
Apa yang akan terjadi satu detik kemudian tidak akan ada yang mengetahuinya dengan pasti. Semua akan berjalan sesuai garis yang ditentukan. Anila melangkah menuju gerai makanan cepat saji, ada temannya yang berulang tahun saat itu. Dia meninggalkan Angkasa tanpa pamit. Suaminya tidak ingin pergi dia memilih untuk tidur di dalam mobil menunggu istrinya.
Sebelum menemui teman-temannya, Anila melakukan senam muka, menghembuskan nafas beratnya beberapa kali. Dalam hati berdoa memohon pada Allah, agar teman-teman tidak ada yang menanyakan posting di aplikasi sosial medianya semalam. Setelah dirasa cukup tenang, ia berjalan mendekati meja yang telah dipesan.
“Siang semuanya,” sapa Anila sangat ceria seperti tidak terjadi apa-apa. “Sorry telat,” ucapnya sambil mencium pipi kanan dan kiri Dwi, yang sedang berulang tahun.
“Heh, siapa yang kecelakaan?” tanya Sufi, dan semua mata langsung menatap Anila, menunggu jawaban.
“Bapaknya sahabat Aang, meninggal karena motornya terseret truk. Sudah Aang anggap seperti bapak sendiri, sering dia menginap dirumah sahabatnya itu. Enggak enak kan kalau enggak datang.”
“Maaf om,” ucap Anila dalam hati memohon ampun mengungkit kejadian tiga tahun lalu untuk menutupi kasusnya.
“Nura mana?” tanya Ana.
__ADS_1
“Gue enggak ketemu lagi bun setelah acara terakhir. Seperti biasa dua anak sudah mulai kesal. Kayaknya Nura langsung dibawa sama ibu dan bapak,” Mira menjelaskan.
Anila hanya tersenyum sambil melihat menu, memilih minuman yang akan dipesan. Tiba-tiba teringat Nura, ada beberapa makanan favorit putrinya. Anila tidak akan bisa makan tenang jika Nura tidak bersamanya, naluri seorang ibu yang akan melakukan apapun untuk kebahagiaan anaknya, termasuk mengorbankan keinginannya sendiri.
“Mama, maafkan anakmu mengambil keputusan ini,” ucapnya lirih dalam hati. Terbayang bagaimana raut wajah kecewa bila ia menceritakan apa yang sedang dialami dan keputusan yang diambilnya walau bertentangan dengan hati kecilnya.
“Jujur sama gue loe ada apa?” tanya Ana menatap intens pada Anila sambil menunggu jawaban.
“Aku baik-baik saja, sehat tidak ada satu kurang apapun, Alhamdulillah, luar biasa,” jawab Anila sambil bercanda membuat Ana memicingkan matanya.
Anila menghembuskan nafas beratnya, dan menatap Mira yang duduk di depannya. Dia merasa aktingnya kurang bagus, sehingga Ana dapat menangkap sesuatu hal yang ditutupinya. Namun ia berusaha selalu tersenyum menikmati saat bersama teman-temannya yang langka.
Tidak terasa Anila menghabiskan waktu tiga jam untuk mendengarkan cerita, atau bersenda gurau, meringankan bebannya. Dia menatap Angkasa yang masih tidur di dalam mobil, lelaki ini memang tidak pernah berubah dia selalu sabar menunggu aktivitas istrinya. Sayang kesalahan Angkasa sangat fatal bagi Anila, dia sendiri sebenarnya tersiksa atas keputusan yang dia ambil pagi tadi.
__ADS_1
Rasa kesalnya kembali hadir ketika dia menatap lelaki yang sedang tertidur, dia menutup pintu dengan keras, sehingga suaminya bangun. “Sudah selesai bun?” tanyanya sambil mengucek mata dan mengusap wajahnya. Anila hanya mengangguk menjawab pertanyaan Angkasa.
Angkasa menatap Anila, dia mengusap kepala istrinya, salah satu hal yang biasa dia lakukan ketika menjemput istrinya. Namun Anila menggoyangkan kepalanya, seakan menghindar tidak ingin diusap. Sebenarnya bukan seakan menghindar, dia memang tidak ingin suaminya melakukan hal itu.
“Neng,” panggil laki-laki yang masih menatap dirinya menanti jawaban atas penolakan istrinya.
“Aku sudah rindu Nura, bisakah kita langsung jalan menjemputnya?” tanya Anila menatap jendela tanpa menatap Angkasa.
“Bisakah tersenyum untuk Ayah, Bun,” pintanya. Anila tidak menjawab, tidak juga melepaskan pandangan dari jendela.
“Hati kamu terbuat dari apa sih A?” pertanyaan itu muncul dalam hati Anilia. “Kamu menyuruh aku tersenyum, waktu Allah membagikan otaknya kamu ada dimana sih?” Semakin kesal dengan permintaan suaminya.
Usia pernikahan mereka menginjak sembilan tahun, namun sejak kemarin Anila semakin tidak mengenal suaminya. Waktu tidak dapat dijadikan tolak ukur untuk mengenal seseorang, Anila menyetujuinya, terlebih dengan semua yang terjadi saat ini. Anila kemudian berpikir waktu yang dihabiskan untuk mencintai Angkasa sia-sia dengan adanya kasus ini, dan kemudian ia harus pasrah menjalaninya.
__ADS_1
***