Pembalasan Ratu Hutan

Pembalasan Ratu Hutan
16, selir


__ADS_3

"nona, nona, cepat bangun ada berita buruuk" teriak Xie Ling sambil menarik selimut tebal yg masih menutupi seluruh tubuh wanita cantik itu..


putri Xixi segera bangun dari tidurnya, sambil menggosok gosok ke dua matanya..


putri Xixi, lalu melirik ke sampingnya, untuk memastikan bahwa pangeran ke-empat masih ada di sana, ternyata di samping sudah kosong..


"ada apa, tidak biasanya berteriak keras seperti ini".. jawabnya dengan suara serak seraknya..


"nona cepat mandi dan sarapan, pangeran ke-empat, mengundang Nona berkumpul dengan keluarga istana" ucapnya sambil menarik putri Xi xi masuk ke dalam kamar mandi..


"kenapa terlihat terburu-buru" . putri Xixi kembali bertanya, sebelum ia memasuki tempat permandian..


"maaff nona, Yg mulia mengundang nona, untuk meminta persetujuan, apakah nona menyetujui pangeran ke-empat mengambil seorang selir"" ucapnya dengan tertunduk, ia takut jika nonanya kecewa dengan keputusan pangeran ke-empat, namun tidak di sangka putri Xi xi hanya tersenyum mendengar hal itu..


"baiklah rupanya ini, adalah sebuah pertunjukan yang menarik, aku akan pergi menyetujuinya, dan menjadi penonton buat mereka" katanya sambil menutup pintu kamar mandinya..


setelah putri Xi xi, selesai menjalnkan ritual mandinya, ia kemudian memakai pakaian yang menawan, terlihat cocok di tubuh indahnya, lalu kemudian menikmati sarapan paginya, putri Xi xi menatap keluar jendela memandangi bunga bunga bermekaran di luar istana, seolah olah menyambut pagi pertama putri Xi xi berada di dalam lingkungan kerajaan Naga..


setelah selesai sarapan iapun bersiap untuk pergi menemui keluarga besar istana tersebut, yg memang sudah lama menunggu kedatangan putri Xi xi, mereka masih asyik berbincang bincang, namun mereka di kejutkan oleh kedatangan putri Xi xi, sejenak mereka diam menatap kecantikan putri Xi xi, terutama pangeran ke-empat, namun dengan cepat ia membuyarkan kekaguman yg sempat mengacaukan pikirannya..


"kami sudah lama menunggu apa kamu tidak bisa cepat sedikit" ucapnya dengan keras, mencoba mencairkan suasana..


putri Xixi sedikit membungkuk hormat kepada mereka..


"Pangeran mungkin putri, kelelahan akibat malam pertama kalian, kita, semua bisa mengerti dengan semua ini" ucap sang ratu sambil menuntun putri Xi xi duduk di sebelah pangeran Xi fanng


"apalagi tadi pagi aku mendengar cerita dari pelayan bahwa tdi pagi, pangeran ke-empat, keluar dengan wajah yg lemah, dan darah di bajunya, mungkinkah ini sudah terjadi" ucap selir raja, yg bernama Rong Rong, ibu dari pangeran pertama


"sudahlah berhenti merayunya, ada hal yang lebih penting untuk putri Xi xi ketahui".. ucap sang raja dengan ragu, ia sadar bahwa putri dari sahabatnya tidak pantas mendengarnya sekarang, bahwa pangeran ke-empat akan mengambil selir, apalagi mereka baru saja melakukan pernikahan kemarin, tentu ini adalah hal yg tidak enak di dengar, namun karena ulah putranya itu, membuatnya mau tidak mau harus dilakukan..


"maaff putri, aku mengerti dengan perasaanmu"..ucap sang ratu dengan penuh kesedihan


"pangeran ke-empat. akan mengambil selir" dengan penuh kesedihan sang raja mencoba mengatakan. hal tersebut


putri Xixi mencoba memasang wajah sedihnya, yg terlihat seperti orang mau menangis dengan wajah menyedihkan, ia berpura-pura tertunduk sedih, sementara di dalam hatinya tersenyum penuh makna..


"aku pastinya sedih, kami baru saja melangsungkan pernikahan, mengetahui suamiku ingin mengambil selir, tapi juga sadar di kehidupan ini, wanita hanyalah sebuah pion" ucapnya dengan nada terlihat sangat sedih, sambil tertunduk, dan berpura-pura menghapus air matanya yg tidak keluar.. sementara pangeran ke-empat yg berada disampingnya, sempat merasakan sedikit kesedihan, mendengar dan melihat putri Xi xi dengan wajah sedihnya..


"apakah wanita ini benar benar sedihhh, lagian apa urusanku jika ia sedih, bukankah ini lebih baik" batinnya sambil mengalihkan perhatiannya dari wajah cantik Putri xixi..


