
Disudut ruangan Ila masih terduduk dengan posisi yang sama, bersila. Kedua tangannya memeluk kitab suci sambil menundukkan kepala, air mata mengalir membasahi wajahnya. Dalam hati, tidak henti mengucap Innalillahi wainna illaihi rojiun, di selang seling dengan istigfar.
“Mengapa, kenapa, kok bisa, bagaimana ini terjadi?” semua pertanyaan terus mengulang tidak pernah berhenti.
“Subhanallah, ujian Mu,” dia menyimpan kitab suci diatas tempat tidur, tangan kiri meremas bajunya tepat di dada, sakit! Dia tahan isak tangisnya agar Nura tidak bangun. Tangan kanan mengusap dengan lembut kepala buah hatinya.
Lampu smart phonenya dari tadi menyala tanda ada telepon masuk. Anila mengacuhkannya, beruntung tadi ponselnya sudah dia rubah ke mode silent (diam), sehingga suaranya tidak mengganggu tidur Nura.
Kembali menatap lampu yang menyala dalam ponselnya, melihat sekilas terlihat disana tertulis Cintaku. Panggilan itu kemudian mati, terlihat ada sepuluh panggilan tidak terjawab. Saat ini dia tidak ingin berbicara dengan suaminya, dia masih terkejut. Kembali panggilan terlihat dalam layar sepuluh sentimeter, Ila membalik ponselnya dan kembali membenamkan wajahnya diatas bantal yang baru saja dia ambil.
“Apakah ini jawaban dari semua doa-doa dan kegundahanku?” tanyanya dalam hati. “Duh ya Allah,” keluhnya.
“Jika ini hanya mimpi, segera bangunkan aku dari mimpi buruk ini,” hujan air mata di wajahnya. Seberapa banyak dia mengeluh, semua buntu, tidak menjawab dari beragamnya pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban.
Pintu diketuk, tidak kencang, namun masih terdengar. “Bun,” panggil Angkasa, terdengar suaranya bergetar. Anila terdiam dia tidak ingin bertemu dengan suaminya. “Apakah masih pantas laki-laki di depan pintu itu disebut suaminya?” Tentu saja ia ingin menjawab tidak.
Pintu kembali diketuk, lebih kencang. “Tolong buka pintunya bun,” pinta Angkasa untuk kedua kalinya. “Ayah mohon buka pintunya Bun.”
Anila tergeming, menutup wajahnya. Apa yang saat ini harus dilakukannya, dia pun tidak tahu, semua begitu menyakitkan.
“Bun, buka pintunya,” kembali Angkasa mengetuk lebih keras. Anila menatap Nura yang mulai terusik tidur nyenyaknya dengan suara ketukan. Mau tidak mau, suka tidak suka semua sudah terjadi, dia pun harus mendengar jawaban dari mulut suaminya. Masih berharap semua yang terjadi ini adalah mimpi.
Dengan langkah pasrah dan tidak bersemangat dia membuka kunci tanpa membuka pintunya, kemudian duduk diujung kiri tempat tidur. Angkasa membuka pintu dengan perlahan, menatap Anila yang sedang menatapnya tanpa berkedip.
Angkasa bersujud di depan istrinya setelah menutup pintu. Paha Anila basah dengan air mata suaminya. Ia menutup mata, rasanya pertanyaan yang sejak tadi menuntut jawab mulai menemukan titik terang.
“Jadi ...,” ucapan Bunda Nura ini meminta kejelasan.
__ADS_1
“Maaf,” pinta Angkasa, masih sambil menangis. Ila menutup matanya, dalam hati kembali mengucap istigfar, berharap ini bukan akhir dari penjelasan.
“Untuk apa?” tanyanya sambil berbisik, namun masih terdengar di telinga suaminya.
“Maafkan ini semua salah ayah bun, maaf, maaf, maaf,” ucapnya sambil bergetar.
Anila menghembuskan nafas beratnya, tubuhnya yang sedari tadi tegak menjadi lesu. Bukan ini jawaban yang ia inginkan. Hampir sembilan tahun pernikahan mereka, dan ini balasan untuk kesetiaannya. Semakin hancur hatinya.
Tangannya mengepal kencang, dipukul dada tengahnya berkali-kali, semoga hilang rasa cubitan di hatinya, namun tidak semudah itu menghilang, yang ada semakin membesar rasa sakitnya, menjalar dengan cepat keseluruh tubuh.
“Tega kamu A,” keluh Ila berbisik, hilang sudah suaranya, tiba-tiba melemah, dia hanya pasrah.
