
Kini Daniel sudah berada di tempat seharusnya, duduk di sofa sambil menyilangkan tangannya, menatap datar seorang wanita kepala 4 dia bu wenni sedang berada di ruang pribadi bersama bodyguard dan juga ada Daniel di depannya.
"Kalian tahu kan siapa Kenan samudra, dia bisa saja menghilangkan pekerjaan kalian semuanya"tegas Daniel dengan mata mengintai, Bu wenni terlihat gemetaran kakinya sulit berpijak pada lantai, ia tahu betul siapa pria di depannya itu, pria yang hampir menghilangkan kepala dan juga lehernya terlebih lagi siapa Kenan, kehidupannya benar-benar terancam. Mereka mengangguk tanda mengiyakan dihadapan dengan situasi yang sangat menegangkan. Awalnya Bu Weni sangat senang melihat kedatangan pria di depannya, ia mengira jika pria itu datang mengambil wanita lagi, namun pemikirannya tak seindah, ditambah lagi wajah pria itu tak bersahabat dan sangat tidak enak dipandang, itu berarti mereka dalam masalah.
"Kami akan melakukannya!" sahut Bu wenni sudah seharusnya patuh, sebab berlian besarnya ada pada kejayaan tempat nya bekerja, dan ini adalah kehidupannya, jika sampai hotelnya di tutup, dia pasti akan menjadi gembel, seperti saat ia belum menjadi madam bos.
Dengan cepat ia mengerjakan tugasnya bersama orang-orang nya seperti apa yang sudah diperintahkan Daniel tadi. Menghilangkan semua bukti agar hotel nya tak di segel, semua orang-orang nya tak segan-segan membantu.
Beberapa saat kemudian setelah bertemu bapak polisi tak menemukan bukti, dan mengatakan jika real foto itu rekayasa dan ada orang yang sengaja ingin menjebak, karena kesuksesannya begitu penuturan dari Bu Wenni. Dan bapak polisi kembali setelah menyelidiki kasus itu apalagi hotel itu juga seperti hotel biasa tak ada yang mencurigakan.
Setelah situasi aman Daniel mengirim pesan pemberitahuan, lalu ia pergi, karena sedari tadi berada di tempat itu, ia juga cukup lelah.
Sore hari tiba Diandra ke luar dari ruangannya dan berjalan menuju sebuah ruangan lain.
Ceklak...!!!! Diandra datang ke ruangan bos-nya, ia mengantar kan berkas yang pria itu berikan tadi pagi ia sudah menyelesaikannya namun saat masuk tak ada siapapun di dalam, ia pergi setelah meletakkan berkas nya.
Saat ke luar ia mendengar suara seseorang, namun ia tak menghiraukannya. "ma!"
"Ma!"suara itu semakin keras, berasal dari dalam ruangan bos-nya.
"Ma! ma!" tangis pria muda yang baru terbangun dari brankar tempat tidur di RS. Dalam keadaan linglung, tak ada siapapun yang menemaninya dia seorang diri, dia baru saja kehilangan orang tuanya.
"Jangan tinggalkan aku ma, aku sama siapa! mama"tangisnya pecah, ia berlari ke luar dari rumah sakit.
Diandra pasrah dipeluk erat oleh pria itu. Tadi dia masuk melihat pria itu duduk dilantai dengan punggung nya di sofa, "Ma!"tangis pria mengingat kala itu,.Diandra mengangkat pelan pria itu naik ke sofa. Pria itu belum juga sadar, Diandra masih setia dalam pelukannya. Ingin rasanya ia ke luar dari situasi ini, rasanya ia hampir tak bernafas di buatnya.
"Tuan kenan!"panggil nya sambil menggoyangkan halus.
__ADS_1
"Ma! mama masih hidup, aku sayang mama!"hampir saja pria itu mencium pipi nya, karena terlalu bahagia nya mengira dia mamanya.
"Akh!"dengan cepat ia mendorong nya ke sofa dan terjerembab, dia berdiri" maaf"ucap Diandra.
Sedang Kenan masih diam mematung memikirkan hal tadi, kesadarannya belum cukup stabil.
"Minum dulu!"menyodorkan air putih. Melihat keadaan pria itu ntah kenapa dia merasa kasihan dia tidak tahu apa yang terjadi di tambah lagi seisi ruangan berantakan,mungkin karena dia merindukan seseorang yang sangat berarti,. karena ia mendengar nya tadi, menjauhi bosnya dan merapikan semua.
Kenan berpikir, jika tadi seperti memeluk ibunya, apa ia memeluk pelayannya,. pikirnya, karena ia juga sempat membuka matanya saat ia bibirnya hampir menyentuh pipi Diandra, masa ia. Mungkin karena kelelahan dan ia cukup pusing makannya ia tak sadar.