"baiklah putri aku mengerti, tapi wanita harus patuh kepada suami, baiklah rupanya kalian, butuh waktu untuk berdua, kami pamit dulu" ucapnya sambil berdiri dan berjalan keluar dari ruangan keluarga tersebut, diikuti oleh ratu, para selir, pangeran ke-tiga dan pangeran ke-dua, sementara itu pangeran pertama tetap tinggal di dalam ruangan tersebut, tak beranjak dari tempat ia duduk, sambil menatap ke arah kedua pasangan itu..


"mengapa kamu belum pergi, dari sini?." pangeran Ke-empat menatapnya dengan tatapan tak suka..


pangeran pertama pun tersenyum, segara berdiri, mendekat ke arah pangeran ke-empat..

__ADS_1


"jika tidak menyukainya, aku bisa menyukainya" bisiknya, kepada pangeran ke-empat, lalu segera tersenyum, dan melangkahkan kakinya, dengan cepat keluar dari ruangan tersebut..


pangeran pertama memang terkenal dingin, ketampanannya terkenal nomor dua dari pangeran ke-empat.. selain itu pangeran pertama dengan pangeran ke-empat tidak pernah akur.


selepas kepergian pangeran pertama putri Xi xi, pun beranjak dri tempat ia duduk, namun belum sempat ia melangkahkan kakinya, pangeran ke-empat sudah lebih dahulu menghentikannya, dengan memegang tangan sang gadis cantik tersebut...


"aku harap di acara pengangkatan selir, Anda tidak berbuat ulah"".. ucapnya sambil melepaskan tangan putri Xi xi dari genggamannya


"tidak perlu khawatir, lagian Masih banyak pria pria, tampan di sekitar istana pasti mau denganku, jadi buat selir mu itu, aku tidak akan mengganggunya, selagi ia tidak mengganggu ketenanganku" ucapnya sambil melangkah dari hadapan pangeran ke-empat


"jangan pernah berfikir untuk mendekati pria lain, kamu harus menjaga kedudukan mu, sebagai ratu, istriku" sambil menekankan kata istriku..


"masih banyak istri yg lain" ucapnya sebelum ia keluar dari pintu ruangan tersebut..



putri Xi xi


putri Xixi pun keluar dari ruangan tersebt, kembali ke kediamannya diikuti oleh Chen long dan Xieling, yg sejak tadi berada di luar ruangan , menunggu putri Xi xi..


"Lee Ran awasi putri Xi xi, jangan sampai ia berbuat macam-macam" perintah pangeran ke-empat kepada pengawal pribadinya..


Lee Ran yg di berikan tugas baru segera mundur dari hadapan pangeran ke-empat untuk melaksanakan tugas yg di terimanya..


Keesokkan harinya acara pengangkatan selirpun, terlaksana dengan lancar, namun putri Xi xi tidak menghadiri acara tersebut, ia lebih memilih berjalan jalan di luar istana, sendiri.


namun ia tiba-tiba saja dikagetkan dengan kehadiran seorang yg ternyata pangeran pertama..


"apa yg kamu lakukan disini, apa kamu mengikutiku?" tanya putri xixi dengan penuh selidik.


"aku tidak mengikutimu, aku sudah dari tadi disini, menikmati udara segar" ucapnya


"udara segar banyak kenapa harus di sini" ucapnya dengan Cuek


"udara segar memang banyak tapi aku lebih suka dengan keadaan di sekitar hutan, tapi karena nona masih baru di sini, izinkan aku menemanimu jalan-jalan" sambil menatap putri Xi xi


"baiklah tidak masalah" ucapnya setelah ia mempertimbangkan apa yg dikatakan pangeran ke-empat


"Karena tidak masalah aku akan menunjukkan suatu tempat yang belum pernah kamu lihat, ikut aku".. ia pun memegang tangan putri Xi xi, lalu menggunaakan Ilmu peringan tubuh sehingga membuat ke duanya melompat bagai burung, yg terbang ke pohon, dari phon yg lain, hingga mereka tibah di sebuah danau yang di sekitarnya di tumbuhi, banyak pohon bunga sakura yg bermekaran dan berjatuhan di tanah membuat keindahan, dan keharumannya, menusuk Indra penciuman..


sementara itu putri Xi xi, yg baru pertama kali melihat pemandangan yg begitu menakjubkan, langsung melepaskan tangannya dari genggaman pangeran pertama, dan meloncat loncat diantara hamparan bunga sakura yg berjatuhan, serta berulang kali, juga tak henti hentinya mengagumi keindahan danau, apalagi dengan banyaknya bunga sakura itu..


"wah benar benar menakjubkan" teriaknya dengan girang dan di sertai tawa bahagia..


sementara itu pangeran pertama terus memerhatikan tingkah lucu putri Xi xi, tidak hanya lucu, namun tubuh indahnya, membuatnya semakin cantik berada di hamparan bunga sakura, pangeran pertama kemudian mendekati, putri Xi xi, dengan penuh kekaguman, yg tersirat di matanya..

