Pelayan Hati Tuan Muda

Pelayan Hati Tuan Muda
Bab 9


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu saat itu Daniel sedang berada di dalam hotel tanpa bersama Kenan, ia hanya bersama para wanita-wanita cantik yang menggodanya, ia mengambil handphone berniat menelpon teman kencangnya yang jauh lebih hot menurutnya, tanpa sengaja tangannya menekan kameranya, dan kamera itu menuju arah sudut ruangan, terlihat seseorang sedang memakai pakaian serba hitam tidak lupa juga topi dan juga menunduk, wajahnya tidak terlihat, ia curiga tidak biasanya ada seseorang dengan bentuk seperti itu, kenapa dengan mudahnya orang itu masuk, begitu pikirnya, tanpa berpikir lama tangannya jail


memotretnya.


Ia bukan tanpa sebab berada di hotel itu, ia sedang dalam misi penting, meski ia sebenarnya juga ingin bersenang-senang, kapan lagi ada waktu luang untuknya, apalagi akan ada banyak wanita yang menemaninya, tapi ia tidak pernah melupakan tugasnya, ia selalu berusaha namun hasilnya tidak ada. Dan sampai Itu, dia awalnya hanya ingin menjadikannya bahan olok-olokan, tapi dengan adanya misi yang ia jalankan bisa saja orang itu ada hubungannya dengan misi yang ia lakukan. Saat ia melihat dengan memperbesar foto di hpnya, ia ingin melihat wajahnya tapi sayang tidak terlihat. Ia berdiri berniat mendekati orang itu, tapi saat ia beranjak orang itu sudah tidak ada, hal itulah yang telah membuat kecurigaannya semakin kuat.


...----------------...


Kenan membuka amplopnya dan mengeluarkan sebuah foto, ia menatapnya intens. "Siapa ini?"tanyanya bingun, Daniel menaikkan kedua pundaknya.


'Hah...kau ini mencari informasi tidak jelas!"


****


Hari sudah semakin sore, Kenan merapikan meja kerjanya dan segera pulang Saat sampai masuk dan melihat wanita itu tertidur di sofa. Ia mendekati nya dan melihat wajahnya terlihat cantik, "apa aku memujinya!"gumamnya tidak percaya masa seorang Kenan memuji seorang wanita penghibur. Diandra terbangun dengan mata melotot melihat wajah pria yang sangat dekat dengan wajahnya, "ah...ah..."teriaknya gelagapan bangun dan menabrak dagu Kenan.


"Auh..."pekiknya memegangi dagunya.


"Apa yang kau lakukan, jangan macam-macam!"bentaknya.


"CK!!!kenapa apa yang salah jika aku melakukan itu, kau hanya wanita malam, aku menginginkan mu!"bisik-nya dengan seringai di bibirnya, Diandra dengan susah payah menelan saliva-nya.


"Apa yang kau katakan, aku ini bukan wanita malam!"ucapnya tajam.


"Kenapa harus selalu berbohong, tinggal mengatakannya saja, sok jual mahal tapi sudah jebol berulangkali!"hina-nya.

__ADS_1


"What? apa yang kau katakan...hah, kau berani sekali mengatakan aku seperti wanita murahan, aku tidak terima!"Diandra bangkit dengan wajah dan tatapan marah hendak melayangkan pukulan nya. Kenan dengan cepat menahannya. Tangan mereka saling berpegangan, dan juga saling melihat dengan marah. Diandra kewalahan kekuatan Kenan cukup tangguh menurut nya, dan wajah nya sudah semakin dekat, Diandra mengambil ancang-ancang dengan menginjak kakinya.


"AW....!"teriaknya sembari memegang kakinya yang sakit. Melihatnya pergi dengan cepat ia menariknya dan membopongnya ke atas kamarnya dengan entengnya.


"Lepaskan! lepaskan!"berontak Diandra dengan memukul punggungnya namun Kenan tidak menghiraukannya.


Kenan melempar wanita itu dengan kasar di atas kasurnya, ia juga naik mendekatinya, dan sudah menindih tubuh kecilnya.


