
..."7 juni 1996 - kota rood,146 kilometer arah timur Stalingrad"...
pukul 18.34 hujan lebat terjadi malam ini ditambah dengan suara ledakan, tembakan, jeritan dan keputusasaan. aku bersama Elisa sedang bersiaga di sebuah rumah, kami menunggu bala bantuan datang dari moskow dan Stalingrad, saat itu aku duduk di sebuah jendela yang terbuka melihat pemandangan yang mungkin sangat mengerikan bagi beberapa orang di cek poin ini lah semua serdadu yang terluka di rawat, saat itu aku melamun sambil berbicara dalam hati "malam ini suasana hujan membuat ku semakin rindu dengan kakak, sampai sekarang aku juga belum menemukan nya, kuharap kita bisa bertemu lagi kak" ucap ku dalam hati
*biipp* suara alat komunikasi yang mendapat sinyal
"ohh..sudah dapat? " tanya ku
"ya tapi sinyal ini tidak stabil" balas Elisa
"kalau begitu, terus lah berusaha! " perintah ku
"baik lider" balas Elisa
aku pun kembali melamun sambil membayangkan betapa bahagianya aku jika kakak tidak pergi waktu itu, sambil menatap langit yang mendung di sertai suara ledakan dan tembakan. tak terasa air mata ku menetes saat itu aku menangis aku sudah muak dengan semua ini tapi aku tidak bisa melupakan tujuan ku
"hiks... hiks kakak jika aku gagal jangan marah ya" gumam ku sambil menangis
"hey! Lihat aku sudah menemukannya.... hemmm? lider kau menangis? " tanya Elisa
"ti.. tidak aku tidak menangis" balas ku sambil berusaha mengusap air mata ku
air mata kesedihan dan depresi ku tidak bisa lagi ku bendung aku menangis di pelukan Elisa yang berusaha menghibur ku, aku pun sesekali bercerita pada nya
"aku sudah tidak sanggup lagi, aku... aku ingin segera kembali" ucap ku sambil tersedu-sedu
"hey jangan begitu aku pun sebenarnya juga tidak ingin ada di sini tapi keadaan dan keputusan ku lah yang membuat ku ada di sini sekarang" ujar Elisa
__ADS_1
"dan jika kamu ada masalah cerita saja pada ku atau teman teman kita, jika kamu memendam itu semua aku yakin pasti kamu tidak akan kuat" tambah nya
ahir nya aku pun menceritakan segalanya mulai dari aku yang putus cinta sampai hal hal yang membuat ku mersa jenuh dan depresi di medan tempur ini.ya ini semua memang membuat ku merasa jauh lebih baik ternyata apa yang di katakan Elisa benar aku harus lebih terbuka kepada semua anggota tim ku.seteleh itu pun kami turun untuk pergi ke pos sesampainya di sana kami melihat banyak sekali yang terluka kami pun bertemu dengan Sovia
"hey Sovia bagaimana apa sudah ada kabar? " tanya Elisa
"sejauh ini masih belum, kemungkinan kita akan kalah di kota ini jadi aku sudah memerintahkan semua serdadu yang ada di sini untuk mundur meninggalkan kota" jawab Sovia
"baik lah kalau begitu" ujar Erika
setelah perbincangan singkat itu aku memutuskan untuk kembali ke gedung tadi untuk mengamati kondisi sekitar saat aku mengarahkan teropong ku ke sudut sudut bangunan aku melihat sesuatu yang mencurigakan.
"ohhh.... Tuhan lindungi aku" ucap ku
dan *boom* sebuah tembakan meriam tank melesat ke arah ku, beruntung ledakan itu mengenai tembok dan membuat ku terpental tapi sayang kaki kanan dan tangan kanan ku terkena serpihan kayu.
"aghhh... sialll!, sial kau! " teriak ku sambil menahan sakit
pukul 04.10 aku terbangun aku sempat bertanya dalam hati "aku sudah mati? " setelah itu aku berusaha untuk berdiri dan melihat kondisi di luar dari balik jendela, aku melihat situasi di kota ini sudah sangat sepi aku pun berjalan keluar sambil tertatih tatih aku berjalan meninggalkan kota ini di tengah-tengah perjalanan aku menemukan radio komunitas aku pun berusaha untuk mendengarkan rekaman radio itu.
"hemm beruntung sekali aku" ujar ku
aku pun memutarnya rekaman itu, setelah aku dengar kan pihak musuh ternyata juga meninggalkan tempat ini dan di sisi lain semua serdadu kami telah gugur. setelah itu aku terus berjalan hingga pukul 06.15 pagi aku telah mencapai ujung kota ini.aku terus berjalan melewati jalan setapak di dekat sebuah sungai, aku merasa lemas dan lelah sampai pada akhirnya aku terjatuh dan pingsan. setelah aku membuka mata ku aku terkejut karena aku sudah berada di sebuah rumah dan ada anak perempuan kecil di samping ku
"ohh kakak sudah siuman? " tanya nya
"i.. ini di mana? " tanya ku
__ADS_1
"ohh ini pondok bermain ku, ya sekaligus rumah ke 2 ku" jawab anak kecil itu
"a... aku harus pergi... arghh" ucap ku sambil menahan sakit
"kakak jangan bergerak dulu tangan dan kaki kakak belum sembuh" himbau anak itu
aku pun kembali berbaring lagi
"kakak pasti lapar kan aku akan buat kan makanan untuk kakak" ucap anak kecil itu
"ti.... tidak tidak usah repot, aku bisa memasak sendiri" cegah ku
"tidak ini adalah masakan yang ku buat tadi pagi" ucap nya sambil membawa semangkok sup hangat untuk ku
"ohh begitu tapi kenapa kamu sendiri di mana orang tua mu sampai kau harus memasak sendiri? " tanya ku
"ohh itu orang tua ku sudah lama meninggal kira kira saat aku berusia 5 tahun" jelas nya
sambil mendengarkan cerita anak itu aku pun mulai menyantap sup itu dan ini adalah sup yang enak menurut ku aku heran kenapa anak ini bisa memasak seenak ini padahal kalau aku memasak sendiri pasti hambar kalau tidak pasti terlalu asin. setelah itu aku di minta untuk beristirahat sejenak di sini. malam pun tiba aku sedang berbincang santai dengan nya bercanda dan sesekali menceritakan hal hal seram ya memang suasana itu sangat hangat dan sangat damai.
"hey ngomong ngomong siapa nama mu? " tanya ku
"kakak tidak perlu tau itu tapi kalau kakak ingin mengetahui nya kakak harus bangun" ucap nya
seketika aku mendengar suara yang memanggilku suara itu semakin keras dan keras akhirnya aku pun terbangun
"hey lider kau tak apa apa? " tanya Elisa
__ADS_1
"beruntung kau hanya mengalami luka ringan" tambah Sovia
ahir nya aku di tandu untuk mundur dari medan tempur,kami gagal mempertahankan kota ini, di tengah tengah perjalanan aku melihat rumah kecil yang terbengkalai aku pun penasaran dan masuk ke dalam nya, betapa terkejut nya aku ternyata ini adalah rumah yang ada dalam mimpi ku aku melihat sebuah foto dan salah satu anak di foto itu sama persis dengan anak di mimpi dan di balik foto itu terungkap ternyata anak itu bernama Lili Marlene.