
Sejak kepergian pria itu dari tadi pagi sampai siang ini belum pulang juga, sedang Diandra sedang duduk di kursi meja makan sambil meneguk air di gelas sekali teguk, "hah!"sejak tadi ia masih terkurung di dalam apartemen yang sangat besar, ia ditinggal sendirian namun ia tidak takut sama sekali, yang ia khawatirkan sekarang bagaimana misinya akan berhasil ia jalankan jika ia tinggal diam saja, ia benar-benar gagal total dalam rencananya, bukan cuma itu Diandra pun ketimpangan kesialan yang tidak pernah ia duga, tapi sudahlah urusan pria itu biarkan nanti saja yang terpenting ini misi awalnya harus ia temukan solusinya dan segera s
di tuntaskan.
Disaat ia tengah berpikir tiba-tiba saja ia mengingat akan sesuatu, Diandra mengeluarkan benda pipi panjang dari saku celananya (hp), ia lalu menekan-nekan-nya lalu ia tersenyum berbinar.
"Hah! kenapa aku tidak memikirkan ini sejak dulu, ternyata foto ini juga berguna!"sesaat kekesalannya berubah menjadi senyuman mereka saat melihat sebuah foto yang sempat ia bidik saat masih bekerja di hotel itu. Foto itu berisi sekumpulan para orang-orang yang tengah menikmati barang haram yang memabukkan, jika ia tidak bisa siapa penyebab kematian kakaknya karena masih dikurung di rumah pria sialan itu, setidaknya ia akan menghancurkan hotel besar itu, agar tidak ada lagi korban pelecahan manusia yang tidak bersalah, seperti kakaknya mengalami pelecahan berdasarkan dari hasil otopsi dokter rumah sakit, ia mengingat jelas apa yang dikatakan dokter hari itu, hingga kemarahannya kembali bangkit, apa lagi saat pria itu, kekasihnya menghilang entah ke mana, sehingga pelakunya belum ditemukan sampai sekarang, meski klab malam itu sudah di tutup, tapi Diandra sudah bertekad akan menghancurkan setiap klab malam, apalagi tempat itu masih berhubungan dengan masa lalunya. Diandra mengepal kedua tangannya.
"Tunggu waktunya!"sahutnya dengan tersenyum sembari mengelus foto itu. Diandra memiliki rencana lain yang akan ia lakukan.
Sekali tekan ia meletakkan handphone nya di sisi telinganya, "halo vocay cari tahu pria bernama Kenan di kota ini!"sahutnya berbicara pada seseorang diseberang sana, ia tahu siapa nama pria yang telah mengurung-nya, karena ia pernah mendengar orang yang pertama membawanya masuk ke rumah ini memanggil namanya.
"Bagus!"Diandra tersenyum sambil menyimpan kembali handphone-nya.
Vocay, seorang sahabat sekaligus bawahan yang sangat berpengalaman dan ahli dalam hacker, bisa dibilang sultan hackers. Vocay bukan tanpa sebab mau-mau saja di suruh, di samping ia sahabat, ia juga memiliki hutang nyawa pada Diandra, saat di mana seseorang tengah membidik kan sebuah senjata api sejak 2 tahun silam, saat itu diandra tanpa sengaja menghalangi gerak orang itu sampai akhirnya ia yang sampai terkena tembakan di bagian lengan tangannya. Saat itulah mereka saling mengenal dan menjadi teman baik sampai sekarang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
30 menit telah berlalu deringan handphone Diandra berbunyi, ia segera bangkit dari tidurnya di sofa, ia berpindah dari meja makan ke sofa karena ingin berleha-leha sambil menunggu informasi dari vocay.
"Dian! dia bernama Kenan samudra CEO dan juga pewaris tunggal perusahaan ARCADE grub di LN !"sebuah pesan masuk.
__ADS_1
"Arcade! bukankah itu perusahaan yang sangat berpengaruh, kalau begitu aku harus baik-baik disini sambil mengoreksi informasi darinya! hah," ia menghela nafasnya, sisi lain ia sangat ingin pergi namun misinya menginginkan ia harus tetap tinggal dan bersikap baik sampai Semuanya baik,.dan setelah itu terserah saja ia bisa melakukan apapun pada pria itu ingin menendang boleh juga kalau perlu membunuhnya tapi harus dengan cara dan langkah yang sempurna. Diandra tersenyum memikirkan rencananya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kenan pulang dari kantornya dan melangkah masuk ke dalam, terus jalan ke atas dan melempar jasnya dan duduk di sofa lalu bersandar sambil memejamkan matanya.
drtt....drtt sebuah deringan handphone yang mengusik waktu istirahatnya, "hah!"mengeluarkannya dari balik sakunya.
