
Ya ampun!"ia tampak gelisah dan khawatir, jika pria itu tahu pasti dia akan di pecat tak becus.
sejak tadi tak ada taksi yang lewat ia sudah lelah menunggu, diandra berjalan ke arah depan berharap ada ojek online. Saat melewati lampu merah, ia memutar kembali tubuhnya mundur ke arah dekat lampu, di mana semua kendaraan berhenti.
Tap, Diandra berhenti tepat di dekat dua orang bapak-bapak pengendara motor. Merasa ada yang aneh, tangannya bergerak membuka kaca helm bapak itu, sedang orang yang dibonceng berusaha melindungi wajahnya.
Ia menyipitkan matanya, wajah di depannya ini tak asing baginya, siapa dia, apakah mereka pernah bertemu. Bapak itu melotot saat mata mereka saling bertemu, ia tampak penuh kegelisahan, tamatlah sudah riwayatnya, wanita itu sudah ada di depannya dan menatapnya penuh pertanyaan, apa yang harus mereka lakukan, apakah harus menerobos rambu lalu lintas saja, itu tidak mungkin, pria bernama Bambang itu sesekali melirik lampu berharap segera menjadi hijau.
"Hei pak!"ia berusaha membuyarkan tatapan terkejut bapak itu. Diandra menggoyang tangannya.
"Apakah kita pernah bertemu!"tanyanya sebab orang melihatnya dengan aneh seperti kesurupan.
"Tidak-tidak!"pria dibelakang menggoyang tangannya tapi kepalanya di sembunyikan.
"Aneh!"gumamnya, kembali melanjutkan langkahnya. Kedua pria itu menghela nafasnya kasar untungnya wanita itu tak mengenalnya. Mereka melajukan kembali motornya saat lampu merah berubah hijau.
Greek....
Kedua pria itu tadi merasa lega tapi sekarang tidak sepertinya ada yang aneh, masa motornya tidak bergerak sama sekali padahal bensinnya kan full, pikir mereka. Pria bernama Joko berbalik dan melihat wanita tadi ada di belakang memegangi punggung motornya. Joko menangis dan menggoyangkan tubuh Bambang dan menunjuk nya.
Diandra tersenyum saat kedua bapak itu melihatnya, dengan mereka dengan ekspresi wajah yang aneh.
"Pak, bapak-bapak yang ganteng, baik rupawan, bisa pinjam motornya pak" ujar Diandra dengan wajah memohon.
"Pak!!! Apakah boleh!!! tolonglah pak, nanti bos saya marah!!! bisa yah pak" ucapnya lagi saat melihat kedua orang itu tak bersuara hanya menatapnya saja. Diandra tersenyum lebar saat kedua orang itu mengangguk pasrah begitu saja, ntah apa yang dipikirkan.
"Terimah kasih pak!'ujarnya langsung mengambil alih kemudi motor tak lupa juga megambil helm-nya. Sebelum pergi ia sempat menyodorkan uang untuk mereka.
"Bapak naik taksi yah, susul saya dari belakang!"Diandra memberinya 2 lembar uang 50-an, dengan entengnya mengatakan seperti padahal taksi kan tidak ada. Joko mengambil uang itu sambil melihat kepergian wanita itu.
__ADS_1
"Motor kita!" Bambang merasa sedih sebab motornya dibegal oleh wanita itu. Oo iya, kalau dibegal kan mana mungkin dia diberi uang, pikirnya sambil melirik uang ditangan Joko.
Diandra memperlihatkan tanda pengenal saat penjaga itu menatapnya intens, bagaimana tidak dia tiba dalam keadaan rambut sedikit berantakan seperti bukan karyawan di perusahaan itu, lebih tepatnya sebagai pekerja Kebun lihat saja rambutnya berantakan, mungkin karena angin tadi jadi nya satpam itu memberinya uang mengira pengemis. satpam itu tersenyum kikuk dan baru mengijinkannya masuk.
"Uang ku!"minta bapak itu saat Diandra hendak melangkah.
"Ambil ini" bapak itu tersenyum mengira itu uang nya, namun saat membuka itu hanya kunci motor.
