
Batin Anila bergejolak, ia menatap nanar Angkasa yang masih bersujud di kaki ibundanya, memohon ampun atas apa yang telah dilakukan. Nampak dengan jelas gurat kekecewaan dalam wajah kedua orang tuanya.
KHILAF!
Kembali khilaf menjadi kambing hitam atas perbuatan suka sama suka yang sudah terlampau jauh. Selingkuhnya pacaran anak sekolah berbeda dengan mereka yang sudah berkeluarga. Sungguh Angkasa terlena pada ujian hidup yang indah dan berdosa.
“Ujian seorang istri itu pada saat suami belum menjadi seseorang, sedangkan ujian suami adalah ketika mereka meraih kesuksesan.” Kata yang selalu diingat Anila ketika dia mulai berumah tangga. Pada kenyataan yang dihadapi saat ini, banyak perempuan yang ingin memiliki pria mapan secara instan, dan tidak sedikit laki-laki yang tergoda dengan cantiknya keindahan dunia.
Anila memejamkan kedua matanya, lembaran indah saat mereka masih pacaran muncul satu persatu. Tidak pernah terlintas dalam benak dan hatinya, Angkasa yang baik hati, penyabar, dan mampu meluluhkan hatinya akan berbuat nekad seperti ini.
SAKIT!
Anila belum dapat menetralkan ritme detak jantung yang sedari sore tadi diforsir berolahraga. Telapak tangannya menekan dada, terasa sakit. Ini bukanlah sakit hati, ini adalah hati yang tersakiti seorang dokter sekelas profesor sekalipun belum tentu dapat menyembuhkannya rasa sakitnya.
Perlahan nafasnya mulai terkontrol, dengan cepat Anila berusaha menahan semua rasa yang menyerang tubuhnya tiba-tiba. Seseorang merengkuhnya dengan hati-hati, bukan Angkasa. Dia masih hafal pelukan suaminya.
Pelukan! Apakah Aang suka memeluk wanita itu dengan kedua lengannya, apakah pelukan yang diberikan sama dengan yang dilakukan terhadap dirinya, apakah wanita itu menikmatinya, apakah dia ketagihan seperti dirinya, apakah ..., apakah ..., apakah ...? Tanyanya geram meski hanya dalam hati
Tidak boleh berburuk sangka, namun ini bukan berburuk sangka, ini sudah terjadi. Aang yang dicintainya, dihormatinya, disayangnya dengan seluruh jiwa telah menikahi wanita lain. Cintanya sudah terbagi.
Betapa Anila sangat kecewa, dirinya telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk mejadi istri seorang Angkasa. Dia menuruti permintaan suaminya hanya fokus pada rumah tangga. Merelakan gelar yang diraihnya dengan susah payah dengan meninggalkan pekerjaan yang digelutinya sebelum menikah dengan kekasihnya, namun ini balasan atas semua yang dikorbankan.
Sungguh jalan hidup yang tidak diinginkan oleh siapapun. Kembali bertanya pada Tuhannya dalam hati. Mengapa engkau tega mengujiku dengan semua ini ya Rabb. Dosa besar apa yang aku lakukan hingga engkau menghadiahi jackpot ini? tanya Anila dalam benaknya.
Anila hanya seorang perempuan, mahluk Tuhan paling seksi kalau kata Dewa dalam lagunya. Manusia biasa yang rapuh butuh sandaran untuk menghadapi kenyataan hidup yang dijalaninya. Sungguh luar biasa ujian dahsyat dari Sang Pencipta..
“Bapak sayang Anila. Sampai kapanpun menantu Bapak hanya Anila. Jangan tinggalkan Bapak. Kamu dan Nura adalah anak dan cucu bapak,” bergetar mulut Pak Dami ketika berbisik. Ada rasa kecewa yang dalam atas kelakuan anaknya.
“Tolong hadirkan Papa Bakti, Ila cuma butuh Papa,” pintanya dengan berbisik.
__ADS_1
“Sadar Neng, istigfar, papa sudah meninggal. Bapak tidak mungkin mengabulkan permintaan Neng,” nada frustasi terdengar dari lelaki paruh baya yang belum mengganti baju kerjanya.
“Kalau begitu kabulkan permintaan Ila pak.”
“Tidak Neng, ibu tidak mengizinkannya. Jangan gegabah memisahkan anak dengan ayahnya.”
“Ibu, kembali aku bertanya sama Ibu ..., apa yang akan dilakukan bila Bapak menikah lagi?”
“Jangan sembarangan kalau bicara!”
“Bagaimana bila Raka yang melakukan hal ini?” Anila bertanya dengan kesal. “Apa kamu masih mau bertahan? Aku akan menyembelih sapi dua ekor bila kamu tetap bertahan dengan Raka!”
“Bunda!”
“Apa?” kekesalannya semakin menumpuk terlebih drama yang tidak usai dari dua perempuan dihadapannya.
“Kamu pikir jika saya berpisah dengan kakak kamu, saya tidak bisa bertahan hidup?” tanya Anila. “Saya sudah bisa mencari uang sejak saya masih sekolah, dan ketika kuliah pun saya sudah memiliki usaha kecil-kecilan. Saya berjualan camilan, kalau kamu lupa, saya ingatkan lagi.”
“Sudah Bunda, Ayah memang salah tapi Ibu mohon bertahanlah demi Nura.”
DEG!
Cubitan itu kembali hadir, titik terlemah dalam hidupnya diserang kembali. Mengapa semua orang begitu kejam menusuk dirinya seperti ini.
“Kalau kamu menganggap Bapak dan Ibu adalah orang tua kamu, jawab pertanyaan bapak, Aa, siapa yang akan kamu pilih?”
Angkasa bangun dari sujudnya, menatap Anila yang tidak menatapnya. Dia mendekati Anila yang masih dipeluk Bapak, mengambil jemari yang tidak lama ditepis oleh perempuan yang masih menjadi istrinya. “Aa memilih Bunda dan Nura. Aa tidak dapat hidup, bila berpisah dengan mereka,” ucap Angkasa penuh keyakinan.
Anila menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju. “Maaf bapak, Anila tidak mau.”
__ADS_1
“Apa yang akan kamu lakukan?”
“Aa akan menceraikannya.”
“Baik, kalau begitu ambil ponsel kamu sekarang dan ceraikan wanita itu,” perintah bapak dengan tegas. Anila menggelengkan kepalanya menatap mertuanya.
“Tidak bisa Pak, itu tidak sopan,” ucap Angkasa, semakin menguatkan Anila untuk berpisah.
“Kamu tahu jika nikah siri, kamu ucapkan cerai selesai sudah semuanya.”
“Tapi, Aa yang menikahinya pak, beri waktu untuk meminta maaf pada keluarganya.”
“Selesaikan semuanya hari minggu.”
“Anila tetap akan berpisah pak,” ucap Anila tegas.
“Jangan Bunda, tolong ingat Nura,” ucap ibu, dan tidak lama ibu hilang kesadaran.
“Bunda, lihat Ibu pingsan. Kalau Ibu sampai kenapa-kenapa kamu harus tanggung jawab.”
Anila tidak menanggapi ancaman adik iparnya, dia langsung mengambil minyak kayu putih dan mencoba membangunkan ibu mertuanya.
Tuhanku, ah ..., begitu kejam takdir yang goreskan dalam hidupku. Kasihanilah aku, tidak cukupkah aku menanggung semuanya? Tanya Anila dalam hatinya.
***
__ADS_1