Kenan dan Diandra pulang bersama tapi kali ini dikemudikan oleh supir Kenan tidak bisa menyetir hari ini dia tampak lelah sekali, padahal ia tak bekerja berat pikirnya, Kenan menjatuhkan kepalanya di pundak Diandra, melihat hal itu ia sebenarnya risih namun tak tegaan juga. Biarkan hari ini Diandra memakluminya. Diandra menatap kesamping arah jalan, menikmati pemandangan yang ia lihat.
Keruk...keruk...
Diandra kebingungan mencari bunyi cacing kelaparan, mencoba melihat pria di sampingnya, tapi malah tidur. Memegangi perutnya tapi perasaan, bukan dia.
"Berhenti! di depan pak"ujar Kenan dan sesaat kemudian mobil yang mereka tumpangi menepi di sebuah restauran.
"Yang lapar siapa aku atau dia!" batinnya saat menatap pria itu banyak makan.
"Masa bos besar kelaparan, apa ia kekurangan uang" pikirnya melihat pria di depannya makan sangat lahap seperti tidak makan beberapa hari. Memang benar sejak pagi ia belum makan, karena pusing dengan apa yang tengah melandanya. Ia sudah tampak tenang tidak seperti tadi karena Daniel sudah mengatasi semuanya.
"Kenapa?"tanyanya melihat Diandra yang diam-diam melihatnya.
"eh...tidak!"geleng-geleng
"Katakan! Apa ada yang salah dengan ku!"tatapnya datar.
__ADS_1
"Tidak ada kok! Tapi sepertinya tuan sangat lapar!"mengatakan yang benar. Mendengar hal itu Kenan geleng-geleng mengiyakan.
"Seperti baru keluar dari sangkar!" gumamnya kecil, namun masih bisa di dengar olehnya.
"Apa yang baru ke luar?"tanyanya penasaran.
Diandra gelagapan dia tidak tahu harus menjawab apa, bisa-bisa nya ia berkata seperti itu, "Eeh..mm cacing-cacing ku" jawabnya asal sambil tersenyum menutupi kebohongannya.
"Oh!"hanya itu saja yang keluar dari mulutnya, kembali melanjutkan makannya.
"Kamu ingin tetap di sini!"sahut pria setelah menyudahi makan nya. dengan cepat Diandra menghabiskan makanannya, sejak tadi ia hanya sibuk berpikir. Pria itu beranjak ke kasir sebelum pulang.
Beberapa saat kemudian mereka berdua sampai di apartemen milik Kenan. Kenan masuk begitu saja diikuti oleh diandra yang berjalan di belakangnya.
Kini Diandra sudah berada di kamarnya, bersiap diri untuk istirahat sebelum itu ia terlebih dahulu membersihkan dirinya. Setelah membersihkan tubuhnya ia berlatih ke kasur membaringkan tubuhnya, sangat lelah sekali bekerja seharian di tambah lagi, ia sempat merapikan ruangan yang berantakan milik Kenan, dan itu sangat merepotkan, menghela nafasnya kasar sembari memainkan hp-nya.
Ia cukup lama menatap layar milikinya, menghentikan jemarinya, melihat kabar trending tadi pagi menghilang seketika, tadi ia lihat jelas kalau rencananya berhasil namun setelah ia Kembali memeriksanya, tapi malah dikatakan hanya salah paham, dan dikatakan sebuah jebakan yang sengaja.
Diandra terdiam cukup, lama bagaimana mungkin bisa seperti itu, apa vocay tak melakukan tugasnya dengan benar. Dan ia kembali melihat sebuah pesan masuk.
"Dian, gawat, sepertinya kejayaan hotel itu sulit diruntuhkan, ada orang besar yang terlibat"itu pesan dari vocay yang ia baca. Diandra mengepal kuat tangannya, tampak wajahnya merah karena marah, siapa orang yang telah membantu hotel itu, bagaimanpun caranya, jika tak dapat menemukan bukti tentang kasus kematian kakaknya, setidaknya hotel itu hancur berkeping-keping. Dan jika mengalami kehancuran sudah pasti orang-orang yang terlibat di dalamnya tak akan tinggal diam.
Diandra memilih tidur untuk memberi luang pada tubuh dan otaknya, sebab besok ia akan bekerja kembali, tapi ia juga akan tetap berusaha menuntaskan misi awalnya.
Sedang manusia lain di balik kamar, ia tersenyum sambil bersandar di tempat tidurnya, tersenyum-senyum mengingat kejadian tadi sore, ia hampir saja mencium pelayannya, bagaimana bisa ia teledor seperti itu, di tambah lagi ia sengaja tidur di pundak Diandra, pura-pura tidur.
Sekian lama, setelah kejadian tragis itu, dirinya yang menjadi kejam dan dingin kini ia kembali tersenyum hanya karena kebodohannya pada gadis sebagai pelayannya. Memikirkan hal itu dirinya geleng-geleng.
__ADS_1
Diandra sudah tertidur dengan nyenyak di balik selimut yang menutupi tubuhnya.