
Pria itu sudah duduk berhadapan dengannya di sofa depannya sembari berpangku tangan dengan menatapnya intens, ada banyak pertanyaan di benaknya, hari ini ia melihat wanita itu tidak lagi berusaha melarikan diri darinya, padahal ia sudah sengaja membuka pintunya lebar, namun wanita didepannya tidak bergeming sama sekali, Kenan menggaruk telinganya dengan bingung.
Mendapatkan tatapan penuh tanya dan datar seperti papan, Diandra tidak peduli, ia malah membuang pandangannya agar tidak bertemu tatap hanya saja ia tidak ingin sampai pria itu menganggapnya yang tidak-tidak, lebih baik dia bersikap lebih lembut dan baik, justru itu lebih baik.
Merasa lelah dengan pemikirannya Kenan kini sudah duduk berdampingan dengan Diandra.
Apa kau yang memasak?"Tanya penuh selidik sembari mengingat makanan yang cukup enak menurutnya.
"Hah! kalau iya kenapa bukankah tugas seorang pelayan, memang seperti itu bukan!"ucapnya datar namun penuh penekanan, tapi tatapan matanya fokus ke depan, tidak memperdulikan bagaiman ekspresi wajah yang melihatnya dari tadi.
Kenan mengernyitkan keningnya sebelum berucap. "Betul katamu?"sahutnya namun di hatinya ia merasa bingun dan ada yang aneh dengan ucapan wanita di depannya dan berubah begitu saja.
"Apa karena pisang ku!"sahut Kenan tanpa rasa malu sambil menyeringai membanggakan pusaka-nya.
"What?"pekik Diandra dengan wajah memerah bukan karena malu tapi tengah merasa sangat marah dan menahan kekesalannya, ia menekan ludahnya kasar dan berusaha sekuat tenaga menahan agar amarahnya tidak anjlok.
"Sialan! sabar sabar diandra."batinnya dan tiba-tiba saja Kenan sudah duduk di dekatnya.
"iya kan!"ucap Kenan dengan sangat bangga, tidak punya malu.
"Hem!"hanya itu yang mampu Diandra balas, ia tidak ingin berdebat.
"Kalau begitu lakukan tugasmu sebagai pelayan ku!" tiba-tiba saja Diandra menegang dengan ucapannya, Kenan sudah menarik begitu saja tangan Diandra, Diandra yang ditarik pun tidak menolak, bukan karena mengingat milik pria itu tapi ia memikirkan bagaimana caranya agar ia tidak melakukan hal itu lagi, ia takut bisa ia hamil karena yang ia ingat malam itu pria itu melakukannya tanpa pengaman tapi ia sudah memeriksanya, jadi saat ini ia masih aman, tapi tidak tahu hari-hari selanjutnya semoga saja tidak ada kesialan lagi, harapnya.
Kenan sudah di atas dan membuka pintunya, saat melihat Diandra ikut masuk "kenapa ikut?"
"Tuan kan yang menarik ku!"sahutnya.
__ADS_1
"Apa kamu benar-benar menginginkan kejadian malam itu terulang lagi, apa karena milikku!"sahutnya sembari menaikkan-naikkan alisnya dengan menggoda, tersenyum menyeringai.
"CK! aku tidak tertarik sama sekali!"
'Kau itu pelayan ku, jadi urusi semua kebutuhan ku di rumah ini, termasuk kenyamanan tidurku, aku butuh sesuatu yang wau untuk mengobati insomnia ku, kau tahu kan apa yang harus dilakukan seorang pelayan tuan Muda yang tampan ini!"ujar Kenan yang sudah duduk sandar di tempat tidurnya dengan sombong. Membuat Diandra berdecak di dalam hatinya.
"Itu berarti, aku harus melakukan itu, aku tidak mau! Diandra geleng-geleng kepalanya tidak suka.
"Mendekat-lah!"perintahnya dengan Sebuah isyarat tangannya. Mau tidak mau, Diandra tidak bisa menolak, ia berjalan pelan sampai akhirnya sudah berdiri di dekat Kenan, dengan cepat ia menarik tangan Diandra dan membuatnya duduk di sisi ranjang dan berhadapan dengannya.
Diandra yang ditarik kaget, apalagi saat sudah melihat pria di depannya itu telah membuka pakaian atas nya tidak tahu malu, namun ia tidak memperdulikan hak itu karena ia bukanlah wanita polos, namun ia berharap jangan sampai bagian di bawah ikut di buka, bisa bahaya.