"Kenapa? aku lelah!"
"CK...kau ini bukannya ingin informasi wanita itu!"decak sang Daniel.
"Eeh jangan, katakan cepat!"sahut kenan memperbaiki duduknya bersiap menerima informasi yang ia tunggu-tunggu.
"Wanita mu bernama Diandra!"kata sang Daniel
"Hanya itu?"tanyanya tidak kesabaran.
"Belum juga selesai tapi sudah dipotong tidak sopan!"gerutunya.
"Hanya itu saja, tapi mengenai dia itu bukan pelayan malam dia hanya sebagai pekerja OB (cleaning servis) untuk menyambung hidupnya, dan satu lagi!"ia tidak melanjutkan perkataannya malah menggantung sehingga membuat Kenan penasaran.
__ADS_1
"Apa? jangan buat aku penasaran!"
"Kau pastinya sudah melakukan nya kan, bagaimana rasanya aku juga penasaran,"sahut Daniel tersenyum menyeringai.
"CK...Pertanyaan tidak bermutu!" Kenan memutuskan telfon-nya begitu saja. Mengenai wanita itu Kenan sendiri sudah merasakannya sehingga tidak ragu lagi, jikalau dia Diandra memang bukan wanita malam, namun yang ingin ia ketahui identitas Diandra namun Daniel tidak berhasil mendapatkan nya. Hanya malah membuatnya sedikit kesal.
Tadi pagi Kenan menyuruh Daniel mencari tahu tentang Diandra, sebab ternyata Diandra bukanlah wanita malam, karena ia sendiri sudah merasakan hal itu, dia mengira jika Diandra hanya wanita yah diculik lalu dijual, jika kenyataan seperti itu dia tidak akan melepaskan orang yang sudah mencuri wanita itu, meski ia dapat untungnya tapi ia juga tidak terima hal itu, namun setelah Danil mengatakan jika dia bernama Diandra dan seorang OB, ia merasa lebih tenang.
"Astaga!" Kenan segera bangkit saat menyadari jika sejak kepulangannya ia tidak melihat sama sekali pelayannya, ia mengira wanita itu mungkin kabur, tapi bagaimana caranya semua pintu ditutup rapat dan juga dalam pengawasan ketat, dengan segera ia berlari turun dengan tergesa-gesa.
Saat sampai di tangga terakhir ia melihat begitu banyak hidangan di meja, siapa yang membuatnya? apa bi Wati tapi mana mungkin Bu Wati kan izin pulang kampung masa iya setan di jam segini belum malam juga!.untuk saat ini ia tidak menghilang pikiran tentang makanan itu, ia lebih memilih mencari keberadaan Diandra. Kenan berlari ke sana ke mari tapi yang dicari sedang tidur nyenyak di sofa, ia tidak berpikir mencari di tempat itu , karena lelah habis berlarian membuat perutnya keroncong dengan terpaksa ia sudah duduk tanpa berpikir panjang ia lalu memakan makanan yang telah tersaji dan sangat menggiurkan, lalu mengisi perutnya dulu agar punya tenaga dalam mencari Diandra
ia menyantapnya dengan lahap.
"Enak!"gumamnya, sesaat kemudian Kenan menyudahi acara makannya sembari mengusap mulutnya dengan tisu.
Sebuah deringan hp kembali berbunyi, namun hanya sebuah pesan masuk yang membuat tidur Diandra terusik, "aku harap kau hati-hati dengan orang itu." dengan cepat ia membalasnya "aku tahu! terimahkasi sudah mengingatkan!" balasnya, saat bersamaan Kenan datang saat ia mendengar sebuah deringan handphone.
"Rupanya kau di sini pelayan ku!"sahut Kenan tersenyum berada tepat belakangnya, ia sudah mengira Diandra kabur, tapi nyatanya masih setia di sini, hatinya merasa senang dan lega.
Diandra tidak menghiraukan nya. "Hampir saja,"gumamnya lalu menyimpan hpnya, karena ia merasa jantungnya berdebar-debar, karena kedatangan pria itu secara tiba-tiba.Diandra berniat lari, sembari tatapannya berada di pintu yang terbuka lebar, tapi pastinya hanya sia-sia saja, ia tahu betul dengan siapa dirinya berhadapan, Diandra harus bermain cantik dan tetap diam dan berniat tinggal di rumah ini sampai ia mengorek informasi. Bagaimana pun caranya harus ia dapatkan dan itu sudah fine.
__ADS_1