Pelayan Hati Tuan Muda

Pelayan Hati Tuan Muda
Bab. 8


__ADS_3

pelan-pelan Diandra mengerjap-kan mata-nya, lalu bangkit dari tidurnya, ia melihat disekelilingnya, ia merasa aneh dengan tempat ini, namun juga tidak asing, mengingat jelas kalau malam itu dia berjalan di bawah gelapnya malam yang sunyi nan sepi, dan sesuatu sedang terjadi padanya, saat bangun


malah berada di ruangan itu. Matanya terus menjangkau setiap sudut ruangan itu, dan ia tahu jelas jika ia tengah berada di sebuah apartemen yang elit, tidak hanya itu saat ini tiba-tiba matanya melotot, ia baru sadar kalau ia telah berada di kamar pria mesum menurut-nya, namun pikirannya tidak salah lagi.


Saat bersamaan sebuah pintu kamar kecil terbuka, terlihat seorang pria tampan sembari tersenyum mengejek padanya karena berhasil ditangkap kembali, namun membuat Diandra geli melihatnya karena ia hanya memakai handuk sepinggang sehingga terlihatlah tubuh bagian atasnya. Dan Diandra melotot saat menyadari jikalau pikirannya benar.


"Kau, apa yang kau lakukan denganku, apa kau penculik,"teriaknya marah.


"Aku hanya mengerjakan pekerjaanku yang sempat tertunda,"ia menyeringai kecil dan melangkah kecil mendekati wanita yang ia bayar dengan uang banyak.


"Hah itu tidak mungkin," gumamnya dan langsung memeriksa tubuhnya, tapi ia melihat jika pakaian yang ia pakai masih utuh. Diandra hendak kabur dan berlari ke arah pintu, ia membuka tapi tidak terbuka sama sekali, ia berulang kali menarik gagan pintu dengan sekuat tenaganya, aura di dalam kamar sangat mendominasi.


"Kau pria sialan, jangan mendekat, lepaskan aku, kau mau apakan aku, apa yang kamu inginkan,"sahutnya saat ia sudah mendekat, sedang Diandra bersandar di belakang pintu.


"Hanya wanita murahan, Cih... siapa kau yang berani mengatakan itu padaku, sekarang kau adalah pelayanku,"ucap Kenan dan keduanya tangannya bersatu di pintu dengan sempurna, sambil memandanginya. Diandra merasa takut dengan tatapan jahat itu, ia malah memalingkan wajahnya, takut jika sesuatu hal terjadi.


"Aku tidak ma-u-um," mulutnya tiba-tiba dibekap, hampir saja Diandra kehilangan nafasnya, pria itu tersadar, tanpa sengaja mencium wanita itu, dan


merasa dan rasa bibir wanita itu manis,


tidak sia-sia aku membeli-mu!


Diandra masih setia mengolah nafasnya dengan baik, ia tidak percaya dengan kejadian barusan, ia masih dalam keadaan bingung dan diam dan juga tidak terimah.

__ADS_1


"Apa kau akan selamanya diam, cepat bereskan kasur yang sudah kau gunakan." tanpa bersuara Diandra dengan cepat membereskan tempat tidur itu. Kenan berjalan menuju lemari dan memilih baju untuk dipakai hari ini.


"Selesai,"sahut Diandra.


"Cepat mandi dan layani aku segera." teriaknya,


ingin sekali Diandra mencekik leher pria itu, tapi jika ia melakukan secara kasar ia tidak bisa kabur, ia harus bersikap manis seperti wanita kebanyakan supaya ia dengan bebas pergi.


"Baik tuan."balasnya dengan cepat masuk ke kamar mandi.


Diandra keluar dari wc dengan pakaian sudah utuh, ia berjalan keluar sembari matanya mencari keberadaan pria yang telah menculiknya. Merasa pria itu telah pergi, Diandra berniat kabur dengan cara sama seperti yang pernah ia lakukan, karena ia berpikir jika kemungkinan pria itu masih ada di bawah. Diandra menuju di mana tempat ia sebelumnya melarikan diri. Saat sampai ia melihat ke bawah, ia takut, "bagaimana caranya aku turun, ini terlalu ketinggian,"gumamnya bingung, padahal waktu itu dengan mudahnya ia melompat meski ada beberapa luka, dia berpikir jika pria itu telah mengubah ketinggian apartemennya. "Dasar pria licik."