"Ya Tuhan, jauhkanlah aku dari pria iblis ini!"batinnya.
"Buka celana ku!"ucapnya.
"Lama!"ucap Kenan yang tidak sabaran, ia membukanya sendiri dan melemparnya ke sembarang arah.
"Lakukan sekarang!"ujarnya memperbaiki duduknya, Diandra bingung harus bagaimana,. dirinya benar-benar terjebak.
Andai saja, anda waktu itu bisa di ulang, tapi semuanya hanya berandai-andai tidak ada yang bisa di ubah lagi, Diandra tidak bisa lari dari takdir-nya. Dengan terpaksa Diandra memulai memegangi roti sobek pria itu, ia membelainya dengan halus, seperti film yang pernah ia tonton sebelumnya, Diandra merasa geli sendiri dengan perlakuannya, dan sekarang ia layaknya seperti wanita murahan,.apa bedanya ia dengan wanita-wanita malam itu, sama saja, pikirnya, ingin rasanya ia mencengkram leher pria itu biar mati saja, tapi tidak semudah itu.
Kenan mengernyitkan keningnya menatap wajah diandra yang sedikit menunduk sembari memberikan sentuhan-sentuhan pada dadanya. Tapi sesaat ia tersenyum menyeringai seperti sedang merencanakan sesuatu yang besar. Kenan langsung saja menyambar tangan diandra dengan kuat, dan membuatnya kaget, ia mengambil tangan itu dan membuat nya turun dan turun, semakin turun saat sampai di bawah pusatnya, Diandra menahan kuat tangannya agar tidak bergerak ia dengan sekuat tenaga mempertahankan kekuatan tangannya agar tetap bertumpu di bawah perut itu, supaya tidak berpindah ke bawah.
Mereka berdua terlihat saling argumen kekuatan otot tangan, semakin kuat dan semakin kuat Kenan, akhirnya diandra berhasil kalah, dengan cepat ia menutup matanya, takut tangan itu menyentuh sesuatu yang sekarang berkeliaran di otaknya.
"Kok keras!"gumamnya kecil tapi masih bisa didengar oleh Kenan. Perlahan ia membuka sebelah mata-nya. Melihat hak itu kenan tersenyum puas berhasil mengerjai pelayannya.
__ADS_1
"Hah!"ia menghela nafasnya kasar saat mata-nya terbuka lebar melihat tangan itu hanya berada di atas lutut pria itu, untung saja, bukan yang itu, jika sampai hal itu, sudah dipastikan Diandra akan segera melarikan diri.
"Aku menyuruhmu untuk memijat ku, tapi kau malah berani membangunkan singa yang sedang tidur lelap, bersiap lah kau akan menerima hukuman mu! sebelum itu pijat kakiku!"pinta sang kenan, lebih tepatnya ancaman. Dengan cepat ia memijatnya, terlihat ia menikmatinya.
"Kenapa berhenti!"sahutnya dengan mata yang tertutup bersandar.
"Maaf tuan, tanganku sudah pegal, dan tugasku juga sudah selesai, apakah aku boleh istirahat!"ucapnya *******-***** tangannya.yg cukup lama memijat.
"Ya!"
"Eh tunggu dulu!"sahut Kenan saat Diandra sudah melangkah.
Diandra berbalik sembari melihat tuannya dengan mata yang masih tertutup.
"Aku melupakan sesuatu, kau belum menerima hukuman-mu!"
"Tuan tidak bisakah kag besok saja!"ucapnya dengan suara serak karena dari tadi ia harus menemani tuan itu.
"Tidak bisa, harus sekarang tidak bisa ditunda-tunda!"
Diandra, "hah."
"Baiklah kau boleh pergi sekarang!"ucap Kenan yang sudah membuka matanya sembari melihat diandra dengan wajah yang sangat lelah, sebenarnya ia masih ingin mengerjai wanita itu, tapi ia merasa kasihan juga.
Dengan cepat Diandra pergi, sebelum ke luar pintu, "hukuman-mu! bersihkan meja makan di bawah!"Teriaknya.
Diandra sudah berada di dekat meja, ia menghela nafasnya sembari mengelus dadanya, ternyata ada bagusnya juga pura-pura terlihat lemah, dan pria yang menjadi tuannya sekarang hanya memberinya hukuman seperti ini, di masa depan ia berniat menggunakan trik seperti ini.
__ADS_1
Sedang yang di kamar, ia tidur dengan tersenyum, ia merasa hidupnya lebih baik dari sebelumnya sejak kehadiran pelayan itu.