"Kayaknya nggak deh, siapa suruh bapak mengira saya pengemis, kan salah bapak sendiri!" Bapak itu menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Kedua pria itu sampai dalam keadaan ngos-ngosan, mereka sudah di samping motor nya. Joko berjalan dan menarik paksa kunci motornya, "Kamu ingin mencuri motor saya yah, ngaku!"tuduhnya, sebab kenapa bisa kunci motornya ada di tangan bapak itu.
Satpam itu mengernyitkan keningnya, ia kebingungan, ingin berbicara namun pria yang sempat memakai nya sudah pergi, ia hanya bisa pasrah, "salah saya apa yah"ia tampak kacau.
Joko menyodorkan kunci itu pada Bambang, mereka pergi dan satpam tadi hanya melihatnya. bingung. "Jadi wanita tadi pencuri, pantas saja uangku diambil!"gumamnya.
"Untungnya wanita licik itu tak ada"ujar Joko dan Bambang mengangguk, mereka sudah pergi, ia menamakan Diandra sebagai wanita licik, sebab terlihat Sangat menakutkan di mata mereka.
Dia melangkah dengan keadaan was-was, pastinya, sebab ia terlambat 30 menit, semoga saja pria itu tak memarahinya. Dia berdoa sebelum masuk.
Tok....tok....tok.... berulang kali ia mengetuk pintu namun tak ada yang menyahut, terpaksa ia masuk begitu saja, ia memandangi setiap sudut ruangan itu sebelum menyimpan berkas itu.
Hem.....Hem.....
Diandra menghentikan langkahnya, seperti ia mendengar sesuatu ia berbalik dalam keadaan terkejut.
"Dari mana saja kamu?"tanyanya datar.
"Saya ada kok! sejak tadi"Diandra bingung tiba-tiba saja pria itu muncul, dan ia asal bicara saja. Pria itu mengangguk tanda mengiyakan
__ADS_1
"Buatkan aku minuman! aku haus!"pintanya namun bermakna perintah.
"Saya!" menunjuk diri sendiri.
"Kalau bukan kamu siapa, kamu kira ada orang lain di sini"ucapnya datar penuh penekanan.
"Tapi kan....saya ini"belum sempat melanjutkan ucapnya pria itu memotongnya.
"Cepat lakukan saja, atau aku pec...!"
"Yah baiklah" Diandra menerima dengan pasrah, dia tidak ingin sampai dipecat apalagi ini hari pertama ia bekerja, ia berencana memberi kesan pertama yang baik dan dapat dipercaya sehingga misinya juga bisa berjalan lancar.
Kenan tersenyum berhasil mengerjainya, dengan banyaknya pekerjaan membuatnya sedikit pusing, dia butuh hiburan terpaksa deh mengerjai sekertaris Nya , dia datang bukan jadi sekertaris tapi jadi suruhan sejak tadi ia belum berhenti tersenyum, namun Diandra tidak menyadari hal itu, "sana!"usir-nya .
Beberapa saat Diandra datang membawa minuman dingin.
"Ini"menyodorkan.
"Permisi!"sahut Diandra sebelum keluar.
Dari tadi diandra mengerjakan tugasnya,.ini sudah menunjukkan jam makan, ia keluar untuk membeli sesuatu, dan kembali membawa beberapa makanan dan juga minuman lalu menyantapnya. Setelah selesai kembali ia bekerja lagi.
...----------------...
Diandra sudah berada di kamarnya, ia merasa bekerja di perusahaan cukup melelahkan, belum lagi ia bekerja di kediaman pria jahat itu, sekarang pekerjaannya dobel, tapi untungnya hari ini di rumah ini ia tidak terlalu bekerja sebab rumah masih dalam keadaan bersih.
"Di mana dia!"pikirnya baru ingat sejak tadi pria itu belum pulang. Ia hanya sempat melihatnya tadi siang saat ia sedang membeli makanan di arah seberang, ia tidak tahu pria itu akan ke mana , tadi ia tak sengaja melihat nya,.sedari tadi pergi bersama pengawalnya, dan belum pulang. Tapi itu bagus tak ada yang menganggu, ia bisa bebas.
"Sangat mengantuk"gumamnya sambil menguap.
__ADS_1
"Tidur ah!" Diandra menarik selimutnya lalu mematikan lampu.