
..."20 Desember 1995 - Belarus"...
Natal hampir datang tapi perang masih terus berkecamuk suara tembakan, tangisan, jeritan itu membuat ku semakin hancur setelah sebelumnya aku gagal untuk mencintai orang yang ku idolakan. meski begitu aku masih berusaha tegar dan kuat demi tujuan utama yaitu mencari kakak ku.
pukul 13.55 aku mendapatkan tugas untuk berpindah ke wilayah perbatasan Belarus untuk mengawasi pergerakan pasukan musuh yang mulai mendekat, aku tidak sendiri melainkan di temani oleh Elisa si gadis periang di tim kami.
"di sini Sora aku sudah sampai di perbatasan tapi aku belum menemukan tanda tanda musuh mendekat" ucap ku di radio komunikasi
"di sini Rio, pesan di Terima teruskan misi mu" balas Rio dari radio komunikasi
setelah aku menyelesaikan laporan ku aku terus melanjutkan tugas ku sampai tak terasa hari sudah petang dan mata hari mulai terbenam. kami belum menemukan tanda tanda musuh mendekat, dan entah kenapa setiap aku menatap langit yang berubah menjadi Jingga karena matahari terbenam membuat ku menjadi rindu dengan kakak ku, kami yang dulu selalu menikmati matahari terbenam bersama sambil bercanda dan tertawa bersama kini harus menikmati matahari terbenam sambil mendengar kan suara irama dari senapan di medan tempur yang mengerikan ini.
"hey hey Sora aku bosan, ayo kembali" ajak Elisa
"jangan kita tidak boleh meninggal kan pos ini sampai masa operasi kita selesai" bantah ku
"ahhh... ayo lah...aku bosan aku ingin kembali" ajak nya sambil merengek seperti anak kecil
"sudah ku bilang tidak! " bentak ku
"baiklah! kalau begitu aku marah pada mu! " ujar nya sambil marah pada ku
ya terkadang memiliki teman yang berperilaku seperti anak kecil memang sedikit menyebalkan tapi juga terkadang aku merasakan seolah aku menjadi kakak nya. malam pun tiba pukul 19.07 kami memutuskan untuk kembali kerena musuh tidak datang ketika kami berjaga, di jalan Elisa terus menerus mengacuhkan ku ketika aku mengajak nya berbicara, dalam hati aku bertanya "apa aku membentak nya terlalu keras ya" itu membuat ku sedikit merasa bersalah.
"emm.. Elisa apa kau masih marah? " tanya ku
"kelihatan nya?!"bentak nya
"iya iya oke aku minta maaf atas bentakan ku yang tadi"minta ku
__ADS_1
"tidak,aku tidak akan memaafkan mu"balas nya
setelah setengah perjalanan kami menuju cek poin kami mendengar suara meriam yang di tembakan.
" wow suara apa itu?"tanya ku
tembakan itu terus berlanjut, lagi dan lagi tembakan itu terus Menghujani kami semua yang ada di kota ini,aku dan Elisa pun berusaha mencari gedung untuk berlindung.
"sepertinya kita selamat di sini Elisa"ujar ku
"mu...mungkin"balas nya sambil menahan sakit karena luka di bagian kaki nya
"kaki mu, tunggu sebentar aku sepertinya membawa kotak obat darurat" ujar ku untuk menenangkan nya
aku pun berusaha untuk mengobati luka nya setelah beberapa saat tembakan itu berhenti kami pun memutuskan untuk keluar dan segera kembali. di perjalanan aku terus menghawatirkan luka di kaki Elisa dan aku sadar dulu kakak juga seperti ini pada ku ketika aku jatuh dari pohon dan kakak ku mengobati luka ku dengan antiseptik dan plester luka, itu semua membuat ku semakin rindu dengan kakak,setelah sampai di cek poin kami pun beristirahat sejenak untuk besok.
pukul 07.40 pagi kami semua pun sarapan dengan tenang tampa suara tembakan hari itu, tapi tetap saja aku masih menghawatirkan Elisa yang terluka kemarin setelah selesai sarapan aku pergi ke posko pengobatan militer kami. aku berniat untuk minta maaf atas sikap ku kemarin pada nya, jujur aku sebenarnya tidak enak dengan nya karena aku telah membentak nya. sesampainya di posko.
"pagi Elisa bagaimana kondisi mu?"tanya ku
"aku baik baik saja, tenang"ujar nya
"apa kau sudah tidak marah lagi pada ku Elisa?"tanya ku
"tentu tidak, jujur aku sebenarnya ingin meminta maaf pada mu kerena sikap ku yang egois"balas nya
" aku juga minta maaf atas yang kemarin, aku tahu pangkat kita berbeda tapi dalam segi umur kamu lebih tua dari ku kan?"ucap ku
"ya masalah umur tidak usah di pikir, toh aku juga seperti anak kecil kan"ucap nya sambil berekspresi layak anak kecil yang polos
__ADS_1
" ya terserah lah, yang jelas kita damai kan? "tanya ku
"jelas, kita teman tidak baik kita bertengkar terlalu lama"jawab nya
ya meski aku merasa merawat seorang adik tapi aku juga sadar dia lebih tua dari ku meski perilaku nya seperti anak kecil yang manja dia tetap lebih tua dari ku.
" Emmm... Sora boleh kah aku memanggilmu dengan lider? "tanya nya
" tentu kenapa tidak"balas ku
setelah perbincangan singkat tadi kami saling tertawa bersama lagi
..."25 Desember 1995 - Belarus"...
salju Natal pun tiba di Medan tempur yang kejam ini semua merayakan nya dengan penuh bersukacita, mereka bernyanyi, menari, dan melakukan hal hal lain nya semata-mata untuk menghilangkan stress mereka di medan tempur. aku dan teman teman ku pun merayakan hari itu dengan penuh sukacita menghabiskan waktu bersama dengan kapten dan teman-teman ku yang terus mendukung ku dalam kondisi susah mau pun duka aku senang memiliki mereka di sisi ku, andai saja kakak masih bersama ku mungkin ini akan menjadi sangat seru dan menyenangkan. setelah melakukan pesta kecil kami pun bertugas lagi aku kembali ke perbatasan bersama Elisa, di sana kami sedikit bercanda untuk mencairkan suasana
"hey Sora ingin dengar cerita lucu? "tanya nya
"tentu kenapa tidak"balas ku
"ini adalah kisah orang dari timur Tengah, suatu hari dia membawakan makanan untuk sahabat sahabatnya mereka pun makan bersama dan orang ini pun memanggil kan penjualan makan itu dan mengatakan bahwa makan ini belum di bayar dan yang akan membayarnya adalah para sahabat nya" ucap nya
"oh sungguh? dia pasti akan di marahi oleh sahabat nya" ujar ku
"tentu tidak sahabat orang itu adalah orang orang yang baik mereka bersedia membayarkan makanan orang itu" terus nya
setelah mendengar cerita itu aku tertawa, memang cerita itu mungkin terdengar konyol tapi menurut ku itu adalah karangan yang bagus dari nya.
pukul 14.55 langit pun mulai senja dan terdengar suara pesawat yang melintasi, setelah di amati ternyata pesawat itu adalah pesawat penumpang yang menjadi sasaran peluru kendali milik musuh dan pesawat itu terjatuh tepat di dekat pos kami. setelah investigasi di lakukan pesawat itu membawa dokumen penting milik wilayah asia.kami pun terkejut karena dokumen itu tidak lengkap, kami yakin dokumen itu telah jatuh di suatu tempat atau sengaja di sembunyikan oleh pihak asia.
__ADS_1