__ADS_1


"apakah putri menyukainya?". tanya pangeran pertama, yg telah berada di samping putri Xi xi


"aku menyukainya, aku baru pertama kali melihat pemandangan yg seindah ini" sambil tersenyum kecil ke arah pangeran pertama


"ternyata wanita seperti kamu, memiliki sisi kelembutan juga" sambil membalas senyuman putri Xi xi


"karena kamu yg membawaku ke sini, maka kita bisa berteman" ucapnya dengan wajah yang kembali dingin, namun masih terus menatap hamparan bunga sakura yg berjatuhan ke dalam danau tersebut..


"namaku Jung Yong" sambil menatap ke arah danau.


"sepertinya kamu dengan pangeran ke-empat tidak akrab" ucapnya


"apakah kamu ingin tahu"? tanya pangeran Jung Yong, dengan penuh senyum


"ah, tidak, lagian wajar saja jika orang seperti pangeran ke-empat itu, tidak punya teman" sambil menatap punggung pangeran Jung Yong, yg berjalan dengan pelan membelakangi putri Xi xi..


putri Xixi pun mengikuti langkah pangeran pertama dari belakang, sambil terus menikmati keindahan alam, yg sangat luar biasa disekitarnya..


"kamu bilang dia tidak memiliki teman, orang seperti dia, orang yang sangat beruntung, mempunyai banyak pengaruh, memiliki banyak pendukung, di sekitarnya, apapun yang di mintanya akan terwujud, tidak seperti aku, pangeran yang tidak berguna, dan kesepian" ucapnya dengan nada yang biasa, seakan kalimatnya mengandung kata-kata tertentu..


"apa maksudmu, bukankah kedudukan kalian Sama-sama pangeran?" tanya putri xixi dengan penasaran.


"rupanya putri belum tahu, jika dia adalah anak dari ratu yg akan mewarisi tahta kerajaan, sedang aku anak selir " ucapnya dengan nada yang tidak bisa di artikan


keduanya pun masih asyik bercerita dan bercanda bersama, apalagi putri Xi xi yg suka dengan cara pangeran Jung Yong yg memperlakukan seorang wanita dengan sopan santun, hingga waktu pun terus berlangsung, tanpa mereka sadari bahwa hari sudah hampir malam, tak bosan bosan mereka bercanda ria, sambil memandangi alam yg begitu memukau di matanya, hingga mereka berdua tidak menyadari ada sepasang mata yang terus mengawasi aktivitas mereka sejak tadi, yg tak lain adalah Lee Ran, yg ditugaskan oleh pangeran ke-empat, sementara dirinya melakukan acara pengangkatan seliirnya....


setelah pengawasannya di rasa cukup ia lalu segera melaporkan hal tersebut kepada pangeran ke-empat, yg berada di dalam ruang bacanya, yg terlihat ia baru saja selesai menggelar acara pengangkatan selir, namun ia tidak ada niat untuk bersama dengan selir barunya itu, Jing Zhou, wanita yang sudah lama menjalin hubungan dengannya.


"pangeran ke-empat, hamba membawa berita yg hendak di sampaikan"


ucapnya sambil membungkuk memberi hormat..


"katakanlah" ucapnya dengan wajah datarnya, sambil membaca sebuah buku, di tangannya, namun sebenarnya ia tidak membacanya ia hanya memperhatikannya, bgaimna ia membaca buku tersebut sementara pikirannya, sedang memikirkan, permaisurinya, mengapa wanita itu tidak ikut acara pengangkatan selirrr..


"pangeran Jung Yong sedang bersama dengan putri, di danau sakura, mulai sejak tadi pagi" ucapnya tanpa berbelit-belit..


"apakah mereka melakukan hal-hal lain, mksudku, hal yg melebihi batas?" tanyanya dengan kesal sambil mengepalkan tangannya yg berada di atas mejanya


"tidak mereka hanya berbincang" ucap Lee ran sekali lagi..


"katakanlah dengan jelas"balasnya yg tidak puas dengan hasil jawaban yang di terimanya


lee ran tampak menyeringngit menatap bingung atas apa yang di katakan tuannya, sesaat ia mengingat bagaimana kedekatan pangeran pertama dan putri Xixi sewaktu ia mengintainya diam-diam.


"mereka berpegangan tangan, lalu pangeran pertama mengajaknya ke kediamannya, dan mengunjungi tempat bunga sakura" ucap Lee RAN...

__ADS_1


"baiklah aku akan memberi kejutan untuk Istri yang tidak penurut ini" sambil menutup buku di tangannya lalu meletakkannya di atas meja, segera berdiri kemudian melangkahlan kakinya menuju ke kediaman putri Xi Xi, sesampainya di sana ia lalu segera masuk kedalam kamar putri xixi, namun ruangan tersebut, tampak kosong tdak terlihat sama sekali seorang di sana, pangeran ke-empat pun duduk di tepi ranjang, menunggu kedatangan putri Xi xi, lalu mengibaskan tangannya, semua lilin sebagai alat penerang, yg ada di dalam ruangan tersebut, mati, hingga ruangan tersebut menjadi gelap gulita..


__ADS_2