
Angelina
Setelah kereta milik kekaisaran Barney menurunkannya tepat di ujung hutan desdemona, kini gadis itu secara perlahan mulai melangkahkan kakinya untuk berjalan masuk dihutan tersebut. Mengacuhkan tatapan kusir yang menatapnya penuh keheranan
"Apakah putri itu tidak tau jika hutan desdemona begitu berbahaya"
Kusir tersebut bergumam pelan, Namun dia tidak langsung mengatakannya karna tidak ingin dikira ikut campur, Hingga dia memilih untuk kembali menjalankan keretanya pergi dari sana
Sedangkan Angelina dengan tanpa rasa takut berjalan masuk kedalam hutan tersebut.
"Kau tidak membawa senjata apapun?"
Tiba tiba Alger bertanya pada gadis itu.
"Aku kira kau telah mati di kalung ruang"
Angelina berkata dengan datar tanpa menjawab pertanyaan dari kucing tersebut.
"Apakah kau merindukanku?"
Alger bergurau dengan gadis itu
"Terlalu besar kepala"
timpal angelina kembali dengan dingin.
"Aku pikir kau telah mati di dalam sana"
"Kau mengharapnya nona?"
Alger bertanya dengan kesal
"Jika itu bisa"
Jawab Angelina kembali yang membuat Alger semakin kesal dibuatnya.
Angelina terus membawa langkahnya menuju ke gowa dimana dia menyimpan kuda miliknya. Setelah sampai di gua tersebut Angelina lantas kembali menunggangi kuda miliknya untuk segera pergi dari sana sebelum matahari tenggelam.
"Kau belum menjawab pertanyaanku"
Alger bertanya dengan sedikit kesal
"Yang mana?"
Timpal Angelina yang saat ini tengah menunggangi kuda miliknya.
"Kau tidak membawa senjata apapun? Seharusnya kau bisa meminta senjata pada kaisar Hedley, sepertinya dia tertarik untuk menjodohkan mu dengan pangeran Jesse"
Ucap Alger dengan panjang lebar. Dia jelas mendengar dan mengamati setiap saat yang terjadi di istana, dan dia bisa menebak jika pasangan suami istri itu berniat menjohkan putranya dengan nonanya
"Terkadang untuk mengalahkan seseorang kau hanya perlu mengandalkan otakmu, Senjata bisa kau dapatkan dimanapun jika kau ingin"
Jawab gadis itu dengan datar, Ia jelas tau akan terjadi pertarungan sebentar lagi namun dia tidak terlalu berfikir jika senjata itu penting, saat ini dirinya berada di hutan tentu ada banyak cara yang bisa dia gunakan nantinya.
__ADS_1
Dan untuk kaisar Hedley dia tidak begitu tertarik, Perjodohan tidak pernah ada dalam kamusnya dia tidak memikirkan apapun selain keinginan ibunya saat ini.
Alger tidak lagi menimpali perkataan gadis itu, sepertinya gadis itu tengah serius saat ini.
Dan selang beberapa saat kini Angelina telah keluar dari hutan desdemona. Angelina memelankan laju kuda miliknya dan memfokuskan pendengarannya, gadis itu tampak tersenyum tipis.
Sedangkan ditempat yang berbeda, Beberapa pria dengan memakai pakaian bewarna hitam dengan penutup wajah yang bewarna senada tampak tengah berpencar di setiap sisi yang ada dijalan untuk menunggu mangsanya.
Dan ketika pemimpin mereka mendengar suara tapakan kuda dia memberi isyarat pada anggota kelompoknya untuk diam.
Namun didetik kemudian terlihat pemimpin dari mereka mengumpat keras
"Sial apa apaan ini"
Burke yang merupakan pemimpin dari kelompok itu mengumpat dengan penuh kemarahan ketika matanya hanya melihat sosok kuda yang perlahan melaju dihadapan mereka tanpa penunggang yang mana menjadi target mereka saat ini.
"Sepertinya dia tau keberadaan kita"
Salah satu anggotanya menyahut ketika merasakan sesuatu yang salah.
"Bergerak dengan hati hati, Sepertinya gadis ini cukup berbahaya"
Perintah Burke yang merasakan firasat yang cukup aneh yang seolah memintanya untuk waspada
Sedangkan disisi lainnya.
Angelina tampak bergerak dengan lihai, Dengan matahari yang perlahan mulai turun dari tempatnya membuatnya mudah untuk bergerak saat ini.