“Maaf bun, maafin ayah,” kembali mengucapkan permohonan maaf masih disertai tangis yang tidak berhenti semenjak dia bersujud.
“Sejak kapan kalian menikah?” pertanyaan Anila membuat Angkasa terdiam, dia bingung harus menceritakan dari mana.
Anila menutup matanya, kembali air mata turun tanpa diminta. Tubuhnya merinding, ia mendadak jijik melihat Angkasa di depannya. Dia mendorong suaminya dengan kencang, memohon agar menjauh dari dirinya.
Terbayang semua dalam benaknya, apa saja yang sudah dilakukan oleh suaminya dengan perempuan lain. Air mata masih terus mengalir, ia memeluk tubuhnya dengan kedua tangannya. “ASTAGFIRULLOHALAZIM!!!”
“Kamu tega A, sumpah kamu tega. Aku tidak menyangka,” Anila mulai histeris. Dengan cepat dia pindah ke kamar Nura, yang terhubung langsung dengan kamarnya. Dia hanya mendorong cermin setinggi lemari yang menjadi penghubung antara kamarnya dengan kamar putri tercintanya. Angkasa pun mengikutinya.
Anila duduk diatas karpet lembut berwarna hijau dengan motif abstrak. Air mata masih setia membasahi pipi gembilnya. Angkasa berusaha memeluk, namun Anila mundur dan menggelengkan kepalanya, berharap laki-laki yang duduk di depannya dan masih berstatus suaminya mengerti.
Angkasa mengusap wajahnya dengan kasar, matanya terlihat merah, raut mukanya menunjukkan kepasrahan atas penolakan istrinya. Anila hanya menunduk, dia tidak ingin menatap ayah dari putri semata wayangnya.
“Bun, lebih baik marah, jangan diam,” ucapan Angkasa memecah keheningan diantara mereka. Anila menatap tajam lelaki di hadapannya, dibalas tatapan penyesalan. Namun ia tidak ingin terpengaruh, saat ini dia benar benar kecewa terhadap suaminya.
__ADS_1
Dapat dikatakan sedari tadi tidak ada kemajuan dari obrolan keduanya. Rasa penyesalan Angkasa, tidak terlihat oleh Anila.
KECEWA!
Sudah dipastikan kecewa. Ini bukan masalah kecemburuan biasa, atau masalah ketidakpekaan terhadap sesuatu hal. Ini masalah mengenai perselingkuhan, pengkhianatan terhadap sebuah janji suci yang sakral.
“Maaf Bunda, Ayah salah,” kembali permintaan itu terucap dari mulut seorang Angkasa.
“Sumpah demi Allah, kamu tega,” Anila menghembuskan nafas beratnya, entah sudah berapa kali ia melakukannya. Anila mengangkat kedua kakinya dan memeluk dengan kedua tangannya, lalu membenamkan wajahnya salah satu jalan terbaik untuk tidak melihat laki-laki yang telah mengkhianatinya.
Perempuan yang masih berstatus sebagai istri dari laki-laki yang telah mengkhianati mengangkat kepalanya dan menatap tajam kearahnya. “Sekarang aku minta kejujuran dari seorang Angkasa,” ucapnya dengan tegas.
“Maaf ...,”
“Aku tidak butuh ucapan permintaan maaf, aku butuh sebuah kejujuran dari kamu,” ucapnya tegas, memotong ucapan Angkasa.
“Kami ...,” Angkasa mengawali ucapannya.
Kami! Ya Tuhanku, keluh Anila, hatinya kembali terasa dicubit kecil, sakit sekali.
“Ayah sudah menikah dengan Dira, Bulan Febuari, tanggal empat belas lalu,” ucapnya lemah dan sedikit berbisik. Anila menyunggingkan senyumnnya entah mengejek suaminya atau dirinya sendiri.
Akhirnya sebuah pengakuan terucap dari mulut seorang Angkasa, suaminya yang penyabar dan setia. Ayah penyayang yang mencintai putri kecilnya. Sungguh kisah sinetron hadir dalam hidupnya. Inikah karma mengejek kisah cinta berlebihan yang disuguhkan cerita-cerita di sinetron.
Angkasa terus meminta maaf, namun indera pendengar Ila seakan tertutup kapas, dia tidak mendengarnya, terlalu mengejutkan pengakuan suaminya. Sampai tadi sebelum mantan atlit ini datang, dan membuat pengakuan ia masih berharap, hanya salah mendengar tentang berita ini. Tapi harapan tinggal harapan, dan kenyataan tidak seindah impian.
***
__ADS_1
Ditunggu komen, like dan votenya, terima kasih.