"Turun tidak! turun tidak?"Diandra mondar-mandir, sambil berpikir, jika ia turun ia bisa saja bertemu pria itu tapi jika ia tetap berdiam diri ditempatnya, ia bisa juga mati berdiri karena menahan lapar, sudah sejak kemarin ia tidak makan. "Lebih baik turun,"ucapnya melangkah memberanikan diri, dia berpikir mencari cara lain, untuk saat ini ia lebih memikirkan bagaimana cara memberi makanan cacing-cacingnya.


Dengan senangnya mengisi piringnya dengan nasi dan berbagai makanan yang menggugat seleranya. Satu makanan sendok Full sudah masuk ke dalam mulutnya dan menuju ke sendok selanjutnya.


Kenan sedang membungkuk kan dirinya dengan tangan bergerak mencari keberadaan handphone yang jatuh, saat sendok ke dua masuk, sendok itu jatuh dengan sendirinya, dan matanya melotot kaget, ia tidak habis berpikir jika makanan yang tersaji sudah pasti ada tuan yang akan memakannya, mata Kenan jauh lebih melotot, bukan melotot lagi tapi terlihat seperti semburan lava panas, dengan susah payah Diandra menelan makanannya dan kemudian mengambil air dan meminumnya.


Diandra berdiri bukan karena takut tapi bersedia kabur, apalagi ia melihat jika pintu ke luar terbuka lebar. Dengan cepat bergegas pergi takut dapat amukan macan tutul didepannya.


"Selamat,"sahutnya saat berada di luar.


Sedang Kenan memilih sarapan pagi.

__ADS_1


Matanya melirik ke arah pintu di mana wanita itu berjalan mundur masuk dan di depannya ada dua pengawal berjas yang maju, pria itu langsung membanting pintu dengan keras, pantas saja Kenan tidak bergerak karena ia sudah mempersiapkan segala kemungkinan akan terjadi. Kenan tersenyum puas melihat ketakutan wanita itu.


Diandra duduk di sofa, ia sedang berpikir jika ia tidak bisa pergi dari pria yang membuatnya muak, maka ia tidak bisa melanjutkan misinya. Diandra sebelumnya ingin menyelidiki tentang kasus kematian yang menimpa kakaknya, tapi nahas terjebak dengan rencananya sendiri, dia yang menyamar menjadi pelayan di hotel itu, malah di jual oleh kepala hotel, dia tidak bisa menerima nasib yang menimpanya, bagaimanapun caranya ia harus bisa mengungkapkan semuanya, meski hotel itu bukanlah tempat di mana mayat kakaknya di temukan tapi tempat yang dulunya hanya dibangun sebuah klab malam tapi juga cukup terkenal, saat adanya kejadian hari itu, pihak berwajib telah menutup klab itu. Tapi setelah bertahun-tahun lamanya, sebuah bangunan kembali dibangun menjadi sebuah hotel, tapi tetap sama,. tempat hiburan para lelaki. Dan ia curiga jika hotel sekarang ada kaitannya dengan kejadian saat itu. Apalagi ia juga melihat kecelakaan di depan matanya, sebuah kecelakaan dari jalur tempat itu, itu masih


menjadi misteri, ia berniat untuk memecahkan semua kejanggalan itu. Dan ini merupakan misi yang sangat sulit tapi ia sudah bertekad dan tidak akan mundur tanpa membawa hasil, apapun akibatnya akan ia hadapi.


Kenan sudah meninggal kan wanita itu yang sedang melamun, ia melakukan mobilnya menuju


kantor milik peninggalan almarhum orang tuanya.


......................


Di kantor, di dalam ruangannya, Kenan terlihat sangat serius memandangi layar laptop di depannya.


Ceklak!...pintu terbuka masuklah seorang pria dengan berjas dan juga memakai kacamata hitam tebal yang bertengger di hidungnya.


"Bagaimana?"tanya Kenan melihat sahabatnya Daniel sekaligus asisten pribadinya duduk di depannya sembari menyodorkan sebuah amplop.


"Tidak ada informasi yang aku dapat, sangat sulit untuk menerobosnya!"ucap daniel yang diberi tugas khusus oleh tuannya, namun pulang tanpa mendapat apapun, sama seperti sebelumnya.


"Lalu apa ini?"tanyanya memegang amplop.


"Lihat sendiri! kau punya tangan."sungut Daniel.

__ADS_1


"CK!"


__ADS_2