Pembalasan Putri Mahkota Beatrice

Pembalasan Putri Mahkota Beatrice
Pertemuan


__ADS_3

"Siapa kau?"


Dia bertanya dengan datar, Menatap sosok hewan mungil yang ada dihadapannya.


Jika kalian bertanya mengapa Angelina yakin jika sumber suara itu berasal dari seekor kucing dihadapannya maka jawabannya adalah hewan yang memiliki kemampuan berbicara tidak asing lagi baginya, di dunia mereka bukan hal yang lumrah.


"Tentu saja aku adalah penjaga dari kalung ruang milik ibumu"


Kucing tersebut menjawab dengan santai.


Angelina terdiam beberapa waktu, Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Ternyata kau mampu mengeluarkan racun racun yang ada pada tubuhmu, Aku cukup penasaran bagaimana permaisuri bella mempersiapkan dirimu sebelum kematiannya"


Ucap kucing tersebut kembali ketika menyadari racun yang ada ditubuh Angelina telah hilang, Membuat gadis itu mengalihkan perhatiannya menatap kucing tersebut dengan dalam.


"Persiapannya benar benar matang"


Gumam kucing tersebut kembali.


"Apakah ibuku memberi pesan?"


Angelina bertanya kemudian membalikkan badannya, Menatap sekelilingnya dengan teliti, Tangannya memeriksa setiap botol botol yang berjejer rapi disebuah rak yang ada disana, Dan ketika dirinya menghirupnya dia bisa menebak jika itu adalah sebuah racun.


"Jadilah Maharani yang disegani oleh semua orang, Baik itu oleh rakyat atau musuhmu sekalipun, Buat dunia berada di genggamanmu"


Mendengar itu membuat Angelina menghentikan gerakan tangannya. Lantas dalam beberapa waktu dia berbalik kemudian menatap kembali sosok kucing tersebut.


"Apakah dia begitu menginginkannya?"


Dia bertanya dengan datar.


"Hahaha tentu saja, Kau jangan terlalu polos, Di dunia ini jika kau tidak memiliki kekuatan ataupun kekuasaan semua orang tidak akan memandang mu, Hanya dengan itu kau bisa bertahan didunia ini"


Kucing itu menjawab dengan sedikit terkekeh, Namun setiap perkataan yang keluar dari mulutnya begitu serius.


Di dunia ini begitu kejam, Bahkan nyawa seseorang bisa saja tidak dianggap berharga.


Angelina terdiam, Apa yang dikatakan kucing itu benar adanya dan untuk membuatnya bertahan yaitu membuat posisinya semakin kuat, Namun itu tidaklah mudah seperti membalikkan telapak tangan, Dia tau betul dia memiliki musuh bebuyutan yakni Selir Norah dan Pamela yang begitu ingin menyingkirkannya, Tak hanya itu Angelina perlu khawatir terhadap sekelilingnya bukankah terkadang musuh dalam selimut lebih berbahaya dari musuh yang sudah terang terangan menunjukkan sikap tidak sukanya.


Namun keinginan ibunya dia anggap mutlak untuk dia penuhi, Bagaimanapun rintangannya dia tidak akan peduli selain keinginan ibunya terpenuhi


"Tenang saja, Aku akan membantumu"


Kucing tersebut kembali berbicara seolah memahami kekhawatiran gadis dihadapannya.


"Ibumu memiliki beberapa ramuan yang pernah dia buat untuk membantumu mempercepat tingkat kultivasi, Kau bisa membawa dan meminumnya".

__ADS_1


Lanjut kucing tersebut ketika menyadari tingkat pencapaian Angelina masihlah sangat rendah


"Kembalilah, Sepertinya ada seseorang yang mendekat ke kamarmu, Kita bisa berkomunikasi dengan batin, Tanyakan apapun yang ingin kau tanyakan nantinya"


Angelina mengangguk mengerti, dan sebelum memejamkan matanya dia tampak meraih beberapa botol seperti yang dikatakan oleh kucing tersebut.


"Alger itu adalah namaku"


Itu adalah kalimat terakhir yang didengar Angelina sebelum kembali kedalam raganya.


Hingga selang beberapa saat, Tubuh gadis itu terlihat bergerak pelan dan bulu mata lentik itu terlihat menari nari sebelum bola mata indah tersebut terlihat. Semenjak kejadian itu entah mengapa netra milik Angelina belum kembali seperti sebelumnya, Masih bewarna biru laut yang terlihat begitu menenangkan namun terasa begitu dingin ketika dipandang lebih dalam.


"Tok tok tok"


Suara ketukan terdengar.


Dan secara perlahan Angelina bangkit dari posisinya. Melangkahkan kakinya bergerak kearah pintu dan membukanya.


Dilihatnya lusi yang ada didepan sana, Yang perlahan membungkukkan badannya ketika menyadari keberadaan Angelina.


"Maafkan hamba jika mengganggu ketenangan anda putri"


Lusi berkata dengan sopan, Menunduk tanpa berani menatap netra angelina yang terasa begitu mematikan.


"Ada apa?"


"Kaisar Alison meminta anda untuk hadir dalam rapat istana sekarang"


Mendengar itu membuat Angelina mengangkat ujung alisnya.


