
Mobil yang telah membawa Diandra pergi, akhirnya berhenti di sebuah tempat yang sunyi dan sepi namun tidak terlalu gelap, karena banyak lampu penerang. Mereka bertiga telah keluar, saat ke luar bukannya Diandra yang terlihat ketakutan namun ke dua pria itu, karena kedua tangan pria itu telah terikat di belakang, sungguh nasib yang malang, siapa sangka jika Diandra seorang wanita yang ahli dalam jurus belah diri, namun jika bertemu dengan pawangnya, kemungkinan ia akan mengalami kekalahan, seperti kejadian malam itu, untungnya ada pisau yang selalu menemaninya, dan itu bisa menjadi penolongnya.
"Ampuni kami nona, kami tidak akan mengulanginya lagi,"sahut salah satu di antara mereka yang sedang duduk dengan ke dua lutut bertumpu di tanah Padang rumput.
"Iya nona, kami janji,"ucap temannya.
"Semudah itu kalian mengucapkan setelah kalian menculik dan membawa ku ke tempat sepi, karena kalian pasti nya merencanakan sesuatu yang jahat, maka sesuatu itu akan berbalik pada kalian berdua,"sahut Diandra yang sedang mondar-mandir di depan kedua pria itu.
"Aku akan melakukan ini,"sahut diandra mengeluarkan sebuah jarum dari dalam bajunya yang masih memakai pakaian Rumah sakit dan tersenyum ke arah mereka berdua.
"Ha....ha...ha...,siapa yang takut dengan ini,"sahutnya memperlihatkan spuit dengan jarum sudah di luar.
"Jangan nona,"ucap mereka terlihat sangat ketakutan.
"Kenapa? apa kalian takut?"ucap Diandra mendekat ke arah mereka, dan berhasil membuat mereka terjungkal ke belakang, dan satu di antaranya sudah menangis, melihat hal itu Diandra mengernyitkan keningnya.
"CK....dasar pria lemah,"gumam di hatinya.
"Nona tolong lepaskan kami, kami siap melakukan apapun yang nona inginkan,"sahut pria yang tidak menangis.
"Iya, kalau perlu kami siap disunat oleh nona,"ucap diantara nya, mengatakan ucapan omong kosong hanya karena takut dengan suntikan.
Diandra merasa geli dan tidak suka, "Hem, tidak semudah itu, bagaimana kalau,"Diandra tidak melanjutkan perkataannya namun ia memberi kode yang sangat sadis, jari tangannya bergerak seperti gunting dan membuat keduanya menangis kencang.
"Jangan ini aset berharga kami, mau diapakan masa depan kami jika nona melakukan-nya.
"Bukan urusanku, itu urusan kalian sendiri, siapa suruh me lawan ku," sahut Diandra sambil mengelilingi nya dan tersenyum kecut.
"Tolong beri kami kesempatan kedua nona, kami janji tidak akan mengulanginya."
"iya."
"Hem kalian tahu,"ucap diantara menyimpan spuit nya.
__ADS_1
kedua pria itu geleng-geleng tidak tahu. "Aku wanita baik,"sahut Diandra memuji diri sendiri.
"Kalau begitu lepaskan kami,"ucap mereka.san sedikit merasa lega.
"Kami tahu jika nona sangat baik dan cantik,"ucap salah satunya berharap dilepaskannya.
"Diam,"teriak Diandra.
"Sekali aku bertindak tidak ada ampun bagi kalian,"seketika membuat keduanya takut dengan ucapan dan tatapan tajam mengarah padanya, seakan kedua pria itu siap ditelan hidup-hidup.
Melihat tatapan menakutkan dan mata melotot mereka berusaha menekan Saliva nya dengan keras.
"Hah tapi mengingat kejadian masa lalu saat itu, aku melepaskan kalian tapi ingat jangan sampai melakukan hal yang sama lagi,"bentak Diandra namun juga merasa sedikit kasihan tapi siapa suruh melawan dirinya.
"Masa lalu?"sahut mereka bingun dan saling pandang.
"Kalian ingin bertanya atau aku melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda," kedua-nya berlari tergopoh-gopoh.
