
Revisi aku ngak ke update guys huhu
Dan karna ngak ke update aku untuk lanjutannya aku up di sini aja, jadi di gabung yah huhu, ribet juga yeee
"Kau jelas tau apa jawabannya, lalu untuk apa aku menjawabnya"
Angelina menjawab dengan malas.
Wahh bisa bayangkan bagaimana ekspresi Chole saat ini. Wajahnya terlihat memerah dengan kekesalan beserta kemarahannya telah mencapai batasnya.
Sedangkan dari kejauhan, Ella yang melihat teman barunya diganggu oleh Chole segera menghampirinya dengan rasa cemas dihatinya.
"Heii apa kau tidak tau siapa dia? Dia adalah putri dari klan besar Delci"
Salah satu teman yang datang bersama Chole tadi berusaha memperingatinya.
"Lalu ada apa dengan itu?"
Angelina bertanya dengan acuh, kini dia bisa menebak jika gadis dihadapannya ini hanyalah gadis yang terbiasa bersembunyi di ketiak orang tuanya.
"Kau benar benar"
Chole melototkan matanya kesal.
"Jika kalian datang hanya untuk memperkenalkan diri sebaiknya kalian pergi, aku tidak tertarik"
Angelina memotong perkataan gadis dihadapannya, dia cukup muak dengan hal ini dia ingin mengisi perutnya yang telah berbunyi minta di isi sejak tadi, dan melihat Ella yang kini mendekat membuatnya tidak ingin berbasa basi.
Semua orang menjatuhkan rahang mereka mendengar bagaimana Angelina mengusir putri Chole. Mereka fikir kini habislah murid baru itu ditangan putri Chole.
"Ahh rupanya sang pembuat onar datang kemari"
Itu adalah suara Ella yang tampak menatap putri Chole dan rombongannya dengan sinis. Dia cukup tidak suka melihat rombongan gadis gadis itu yang terlihat begitu memuakkan.
"Kau"
Putri Chole melototkan matanya kesal ketika melihat kedatangan Ella, dia membenci gadis itu bahkan hanya gadis itu yang secara terang terangan menunjukkan sikap tidak suka pada dirinya.
"ohh jadi kau temannya kalian benar benar cocok"
Putri Chole hendak mengejek namun didetik berikutnya semua orang terkejut menyaksikan apa yang terjadi.
"Terlalu lama"
Angelina berkata dengan dingin.
Wushhhh
Brakkk
Angelina melempar tubuh Chole dengan kekuatan roh miliknya, kejadiannya begitu cepat sehingga membuat semua orang yang ada disana tidak dapat melihat pergerakan Angelina.
Tubuh putri Chole terhempas kemudian menabrak dinding yang ada disana. Cukup keras hingga terlihat sebuah retakan di dinding tersebut.
Putri Chole menggenggam dadanya yang terasa sesak.
Uhukkk
__ADS_1
Gadis itu memuntahkan seteguk darah. Dia menatap Angelina dengan tatapan penuh amarah, Dia benar benar tidak menyangka jika gadis itu berani menyerangnya bahkan dia tidak bisa melihat gerakan gadis tersebut.
Angelina menatap gadis itu dengan dingin, dia melangkah mendekati Chole yang kini tergeletak di ujung sana, gadis itu mengacuhkan tatapan semua orang saat ini.
Tidak ada raut wajah takut dari putri Chole ketika Angelina mendekat, dia semakin memendam kemarahan besar pada gadis itu.
"Ka kau akan mendapat kemarahan besar dari klan Delci"
Ucap Chole dengan terbata.
Angelina yang mendengar itu tampak terkekeh dingin, dia berjongkok di hadapan gadis itu.
"Benarkan? Aku tidak begitu yakin, namun mari kita lihat apakah klan yang kau bangga banggakan itu akan datang menyerangku atau bahkan meminta pertolongan padaku"
Timpal gadis itu dengan senyum misterius di bibirnya.
Semua orang tampak mematung beberapa.saat, setelah itu barulah kedua teman Chole membopong tubuh teman mereka untuk pergi dari sana.
"Kau akan menerima kemarahan dari Klan Delci"
Salah teman Chole berusaha memperingati Angelina dengan marah yang kemudian segera pergi dari sana.
Angelina memandang mereka dengan datar, lantas setelah selesai gadis itu berbalik dan menghampiri Ella yang masih terdiam dibelakang sana.
"Wahhh kau lihat itu, serangan putri Angelina begitu cepat bahkan sangat sulit di deteksi"
"kau benar, sepertinya putri Angelina kini bisa berkultivasi"
"Tapi jika itu benar, kenapa tidak ada yang mampu melihat tingkat kultivasinya"
"Mungkin saja dia menyembunyikannya"
"apapun itu, namun saat ini putri Angelina akan menanggung kemarahan dari klan besar Delci, bukankah klan itu terkenal dengan kebengisannya"
"Itu punyaku?"
Angelina bertanya pada gadis tersebut hingga membuatnya tersentak kaget.
"Ahh iya"
Ella menjawab dengan gelagapan dia berusaha menarik kesadarannya. Diam diam dia menatap Angelina yang kini telah duduk lebih dulu, sungguh dirinya tidak menyangka jika gadis itu berani menyerang Chole secara terang terangan itu benar benar diluar perkiraannya dia fikir Angelina itu mudah di tindas tapi yang terjadi benar benar jauh berbeda.