Rapat? Terlalu dadakan baginya namun dia yakin ini akan membahas hal yang begitu penting, Hingga gadis itu menyutujuinya untuk datang.


Angelina berjalan menuju aula rapat istana, dimana Lusi yang senantiasa mengikutinya dari arah belakang.


Hingga mata Angelina terlihat menangkap sosok gadis yang tampak tertatih untuk masuk ke aula dengan bantu oleh beberapa pelayan, Dia adalah Pamela, Dan tak berselang lama Selir Norah turut masuk kedalam ruangan tersebut.


Melihat itu membuat Angelina semakin penasaran dengan apa yang terjadi, Dimana Pamela yang seharusnya istirahat turut hadir dalam rapat kali ini.


Dan ketika Angelina telah tiba di pintu aula seorang Kasim mengumumkan kedatangannya.


Dan langkah pertamanya, Kini dia bisa melihat dimana seluruh ruangan tersebut telah diisi oleh orang orang penting dalam istana, Bahkan mentri mentri turut hadir dalam rapat tersebut.


Angelina langsung duduk dikursi miliknya, Tanpa berniat memberi salam pada kaisar Alison yang telah duduk dikursi kebesarannya didepan sana.


Beberapa menteri tampak mencibir sikap Angelina yang dianggap tidak sopan dimana seharusnya sebagai seorang putri mahkota harus menjaga tata kramanya.


Namun ketika tatapan Angelina tertuju pada mereka, langsung saja membuat para menteri tersebut terdiam.

__ADS_1


Angelina menatap mereka acuh, Dia sadar betul ada banyak mata yang menatap dirinya dengan tatapan tidak suka, Dan tanpa terkecuali tatapan dari selir Norah dan putrinya.


Rasanya Pamela ingin menghancurkan Angelina ketika mengingat jika rasa sakit yang diterimanya karna gadis itu. Namun dia sadar kali ini dirinya tidak bisa bersikap ceroboh mengingat saat ini Angelina tidaklah sebodoh dulu, Dan dirinya harus mempersiapkan rencana yang begitu rapi untuk menyingkirkannya.


Dan beberapa saat yang berlalu kini Kaisar Alison mulai mengatakan sesuai alasan dirinya membuat pertemuan dadakan ini.


"Kaisar ini mendapat pesan dari kekaisaran Barney, yang meminta untuk kita datang di pertemuan yang akan diadakan dikekaisaran Barney yang akan membahas tentang banjir yang kerap terjadi di wilayah perbatasan"


Kaisar Alison berkata dengan lantang, Dia menyampaikan sesuai dengan surat yang dikirim oleh kekaisaran Barney padanya.


"Namun karna kaisar ini dalam kondisi yang tidak sehat, Maka kaisar ini meminta pendapat pada kalian agar memberi saran siapa yang pantas untuk mewakili Kekaisaran Beatrice untuk hadir dalam rapat tersebut"


Lanjut kaisar Alison.


Tampak semua orang berbisik bisik ketika mendengar perkataan kaisar Alison. Namun dari bisikan yang terdengar bisa disimpulkan jika Pamela yang lebih pantas mewakili pertemuan tersebut, Karna bagaimanapun itu adalah pertemuan penting yang diadakan oleh kekaisaran terkuat dibenua ini.


Angelina hanya diam dalam posisinya, namun tidak dengan Alger, Kucing tersebut terdengar mendecih tidak senang.


"Apakah mereka benar benar bodoh? Jelas saja jika seorang kaisar tidak mampu menghadiri pertemuan maka yang berhak datang adalah pewarisnya, sedangkan gadis jelek itu hanya seorang putri selir"


Sarkas Alger dengan tidak senang, Rasanya dia ingin mencakar wajah setiap orang yang ada disana.


"Maaf yang mulia kaisar, tanpa mengurangi rasa hormat kami, Sepertinya putri Pamela yang lebih pantas untuk menghadiri rapat tersebut"


Salah satu mentri mulai menyuarakan pendapatnya.


Mendengar itu membuat Pamela tersenyum senang, Tentu saja di menganggap tidak ada yang lebih pantas dari pada dirinya untuk hadir dalam pertemuan penting tersebut.


Namun suasana aula terara hening ketika sosok gadis dengan netra biru itu membuka mulutnya.


"Apakah putri selir begitu terhormat dimata para mentri dibandingkan dengan seorang putri dari seorang permaisuri?"


Angelina berkata dengan datar.


"Sepertinya kau harus menjelaskan peraturan terbaru itu padaku mentri Aston, Karna aku rasa peraturan istana telah berubah ketika mendengar usulanmu"


Lanjut Angelina yang kemudian menatap mentri Aston dengan dingin.


Perkataannya seolah menjelaskan jika mentri Aston telah mengubah peraturan istana yang telah berlaku sejak dahulu.


Semua orang mendengar itu tampak terdiam, Karna mereka tau betul jika Putri dari seorang permaisuri lebih berhak dan sangat pantas dibandikan putri selir yang tidak berharga.


Angelina setelah membangkitkan elemen es miliknya dengan netra bewarna biru



Angelina sebelum membangkitkan elemen es miliknya

__ADS_1



__ADS_2