*****
"Kau ingin tetap disitu?atau aku tunggu!"teriak Kenan karena ia sudah tidak sabar sampai di apartemen nya, agar bisa istirahat.
"Kenan! apa kau tida ingin melihatnya dulu"teriak Daniel dari luar, sedang Kenan bersandar di kursi depan sambil memegangi jidatnya.
"Tidak usah, biarkan saja ayo cepat."
"Apa kau benar tidak ingin melihatnya."Teriaknya sekali lagi.
"Dia wanita itu, wanita yang ingin kau tiduri."
"Hah, benar saja,"ucap Kenan seketika bangun dengan semangat dan tergesa-gesa, dan ia terlihat tidak mabuk lagi dan seketika Kenan sudah berada di dekat Daniel, "coba kau lihat," sahutnya dengan menyingkirkan daniel, Kenan meletakkan di atas pangkuannya dan melihat jelas Wajahnya dan menepuk pipinya dengan halus.
"Hei wanita ****** bangun,"ucap Kenan sambil memperhatikan wajah di bawahnya, karena tidak ada reaksi Kenan berniat segera pulang.
__ADS_1
"Ayo pergi," ucapnya sembari menggendong sendiri, Daniel yang melihat itu mengernyitkan keningnya, tidak percaya, seorang Kenan terlihat begitu peduli dan memasukannya di mobil lalu meletakkan di depan bersama dengannya, di atas pangkuannya.
Mereka bertiga sudah berada di atas mobil, Daniel melirik Kenan, masih dalam keadaan tidak percaya apalagi saat wanita itu dalam pelukannya, "dasar aneh,"gumamnya.
"Lebih baik letakkan dia dibelakang,"sahutnya.
"Tidak akan,"ucap datar kenan.
"Kenapa?"tanyanya penasaran.
"Hah, aku takut jika dia bangun dia akan kabur lagi,"Kenan menghembuskan nafasnya kasar.
Siapa yang tahu apa pemikiran di otak seorang kenan sekarang, sedang Kenan tatapan datar, tadinya merasa pusing, tapi sekarang matanya terbuka lebar. Daniel melaju kan mobilnya.
Sepanjang jalan kenan hanya melihat wajah wanita di pangkuannya, kenapa ada wanita malam dengan penampilan polos dan jelek tapi ia tidak memikirkan bagaimana pun wanita yang telah menyusahkan dan membuat otaknya berputar akhirnya ia temukan kembali, ia berniat mengurungnya di kamar pribadinya sepanjang waktu.
"Tak akan aku biarkan kamu pergi lagi,"batin Kenan.
Mobil telah sampai dan terparkir, Daniel turun dan membuka pintu di bagian Kenan, dan berniat membantunya. "Biar aku bantu,"sembari tangannya mulai maju.
"Tidak usah aku bisa sendiri, ini hanya tubuh kecil,"ucap Kenan dan keluar dari mobil sambil menggendong Diandra seperti anak kecil.
"Enteng sekali,"gumamnya.
Daniel geleng-geleng kepala saat melihat Kenan sudah berada jauh didepannya. Melihatnya pergi Daniel juga pergi mengendarai mobilnya hendak menuju apartemennya sendiri.
Saat sampai dan masuk dengan cepat ia menutup pintunya, tidak membiarkan seorang pun bisa masuk,an Kenan meletakkan Diandra dengan halus di atas kasur kesayangan lalu menyelimutinya dengan pelan, ia juga naik dan tidur di sampingnya sambil berbalik ke arahnya dengan tangan bertumpu di wajahnya.
"Entah kenapa aku merasa kau mengingatkan aku padanya, wajahmu sama persis gadis kecil itu,"sembari mengingat masa lalu, di mana saat itu, saat masih kecil ada seorang gadis yang sangat kecil menawarinya sebuah gula loli dan ia mengambilnya lalu tersenyum berterimah kasih.
"Ah, kenapa aku memikirkan wanita sialan itu, jelas-jelas dia mengkhianati ku,"gumamnya sembari mengingat Dea sebagai teman masa kecilnya.
Pelan-pelan Kenan menutup matanya.
__ADS_1