"Kau hanya mengandalkan tusuk konde itu? Kau benar benar tidak memiliki senjata yang lain?"
Alger tampak syok di seberang sana, tidak menyangka jika Angelina benar benar tidak mempunyai senjata apapun, Dia fikir gadis itu hanya bercanda tadi.
Sedangkan Angelina tampak tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Alger, kini gadis itu bergerak dengan hati hati menuju tempat kelompok tersebut.
Dan seperti tebakannya para anggota kelompok pembunuh bayaran itu berpencar, dan itu tentu saja itu menjadi sebuah keuntungan untuk Angelina sendiri.
Angelina dengan gerakan yang cepat mendekati salah satu pria berpakaian hitam tersebut, dia menariknya lantas menusuk leher pria tersebut sebelum bereaksi apapun
Crasss
Tusuk konde miliknya tepat munusuk di leher pria tersebut
Tampak darah segar dari orang tersebut mengenai wajah putih milik Angelina yang terlihat begitu kontraks dengan kulit putihnya.
Ketika telah memastikan jika pria tersebut benar benar telah mati, kini gadis itu bergerak kembali menghabisi satu persatu anggota tersebut dengan begitu hati hati. Hingga selang beberapa saat Angelina berhasil melumpuhkan lebih dari sebagian anggota tersebut, menyisahkan hanya tiga orang saja.
Burke, Pria itu mengamati sekitarnya ketika merasa ada sesuatu yang salah. Tidak ada tanda tanda pergerakan tanda tanda dari anggotanya yang lain.
"Tunggu dulu, sepertinya ada sesuatu yang salah"
Wajah pria itu tampak menegang beberapa waktu.
"Art, segera periksa keberadaan yang lain"
__ADS_1
Perintah pria itu dengan cepat ketika dirinya tidak merasakan tanda tanda keberadaan dari para anggotanya
"Baik tuan"
Lantas pria yang disebut Art tersebut segera bergegas dari sana.
Kini hanya Burke dan Cody yang tersisa. Mereka berdiam ditempat sambil menunggu kedatangan Art, namun beberapa waktu berlalu Art tak kunjung kembali, Hingga membuat Burke semakin cemas dibuatnya.
Hingga kedua orang tersebut tampak bernafas lega ketika merasa ada seseorang yang bergerak mendekati mereka yang mereka yakini itu adalah Art.
Bughhh
Namun sayang seribu sayang, kedua pria itu membulatkan mata mereka ketika menyadari sebuah kepala kini terlempar tepat dihadapan mereka, Dan kepala tersebut milik Art, anggotanya.
"Ini"
Burke kehilangan kata katanya beberapa waktu.
"Sepertinya kali ini kalian salah memilih target"
Burke sedikit terkejut mendengarnya, Pria itu dengan cepat mengangkat pandangannya dan kini dilihatnya sosok gadis dengan pakaian hanfu bewarna biru namun kini telah bercampur dengan warna merah dari darah segar yang Burke yakini itu adalah darah milik anggotanya. Memikirkan hal tersebut membuat Burke mengepalkan tangannya.
"Kau apa yang kau lakukan kepada mereka?"
Burke berteriak dengan penuh kemarahan.
"Tentu saja membunuhnya"
Angelina berkata dengan datar, menatap dingin kepada kedua pria yang kini ada dihadapannya.
"Kau benar benar memiliki keberanian yang cukup tinggi"
Burke berkata dengan penuh tekanan, dia fikir ini pertama kalinya ada seseorang yang berani menyentuh kelompok pembunuh pembayaran lotus hitam, dimana kelompok tersebut begitu disegani di kekaisaran Beatrice.
"Kenapa tidak? Bukankah dalam situasi ini aku hanya memiliki dua pilihan, membunuh atau terbunuh"
Ucap Angelina dengan dingin yang membuat tubuh kedua pria tersebut meremang dibuatnya.
Angin yang menuju malam ini terlihat berhembus membuat beberapa helaian rambut keemasan milik Angelina tertiup angin
Cody tampak berdiri dengan tubuh gemetar, penampilan gadis dihadapannya seolah menyerupai dewi kematian yang begitu ditakuti oleh semua orang
Maafkan author ini yang baru update, ada urusan kuliah yang harus author selesaikan. Dan author harap chapter ini tidak membuat kalian kecewa.
author harap kalian selalu menanti dan mendukung karya ini, jangan lupa untuk
Vote
Like
dan komen
Salam cinta untuk kalian
__ADS_1