Gadis itu kemudian duduk disamping Angelina
"Kau tidak takut jika klan Delci akan datang mencarimu?"
Tanya Ella kemudian, dia menatap Angelina yang saat ini tengah memasukkan makanan ke mulutnya dengan santai gadis itu seolah bersikap seperti tidak terjadi apapun saat ini.
"Tidak ada yang perlu aku takuti, Jika dia mencariku bukankah tinggal menemuinya saja?"
Angelina berkata dengan acuh
Namun tidak dengan Ella, dia fikir gadis itu kenapa begitu santai mengatakannya. Tinggal menemuinya? Oh yang benar saja Klan Delci mencarinya bukan untuk mengajaknya minum teh melainkan untuk memberinya pelajaran karna telah menyerang putri kesayangan mereka. Ella menggelengkan kepalanya pelan dia benar kehabisan kata katanya untuk sekarang ini, dia memilih untuk menyantap makanannya.
"Aku cukup tidak menyangka jika kau bisa melakukan hal selicik ini"
Itu adalah suara Alger dari ruang dimensi, dia terdengar memuji gadis itu dalam menghadapi masalah.
"Itu bukan licik, tapi sebuah kepintaran"
__ADS_1
Angelina menjawab dengan santai.
Alger mendelik tidak senang mendengar jawaban dari Angelina, dia rasa mulut gadis itu semakin pedas saja setiap harinya.
Sedangkan disisi yang berbeda yang ada diruangan tersebut, tampak sepasang mata meneliti setiap kegiatan Angelina.
"Huhh aku tidak menyangka jika dia juga akan masuk ke akademi yang sama denganku"
Letizia tampak mengguman kecil, Dia juga murid di akademi ini namun mereka beda angkatan atau bisa di katakan dia senior yang sebentar lagi akan selesai dari akademi Ignatius.
"Kau mengenalnya?"
Gadis yang berada disamping di letizia bertanya dengan cepat, Dia tidak sengaja mendengar gumaman gadis itu.
"Sebatas tau nama dan wajahnya saja, kita tidak saling mengenal"
Letizia menjawab dengan senyum tipis dibibirnya.
"Ohh aku fikir kau mengenalnya, tapi sepertinya saat ini kau memiliki saingan putri Letizia, bahkan kecantikannya hampir setara denganmu"
Flow berbicara dengan terkekeh pelan, dia bermaksud bercanda namun meski begitu yang dikatakannya hampir semua kebenaran. Karna pada faktanya temannya itu, Letizia begitu terkenal sebagai bunga kecantikan di akademi Ignatius, tapi sepertinya gadis itu memiliki saingan baru karna dari sudut pandanganya Angelina lebih cantik dari temannya tersebut, meskipun Letizia juga cantik namun mereka dalam kategori yang berbeda dan murid baru itu jelas berada di atas temannya.
Letizia hanya diam sembari memakan makanannya, ada rasa tidak suka yang menjalar dihatinya ketika mendengar perkataan flow.
Apakah gadis itu benar benar hadir untuk menjadi saingannya, Dalam hal cinta, Dan sekarang di akademi pun sama.
Disudut lainnya lagi.
Tampak seseorang pria menatap Angelina, Pria itu menarik senyum tipis melihat setiap yang dilakukan Angelina tadi, Netra bewarna hansel pria itu seolah tidak bisa terlepas dari sosok gadis yang saat ini mengenakan hanfu putih di ujung sana
"Heii jangan bilang kau akan menjadikan dia sebagai targetmu selanjutnya, Pangeran Addy"
Tampak pria disampingnya menepuk bahu yang di sebut addy itu dengan pelan.
Addy tampak terkekeh pelan.
"Kau selalu bisa menebaknya dengan baik pangeran Lewis"
Lewis hanya tersenyum tipis, dia sudah tidak heran lagi karna setiap gadis atau murid baru yang memiliki kecantikan akan didekati oleh temannya itu.
"Tapi sepertinya kau akan kesulitan kali ini, Aku merasa dia tidak seperti gadis pada umumnya"
Lewis berkata dengan pandangan yang tertuju pada Angelina, Dia akui gadis itu begitu cantik bahkan bisa dikatakan sebagai kecantikan yang dapat meruntuhkan kota. Tapi dia merasa jika gadis itu tidak semudah itu didekati bahkan gadis itu terlihat memasang jarak dari setiap orang.
"Benarkah? Lalu jika begitu bagaimana jika kita taruhan"
Addy berkata dengan cepat entah mengapa dia merasa tertantang mendengar perkataan temannya.
"Taruhan?"
Lewis mengangkat ujung alisnya.
"Seribu batu roh"
Addy berkata dengan cepat, dia kemudian melihat reaksi Lewis yang tampak membulatkan matanya terkejut.
"Apa kau yakin?"
Addy menganggukkan kepalanya, lagi pula dia yakin dengan pesonanya, dia fikir siapa gadis yang pernah menolaknya? Tidak ada, bahkan terkadang para gadis yang begitu terang terangan mendekatinya.
__ADS_1
"Baik kita taruhan"
Lewis menyetujui taruhan tersebut, lagu pula dia tidak pernah ragu dengan pemikirannya dan dia yakin jika yang terjadi akan sesuai dengan prediksinya.