura menjauhi kalian.”
Serangan telak yang dilontarkan oleh Anila, tidak membuat adik iparnya selesai sampai disitu, dia terus memojokkan kakak iparnya dengan pertanyaan pedas.
“Coba kamu suruh Raka mengikuti jejak Aa, agar kamu dapat merasakan apa yang aku rasakan, dan pilihan apa yang akan kamu putuskan terhadap kehidupan kamu, dan Hafiedz.” Anila cukup kaget dengan keberaniannya mengucapkan sesuatu hal yang membuat Lian terdiam, mati kutu! Tidak tahu lagi apa yang akan disampaikannya.
“Jangan pernah bertanya bagaimana rasanya dikhianati, cukup kamu bayangkan berada diposisi aku. Jika hal ini terjadi, aku rasa saat ini berita tentang Raka selingkuh, sudah sampai keseluruh keluarga, dan kamu sedang terbujur tidak berdaya diatas tempat tidur, sambil menangis dan meratap membuat iba siapapun yang melihatnya. Dan Raka, pasti sedang diadili oleh Aa, ibu dan bapak atau bahkan keluarga besar sedang menghakimi suami kamu.”
“Apa benar yang aku ucapkan Lian?” tanya Anila menatap tajam kearah Lian yang tampak marah membalas tatapannya.
“Aku harap kamu jangan pernah berkata tentang apapun yang menambah rasa kesal aku padamu. Seperti kata kamu tadi, akan memilih jalan meninggalkan Raka bila itu terjadi. Sedangkan aku, ini jalan yang aku ambil. Kamu cukup jadi penonton yang baik, karena aku akan memerankan peranku dengan sebaik mungkin.”
Lian menatap kesal mendengar ucapan bernada ancaman yang diucapkan kakak iparnya. Dia tidak dapat berbuat apa-apa, terlebih Anila sekarang lebih berani dari sebelumnya. Keadaan yang membuat bunda Nura menjadi seperti ini. Terkadang manusia akan kuat setelah ditempa dengan berbagai ujian yang datang.
__ADS_1
***