Deg....deg...deg.... Diandra tidak tahu harus bagaimana lagi tubuhnya sudah dihimpit, wajah mereka semakin dekat, ia ingin memukul wajah pria mesum itu menurutnya tapi sayang tangannya ditangkap, Diandra ingin berteriak, dan saat membuka mulutnya, Kenan membekap mulut Diandra dengan mulutnya. Ia menghisap bibir Diandra dengan cara kasar, hingga membuatnya susah bernafas, "hah...hah.."ia baru bisa menghirup udara saat pria diatasnya melepaskan bibirnya. Diandra kembali memberontak tidak terima mendapat kan perlakuan menjijikkan.


Senjata pamungkas pria itu sudah menegang dengan cepat ia melepaskan pakaiannya dan juga melucuti seluruh pakaian Diandra dan melemparnya di sembarang arah, ia hanya pasrah karena seluruh tubuhnya telah dikunci. Kenan menyeringai melihat penampilan polos di bawahnya sungguh menggiurkan. Diandra menangis saat seluruh tubuhnya telah dibelai oleh mulut pria itu, dan tangan pria itu bergerak memainkan gunung kembar itu, ada ras hei dan juga aneh yang ia rasakan. Junior pria itu semakin menegang dan akan segera melakukan aksinya. Dengan cepat ia melakukan penyatuan.


Saat hal itu terjadi Diandra merasa kesakitan saat pertahanan nya berhasil ditembus, ingin rasanya berteriak tapi mulutnya lagi-lagi di bekap.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi yang cerah Diandra sudah terbangun dari tidurnya, ia hendak bangun namun merasa daerah kewanitaannya sakit.


"Pria sialan! kau telah merenggut kesucian ku," ucapnya bangun dengan rambut acak-acakan, sambil menangis saat melihatnya ke luar dari kamar mandi.


Pria itu tidak menghiraukan karena memang benar, di hatinya ia tersenyum puas karena wanita yg sudah membuat tidurnya nyenyak masih tersegel, dan ia terbilang susah tidur, apa yg dilihat tidak sesuai kenyataan pikiran nya karena ia sudah mencobanya sendiri, berdasarkan ucapan Daniel tempo dulu


"Apa yg kamu lihat apa kamu ingin aku melakukan sekali!"bentaknya sambil memakai pakaiannya, namun di dalam hatinya ia tersenyum.


"Tidak...tidak..aku tidak sudi!"sahutnya menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


"Cih....tidak sudi, aku lihat kau juga menikmatinya!"kecamnya.


Memang jelas Diandra juga menikmatinya, tapi meski ia berusaha kabur ia tidak bisa.


"Kau sekarang pelayan rumah di sini dan ingat jangan berani kabur!"bentaknya.


"Kau audah mengambilnya, sekarang Lepaskan aku!"teriak Diandra.


"No...no tidak semuda itu, aku susah payah menemukan mu, tapi semuda itu kau minta lepas itu tidak mungkin."sahutnya dengan menggerakkan tangannya.


"Tapi kau mengatakannya hanya satu malam."


"Ya waktu itu, tapi tidak saat ini, coba saja waktu kau mau menurut saat itu sudah pasti kau bebas!"senyum selidik.


"Kau pria sialan!"teriaknya.


Kenan melangkah ke luar dan, jika saat itu dia menikmati belum tentu juga ia akan melepaskannya, pikirnya. ia merasa karena wanita itu seperti rasa milik pribadi jadi dia tidak akan membiarkan pergi begitu saja sebelum ia bosan dan tidak membutuhkan lagi, kalau perlu sampai ia mati. Ia tersenyum.


"Aku akan menghancurkan kamarmu."teriaknya melihat pria itu sudah di luar.


"Terserah."lagi-lagi ia tersenyum.


Diandra mengamuk dan mengacak-acak kamar itu. Ia hanya bisa mengisi nasib sialnya.


Ia duduk di tepi ranjang meratapi nasibnya dan menyesal andai tak menjadi pelayan mungkin tidak akan seperti ini, tapi semuanya sudah terjadi.

__ADS_1


__ADS_2